Rabu, 11 Maret 2026, pukul 10.00, kembali diselenggarakan Persekutuan Usia Indah (Usindah) GKI Gading Serpong di Aula Kana, Griya kasih, Jl. Kelapa Gading Selatan Blok AG15 No.16, Pakulonan Barat, Kecamatan Kelapa Dua, Tangerang.

Yang menjadi pembawa acara adalah Yani Suryadi. Persekutuan dimulai dengan lagu “Mars Usia Indah” dan NKB 173, “Ku Tak Dapat Maju Sendiri”, diiringi oleh Novita Engelin sebagai pemusik, dan dibantu oleh Kristiana Kumala dan Julia Dharma sebagai singer. Liana Tjahyadi dan Kok Ai Fie melayani sebagai penerima tamu. Kami juga kedatangan tamu dari GKI Pekalongan, yaitu Christy Rika Elvira Zulkarnaen, kader pendeta GKI yang ditempatkan di GKI Gading Serpong sejak tanggal 8 Maret hingga 31 Agustus 2026. Persekutuan pagi itu dihadiri oleh 132 orang jemaat.

Firman Tuhan disampaikan oleh Pdt. Pramudya Hidayat, dengan tema “Jalan Hidup Orang Benar” (Mazmur 15:1-5). Siapakah orang benar itu? Orang benar adalah orang yang tidak menganggap dirinya benar, tidak merasa sudah benar, dan tidak merasa paling benar. Hidup yang benar bukan berarti sudah melakukan hal yang besar, melainkan melakukan hal yang benar. Orang yang berkenan di hadapan Tuhan bukanlah yang paling kaya, paling pintar, paling terkenal, melainkan mereka yang menjaga perilaku dan perkataannya, tidak melukai sesama, tidak memanfaatkan orang lain untuk keuntungan diri sendiri. Ia memiliki hati yang bersih dan hidup yang berintegritas. Tuhan juga berjanji, orang yang hidup benar akan memiliki dasar yang kuat, tidak mudah runtuh oleh keadaan, dan memiliki ketenangan batin, karena berjalan dalam kehendak Tuhan. Prinsip orang benar adalah selalu mendengar suara Tuhan, menikmati teguran-Nya, dan terus berdoa. Ayat emas diambil dari Mazmur 15:2, “Yaitu dia yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya.”

Persekutuan dilanjutkan dengan seminar kesehatan dengan tema “Tidur Sehat, Hidup Sehat: Strategi Meningkatkan Kualitas Tidur Sehat”, yang dibawakan oleh Dr. dr. Rimawati Tedjasukmana, Sp.S., RPSGT, dari Rumah Sakit Medistra, Jakarta. Pdt. Erma Primastuti Kristiyono bertindak sebagai moderator.

Dengan kemajuan teknologi, orang sering melewatkan kesempatan untuk tidur. Saat ini, malam hari terang-benderang, sehingga badan kita kadang merasa bingung, ini malam atau siang? Apakah tidur itu? Tidur adalah keadaan alamiah yang berulang. Aktivitas motorik dan sensorik terhenti, hilang kesadaran sebagian atau seluruhnya. Manusia tidur untuk beristrahat, menghilangkan lelah, perbaikan/restorasi sel, konsentrasi energi, dan sekresi hormon. Tidur itu sangat penting. Jika kita kurang tidur, mood bisa menjadi jelek, bisa juga terjadi depresi, gangguan kecemasan, dan sistem kekebalan tubuh terganggu.

Ada tiga hal yang harus di perhatikan agar kita sehat, yaitu nutrisi (makan sehat), olahraga (jalan kaki, yoga), dan tidur. Berapa lama seharusnya kita tidur? Bayi perlu tidur selama 14–17 jam, anak-anak 9–12 jam, dewasa 7–9 jam, dan lansia 7–8 jam. Untuk lansia, waktu tidur yang lebih singkat itu normal.

Ada faktor eksternal dan internal yang dapat mengganggu kualitas tidur. Faktor eksternalnya adalah lingkungan, obat, dan kebiasaan. Faktor internalnya adalah usia lanjut, nyeri, stres, dan perubahan jadwal tidur.

Insomnia adalah kesulitan untuk mulai dan mempertahankan tidur di malam hari (sering terbangun pada malam hari), dan ketika bangun dari tidur, tubuh tidak terasa segar. Penderita insomnia dapat mengalami berbagai masalah pada siang hari, seperti mengantuk, cemas, sulit berkonsentrasi, daya ingat menurun, dan mudah tersinggung. Penyebab insomnia antara lain adalah stres, suara berisik, perubahan suhu, perubahan siklus bangun (jet lag). Insomnia dapat meningkatkan risiko penyakit strok, kejang, daya tahan tubuh rendah, peka terhadap nyeri, peradangan, obesitas, diabetes, hipertensi, sakit jantung, depresi, frustrasi, peningkatan risiko kecelakaan, penurunan libido, dan penurunan usia harapan hidup.

Cara tidur yang baik adalah tidur dan bangun secara teratur pada jam yang sama setiap hari; tidur dengan waktu yang cukup, sehingga tidak mengantuk pada siang hari; berolahraga rutin, tetapi tidak pada sore atau malam hari; mengupayakan kamar tidur yang nyaman, tidak terlalu panas ataupun dingin, dan tidak berisik; menghindari alkohol, minuman berkafein; serta menggunakan kamar tidur hanya untuk tidur.

Insomnia jangka pendek biasanya tidak memerlukan pengobatan khusus, karena hanya berlangsung selama beberapa hari. Bisa juga dengan obat tidur jangka pendek, bila penyebabnya adalah gangguan medis, kejiwaan, atau gangguan tidur primer. Terapi yang diberikan untuk insomnia kronik dapat disesuaikan dengan penyakit yang mendasarinya, antara lain dengan perbaikan higiene tidur dan cognitive behavioral therapy for insomnia (CBTI). Penggunaan obat tidur untuk insomnia kronik tidak dianjurkan.

Kesimpulannya, TIDUR HARUS DIPRIORITASKAN. Kehidupan modern lebih menekankan produktivitas dengan mengurangi jam tidur. Padahal, tidur sama pentingnya dengan gizi dan olahraga, demi kesehatan jiwa dan raga kita. Gangguan tidur ada yang tidak berbahaya, tetapi ada pula yang berbahaya, misalnya mengantuk berlebihan, dll. Dengan pola tidur yang baik, berbagai penyakit dapat dicegah.

Kami, oma-opa pulang dengan penuh sukacita, karena selain mendapatkan manfaat dari firman Tuhan sebagai bekal dalam menjalani hidup, kami juga menerima ilmu pengetahuan yang sangat berguna, agar dapat hidup lebih sehat.

*Penulis adalah ketua Komisi Usia Indah GKI Gading Serpong untuk tahun pelayanan 2018—2020, dan masih menjadi pengurus hingga saat ini.