Sabtu pagi yang cerah, 18 April 2026, beberapa jemaat, penatua, dan guru-guru Tenjo melakukan perjalanan menuju Bimbel Cilaku, Tenjo, yang berlokasi di Kabupaten Bogor. Bimbel ini ada di bawah naungan Komisi Pekabaran Injil GKI Gading Serpong, yang bertujuan mewartakan kasih Kristus, melalui pelayanan bimbingan belajar calistung, matematika, dan bahasa Inggris bagi siswa SD di kawasan Tenjo. Maksud kedatangan kami adalah untuk mengajak teman-teman kecil beserta para orang tua mereka merayakan sukacita Paskah bersama.
Sebagai persiapan, sebelum acara utama dimulai, jemaat, penatua, dan para guru berkumpul terlebih dahulu untuk saling mengenal dan mendengarkan renungan bersama. Tepat pukul 10.30, acara bersama anak-anak dan orang tua dibuka dengan doa serta nyanyian yang meriah. Selain itu, disampaikan pula sebuah pesan singkat mengenai makna Paskah bagi kami, sebagai umat Kristen. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan membagi peserta ke dalam dua kelompok terpisah, yakni kelompok anak-anak dan kelompok orang tua.
Para guru telah mempersiapkan pertunjukan drama bertema “Pengorbanan Induk Ayam” bagi anak-anak. Dikisahkan, ada seorang petani yang memiliki beberapa ekor ayam. Saat ia sedang bertani, tiba-tiba terjadi kebakaran di sekitar kandang ayam. Terjadilah kepanikan luar biasa. Induk ayam, yang merasa tidak mungkin terluput dari kobaran api, segera membentangkan sayap dan menyembunyikan anak-anaknya di bawah perlindungannya. Saat api berhasil dipadamkan, petani menemukan tubuh induk ayam yang telah tak bernyawa. Namun, sayup-sayup terdengar suara, “Cit, cit, cit ….” Ternyata, masih ada kehidupan kecil di sana, yang berhasil diselamatkan berkat pengorbanan sang induk.
Kisah ini bermaksud mengajarkan kepada anak-anak tentang pengorbanan, yang selama ini telah banyak dilakukan oleh orang tua mereka, demi membesarkan serta memberikan pendidikan sebaik mungkin. Oleh karena itu, sebagai ungkapan syukur, sudah selayaknya mereka membalas pengorbanan tersebut dengan menjadi anak yang baik, serta belajar dengan sungguh-sungguh.
Usai pertunjukan drama, agenda anak-anak berlanjut ke lomba mewarnai. Aktivitas mewarnai dalam kelompok ini melatih kekompakan, kerjasama, kesabaran, serta ketelatenan, untuk dapat mencapai hasil yang terbaik.
Sementara itu, acara bagi para orang tua murid, yang didominasi oleh ibu-ibu, diawali dengan pemanasan singkat, guna meregangkan tubuh setelah seharian bekerja. Kemudian, diadakan dialog dengan para orang tua murid, agar kami dapat mengetahui kondisi serta kendala yang mereka hadapi. Tujuannya adalah untuk membangun kebersamaan serta memberi semangat bagi mereka. Selain berdialog, kami juga bernyanyi bersama.
Kami, ibu-ibu Tenjo, sehat dan kuat,
karena Allah memberi sukacita abadi,
sehat, kuat, rajin berdoa.
Setiap hari usaha di rumah.
Ibu-ibu Tenjo …
Sama seperti lirik lagu tersebut, kami berharap para orang tua senantiasa diberikan kesehatan dan kekuatan dalam mendidik serta membesarkan anak-anak yang telah Tuhan percayakan. Semoga mereka juga selalu diberikan sukacita abadi dalam setiap usahanya, dan tak pernah berhenti untuk berdoa dan mengandalkan kebesaran-Nya.
Di tengah kemeriahan nyanyian, mereka diberi kesempatan untuk berbagi cerita ataupun mengajukan pertanyaan mengenai perkembangan dan kebutuhan anak. Beberapa ibu berbagi kegembiraan dan kebanggaan atas prestasi yang berhasil diraih oleh anak-anak mereka. Tentu saja, hal tersebut juga menjadi sukacita dan kebanggaan kami semua.
Ada pula seorang ibu yang mengungkapkan trauma dan rasa takutnya semenjak salah seorang anaknya mengalami kecelakaan saat berkendara. Hingga saat, ini ia selalu diliputi rasa khawatir saat anak-anaknya pergi bekerja maupun kuliah.
Untuk menguatkan ibu tersebut, salah seorang guru Tenjo memberi kesaksian mengenai kecelakaan mobil yang pernah ia alami, yang nyaris merenggut nyawanya. Dalam peristiwa itu, ia diizinkan Tuhan untuk tetap sadar dan melihat setiap proses dalam kecelakaannya, tidak pingsan, sehingga ia benar-benar menyadari betapa besar cinta kasih Tuhan yang telah menyelamatkannya. Hingga kini, di tangan kirinya masih terpampang jelas bekas luka kecelakaan tersebut. Ia sengaja tidak mau mengoperasinya, karena baginya luka itu adalah pengingat akan kebaikan Tuhan dalam hidupnya. Trauma itu pasti ada, tetapi kita juga diberi hikmat oleh Tuhan untuk tidak membiarkan diri larut di dalamnya. Kita harus bangkit dan percaya, Tuhan akan memampukan kita. Hendaknya kita selalu berdoa dan berusaha. Selebihnya, kita serahkan kepada Sang Pemilik Hidup, Tuhan kita. Sungguh, sebuah kesaksian yang sangat menguatkan.
Setelah sesi berbagi dengan para orang tua selesai, acara dilanjutkan dengan lomba memasak mi goreng. Peserta dibagi menjadi empat kelompok, yang masing-masing beranggotakan tujuh orang. Antusiasme dari tiap kelompok sangat terasa. Terlihat, betapa kreatif dan kompaknya mereka. Berbekal peralatan seadanya, terciptalah mi goreng lezat oleh masing- masing kelompok. Seusai para juri berdiskusi dan memutuskan pemenangnya, hasil masakan tersebut dinikmati bersama-sama dengan anak-anak, sebagai menu makan siang. Suasana hangat dan kekeluargaan begitu kental terasa.
Waktu tak lelah bergerak. Tak terasa, tiba saatnya kami harus berpisah dengan mereka, mengakhiri sebuah acara yang sederhana, tetapi begitu bermakna. Terlalu banyak hal yang kami dapatkan dari pelayanan ini. Bukan hanya kami yang berbagi kebahagiaan dengan mereka, mereka pun mengukirkan banyak sukacita di hati kami.
Tuhanlah yang memampukan kami melayani. Sungguh bersyukur jika pelayanan kami dapat menjadi berkat. Sebagaimana tertulis dalam 2Korintus 3:4-6, “Demikanlah besarnya keyakinan kami kepada Allah melalui Kristus. Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri. Tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah. Dialah yang membuat kami juga sanggup menjadi pelayan-pelayan dari suatu perjanjian baru, yang tidak terdiri dari hukum yang tertulis, tetapi dari Roh, sebab hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh menghidupkan.” Kami hanya berusaha memberikan yang terbaik. “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” (Kolose 3:23).
Sampai bertemu di hari-hari mendatang, teman-teman kecilku! Soli Deo gloria – segala kemuliaan hanya bagi Allah.
*Penulis adalah guru Bimbel Cilaku, Tenjo.
{gallery}te{/gallery}