Dari Keterlukaan Berujung Pelukan
- Admin GKI GS
- Aug 15
- 2 min read
Bacaan Leksionaris: Kejadian 45:1-15; Mazmur 133; Roma 11:1-2a, 29-32; Matius 15:21-28
Setiap bulan Agustus kita mengingat kemerdekaan Indonesia. Namun kemerdekaan itu lahir bukan dari keadaan yang tenang. Indonesia melewati penjajahan, penderitaan, ketakutan, dan berbagai luka. Bahkan setelah merdeka, kita masih melihat berbagai persoalan yang membuat bangsa ini terluka. Demikian juga dengan kehidupan kita. Ada luka karena keluarga, pengkhianatan, kegagalan, kehilangan, atau perkataan seseorang. Ada luka yang mungkin sudah bertahun-tahun kita bawa.
Yusuf juga tahu bagaimana rasanya terluka. Ia dibenci dan dijual oleh saudara-saudaranya. Namun ketika bertahun-tahun kemudian ia berhadapan kembali dengan mereka, Yusuf tidak memilih membalas. Ia berkata, “Allah yang menyuruh aku mendahului kamu.” Yusuf tidak menyangkal kejahatan yang dilakukan saudara-saudaranya. Ia tahu bahwa mereka memang bersalah. Tetapi Yusuf tidak membiarkan luka masa lalunya menentukan siapa dirinya dan bagaimana ia menjalani masa depannya. Ia melihat bahwa di tengah kejahatan manusia, Allah tetap bekerja.
Kita pun tidak selalu dapat mengubah apa yang sudah terjadi. Kita tidak bisa kembali ke masa lalu dan menghapus perkataan, pengkhianatan, atau kehilangan yang pernah terjadi. Tetapi kita tidak harus selamanya menjadi tawanan dari apa yang telah terjadi kepada kita. Luka itu nyata, tetapi kasih karunia Tuhan juga nyata. Masa lalu itu nyata, tetapi Tuhan masih mengerjakan masa depan kita. Karena itu, mengampuni bukan berarti mengatakan bahwa apa yang terjadi tidak penting. Mengampuni juga bukan berarti membiarkan kejahatan terus terjadi. Pengampunan berarti kita berhenti memberikan kuasa kepada orang yang pernah melukai kita untuk terus menentukan hidup dan hati kita.
Hal yang sama kita lihat dalam kisah perempuan Kanaan. Ia datang kepada Yesus sebagai seseorang yang berada di luar lingkaran umat Allah. Namun ia terus datang dan memohon belas kasihan. Yesus menunjukkan bahwa kasih dan belas kasihan Allah jauh lebih besar daripada batas-batas yang manusia buat. Roma 11 pun mengingatkan bahwa karunia dan panggilan Allah tidak dapat ditarik kembali. Allah tetap setia dan menunjukkan belas kasihan-Nya. Maka pertanyaannya bagi kita adalah kalau kita sudah mengalami pelukan Allah, apakah kita juga bersedia menjadi pembawa pelukan Allah?
Dalam situasi seperti itu, kita dipanggil bukan untuk menutup mata terhadap kesalahan, tetapi untuk meresponsnya tanpa dikuasai kebencian. Kita tetap boleh menegur ketika ada yang salah, memperjuangkan keadilan ketika ada ketidakadilan, dan menetapkan batas ketika sebuah relasi tidak sehat. Tetapi kita tidak perlu membalas kejahatan dengan kejahatan. Kita dapat berkata benar tanpa membenci, berbeda tanpa memusuhi, dan memperjuangkan kebenaran tanpa kehilangan belas kasih. Sebab menjadi pembawa pelukan Allah bukan berarti membenarkan semua hal, melainkan menghadirkan kebenaran dan kasih secara bersamaan.
Kiranya hidup kita dapat menjadi bentuk nyata pelukan. Luka tidak harus berakhir dengan luka. Kebencian tidak harus dibalas dengan kebencian. Di dalam tangan Tuhan, keterlukaan dapat berujung pada pelukan. Dan karena kita telah mengalami pelukan kasih Allah, kiranya melalui hidup kita, orang lain pun dapat merasakan sedikit dari pelukan itu.
Sdri. Christy Rika Elvira Zulkarnein

Comments