Pentakosta sering dipahami sebagai peristiwa tentang kuasa. Padahal, di baliknya ada pertanyaan yang jauh lebih penting – untuk apa karunia itu dipakai? Pertanyaan itu tegas dilontarkan Pdt. Danny Purnama dalam khotbahnya, pada ibadah minggu Pentakosta dan persembahan syukur tahunan di GKI Gading Serpong. Ibadah yang berlangsung pada Minggu, 24 Mei 2026 ini dilaksanakan di aula lantai 6 SMAK Penabur Gading Serpong, Jl. Kelapa Gading Barat, Kabupaten Tangerang, Banten.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menjadi refleksi mendalam bagi lebih dari seribu jemaat yang memenuhi ruang ibadah pagi itu. Di tengah dunia yang semakin ramai dengan pencitraan dan keinginan untuk terlihat menonjol, kehidupan rohani pun kadang ikut bergerak ke arah yang sama. Karunia Roh akhirnya lebih dipahami sebagai sesuatu yang harus terlihat spektakuler. Orang mencari pengalaman spiritual luar biasa. Urapan Roh Kudus pada gereja-gereja sering diukur dari manifestasi yang tampak di permukaan. Tidak sedikit pula yang menilai kualitas iman seseorang dari karunia yang paling mencolok.
Padahal, menurut Pdt. Danny, Roh Kudus tidak hadir untuk menciptakan persaingan rohani. “Jangan sampai karunia Roh dan kepenuhan Roh Kudus justru menjadi pemecah belah gereja,” ujarnya. Ia menyoroti bahwa dalam beberapa dekade terakhir, pembicaraan tentang Roh Kudus kerap melahirkan perdebatan. Ada gereja yang dianggap kurang rohani karena tidak memiliki manifestasi tertentu. Ada jemaat yang merasa lebih dekat dengan Tuhan karena memiliki pengalaman spiritual yang berbeda. Karunia Roh, yang seharusnya dipakai untuk membangun tubuh Kristus, tanpa sadar berubah menjadi alat pembanding. Padahal sejak awal, Roh Kudus hadir untuk mempersatukan.
Pdt. Danny menjelaskan, Roh Kudus sebenarnya telah hadir sejak masa Perjanjian Lama. Namun, saat itu Roh Kudus hanya diberikan kepada pribadi-pribadi tertentu, yang dipilih Tuhan untuk menjalankan tugas khusus. Setelah Yesus naik ke surga dan peristiwa Pentakosta terjadi, Roh Kudus dicurahkan kepada seluruh orang percaya. Artinya, Roh Kudus bukan lagi milik segelintir orang atau kelompok tertentu. Roh Kudus hadir bagi semua. Inilah yang membuat Pentakosta menjadi penting. Bukan sekadar peristiwa historis tentang turunnya Roh Kudus kepada para murid, melainkan tanda bahwa Tuhan bekerja melalui seluruh umat-Nya. Karena itu, menurutnya, gereja tidak dipanggil untuk menyeragamkan bentuk karunia.
“Kita tidak antikarunia Roh. Apa pun bentuk karunianya, kita hargai. Dan, kita berharap gereja lain juga melakukan hal yang sama,” katanya. Pernyataan itu bukan sebuah penolakan terhadap bentuk-bentuk karunia tertentu, melainkan ajakan untuk menghargai cara Tuhan bekerja, yang begitu luas dan beragam. Ada orang yang diberi karunia mengajar, menasihati, dan berbagi, karunia-karunia sederhana, yang selama ini justru banyak dijalankan GKI untuk menghadirkan dampak bagi sesama. “Sebab, karunia Roh itu bermacam-macam dan tidak harus seragam,” ujarnya.
Kalimat itu mengingatkan, keberagaman bukanlah ancaman bagi gereja. Justru, di atasnya tubuh Kristus dibangun. Dan, mungkin itulah letak kesalahan manusia hari ini – terlalu sibuk mengagumi karunia yang terlihat hebat, tetapi lupa menghargai karunia-karunia sederhana, yang diam-diam menjaga kehidupan bersama tetap berjalan.
Perumpamaan Karunia Roh
Untuk menjelaskan bagaimana kita dapat mengenali karunia Roh, Pdt. Danny mengutip ilustrasi dari Bill Gothard, yang sederhana tetapi dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ia menggambarkan suasana suatu persekutuan – orang-orang sedang duduk makan bersama di meja besar. Tiba-tiba, seorang anak kecil berlari sambil membawa segelas susu. Gelas itu jatuh, susu tumpah, dan pecahannya berserakan di lantai. Dalam hitungan detik, semua orang di sekitar anak itu pun menunjukkan reaksi yang berbeda-beda.
Ada yang langsung berkata, “Tuh kan, sudah saya bilang, nanti jatuh kalau lari-lari!” Ada yang langsung mengajari, agar lain kali memegang gelas dengan benar. Ada yang segera mengambil sapu dan kain pel untuk membersihkan lantai. Ada yang buru-buru mengambilkan susu yang baru untuk si anak. Dan, ada pula yang lebih dulu memeluk si anak yang ketakutan sambil menenangkannya.
Menurut Pdt. Danny, berbagai respons spontan itu sering kali memperlihatkan karunia yang Tuhan berikan kepada seseorang. Ada orang yang memiliki karunia bernubuat. Ada yang memiliki karunia mengajar. Ada yang hatinya dipenuhi karunia melayani. Ada yang memiliki karunia memberi. Ada yang punya karunia menghibur dan menguatkan orang lain. Semua ini adalah deretan karunia yang sering diajarkan GKI, agar berdampak bagi banyak orang. Tidak semuanya sama, tetapi semuanya dibutuhkan.
Karena itu, menurut Pdt. Danny, pertanyaan terbesar dalam hidup orang percaya bukanlah karunia apa yang paling hebat. “Maka pertanyaannya, bukan siapa yang paling rohani, tetapi karunia Roh yang kau punyai, kau gunakan untuk apa?” katanya. Pertanyaan itu menjadi ajakan untuk bercermin. Sebab, sangat mungkin seseorang sibuk mencari pengalaman rohani, tetapi lupa menghadirkan kasih dalam kehidupan sehari-hari. Sangat mungkin, seseorang ingin terlihat penuh Roh, tetapi sulit menghargai sesama. Padahal, kehadiran Roh Kudus seharusnya membawa manusia semakin dekat pada kasih Tuhan.
Tiga Kebaikan Roh
Dalam refleksinya dari Yohanes 20:19–23, Pdt. Danny menjelaskan tiga kebaikan utama dari kehadiran Roh Kudus. Pertama, Roh Kudus hadir untuk menolong manusia menjadi pribadi baru, yang memberitakan perbuatan besar Allah. Ia menyinggung peristiwa Pentakosta dalam Kisah Para Rasul 2:1–21, ketika para murid dipenuhi Roh Kudus dan mampu berbicara dalam berbagai bahasa yang dipahami banyak orang. Fenomena itu dikenal dengan istilah xenolalia, yakni kemampuan berbicara dalam bahasa asing, yang sebelumnya belum pernah dipelajari.
Namun menurutnya, inti dari peristiwa itu bukan sekadar demonstrasi kuasa supranatural. Peristiwa itu menjadi tanda bahwa Injil ditujukan kepada semua bangsa dan semua manusia. Api dalam kisah Pentakosta melambangkan pemurnian sekaligus semangat baru. Sementara, angin menggambarkan kehadiran Tuhan yang menyejukkan, tetapi juga menggerakkan manusia keluar dari ketakutan.
Kedua, karunia Roh diberikan untuk membangun jemaat Tuhan. Karena itu, tidak ada karunia yang lebih tinggi dibandingkan yang lain. “Yang sering ditonjolkan itu penyembuhan, nubuatan, penglihatan. Padahal, ada banyak rupa-rupa karunia, dan semuanya berharga di mata Tuhan,” katanya.
Ketiga, kehadiran Roh Kudus menghadirkan damai sejahtera. Ia mengingatkan bagaimana para murid hidup dalam ketakutan setelah kematian Yesus. Namun, di tengah ketakutan itu, Yesus datang dan berkata, “Shalom aleichem” – damai sejahtera bagi kamu. Sapaan itu mengubah ketakutan menjadi sukacita dan keberanian baru. “Ibarat badai, akan tetap ada, tetapi kita tenang karena Tuhan ada,” ujarnya.
Karena itu, menurutnya, orang percaya tidak perlu lagi meminta Roh Kudus “hadir”, seolah-olah Ia belum ada di dalam diri kita. “Kita tidak pernah minta Roh Kudus untuk hadir di tempat ini, karena Roh Kudus sudah ada di dalam kita. Karena baptisan sudah dilakukan atas nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus,” tegasnya. Yang terpenting sekarang, tambahnya, adalah memberi ruang dalam hati, agar Roh Kudus bekerja dan menuntun kehidupan setiap orang percaya.
Buah, Sayur, dan Ungkapan Syukur
Refleksi tentang Roh Kudus itu terasa menyatu dengan suasana Pentakosta pagi itu. Nuansa merah memenuhi ruang ibadah, identik dengan Pentakosta dan lambang api Roh Kudus. Di depan altar, berbagai buah, sayur, dan hasil bumi tersusun rapi. Tradisi itu dikenal sebagai unduh-unduh, berasal dari kata Jawa ngunduh, yang berarti memanen atau memetik hasil – sebuah tradisi syukur yang telah hidup hampir satu abad di masyarakat Jawa, dan terus dipelihara dalam kehidupan gereja.
Namun, unduh-unduh bukan sekadar menghadirkan hasil bumi di altar. Di balik buah dan sayur yang tersusun rapi itu, tersimpan kesadaran bahwa setiap hasil kehidupan berasal dari Tuhan. Bahwa pekerjaan, kesehatan, keluarga, usaha, kemampuan, bahkan kesempatan melewati hari-hari sulit, semuanya adalah anugerah. Dan, anugerah itu diberi untuk dibagikan. Karena itu, tradisi syukur selalu memiliki wajah sosial. Syukur tidak berhenti menjadi sekadar ucapan, tetapi diwujudkan melalui kesediaan berbagi kepada sesama.

Hiasan Berupa Hasil Bumi (sumber: ImagoDeus)

Hiasan Hasil Bumi di Depan Altar (sumber: ImagoDeus)
Suasana syukur semakin terasa ketika jemaat berjalan perlahan menuju depan altar untuk memberikan persembahan syukur tahunan. Diiringi lagu “Inilah Ungkapan Syukurku”, remaja, orang tua, hingga lansia datang membawa persembahan yang telah mereka siapkan. Di antara jemaat yang berjalan ke depan, tampak seorang pria lanjut usia melangkah perlahan dengan bantuan tongkat. Meski tertatih, ia tetap berjalan menuju altar bersama jemaat lainnya. Pemandangan sederhana itu seperti menggambarkan satu hal – setiap orang datang membawa syukurnya masing-masing. Ada yang datang dengan langkah kuat. Ada yang datang sambil menahan lelah. Ada yang datang setelah melewati pergumulan panjang. Namun, semuanya datang kepada Tuhan dengan hati yang ingin bersyukur.

Jemaat Maju Satu per Satu untuk Menyerahkan Amplop Persembahan Syukur Tahunan (sumber: ImagoDeus)

Jemaat Tua dan Muda Antusias Menyerahkan Amplop Persembahan Syukur Tahunan (sumber: dokumentasi pribadi Eris Estrada Sembiring)
Pdt. Danny pun mengenang sebuah pengalaman, yang menurutnya menggambarkan makna syukur yang paling sederhana, sekaligus paling tulus. Suatu hari, seorang anak sekolah Minggu datang ke ruang pendeta sambil membawa rambutan hasil kebun keluarganya. “Dia bilang, ‘Ini hasil kebun kami, untuk pendeta.’ Bagi saya, itu ucapan syukur yang meluap dan antusias,” kenangnya.
Mungkin, bagi banyak orang, rambutan hanyalah buah biasa. Namun, bagi anak itu, persembahan tersebut adalah ungkapan kasih yang lahir dari hati. Dan, mungkin memang inilah inti dari semua persembahan. Bukan tentang besar kecilnya nilai yang diberikan, melainkan tentang hati yang tergerak untuk memberikan yang terbaik kepada Tuhan.
Pada akhirnya, Pentakosta bukan hanya tentang mengenang turunnya Roh Kudus ribuan tahun yang lalu. Pentakosta adalah pengingat bahwa Roh Kudus masih bekerja hingga hari ini – menggerakkan manusia untuk saling menopang, menghibur, mengajar, melayani, berbagi, dan menghadirkan damai sejahtera di tengah dunia yang mudah terpecah.
Roh Kudus tidak hadir untuk membuat manusia saling merasa paling rohani. Roh Kudus hadir untuk membentuk manusia-manusia yang mau memakai hidupnya bagi sesama. Sebab, karunia Roh bukan untuk dibanggakan, melainkan dipakai untuk membantu dan berdampak bagi banyak orang.
*Penulis adalah anggota Tim Content Writer & Publication, Komisi Digital dan Kreatif GKI Gading Serpong.