Diutus untuk Menjangkau yang Terpinggirkan
Bacaan Leksionaris: Matius 9:35-38
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Ada perbedaan besar antara melihat dan menyadari. Kita dapat melihat orang miskin, anak yatim, keluarga korban bencana, daerah tertinggal, atau mereka yang kehilangan masa depan. Namun melihat belum tentu membuat kita bergerak. Yesus tidak berhenti pada melihat. Matius 9:36 berkata, “Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak mempunyai gembala.”
Yesus melihat bukan hanya jumlah orang, melainkan luka, penderitaan, dan kehilangan arah yang mereka alami. Belas kasih-Nya bukan sekadar rasa iba, tetapi dorongan untuk hadir dan bertindak. Gambaran “domba tanpa gembala” menunjukkan manusia yang rentan, terlantar, kehilangan perlindungan, dan tidak memiliki kekuatan untuk memulihkan diri. Mereka yang terpinggirkan bukan hanya orang miskin, tetapi juga mereka yang tidak memiliki suara, tidak diperhatikan, dan penderitaannya dilupakan setelah berita berlalu.
Kita melihat hal ini dalam pelayanan Kasih Abadi Untuk Mentawai—KAUM. Setelah gempa dan tsunami Mentawai tahun 2010, banyak anak kehilangan orang tua dan masa depan. Namun ketika bencana berakhir dan kamera pergi, penderitaan mereka belum selesai. Mereka tetap harus bertumbuh, bersekolah, dan menemukan harapan. KAUM tidak berhenti pada bantuan darurat. Pelayanan ini hadir melalui pendidikan, asrama, pendampingan, dan pengembangan ekonomi. Kasih tidak hanya datang membawa bantuan, tetapi tinggal, mendidik, membangun, dan menolong seseorang berdiri kembali.
Yesus berkata, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit.” Ia mengajar kita bahwa doa harus menuju pengutusan. Ketika kita berdoa agar Tuhan mengirim pekerja, mungkin Tuhan sedang bertanya, “Maukah engkau menjadi tangan-Ku?” Karena itu, gereja dipanggil untuk melihat mereka yang tidak terlihat. Urutannya jelas: melihat, tergerak, melayani, lalu diutus. Marilah kita tidak hanya merasa iba, tetapi berani hadir bagi mereka yang terpinggirkan. Kiranya kita berkata, “Tuhan, jika Engkau membutuhkan tangan, pakailah tanganku. Jika Engkau membutuhkan hidupku, utuslah aku.” Kasih sejati tidak berhenti ketika berita berhenti. Kasih tinggal sampai seseorang mampu berdiri kembali. Amin.
Pdt. Pramudya Hidayat

Comments