Warta Jemaat GKI Gading Serpong, Minggu, 8 Februari 2026
Bacaan Alkitab: Yesaya 58:1-12; Mazmur 112:1-10; 1 Korintus 2:1-16; Matius 5:13-20
“Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.”
Perkataan Tuhan Yesus dalam Matius 5:20 ini sungguh menyentak. Yesus bicara tentang hidup keagamaan para pendengar-Nya, yang seharusnya lebih benar atau lebih sehat daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. “Hidup keagamaan” ahli Taurat dan Farisi begitu mementingkan doktrin dan ritual. Itu juga yang dilakukan umat Israel di zaman Yesaya berkarya: mereka getol ibadah dan berpuasa, namun setelah itu mereka berlaku tidak adil kepada sesama, tidak peduli dan tidak mengasihi orang lain.
Kita, umat Tuhan di masa kini, dipanggil untuk lebih daripada itu. Itu artinya, keyakinan iman dan ibadah yang kita yang jalani, tidak boleh sekadar ritual untuk memenuhi kewajiban aturan belaka. Ibadah yang dilakukan dalam rumah Tuhan harus membawa perubahan dalam hidup orang-orang yang menjalaninya. Perubahan itu dirasakan serta membawa dampak bagi sesama yang berelasi dengan kita. Itu artinya kesalehan pribadi lewat ibadah mesti berlanjut pada aksi sosial lewat perbuatan nyata bagi sesama.
Karenanya, Tuhan Yesus lebih dulu memanggil orang-orang untuk menjadi “sesuatu” yang secara entitas berguna buat yang lain, yaitu garam dan terang. Keutamaan kedua benda tersebut terletak pada aspek urgensi dan fungsi yang istimewa. Urgen, karena dibutuhkan di mana pun. Istimewa, karena tak tergantikan oleh yang lain. Keberadaannya amat vital dan membawa perbedaan. Melalui analogi itu, Yesus hendak menegaskan bahwa keutamaan identitas pengikut-Nya terletak pada kesediaan kita untuk berfungsi, bukan sekadar ada; dan berdampak, bukan sekadar tampak.
Pdt. Danny Purnama