Menabur Harapan bagi Masa Depan
Bacaan Leksionaris: Amsal 19:17
Setiap orang memikirkan masa depan. Kita menabung, bekerja, berinvestasi, dan mempersiapkan pendidikan anak demi masa depan yang lebih baik. Amsal 19:17 mengajar kita tiga hal yang penting tentang masa depan.
Pertama, masa depan tidak hanya ditunggu, tetapi ditabur. Harapan Kristen bukan sekadar optimisme bahwa keadaan akan menjadi lebih baik, melainkan keberanian melakukan sesuatu hari ini agar kehidupan esok menjadi lebih baik. Karena itu pertanyaan iman bukan hanya, “Apa yang saya harapkan dari masa depan?”, tetapi juga, “Apa yang sedang saya taburkan hari ini bagi masa depan?”. Orang Kristen dipanggil untuk melakukan sesuatu hari ini yang sejalan dengan harapan yang dimiliki di masa depan.
Kedua, Tuhan mengajak kita melangkah lebih besar dari sekadar memikirkan masa depan diri atau keluarga sendiri. Amsal 19:17 secara khusus menyebut orang yang lemah (dal): mereka yang miskin, rentan, atau memiliki kesempatan hidup yang terbatas. Ukuran masa depan yang baik bagi orang Kristen bukan hanya apakah kita dan keluarga kita semakin sejahtera, tetapi apakah mereka yang lemah juga memperoleh masa depan. Itu sebabnya kita dipanggil untuk menjadi garam dan terang dunia (Mat 5 :13-16). Kita dipanggil menjadi berkat bagi sebanyak mungkin orang, khususnya mereka yang lemah. Ini bisa dilakukan dengan membuka akses pendidikan, pekerjaan, pendampingan, penerimaan, dan berbagai kesempatan yang memungkinkan seseorang hidup secara bermartabat.
Ketiga, apa yang kita taburkan tidak pernah sia-sia di hadapan Tuhan. Ungkapan “memiutangi TUHAN” menunjukkan betapa seriusnya Allah memandang tindakan kepada mereka yang lemah. Allah tidak mengajarkan transaksi iman bahwa orang yang memberi pasti memperoleh kekayaan sebagai balasan. Ayat ini mengajarkan, Allah mengidentifikasi diri-Nya dengan mereka yang rentan dan memperhitungkan setiap tindakan kasih yang dilakukan kepada mereka. Kita mungkin tidak selalu melihat hasil dari benih yang kita taburkan, tetapi Tuhan melihat dan memberi pertumbuhan.
Karena itu kita tidak perlu menunggu menjadi kaya atau mampu menyelesaikan persoalan yang besar untuk mulai menabur. Satu beasiswa, satu kesempatan kerja, satu anak yang didampingi, satu keluarga yang ditolong untuk bangkit, atau satu orang yang kembali memiliki alasan untuk berharap dapat menjadi benih bagi masa depan. Allah bersuka cita untuk tindakan indah dan bermakna seperti itu.
Pdt. Darwin Darmawan

Comments