top of page
GKI-Gading-Serpong-logo

Ma, Jangan Lihat HP Melulu

Majalah Sepercik Anugerah
15 hours ago
2 min read

Ma, Jangan Lihat HP Melulu (sumber: unsplash.com)
Ma, Jangan Lihat HP Melulu (sumber: unsplash.com)

Kita sering mendengar ungkapan, "Mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat." Fenomena kecanduan gawai dan media sosial ini kami alami sendiri dalam keluarga. Suatu hari, saat saya membongkar laci berisi surat-surat, saya menemukan dua pucuk "surat cinta" dari anak saya. Kedua surat tersebut berisi kalimat yang sama—singkat, padat, dan jelas, "Mama, jangan lihat HP melulu!"


Umumnya, anak-anak Gen Z sebagai digital natives sulit terlepas dari gawai. Namun, stigma tersebut terpatahkan di keluarga kami. Yang terjadi justru sebaliknya. Kami, sebagai orang tua yang termasuk Gen X, lebih melekat dengan gawai kami. Dua pucuk surat yang saya ceritakan di atas, lahir dari kegiatan yang diadakan oleh sekolah, yang memberi kesempatan bagi anak saya untuk menyampaikan unek-uneknya melalui media surat.

Ketika membaca surat itu, saya merasa malu dan menyesal. Rasanya seperti mendapat surat peringatan atau teguran dari kantor. Jujur, bagi saya tidak mudah melepaskan keterikatan dengan gawai, bahkan setelah menerima "surat teguran kedua" dari anak saya.


Bersyukur, anak saya sabar menghadapi kekurangan saya. Ia juga jujur mengungkapkan apa yang dirasakannya, meski awalnya hanya melalui surat. Jika dipikir-pikir, sebenarnya ia sudah lebih dahulu menyampaikannya lewat bahasa tubuh. Misalnya, ia langsung pergi meninggalkan saya ketika kami sedang bercakap-cakap—karena saya berbicara dengannya sambil memegang gawai. Namun, sayangnya saya tidak cukup peka, atau lebih tepatnya, mengabaikan perasaan yang diungkapkannya melalui tindakan tersebut.


Seiring bertambahnya usia, anak saya semakin terbuka mengungkapkan perasaannya secara langsung, dengan gaya bahasanya sendiri. Ketika ia merasa terganggu dengan kebiasaan saya bercakap-cakap sambil memegang gawai, ia akan berkata, "Ma, lagi chat siapa, sih?"Darinyalah saya belajar melepaskan gawai ketika sedang berbicara, juga saat berkesempatan pergi bersamanya. Bukan berarti saya langsung bisa berubah. Saya masih terus belajar melepaskan kebiasaan tersebut. 


Darinya, saya belajar dan menemukan arti penting komunikasi yang terbuka dan apa adanya. Dengan demikian, hal-hal yang mengganjal di hati, yang membuat hubungan menjadi kaku, dapat dicairkan dan dicarikan jalan keluar, sehingga relasi dapat menjadi lebih baik. 


Memang, dibutuhkan sikap proaktif dari kedua belah pihak. Komunikasi tidak akan berjalan jika hanya dilakukan oleh satu pihak saja. Semua membutuhkan proses, waktu, kerendahan hati, dan kerelaan untuk berubah. Roh Kudus kiranya memampukan saya untuk melepaskan keterikatan pada gawai. (Pnt. Lianti Tjayadi*/Eris Estrada Sembiring)


*Penulis adalah penatua GKI Gading Serpong untuk masa pelayanan 2026 – 2029. 



Comments


bottom of page