top of page
GKI-Gading-Serpong-logo

Keluarga, Gawai, dan Tuhan

Majalah Sepercik Anugerah
Aug 18
5 min read

Keluarga, Gawai, dan Tuhan (sumber: unsplash.com)
Keluarga, Gawai, dan Tuhan (sumber: unsplash.com)

Coba kita perhatikan suasana di ruang keluarga kita belakangan ini. Mungkin, TV menyala, tetapi tidak ada yang benar-benar menontonnya. Ayah sibuk membalas pesan di grup WhatsApp, Ibu asyik melihat resep, link belanja, atau video pendek di smartphone, sementara anak-anak tenggelam dengan game atau tontonan mereka masing-masing. Kita semua mungkin duduk di ruangan yang sama, di sofa yang sama, tetapi pikiran dan hati kita sedang mengembara ke tempat yang berbeda-beda.


Transformasi digital sering kali hanya diukur dari seberapa cepat koneksi internet, atau seberapa canggih handphone keluaran terbaru. Padahal, kalau kita mau jujur dan melihat lebih dalam, layaknya pisau bermata dua, teknologi ini pelan-pelan sedang mengubah cara kita hidup, cara kita berelasi dengan orang terdekat, dan yang paling membahayakan, cara kita beriman kepada Tuhan.


Dalam hal inilah kita berhadapan dengan krisis yang sebenarnya. Masalah utamanya, bukan sekadar anak kita kecanduan main gadget. Yang jauh lebih mendasar, dunia digital yang serba gampang ini diam-diam membuat kita rentan terkena "amnesia rohani", alias melupakan Tuhan.


Peringatan Masa Lalu 


Kalau kita membuka Alkitab, ada satu perikop yang rasanya sangat pas dan menohok untuk kondisi kita hari ini, yaitu Ulangan 8:11–18. Saat itu, Musa sedang berpidato di hadapan bangsa Israel. Sebentar lagi, mereka akan masuk ke tanah perjanjian. Setelah puluhan tahun hidup susah di padang gurun—di mana mereka harus bergantung penuh pada Tuhan, hanya untuk makan manna sehari-hari—kini mereka akan masuk ke sebuah fase kehidupan yang sangat nyaman. Mereka akan membangun rumah yang bagus, makan sampai kenyang, dan punya banyak ternak.

Namun, perhatikanlah apa yang dikhawatirkan Musa. Ia tidak menasihati mereka soal strategi perang. Musa justru memberikan peringatan yang sangat tajam tentang ingatan, "Hati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN..." (ayat 11a).


Musa tahu betul penyakit dasar manusia. Ketika hidup sedang susah, kita gampang sekali mencari Tuhan. Namun, ketika semua kebutuhan sudah terpenuhi, ketika hidup serba enak, muncul bahaya yang mematikan, yaitu ilusi kemandirian. Di ayat 17, teguran itu berbunyi, "Jangan sampai kaukatakan dalam hatimu, ‘Kuasaku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini.’"


Kalau ditarik ke zaman sekarang, kondisinya sangat mirip. Dunia digital adalah "tanah perjanjian" modern kita. Semuanya tersedia. Mau makan, tinggal klik. Mau tahu cuaca besok, tinggal cari di mesin pencari. Kemudahan demi kemudahan ini menciptakan ilusi di kepala kita, bahwa kita memegang kendali penuh atas hidup kita. Ketika segalanya terasa bisa kita selesaikan sendiri lewat ujung jari, kita mulai merasa tidak butuh Tuhan lagi. Ingatan kita akan pemeliharaan Tuhan pelan-pelan terkikis.


Tiga Perubahan Nyata 


Dunia digital bukan lagi sekadar alat bantu, ia sudah menjadi lingkungan tempat kita bernapas sehari-hari. Ekosistem baru ini membawa setidaknya tiga perubahan besar, yang langsung memukul pertahanan iman keluarga kita.

Pertama, mungkin kita hadir secara fisik, tetapi hati entah ke mana. Iman Kristen sangat menghargai kehadiran yang nyata. Tuhan Yesus saja rela lahir ke dunia, menjadi manusia, agar bisa hadir secara fisik di tengah kita. Namun, budaya digital justru menarik kita ke arah sebaliknya. Kita mengganti kehadiran nyata dengan sebatas chat dan emoji. Relasi di dalam rumah menjadi dangkal. Kita bisa saling bertatapan saat makan malam, tetapi sibuk memikirkan komentar orang lain di media sosial.


Kedua, semua serba instan, sedangkan iman butuh proses. Dunia digital melatih otak kita untuk tidak sabaran. Kita terbiasa dengan hasil yang instan. Masalahnya, kehidupan iman tidak bekerja seperti aplikasi yang bisa diunduh dalam hitungan detik. Menumbuhkan karakter, belajar mengampuni pasangan, atau mendidik anak itu butuh waktu, proses, dan air mata. Ketika kita membawa kebiasaan serba instan dari dunia digital ke dalam rumah tangga, kita jadi mudah frustrasi, saat melihat pasangan atau anak kita tidak berubah secepat yang kita mau.


Ketiga, kita merasa jadi penentu segalanya. Karena informasi begitu mudah didapat, manusia modern merasa dirinya tahu segalanya. Kita merasa memegang "kunci" dunia di genggaman tangan kita. Kesombongan halus ini membuat kita lupa, kita ini rapuh. Kita lupa, napas yang kita hirup hari ini, pekerjaan yang kita punyai, dan kesehatan keluarga kita, seratus persen adalah anugerah Tuhan.


Tempat Menyemai Iman


Di tengah gempuran zaman yang serba cepat ini, keluarga—sebagai gereja terkecil—punya tugas yang mahaberat. Dahulu, iman bisa diwariskan secara alami lewat kebiasaan sehari-hari. Sekarang? Anak-anak kita lebih sering "diasuh" oleh algoritma YouTube atau TikTok daripada oleh nasihat orang tuanya. Obrolan tentang Tuhan di meja makan makin langka, tergeser oleh kesibukan mengurus grup kerjaan, atau sekadar scrolling layar HP.


Kita tidak bisa membiarkan kondisi ini berlarut-larut. Ruang keluarga harus direbut kembali. Keluarga dipanggil bukan cuma untuk sekadar tinggal serumah, tapi untuk menjadi komunitas yang secara aktif merawat ingatan akan kebaikan Tuhan.


Lalu, apa yang bisa kita lakukan agar iman tidak sekadar jadi teori yang mengawang-awang? Ada beberapa poin praktis yang bisa mulai kita biasakan di rumah. Kita dapat menyediakan "ruang hening" bersama. Dunia digital itu bising dan membuat kita terus berlari. Sesekali, keluarga butuh jeda. Cobalah sepakati aturan sederhana, misalnya tidak ada HP saat sedang makan bersama, atau satu jam sebelum tidur, semua gadget disimpan. Waktu tanpa layar ini sangat berharga untuk membangun kembali kedekatan emosional, dan memberi ruang bagi kita untuk mengobrol santai dari hati ke hati.


Biasakanlah mengobrol kasual, bukan menghakimi. Bimbing anak-anak dan pasangan untuk menyadari, apa yang mereka tonton itu membentuk cara pikir mereka. Tidak perlu pakai bahasa teologi yang berat. Tanyakan saja, "Tadi seru sekali, ‘nonton apa? Menurut kamu, kalau orang di video itu bersikap begitu, pas enggak ya, dengan yang Tuhan Yesus ajarkan?" Jadikan peristiwa sehari-hari sebagai pintu masuk untuk membicarakan kebenaran firman Tuhan dengan cara yang asyik didengar.


Keteladanan orang tua adalah kunci. Membangun kebiasaan rohani di rumah tidak bisa cuma lewat instruksi. Orang tua harus memberi contoh nyata. Sebelum menyuruh anak meletakkan HP, orang tua harus lebih dulu menaruh HP-nya saat anak sedang mengajak bicara. Tunjukkan juga bagaimana kita berserah pada Tuhan saat keluarga sedang menghadapi masalah keuangan atau kesehatan, bukan malah panik mencari pelarian.


Penutup


Isu yang diangkat dalam Kitab Ulangan ribuan tahun lalu ternyata masih menyapa kita dengan sangat relevan hari ini. Esensinya tidak pernah berubah. Ini bukan kampanye antiteknologi, atau melarang kita memakai smartphone. Pertanyaan utamanya adalah, di tengah dunia yang menawarkan seribu satu kemudahan ini, apakah hati kita masih mengingat bahwa Allah adalah sumber segalanya?


Mengingat Tuhan bukanlah sekadar menghafal ayat Alkitab. Mengingat Tuhan adalah sebuah sikap hidup yang rendah hati; sebuah kesadaran penuh bahwa kepintaran kita, kehebatan kita, dan semua hasil keringat kita adalah pemberian-Nya semata.


Jika ingatan ini hilang, perlahan tetapi pasti, iman keluarga kita akan kering dan mati rasa. Namun, jika kita mau dengan sengaja dan bertekun merawat ingatan ini di dalam rumah kita—melalui doa bersama, saling mendengarkan, dan menikmati kehadiran satu sama lain—iman kita tidak akan hanyut. Ia justru akan tumbuh makin dalam, makin membumi, dan makin tangguh, bahkan di tengah dunia digital sekalipun. (Pdt. Devina Erlin Minerva/Lanny Dewi Joeliani)



Comments


bottom of page