Minggu, 24 Mei 2026, bertepatan dengan perayaan Hari Pentakosta, peluncuran buku kompilasi kesaksian jemaat, berjudul Hidupku Kitab Terbuka berlangsung penuh sukacita. Seluruh hasil penjualan buku yang memuat empat puluh kesaksian jemaat ini dipersembahkan untuk mendukung pengumpulan dana pembangunan gedung gereja GKI Gading Serpong.
Proyek penerbitan buku ini digagas oleh Komisi Perpustakaan dan Publikasi (KPP), yang sejak tahun 2026 telah bergabung dengan Komisi Multimedia (KMM), bertransformasi menjadi Komisi Digital dan Kreatif (KDK). Perubahan ini adalah bagian dari upaya gereja untuk terus berkembang dalam pelayanan kreatif, publikasi, dan penginjilan melalui media digital maupun karya literasi.
Gagasan untuk membuat buku kesaksian ini dimulai pada tahun 2025, terinsipirasi oleh imbauan Pdt. Danny Purnama, agar seluruh jemaat ikut berperan serta dalam mendukung pembangunan gedung gereja, sesuai dengan talenta masing-masing. Yang pandai dalam seni panggung, seperti menyanyi, menari, dan bersandiwara, mengadakan pentas seni. Yang pandai membuat prakarya menjual karya seninya. Yang pandai memasak dan membuat kue mempersembahkan hasil penjualan masakan/kuenya. Dengan semangat yang sama, jemaat yang dapat menulis pun rindu mempersembahkan karya tulisnya.
Jemaat awam pada umumnya bukanlah ahli teologi, tetapi setiap orang percaya tentu punya kisah penyertaan Tuhan. Karena itulah, tercetus ide untuk membuat buku kesaksian jemaat. Untuk mewujudkannya, KPP mengadakan Pelatihan Menulis Kesaksian pada bulan April 2025. Berbekal ilmu yang didapat dari pelatihan, Komisi Usia Indah mengadakan acara lomba menulis artikel kesaksian dengan tema “Aku Diberkati”, yang pemenangnya diumumkan pada acara persekutuan Usindah, dalam peringatan Hari Lansia, 28 Mei 2025. Beberapa karya pemenangnya kemudian ikut dimuat dalam buku kesaksian jemaat ini.
Proses pengumpulan naskah kesaksian ini tidak mudah. Awalnya, sebagian penulis ragu untuk menuliskan kesaksiannya. Keraguan itu muncul, karena tidak mudah membuka pengalaman hidup yang bersifat pribadi kepada banyak orang. Sebagian khawatir akan pandangan orang lain terhadapnya, jika kisahnya terungkap. Namun, salah seorang penulis mengungkapkan, dalam pergumulannya, ia merasa Tuhan terus mengingatkan, bahwa pergumulan hidup yang pernah dialaminya dapat Tuhan pakai untuk menguatkan orang lain yang sedang berjuang. Kesadaran itulah yang membuat mereka akhirnya bersedia membagikan kisah hidupnya secara jujur dan terbuka.
Semua orang percaya pasti mempunyai pengalaman yang berkesan bersama Tuhan, tetapi tidak semua pandai menuliskannya. Untuk itu, tim KPP siap mendampingi, untuk membantu menuliskan kisah mereka. Ada pula beberapa jemaat yang punya kisah menarik, yang semula sudah menyatakan kesediaannya, tidak jadi menyumbangkan kesaksian, karena tidak dapat memenuhi tenggat waktu untuk menuliskan atau menceritakannya, karena kesibukannya.
Kesaksian-kesaksian yang berhasil dihimpun menghadirkan berbagai kisah yang berbeda, mulai dari luka dan kesedihan, kehilangan, tekanan ekonomi, penyakit, pelayanan, pergulatan iman, pergumulan hidup sehari-hari, dll. Setiap tulisan menunjukkan, seberat apa pun kehidupan yang sedang dijalani, Tuhan menyertai, dan dapat bekerja melaluinya untuk membentuk pribadi kita masing-masing.
Melalui kisah-kisah tersebut, jemaat diajak melihat, di balik kehidupan seseorang yang tampak baik-baik saja, sering kali tersimpan perjuangan panjang, yang tidak diketahui orang lain. Karena itu, kita perlu belajar lebih saling peduli, memahami dan menguatkan sesama. Setiap orang memiliki pergumulannya masing-masing, dan tentu membutuhkan dukungan, perhatian, serta penguatan dari sesama.
Seluruh kisah kesaksian yang dimuat dalam buku ini murni berasal dari jemaat GKI Gading Serpong, dari wilayah I hingga X, dan diedit oleh tim editor yang semuanya juga merupakan anggota jemaat. Tidak hanya kesaksian, buku ini juga memuat gambar-gambar ilustrasi yang dibuat sendiri oleh jemaat GKI Gading Serpong, yaitu Hendro Kuntjoro dan Daniel Johann Setiawan. Desain buku dikerjakan oleh Pnt. Lydia Kurniawati, dan diterbitkan oleh Grafika KreasIndo, lembaga penerbitan Sinode GKI. PT Tripalindo Perkasa dan Sparkling8 ikut mensponsori penerbitan buku ini.
Penerbit mengirimkan paket sebanyak dua ribu eksemplar buku yang telah selesai dicetak ke Griya Anugerah pada hari Sabtu, 23 Mei 2026. Sebagian penulis, yang saat itu tengah mengikuti Pelatihan Penulisan Liputan di tempat yang sama pun berkesempatan menjadi tangan-tangan pertama yang menerima buku karya mereka.
Keesokan harinya, penjualan buku mulai dilakukan. KDK membuka meja penjualan buku Hidupku Kitab Terbuka setiap selesai kebaktian umum I–III di lobby lantai dasar, dan setelah kebaktian umum IV di lantai 6 SMAK Penabur Gading Serpong. Jemaat juga dapat memesan melalui Illya Kim Coutrier, di nomor WhatsApp 0821-1975-0518.


Video Promosi Penjualan Buku Hidupku Kitab Terbuka di GKI GS News (sumber: dokumentasi pribadi Tjhia Yen Nie)
Antusiasme jemaat terlihat jelas. Di luar sana, buku kesaksian seperti ini banyak dijual, tetapi tidak seperti buku-buku yang lain, kali ini jemaat mengenal para penulisnya secara pribadi. Meja penjualan buku ramai dikerumuni jemaat yang ingin memiliki buku tersebut. Tidak sedikit yang membeli lebih dari satu eksemplar, untuk diberikan kepada sanak saudara, sahabat, maupun rekan dari gereja lain. Sebagian jemaat juga membeli buku tersebut untuk dibaca secara pribadi, sebagai bahan refleksi. Tingginya antusiasme tersebut menunjukkan, buku kesaksian seperti ini sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, dan mampu menjawab kebutuhan banyak orang akan penguatan rohani.

Persiapan Penjualan Setelah Kebaktian Umum I – III pada Minggu, 24 Mei 2026 (sumber: dokumentasi pribadi Illya Kim Coutrier)


Penjualan Setelah Kebaktian Umum IV (sumber: dokumentasi pribadi Illya Kim Coutrier)

Linda Maruta, Salah Satu Penulis dan Yokebeth Kartika Rahmat/Keke, Putrinya (sumber: dokumentasi pribadi Pnt. Lydia Kurniawati)
Beberapa jemaat yang membeli bahkan meminta para penulis membubuhkan tanda tangan pada buku yang mereka beli. Momen tersebut sungguh membanggakan bagi para penulis, yang dengan sukarela saling bergantian menawarkan diri untuk menjaga meja penjualan setiap minggunya.


Beberapa Penulis Membubuhkan Tanda Tangannya, Melayani Permintaan Jemaat (sumber: dokumentasi pribadi Illya Kim Coutrier)
Esther Yulia Triwardani, salah seorang jemaat, sampai harus menunda membeli buku pada minggu pertama, karena meja penjualan selalu penuh kerumunan orang. Ia baru dapat membelinya setelah memesan secara online. “Saya penasaran pengin baca bukunya. Begitu tadi saya ambil di GA, sampai rumah langsung saya baca. Betul-betul buku kesaksian yang menguatkan iman,” ujarnya. Bahkan, ia mengaku, ada salah satu kesaksian yang sampai membuatnya menangis ketika membacanya.
Ia juga terkesan dengan kesaksian berjudul “Nama Yesus Berkuasa”. Kesaksian tersebut membuatnya berefleksi, “Dalam hidup, ada masa saya berada di titik paling terjepit—saat tidak ada jalan keluar, tidak ada orang yang bisa diandalkan, dan rasanya benar-benar sendirian. Di momen seperti itu, satu hal yang bisa saya lakukan hanyalah berseru memanggil nama Tuhan Yesus, dan saya merasakan kuasa-Nya nyata. Saat saya memanggil nama-Nya, saya tidak lagi merasa sendirian. Ada kekuatan baru, ada ketenangan yang datang, dan ada pertolongan yang tidak selalu langsung terlihat, tetapi nyata bekerja dalam hidup saya. Dia adalah sumber kekuatan, pengharapan, dan pertolongan yang sejati. Saya percaya, tidak ada situasi yang terlalu sulit, selama kita bersandar dan berseru kepada-Nya.”
Pdt. Em. Simon Stevi Lie berkata, “Saya sangat diberkati melalui kisah ‘Berkarya di Tengah Kelumpuhan’. Dari cerita tersebut, saya diingatkan, setiap manusia memiliki potensi dan talenta yang Tuhan berikan untuk mencerminkan kemuliaan-Nya sebagai Allah Pencipta. Kisah ini menolong saya untuk belajar lebih bersyukur dan lebih percaya, bahwa Tuhan terus bekerja dalam setiap keadaan, bahkan ketika kondisi terlihat terbatas. Saya juga disadarkan bahwa saya tidak sendirian—Tuhan selalu hadir dan berkarya dalam hidup saya. Saya bersyukur untuk pengingat ini—bahwa di tengah keterbatasan sekalipun, Tuhan tetap berkarya, setia, dan tidak pernah meninggalkan kita.”



Antusiasme Penulis dan Jemaat yang Membeli Buku Hidupku Kitab Terbuka (sumber: dokumentasi pribadi Illya Kim Coutrier)
Diharapkan, kehadiran buku kompilasi kesaksian Hidupku Kitab Terbuka dapat menjadi sumber inspirasi dan kekuatan, tidak hanya bagi jemaat GKI Gading Serpong, tetapi juga bagi masyarakat luas, khususnya mereka yang sedang menghadapi berbagai pergumulan hidup. Buku ini menjadi pengingat, bahwa setiap manusia memiliki cerita, luka, dan perjuangan yang layak dihargai. Tidak ada pengalaman hidup yang sia-sia, ketika semuanya diserahkan kepada Tuhan.
*Kedua penulis adalah anggota Tim Content Writer & Publication, Komisi Digital dan Kreatif GKI Gading Serpong.