top of page

Memikul Salib Kebangsaan

  • Writer: Admin GKI GS
    Admin GKI GS
  • Aug 29
  • 1 min read

Updated: 5 days ago

Bacaan Leksionaris: Keluaran 3:1-15; Mazmur 105:1-6, 23-26, 45b; Roma 12:9-21; Matius 16:21-28


Dalam beberapa dekade terakhir, kekristenan kita cenderung menjadi sangat “nyaman.” Kita puas dengan gedung gereja yang megah, ibadah yang meriah dan seminar-seminar motivasi. Kita ingin menjadi orang percaya yang “moderat”—cukup beribadah di hari Minggu, cukup memberi persembahan, cukup berbuat baik secukupnya.

Tetapi Yesus tidak pernah memanggil kita untuk menjadi penonton yang pasif. Yesus memanggil kita keluar dari zona nyaman untuk menjadi alat kebenaran-Nya di tengah bangsa. Ia menugaskan kita untuk menjadi murid yang memikul salib di tengah bangsa ini.


Salib yang harus kita pikul bukan hanya soal sakit-penyakit, masalah keluarga atau pergumulan ekonomi. Yesus tidak berbicara sekadar “salib pribadi” untuk bertahan hidup, tetapi tentang keberanian untuk menanggung risiko karena keberpihakan kita kepada kebenaran Allah.


Salib kebangsaan ada di depan kita: ketika korupsi masih merajalela, ketika keadilan diperjualbelikan, ketika yang lemah ditindas dan ketika generasi muda dibingungkan oleh hoaks dan perpecahan - di sinilah salib itu berada. Apakah kita mau memikul “salib kebangsaan?”. Bukan salib yang kita gantung di leher, bukan salib yang kita pajang di dinding rumah atau gereja, tetapi salib yang harus kita pikul ketika kita memutuskan untuk setia kepada Kristus di tengah bangsa yang sedang bergumul.


Kiranya kita tidak menjadi seperti Petrus yang menegur Yesus karena takut menderita. Semoga kita menjadi seperti Petrus yang setelah Pentakosta, dengan berani berkata di hadapan Mahkamah Agama: “Kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia.” (Kisah Para Rasul 5:29). Itulah salib kebangsaan. Salib itu berat, namun justru di sanalah kemuliaan Allah nyata kepada bangsa ini.

Pdt. Susi Juliana

Comments


bottom of page