top of page

Menyembuhkan sebagai Tanda Kehadiran Kerajaan Allah

  • Writer: Admin GKI GS
    Admin GKI GS
  • 23 hours ago
  • 2 min read

Bacaan Leksionaris: Lukas 10:33-35


Bacaan Lukas 10:25-37 oleh Lembaga Alkitab Indonesia diberi judul “Orang Samaria yang Murah Hati”. Kisahnya diawali percakapan Yesus dengan seorang ahli Taurat yang ingin mencobai-Nya. Ahli Taurat tersebut menanyakan bagaimana cara supaya ia memperoleh hidup yang kekal. Yesus tidak mudah dicobai, Ia balik menanyakan kepada orang tersebut. Ternyata memang orang itu sudah tahu jawabannya dari hukum Taurat yang ia hafal. Tetapi kembali ia mengajukan satu pertanyaan: “Siapakah sesamaku manusia?” Bagi ahli Taurat itu: Allah sudah jelas hanya TUHAN, sementara baginya sesama manusia adalah sesama umat Yahudi sebagai umat pilihan Allah.


Yesus tahu hal itu, maka kemudian Ia memberi jawaban dengan satu cerita yang justru mengkontraskan keadaan dengan apa yang selama ini ada dalam benak orang Yahudi bahwa orang Samaria pun dapat bermurah hati dan mengasihi sesama lebih daripada orang Yahudi sendiri. Bahkan orang Samaria itu lebih mengasihi sesama dibandingkan imam dan orang Lewi yang notabene adalah orang-orang yang mengerti ajaran agama. Imam dan orang Lewi hanya melewati orang yang tergeletak tak berdaya karena baru dirampok. Mereka tidak peduli, gak mau repot dan masa bodoh dengan keadaan sesamanya.


Justru, Yesus memakai gambaran seorang Samaria yang dipandang sebelah mata oleh orang Yahudi untuk mengajar tentang siapakah sesama yang justru penuh kasih dan peduli. Justru orang yang kerap direndahkan itu, ketika melihat ada orang lain yang terluka dan membutuhkan pertolongan, dengan segera ia menolong. Ia membalut lukanya, menyiraminya dengan minyak dan anggur, membawanya sendiri ke tempat penginapan dan merawatnya, menyerahkan uang dua dinar (upah kerja selama dua hari) kepada pemilik penginapan sebagai biaya perawatan bagi orang yang terluka tadi. Bahkan ia berjanji akan kembali datang untuk menjenguk dan menambahi kekurangan biaya perawatan dan penginapannya.


Orang Samaria ini jelas tidak mengenal orang Yahudi yang ditolongnya. Apa yang menggerakannya untuk melakukan semua itu? Lukas 10:33b menyatakan demikian, “Ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.” Kata “belas kasihan” atau “bela rasa” (Inggris: compassion) merupakan terjemahan dari kata “esplagkhnisthe” (Yunani) yang diartikan sebagai rasa simpati terhadap penderitaan sesama yang dinyatakan dengan keinginan untuk menolong. Karenanya setiap kali Yesus hati-Nya diliputi belas kasihan, Ia segera bertindak melakukan sesuatu, seperti menyembuhkan, memulihkan, menolong, memberi makan. Dengan perbuatan nyata untuk menolong meringankan penderitaan sesama itulah, Kerajaan Allah dihadirkan secara nyata di muka bumi ini.


Di sekitar kita saat ini tidak sedikit orang yang terkapar tak berdaya laksana orang yang turun ke kota Yerikho dalam kisah Tuhan Yesus. Mereka terkapar tak berdaya karena sakit, kehilangan, atau karena berbagai pergumulan berat di tengah keluarga. Kita bisa memilih jadi seperti sang imam atau orang Lewi dalam kisah yang Tuhan Yesus sampaikan: masa bodoh, tidak peduli atau gak mau repot. Tapi bukan itu yang Tuhan mau dari kita. Ia mau kita seperti orang Samaria yang penuh belas kasihan. Yang ia lakukan sebenarnya bukanlah hal-hal yang besar dan hanya bisa dilakukan orang-orang tertentu. Yang ia lakukan adalah hal sederhana: membersihkan luka, merawat, memberi perhatian dan membagi yang dia miliki dengan sesama yang membutuhkan.


Itulah juga yang kita sebagai gereja lakukan, secara khusus melalui pelayanan kesehatan di Klinik Anugerah GKI Gading Serpong. Melalui pelayanan kesehatan itu, kita mencoba membalut, merawat, memerhatikan, memulihkan, dan menyembuhkan sesama. Biarlah kehadiran gereja melalui Klinik Anugerah dan pelayanan kesehatan yang kita berikan, menjadi wujud nyata kehadiran Kerajaan Allah yang penuh belas kasihan bagi sesama yang membutuhkan. Soli Deo Gloria.

Pdt. Danny Purnama

Comments


bottom of page