Ada sebuah pertanyaan yang kadang muncul dalam kehidupan bergereja: apa sebenarnya yang dapat kita lakukan bagi Tuhan?
Sebagian orang merasa dirinya tidak cukup mampu. Ada yang merasa tidak memiliki pengetahuan Alkitab yang memadai. Ada yang berpikir bahwa pelayanan adalah urusan pendeta, penatua, atau mereka yang memiliki banyak waktu. Akibatnya, tidak sedikit orang Kristen yang akhirnya menempatkan diri sebagai penonton. Hadir, mengikuti, menikmati, lalu pulang.
Padahal bacaan minggu ini memperlihatkan bahwa sejak awal Allah tidak bekerja seperti itu. Ketika Allah memanggil Abram, Ia tidak sedang mencari orang yang paling berpengaruh di zamannya. Abram bahkan belum mengetahui ke mana ia harus pergi. Allah hanya meminta sesuatu yang sederhana: berjalan, ambillah bagianmu, ikutlah bersama-Ku. Demikian pula ketika Yesus memanggil Matius. Sulit membayangkan bahwa seorang pemungut cukai akan menjadi salah satu murid yang kelak memberitakan Injil. Padahal mungkin, banyak juga calon yang lebih layak untuk dipilih menjadi murid Yesus. Namun Yesus melihat sesuatu yang berbeda. Ia melihat seseorang yang dapat mengambil bagian dalam pekerjaan Allah.
Karya keselamatan Allah selalu lebih besar daripada kemampuan manusia yang dipakainya. Di dalam segala keterbatasan, Allah mengutus setiap kita. Sebab, dalam proses berjalan bersama-Nya, kita dibentuk dan diperlengkapi. Kiranya melalui kehidupan yang sederhana dan setia, kita terus belajar mengambil bagian dalam karya keselamatan Allah yang tidak pernah berhenti bekerja di dunia ini.