Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Yesus Kristus bagi kamu. (1 Tesalonika 5:18)

Kesaksian ini dihimpun dari rekaman kesaksian dan catatan harian keluarga alm. Bp. Erryck Chandra, yang telah berpulang ke rumah Bapa pada tanggal 3 September 2019. Kiranya kesaksian ini dapat menguatkan kita semua.

KESAKSIAN MONICA ELESKA  (ISTRI ALM. ERRYCK CHANDRA)

Shalom saudara-saudara terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, terima kasih untuk kesempatan yang telah diberikan pada kami, sehingga boleh menuliskan kesaksian tentang bagaimana Tuhan menyertai kehidupan keluarga kami. Saya menceritakan ini, bukan karena kami keluarga idola atau karena kami hebat, tapi untuk menyaksikan kemurahan dan penyertaan Tuhan dalam setiap pergumulan yang dialami keluarga kami.

Pada tahun 2007, Chandra, suami saya jatuh sakit. Sebagai seorang istri dan ibu dari tiga orang anak, saya sangat terpukul saat mendengar vonis dokter, yang menyatakan bahwa suami saya menderita gagal ginjal, dan diharuskan untuk cuci darah secara rutin, 2 kali dalam seminggu. Saat itu, ketiga anak kami masih kecil-kecil: Jose, anak pertama kami, masih berusia 13 tahun, anak kedua Sensen 11 tahun, dan Raisa, yang bungsu baru 5 tahun.

Saat itu, toko kami pun sedang dalam masalah besar. Proyek yang dikerjakan suami saya macet karena banyak yang berutang pada kami, membuat perputaran uang untuk usaha tidak lancar. Kami pun tidak mampu membayar utang pada supplier. Beban yang kami hadapi sangat sulit, membuat suami saya stres, ditambah sakit dan terpuruk, merasa sudah tidak sanggup lagi menghadapi masalah yang begitu berat.

Kami berusaha membayar utang-utang kami dengan cara menjual barang berharga, seperti mobil dan yang lainnya, dengan harapan dapat mengurangi jumlah utang yang ada, dan sisanya dapat kami gunakan untuk biaya berobat suami, juga untuk biaya hidup.

Saat dihadapkan pada situasi ini, sebagai istri dan ibu dari tiga anak yang masih kecil, yang masih membutuhkan biaya besar, serta suami yang sakit, membuat saya sangat stres, putus asa, dan terpukul. Rasanya sudah tidak sanggup menjalani kehidupan, merasakan beban yang semakin berat dan harus terus kami pikul.

Tapi, dalam kondisi tubuhnya yang lemah dan sakit, suami saya memberi kekuatan pada saya. Dia mengatakan, bahwa kita harus kuat. Kita harus menjalani ini semua. Kita harus melihat anak-anak, mereka masih kecil-kecil, mereka masih membutuhkan kita. Suami saya berusaha untuk kuat menerima penyakit yang dialami, menjalani cuci darah dengan rutin, dan selalu berserah pada Tuhan.

Suami saya berjanji, selama dia masih kuat, dia akan tetap meneruskan usaha, dan saya diminta untuk berjaga di toko. Untuk modal meneruskan usaha, kami menjual rumah yang kami tempati, dan pindah ke toko yang kami bangun seadanya dengan sederhana. Teman-teman gereja yang pernah datang ke rumah kami pasti tahu, bagaimana perbedaan kondisi rumah tempat tinggal kami sebelumnya. Setelah pindah ke toko, timbul masalah baru, karena jarak dari rumah ke sekolah anak-anak jauh dan susah ditempuh, begitu pula jarak ke rumah sakit tempat suami berobat.

Kami sudah tidak lagi mempunyai kendaraan pribadi, sehingga semua aktivitas di luar menggunakan kendaraan umum. Waktu itu, anak kami Jose naik kelas 3 SMP, sedangkan Sensen masuk SMP, dan si kecil Raissa masuk SD. Sensen dan Raissa kami sekolahkan di sekolah yang dekat dengan rumah, tetapi Jose masih bersekolah di tempat yang lama, yang jaraknya sangat jauh. Kami bersyukur pada Tuhan, karena Tuhan mengirimkan seorang teman (Bapak Samuel) yang menolong anak kami, dan beliau pun memperbolehkan anak kami tinggal di rumahnya sampai lulus SMP.

Pertama kali kami pindah ke Adiyasa, 9 tahun lalu, kondisi lingkungan masih sangat sepi. Rumah sekitar masih banyak yang kosong, baru ada ruko sebanyak 2 blok, jalanan pun rusak. Dulu, ketika suami saya mau berobat ke rumah sakit, kami harus berjuang, kadang naik angkot atau kereta. Tapi kami tetap bersyukur pada Tuhan, karena suami saya selalu bersemangat melakukan aktivitas sehari-hari. Setiap kali pergi berobat, dia berangkat sendiri, tidak mau menyusahkan kami. Saya selalu berdoa, agar Tuhan menyertai dan menolongnya, agar diberi kekuatan untuk bisa melewati hari demi hari. Saya dan suami menyadari, kami tidak bisa menyelesaikan setiap persoalan yang kami hadapi dengan kekuatan kami sendiri, kami butuh TUHAN. Kami mulai berserah pada Tuhan dengan sepenuh hati. Biarlah setiap pergumulan yang kami alami, kami dimampukan melewatinya, kami diberikan kekuatan dan penyertaan-Nya. Dalam setiap doa, kami selalu katakan, biarlah KEHENDAKMU TUHAN YANG JADI, BUKAN KEHENDAK KAMI. Saya dan suami sungguh menyerahkan kehidupan keluarga dan pergumulan kami ke dalam tangan TUHAN.

Dulu ketika berdoa kepada Tuhan, meminta kesembuhan suami tercinta, kami selalu berdoa setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, bahkan bertahun-tahun senantiasa berdoa dan berdoa, terus berharap Tuhan menyembuhkan sakit yang dialami suami. Bapak Samuel mengajari kami, bahwa saat berdoa, kami boleh berdoa meminta apa saja pada TUHAN, bahkan meminta kesembuhan atas penyakit yang kita alami. Karena Allah yang kita sembah adalah Allah yang berkuasa, mukjizat-Nya dapat terjadi dan ajaib. Tetapi, jangan lupa membiarkan kehendak Tuhan yang jadi bukan kehendak kita. Berdoa dan mintalah pada TUHAN, agar Tuhan memberikan kekuatan, kecukupan, dan biaya yang diperlukan. Kami menuruti apa yang diajarkan oleh Bapak Samuel. Kami tidak memaksa Tuhan untuk memberikan kesembuhan pada suami yang sedang sakit, kami tidak memaksa Tuhan untuk menyediakan apa yang kami perlukan. Kami menyerahkan semua pergumulan yang kami alami hanya ke dalam tangan-Nya. Kami berserah dengan sepenuh hati, kami bersyukur untuk setiap masalah yang kami alami.

Bagi saya dan anak-anak, melihat suami kuat menderita sakit, melewati hari-harinya dengan bersyukur, adalah sebuah mukjizat, karena bukan hal yang mudah bagi seseorang menderita sakit ginjal dan melakukan cuci darah selama 10 tahun untuk dapat bertahan hidup. Setelah kami berserah, kami mengangkat tangan dan menyerahkan segala sesuatunya ke dalam tangan Tuhan.

Biar TUHAN yang turun tangan, membuka jalan bagi kami, satu per satu persoalan hidup kami terselesaikan, mampu kami lewati, walaupun dalam waktu yang cukup panjang.

Dulu saya pernah menyalahkan Tuhan atas apa yang kami alami, sering mengandalkan kekuatan sendiri, mengatur dan memaksa Tuhan untuk menuruti apa yang kami mau. Kami pikir, tanpa Tuhan kami bisa. Ternyata pemikiran dan perbuatan kami salah. Tanpa campur tangan Tuhan dalam hidup kami, kami bukan apa-apa, bukan siapa-siapa, dan tidak akan mampu melewati setiap pergumulan yang kami hadapi.

Tuhan itu baik, Dia sungguh amat baik. Dia ada di setiap napas kehidupan kami, Dia Allah yang ajaib. Dia selalu menopang dan menggendong kami. Sedetik pun Dia tidak pernah meninggalkan kami. Tuhan bukan hanya memulihkan kondisi usaha kami yang hampir bangkrut, tapi juga memberkati keluarga kami. Walaupun dalam kondisi sakit, Tuhan mengizinkan suami saya membangun ruko sampai sebanyak 3 blok, sejumlah 32 ruko di Adiyasa, di luar pemikiran kami. Sungguh TUHAN luar biasa, ajaib. Dia menyediakan segala sesuatu melebihi apa yang kami pikirkan.

Tidak hanya berhenti sampai di situ, Tuhan mengizinkan suami saya menjadi saluran berkat buat orang-orang yang membutuhkan, terutama masyarakat di sekitar Adiyasa. Dia mendirikan sekolah Taman kanak-kanak (TK) gratis bagi anak-anak dari keluarga yang tidak mampu. Hal ini membanggakan saya dan anak-anak, karena dalam keterbatasan kondisinya, suami masih memikirkan kehidupan orang lain, juga sangat peduli dengan kehidupan masyarakat sekitar tempat tinggal kami. Sungguh, kami sangat bangga, karena suami sudah memberikan teladan secara langsung pada kami, untuk selalu berbagi kasih dengan sesama.

Saya selalu berdoa untuk suami saya, Chandra, kiranya Tuhan memakai dia menjadi saluran berkat bagi banyak orang yang membutuhkan. Biarlah dalam setiap perbuatan, hanya nama Tuhan yang dimuliakan. Tuhan baik, Dia sungguh amat baik, Dia tidak pernah meninggalkan kami, dalam kondisi senang maupun susah.

Tanggal 28 November 2017, suami saya menjalani operasi saraf terjepit dari pk 08.00 pagi. Waktu berjalan begitu lama. Sampai lima jam, operasinya belum juga selesai. Tapi Tuhan sangat baik, Dia mengirimkan saudara-saudara seiman yang tidak ada hubungan darah, tidak satu kampung, lain suku, memberi dukungan dan membantu kami. Mereka selalu menjenguk dan men-support, mendampingi, ikut menunggui suami saya. Mereka sungguh ikhlas, kesibukan pun tidak penting bagi mereka. Tuhan sungguh luar biasa, melebihi apa yang pernah terpikirkan oleh kami. Mereka sungguh tulus.

Kami selalu katakan, terima kasih Tuhan! Puji Tuhan! Itu yang membuat suami saya bersemangat. Kurang lebih enam bulan kemudian suami saya harus menjalani operasi lagi, yaitu pemasangan ring dan balonisasi pembuluh darah di kaki. Ini termasuk penyakit yang jarang, sehingga dilakukan di rumah sakit yang mempunyai alatnya. Dan kurang lebih empat bulan kemudian dia kembali harus menjalani operasi hernia. Semuanya dia jalani dengan penuh berserah pada Tuhan karena sangat berisiko bagi seorang yang sudah HD atau cuci darah sekian lama untuk mejalani operasi semacam itu. Suami saya merasakan sakit semakin tak tertahankan menyerangnya setiap hari terutama pada malam hari karena pembuluh darah yang tersumbat. Saya sering menangis diam-diam melihat penderitaan yang dia alami dan hanya bisa berdoa minta Tuhan meringankan penderitaannya.

Tapi dia masih bersemangat untuk tetap survive karena ingin melihat anak-anak kami semua lulus kuliah. Itu yang selalu dia katakan, tapi kalau Tuhan mengijinkan. Terakhir yang membuat dia putus semangat adalah saat setahun kemudian, yaitu bulan Agustus 2019, dokter menyatakan tidak berani dan tidak bisa mengoperasi pembuluh darah di kakinya yang masih tersumbat,yang harus dilakukan dengan cara bypass. Pernyataan dokter ini membuat dia sangat down karena dia kembali harus menghadapi kesakitan yang luar biasa setiap hari dan malam. Dia mengatakan mau menjalani operasi dengan resiko keberhasilan yang kecil sekali daripada menderita sakit begitu.

“Saya sekarang siap kapan saja Tuhan mau panggil saya asal jangan menderita seperti ini, sangat tersiksa,“ katanya. “Tuhan sudah banyak memberikan bonus bagi saya, yaitu kesempatan melihat dua anak saya wisuda, tinggal yang kecil tidak apa-apalah walau belum wisuda, tapi sudah berusia 17 tahun.” Begitu yang dia ucapkan manakala rasa sakit menyerangnya. Sekarang ketika kami berdoa, kami juga berdoa agar Tuhan memberikan yang terbaik buat Erryck Chandra karena hanya Tuhanlah yang tahu mana yang terbaik baginya. Karena tidak hanya pembuluh darah di kakinya saja yang tersumbat tapi jantungnya pun sudah parah dan pernah terkena serangan beberapa kali, tapi Tuhan masih memberi kesempatan. Belum lagi maag/lambungnya juga sering sakit karena konsumsi obat yang terlalu sering dan banyak. Demikian banyaknya penyakit yang dideritanya membuatnya putus asa dan pasrah karena tidak tahu lagi harus mengobati yang mana. “Saya siap kapan saja Tuhan mau panggil”

KESAKSIAN ANAK-ANAK

Kami bertiga, Jose, Sensen, dan Raissa bersyukur dan berterima kasih pada Tuhan Yesus, yang selalu menyertai keluarga kami. Dalam kondisi apapun, senang ataupun sulit, penyertaan dan kasih setia Tuhan selalu kami rasakan. Kami bertiga sangat bangga dengan kedua orang tua kami, terutama Papi. Walau dalam kondisi sakit, Papi terus berjuang, selalu bersemangat, berusaha survive demi membesarkan kami, dan mengangkat keluarga dari keterpurukan. Dalam kondisi sakit, Papi masih memikirkan kehidupan orang lain. Papi berjuang, bukan untuk kehidupan keluarganya saja, tapi Papi juga sangat peduli dengan kehidupan masyarakat sekitar tempat tinggal kami. Sungguh, kami sangat bangga pada Papi, karena Papi sudah memberikan teladan secara langsung pada kami, untuk selalu berbagi kasih kepada sesama. Papi selalu mengajarkan, hidup harus berjuang, bekerja keras, dan harus mengandalkan TUHAN dalam setiap napas kehidupan. Tanpa Tuhan, kita tidak akan bisa menjadi apa pun, dan tidak akan bisa apaapa. Kami bertiga sangat bangga pada Papi.

Kami sangat berharap, Papi terus bersemangat, karena kami bertiga masih membutuhkan bimbingannya. Kami masih membutuhkan kasih sayang Papi. Kesaksian Teman-teman menguatkan di Rumah Sakit. Kami selalu berdoa, agar TUHAN memberikan kekuatan, kesembuhan pada Papi. Kami percaya pada KUASA dan pertolongan-Nya yang ajaib, tapi BIARLAH KEHENDAK TUHAN YANG JADI, bukan kehendak kami.

Karena kami percaya, di setiap sakitnya Papi, Tuhan punya rencana yang indah. Kami berharap, biarlah Papi bisa lebih lama bersama kami dan mendampingi Mami, karena kami masih membutuhkannya, dan ingin membahagiakan Papi.

KESAKSIAN BAPAK ALM. ERRYCK CHANDRA

Pada kesempatan ini, saya, Chandra, berterima kasih kepada Bapak Samuel dan keluarga, Bapak Tri dan istrinya, rekan-rekan sepelayanan, yang selalu memberikan kekuatan dan mendukung doa untuk keluarga kami, terutama saya, sehingga saya dapat bersuka cita walau dalam kondisi sakit. Saya selalu senang bertemu dan berkumpul dengan mereka semua. Saya suka dengan candaan-candaan rekan-rekan semua, Ibu Amaria yang memberi semangat dan selalu berdoa untuk saya, bapak-ibu jemaat yang ada di Adiyasa, yang tak henti selalu mendoakan keluarga kami, terutama kesehatan saya, Bapak Wahyudi dan Bapak Andy yang selalu setia mendukung doa.

Dan yang terakhir, terima kasihku pada istri dan ketiga anak-anakku yang kusayangi dan kubanggakan. Khusus buat ketiga anakku, maafkan Papi kalau sering sekali membuat kalian sedih dan khawatir melihat Papi sakit, sehingga membuat kalian menjadi anak-anak yang serius dan kurang ceria. Anak-anakku, Papi sangat menyayangi kalian bertiga. Papi senang dan bersyukur, karena kalian anak-anak yang baik dan mandiri. Doa Papi, semoga TUHAN memberkati kalian, menjadikan kalian anak-anak yang mencintai TUHAN, keluarga, dan sesama. Di sini saya bersaksi, bagaimana bertahan ketika sakit. Saya melihat keluarga yang masih membutuhkan, terutama anakanak yang masih kecil-kecil. Saya mendapatkan kekuatan dari TUHAN ketika berserah. Saya selalu meminta kemurahan Tuhan, untuk memberi kesempatan pada saya menyelesaikan tanggung jawab, dan berkarya untuk memuliakan namaNya. Meminta pertolongan TUHAN, agar saya tidak menyangkal iman percaya di saat merasakan sakit yang luar biasa pada tubuh ini. Saya berserah, agar KEHENDAK TUHAN yang jadi, walau hampir setiap hari ke rumah sakit, harus minum obat 12-13 butir, dan juga dengan biaya yang sangat besar. Namun saya bersyukur, karena anak-anak sudah besar dan sudah biasa mandiri, selalu merasakan penyertaan Tuhan selama saya mencuci darah. Tuhan mencukupkan semua biaya yang saya butuhkan, walau itu sangat besar.

Saya berterima kasih karena diberi kesempatan untuk berbagi kasih kepada sesama. Saya bersyukur, Tuhan beri kesempatan untuk berkarya walau dalam kondisi sakit. Bukan berapa lama saya bisa hidup, tapi apa yang telah saya berikan dan lakukan selama saya hidup, apakah hidup saya berarti bagi keluarga, juga buat lingkungan di mana saya tinggal. Semua adalah ANUGERAH TUHAN, bukan karena hebat dan kuatku. 

Catatan: Ruko tempat tinggal keluarga alm. Erryck Chandra saat ini digunakan sebagai Bakal Pos (Bapos) GKI Citra Raya. Tim pelawatan GKI Gading Serpong dan Pdt. Andreas Loanka ikut mendampingi almarhum menjalani proses pengobatan selama sakitnya. Kini almarhum sudah bahagia di Rumah Bapa. Seperti yang dikatakannya, “Bukan berapa lama saya bisa hidup, tapi apa yang telah saya berikan dan lakukan selama saya hidup.”