top of page

Menata Kata, Menyempurnakan Makna

Majalah Sepercik Anugerah
19 hours ago
3 min read

Penulis: Iwid Faskayana*

Penyunting: Lianti Tjayadi


Foto Bersama Peserta Latihan (sumber: dokumentasi KDK GKI GS)


Ada berbagai bentuk pelayanan di dalam gereja. Tidak semua orang melayani dengan cara yang sama. Namun, setiap orang dapat mengambil bagian dalam pelayanan sesuai dengan talentanya. Atas dasar itu, Komisi Digital dan Kreatif (KDK) GKI Gading Serpong mengajak jemaat turut aktif melayani di bidang literasi, dengan mengadakan Pelatihan Editor untuk Majalah Sepercik Anugerah dan website GKI Gading Serpong, bertemakan “Menata Kata, Menyempurnakan Makna.” Pelatihan diadakan pada Sabtu, 10 Oktober 2026, pukul 09.00–14.00 WIB, bertempat di ruang Yohanes, Griya Anugerah, Jalan Kelapa Puan Raya No.20–21 Blok CA12, Pakulonan Barat, Kelapa Dua, Tangerang, dan dihadiri oleh 10 dari 12 orang yang mendaftar. Pembawa materi pelatihan ini ialah Lanny Dewi Joeliani, yang juga adalah Koordinator Editor Majalah Sepercik Anugerah.


Acara diawali dengan pujian “Allah Itu Baik” dan dilanjutkan doa pembukaan oleh Iwid Faskayana. Berlandaskan Lukas 6:43–45, Pdt. Pramudya Hidayat membawakan renungan tentang fungsi seorang editor.  Beda penempatan tanda baca bisa menyebabkan pembaca salah mengartikan. Salah pengertian juga bisa terjadi dalam penggunaan media sosial, sehingga dapat menimbulkan konflik ataupun pembiaran opini yang salah. Dalam hal inilah, fungsi editor diperlukan, yakni memastikan pesan yang benar sampai kepada pembaca.


Lebih jauh, Pdt. Pramudya Hidayat mengingatkan pentingnya peran editor yang tidak hanya sekadar memperbaiki kata, tetapi juga menjaga dan menangkap dengan jernih makna yang disampaikan oleh penulis. Sebab, setiap tulisan merupakan ungkapan hati seseorang, dan tidak ada satu pun tulisan yang bersifat netral, sehingga editor bertugas membawa pembaca supaya tidak tersesat, dan mengetahui kebenaran.


Peserta Latihan dan Pdt. Pramudya Hidayat (sumber: dokumentasi KDK GKI GS)


Lukas 6:43–45 mengungkapkan adanya hubungan antara pohon dan buahnya. Ini juga berlaku pada diri seseorang. Apa yang baik, keluar dari hati yang baik. Sebaliknya, hati yang jahat akan mengeluarkan hal yang jahat. Bahkan, hati yang terluka cenderung melukai orang lain. Terkadang, inilah yang menyebabkan tulisan tertentu terpaksa di-drop, karena berpotensi melukai hati orang lain, dan mengganggu keharmonisan dengan sesama. Renungan ditutup dengan sebuah pesan, “Walaupun melelahkan, panggilan seorang editor adalah mampu menangkap apa yang ada di hati penulis, membuat tulisan menjadi lebih jelas dan membangun.”


Sebelum sesi pelatihan dimulai, ada perkenalan antarpeserta. Sungguh menarik, meskipun latar belakang setiap peserta berbeda-beda, tetapi semua punya tujuan yang sama, yaitu ingin belajar menjadi seorang editor. Pada awal sesi, dipaparkan alur kerja penerbitan Majalah Sepercik Anugerah, yaitu: rapat penentuan tema, checking tulisan yang masuk, proses pengeditan, pembuatan desain, penerbitan, dan terakhir distribusi.


Selanjutnya, dijelaskan tentang fungsi editor. Dalam kesempatan ini, diberikan contoh naskah/tulisan asli yang dibandingkan dengan hasil editingnya. Tujuannya, peserta memahami peran penting editor dalam menata kata, supaya mendapatkan makna yang benar dan sempurna.



Serius tetapi Santai (sumber: dokumentasi KDK GKI GS)


Berikutnya, diterangkan mengenai format Majalah Sepercik Anugerah dan website GKI Gading Serpong, antara lain: penulisan judul dan subjudul, peletakan nama penulis dan editor, hingga font yang dipakai, jarak baris, maupun susunan paragrafnya.


Sebagai pedoman editor, materi-materi yang diperlukan dalam proses editing diuraikan satu per satu. Tujuannya, editor mengetahui dan memahami dengan benar, bagaimana mengelola tulisan supaya enak dibaca, dengan berpegang pada kaidah tata bahasa Indonesia yang baik dan benar, sesuai dengan Ejaan yang Disempurnakan (EYD) V dan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) VI, yang berlaku saat ini. Dalam setiap materi yang disampaikan, ada contoh dan latihan yang diberikan, sehingga peserta dapat langsung belajar mempraktikkannya.


Diskusi Santai Saat Pelatihan (sumber: dokumentasi KDK GKI GS)


Pelatihan ini berjalan dengan lancar dan menyenangkan. Setiap peserta tampak antusias. Terkadang, diselingi joke lucu antarpeserta, sehingga suasana pelatihan tidak tegang, dan peserta pun tidak canggung atau takut bertanya, jika ada yang belum dipahami. Menjelang pukul 14.00 WIB, narasumber selesai menyampaikan semua materi. Pelatihan editor pun ditutup dengan doa yang dibawakan oleh Pnt. Lianti Tjayadi.


Kiranya, melalui Pelatihan Editor ini, para peserta mempunyai semangat melayani, mau terus belajar, dan setia memberikan yang terbaik bagi hormat kemuliaan Tuhan.

 

*Penulis adalah anggota tim editor Majalah Sepercik Anugerah dan website GKI Gading Serpong.

Comments


bottom of page