top of page
GKI-Gading-Serpong-logo

Log in to God

Majalah Sepercik Anugerah
Aug 28
2 min read
Log in to God (sumber: unsplash.com)
Log in to God (sumber: unsplash.com)

Tuhan memberikan akal budi kepada manusia sehingga mampu menciptakan dan mengembangkan teknologi. Saat ini, kita hidup di zaman yang sangat cepat berubah. Teknologi digital telah menjadi bagian dari hampir setiap aspek kehidupan manusia. Dengan satu sentuhan pada layar gawai, kita dapat berkomunikasi jarak jauh, mendapat informasi dari seluruh dunia dengan cepat, bahkan bekerja dan beraktivitas dari dalam rumah. Dunia terasa semakin dekat, ironisnya, hati manusia tidak jarang justru terasa semakin jauh. 


Era digital telah mengubah banyak hal dalam kehidupan keluarga. Di dalam satu rumah, setiap anggota keluarga bisa tenggelam dalam gawainya masing-masing. Bangun tidur langsung buka ponsel, sampai mau tidur pun masih berselancar di media sosial. Tanpa disadari, pasangan yang berada di samping kita terasa lebih jauh daripada teman di dunia maya.


Kolose 3:14 mengingatkan “Di atas semuanya itu: Kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.” Kasih tidak hanya dinyatakan lewat kata-kata, tetapi melalui perhatian, waktu, dan kehadiran. Di tengah dunia yang serba cepat, perhatian kepada pasangan dan keluarga adalah bentuk kasih yang nyata.

Konsep sederhana, tetapi penting bagi keluarga Kristen adalah log in to God. Jika setiap hari kita rajin log in ke berbagai aplikasi, seharusnya kita juga membiasakan diri untuk log in ke Tuhan melalui doa, membaca firman, dan membangun mezbah keluarga. Ketika suami dan istri terlebih dahulu terhubung dengan Tuhan, hubungan mereka satu sama lain akan dikuatkan. Hubungan itu juga mengalir kepada anak-anak.


Yosua 24:15b mengatakan “Tetapi, aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” Anak-anak belajar bukan hanya dari kata-kata, tetapi dari teladan orang tuanya. Ketika mereka melihat ayah dan ibu saling mendengar, berdoa bersama, dan meletakkan Tuhan sebagai pusat keluarga, mereka akan belajar arti kasih yang sejati. Kehangatan rumah tangga tidak dibangun oleh sinyal yang kuat, melainkan oleh komunikasi yang tulus.

Sebagai bagian dari gereja, kita juga adalah keluarga Allah. Efesus 2:19 menyatakan bahwa orang percaya bukan lagi orang asing atau pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota keluarga Allah. Gereja menjadi tempat di mana keluarga-keluarga saling menguatkan, bertumbuh dalam iman, dan belajar menggunakan teknologi dengan bijaksana.


Pengalaman ini pernah kami rasakan secara nyata pada masa pandemi COVID-19. Ketika ibadah dan aktivitas di gereja tidak dapat dilakukan seperti biasa, kami membentuk kelompok kecil yang bertemu secara online (daring). Melalui pertemuan daring itu, jemaat tetap dapat saling terhubung, menguatkan, menghibur, memperhatikan dan bertumbuh di dalam iman meskipun tidak bertemu secara fisik. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi dapat menjadi sarana yang dipakai Tuhan untuk memelihara persekutuan umat-Nya.


Di tengah dunia yang semakin digital, mari kita tetap mengupayakan agar selalu terhubung dengan Tuhan, pasangan, anak-anak, dan dengan keluarga Allah di gereja. Ketika hati kita terhubung dengan Tuhan, keluarga kita akan terus bertumbuh dalam kasih-Nya. Teknologi dapat menghubungkan banyak orang, tetapi hanya Tuhan yang mempersatukan hati dalam keluarga. (Edy Santoso dan Heniwati*/Lydia Kurniawati)


*Penulis adalah pasangan suami istri, pengurus Komisi Pasutri GKI Gading Serpong untuk masa pelayanan 2026–2028. 


Comments


bottom of page