Gereja yang Terus Membarui Diri
- Admin GKI GS
- 5 days ago
- 2 min read
Bacaan Leksionaris: Keluaran 1:8-2:10; Mazmur 124; Matius 16:13–20; Roma 12:1–8
Apakah ada gereja yang sempurna? Tidak ada. Kalaupun ada gereja yang sempurna, gereja tersebut akan menjadi tidak sempurna karena Anda masuk di dalamnya. Hehe. Gereja adalah persekutuan manusia yang terbatas dan berdosa. Demikian pula GKI. Kita dapat dengan mudah menemukan kekurangan dalam pelayanan dan kehidupan bergereja. Namun, di tengah ketidaksempurnaan itu, Tuhan tetap berkarya. Dalam Matius 16:13–20, ketika Yesus bertanya, “Menurut kamu, siapakah Aku ini?”, Petrus menjawab, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!.” Pengakuan iman inilah yang menjadi dasar gereja. Gereja bukan berdiri karena manusia sempurna, melainkan karena Kristus yang memanggil dan menopang umat-Nya. Panggilan adalah “relasi” yang memulihkan, mendewasakan dan menumbuhkan pengharapan. Karena itu, keberadaan GKI hingga hari ini adalah kesaksian bahwa anugerah Tuhan bekerja di tengah segala keterbatasan kita.
GKI menyadari bahwa gereja yang hidup adalah gereja yang terus membarui diri di tengah segala perbedaan yang ada. Sejarah dan tradisi GKI, termasuk akar Tionghoa Kie Tok Kauw Hwee, adalah bagian penting dari identitas yang patut disyukuri. Namun, akar tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti bertumbuh merespons perubahan. Yesus berkata, “Aku akan mendirikan gereja-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya” (Mat. 16:18). Dengan demikian, pembaruan bukan berarti meninggalkan identitas, tetapi mencari cara agar gereja tetap setia kepada Kristus di tengah perubahan zaman. Roma 12:2 mengingatkan, “Janganlah menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu.” Gereja perlu berani mendengar, mengevaluasi diri, mengakui kekurangan, dan memberi ruang bagi generasi serta karunia yang beragam.
Maka, Ecclesia semper reformanda, gereja harus senantiasa diperbarui, bukan berarti gereja kehilangan jati dirinya, melainkan terus kembali kepada Kristus sebagai pusat dan kepala gereja. Kita menerima gereja dari generasi sebelumnya dan akan mewariskannya kepada generasi berikutnya. Kiranya kita tidak membangun gereja yang merasa dirinya sempurna, tetapi gereja yang rendah hati, mau belajar, berani berubah, dan terus bertumbuh dalam kasih. Gereja yang terus membarui diri adalah gereja yang tetap berakar pada Kristus, tetapi tidak takut menumbuhkan cabang-cabang baru untuk menghadirkan kasih, kebenaran, dan damai Allah di tengah dunia. Selamat ulang tahun GKI. Amin.
Pdt. Yoses Rezon Suwignyo

Comments