Warta Jemaat GKI Gading Serpong, Minggu, 21 Juni 2026
Bacaan Alkitab: Kejadian 21:8-21; Mazmur 86:1-10, 16-17; Roma 6:1b-11; Matius 10:24-39
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, di tengah perkembangan teknologi yang semakin canggih, manusia seharusnya semakin mudah terhubung satu dengan yang lain. Namun kenyataannya, banyak orang justru merasa semakin kesepian. Ketika sedang berhasil, banyak orang hadir di sekitar kita. Namun ketika mengalami kegagalan, sakit, kehilangan, atau kesulitan hidup, tidak jarang kita merasa ditinggalkan. Dalam situasi seperti itu muncul pertanyaan yang sangat manusiawi: "Apakah Tuhan masih menyertai saya?"
Bacaan-bacaan leksionaris hari ini mengingatkan bahwa pengalaman sengsara bukanlah sesuatu yang asing bagi umat Tuhan. Dalam Kejadian 21, Hagar dan Ismael mengalami penolakan yang sangat menyakitkan. Mereka harus meninggalkan rumah Abraham dan berjalan ke padang gurun tanpa kepastian masa depan. Ketika persediaan air habis dan harapan seolah lenyap, Hagar menangis dalam keputusasaan. Namun justru pada saat itulah Allah bertindak. Firman Tuhan mengatakan bahwa Allah mendengar suara Ismael dan membuka mata Hagar untuk melihat sumur yang menjadi sumber kehidupan bagi mereka. Kisah ini menunjukkan bahwa Allah tidak pernah menutup mata terhadap penderitaan umat-Nya.
Pengalaman yang sama juga terlihat dalam Mazmur 86. Pemazmur datang kepada Tuhan dengan membawa segala kesesakannya. Ia tidak menyembunyikan penderitaan yang dialaminya, tetapi mencurahkan semuanya kepada Allah. Yang menarik, di tengah pergumulannya, pemazmur tetap percaya bahwa Tuhan adalah Allah yang penuh kasih setia dan suka menolong. Iman bukan berarti tidak memiliki masalah, melainkan tetap percaya kepada Tuhan di tengah masalah.
Dalam bacaan Roma 6, Paulus mengingatkan bahwa orang percaya telah dipersatukan dengan Kristus dalam kematian dan kebangkitan-Nya. Artinya, kehidupan orang Kristen selalu berada dalam terang kemenangan Kristus. Penderitaan bukanlah akhir dari cerita. Sebagaimana Kristus bangkit dari kematian, demikian pula orang percaya memiliki pengharapan yang tidak dapat dihancurkan oleh keadaan apa pun.
Yesus sendiri dalam Matius 10 tidak pernah menjanjikan kehidupan yang bebas dari kesulitan. Sebaliknya, Ia mengingatkan bahwa para murid akan menghadapi penolakan dan penderitaan. Namun Yesus juga berkata, "Janganlah kamu takut." Mengapa? Karena Bapa di surga mengenal dan memelihara setiap anak-Nya. Bahkan rambut di kepala kita pun terhitung semuanya. Tidak ada pergumulan yang luput dari perhatian Tuhan.
Karena itu, tema "Tak Ditinggalkan Dalam Sengsara" menjadi penghiburan bagi kita semua. Mungkin saat ini ada di antara kita yang sedang menghadapi padang gurun kehidupan: pergumulan keluarga, masalah kesehatan, tekanan ekonomi, atau pergumulan iman. Firman Tuhan hari ini mengingatkan bahwa Allah tetap hadir. Ia mendengar setiap doa, melihat setiap air mata, dan bekerja bahkan ketika kita belum melihat jalan keluarnya.
Marilah kita tetap berpegang kepada Kristus. Sebab orang percaya mungkin mengalami sengsara, tetapi tidak pernah ditinggalkan oleh Tuhan. Kasih dan penyertaan-Nya selalu cukup untuk menopang kita melewati setiap musim kehidupan.
Pdt. Pramudya Hidayat