Beberapa waktu terakhir ini kita hidup di tengah suasana yang tidak mudah: nilai tukar rupiah melemah, pasar modal menghadapi tekanan, sejumlah pengusaha menahan ekspansi, masyarakat kelas tengah berhati-hati untuk membeli barang, sebagian orang sudah mulai dirumahkan atau bahkan di-PHK, dan dunia kerja menghadapi ketidakpastian. Di tengah situasi yang seperti ini, bukan tidak mungkin kata yang sering muncul adalah MBG (mustahil banget gaes): mustahil usaha bisa berkembang, mustahil keadaan membaik, mustahil keluarga dipulihkan, mustahil gereja bertumbuh, mustahil bangsa ini bangkit.
Mengapa kata mustahil itu muncul? Karena kita hidup dalam dunia yang sangat rasional. Kita menghitung angka, membaca tren, menganalisis data. Hal-hal ini tentu baik. Akan tetapi, realitas tidak hanya ditentukan oleh apa yang bisa dihitung dan diproyeksikan.
Dengan latar belakang yang seperti itu, apa maknanya tema ”Tidak Ada yang Mustahil”? Mari kita lihat bacaan leksionari hari ini. a. Dari bacaan pertama (Kej. 18:1-15), kita belajar bahwa Allah bekerja ketika manusia sudah kehabisan kemungkinan. Abraham sudah berusia hampir 100 tahun, Sara sekitar 90 tahun saat peristiwa yang dikisahkan dalam bacaan ini. Secara biologis, mereka sudah melewati masa untuk memiliki anak. Para malaikat Tuhan menyampaikan pesan bahwa Sara akan memiliki seorang anak. Sara tertawa. Pesan itu suatu kemustahilan. Lalu Tuhan menjawab, ”Adakah sesuatu yang mustahil bagi TUHAN?” Dari kisah ini, kita bisa mengaplikasikan hal ini: jangan membatasi pekerjaan Tuhan dengan perhitungan manusia. b. Dari bacaan kedua (Rm. 5:1-8), kita belajar bahwa Allah mengasihi dan bertindak sebelum kita layak menerimanya. Dalam Roma 5:8 dinyatakan ”Namun, Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita dalam hal ini: Ketika kita masih berdosa, Kristus telah mati untuk kita.” Ini menunjukkan bahwa Allah bukan hanya sanggup melakukan yang mustahil, Ia juga memilih melakukan yang mustahil menurut logika kasih manusia. Dari pengajaran ini, kita bisa mengaplikasikan hal ini: beranilah berharap bagi orang-orang yang tampaknya sulit berubah, untuk berubah. c. Dari bacaan Injil (Mat. 9:35-10:8), kita belajar bahwa Allah mengutus orang biasa untuk melakukan hal-hal luar biasa. Dalam Injil Matius, Yesus melihat orang banyak yang lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Lalu Yesus merespons dengan mengutus para murid-Nya, orang-orang biasa (nelayan, pemungut cukai, orang desa). Mereka bukanlah para ahli atau rabi terkenal. Tugas mereka adalah untuk melakukan hal-hal luar biasa: menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, mentahirkan kusta, dsb. Dari kisah ini, kita bisa mengaplikasikan hal ini: jadilah bagian dari jawaban Tuhan, bukan hanya penonton.
Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita tentang hal-hal ini: • Ketika manusia melihat jalan buntu, Allah masih melihat jalan. • Ketika manusia berhenti berharap, Allah masih bekerja. • Ketika manusia berkata, ”Mustahil”, Allah bertanya, ”Adakah sesuatu yang mustahil untuk Tuhan?”