Demensia

Pagi-pagi, Bu Eti marah-marah karena kesal, bingung, dan kecewa ketika suaminya mengatakan kakaknya sudah meninggal. Padahal semalam, ia bermimpi tidur bersama kakak-kakaknya. Seorang suami tiba-tiba bertanya kepada istrinya, “Apakah kita punya anak? Berapa? Mereka ada di mana?” Padahal, menantu dan cucu mereka tinggal di sebelah rumah, dan setiap hari berkunjung ke rumah orang tuanya tersebut. Tante Lina tiba-tiba terbangun dan terkejut melihat ada seorang lelaki tidur di sebelahnya. Dengan kasar dan marah, ia mengusir keluar lelaki tersebut. Lelaki tersebut akhirnya tidur di sofa. Beberapa saat kemudian, tante Lina mengenali lelaki tersebut adalah suaminya. Ia berkata, “Kenapa tidur di sofa? Ayo, tidur di kamar, di sini banyak nyamuk!” Kisah-kisah di atas adalah beberapa contoh nyata perubahan perilaku penyandang demensia.
Demensia adalah kumpulan gejala akibat kelainan/kerusakan sel otak yang bersifat progresif. Ditandai dengan penurunan fungsi kognitif, memori, kemampuan berpikir, orientasi, pemahaman, pengambilan keputusan, tanpa adanya gangguan kesadaran. Hal ini menyebabkan terjadinya perubahan dalam mengontrol emosi dan perilaku yang mengganggu aktivitas sehari-hari dan kemandirian penderitanya.
Penyandang demensia tidak dapat mengerjakan pekerjaan sehari-hari lagi, tidak dapat bergaul, dan harus bergantung pada orang lain. Sering kali, mereka lupa di mana meletakkan barang, mengulang pertanyaan yang sama dalam waktu singkat, bepergian tanpa tujuan, tersesat di lingkungan yang sudah familiar, tidak tahu hari, kesulitan melakukan aktivitas harian (mandi, makan, masak, dll), serta mudah marah dan curiga tanpa alasan. Gejala demensia cenderung memburuk dengan berjalannya waktu.
Demensia dapat terjadi kapan saja, pada siapa saja, terpelajar atau tidak, miskin atau kaya, selebritas terkenal, aktivis gereja, dokter ahli bedah saraf, dan berbagai macam profesi lainnya. Contoh orang-orang terkenal yang merupakan penyandang demensia adalah Ronald Reagan (mantan presiden USA), Glen Campbell (penyanyi, penulis lagu, pemain gitar, aktor), Charles Bronson, Perry Como, Charlton Heston, Rita Hayworth (aktris), dan masih banyak lagi.
Perubahan perilaku pada penyandang demensia dapat menimbulkan tekanan berat bagi keluarga dan para perawatnya. Sangat menyedihkan, seseorang yang sebelumnya lemah lembut dan penuh kasih bisa berubah menjadi agresif, bertingkah laku aneh, dan mengganggu. Menghadapi perubahan perilaku ini tidak mudah, karena tidak disengaja dan di luar kendali penyandang demensia. Akibat perubahan perilaku yang sangat mengganggu fungsi sosial dan ekonomi, biasanya hak-hak mereka segera dibatasi oleh keluarga. Misalnya, tabungan di bank ditutup atau dialihkan, tidak boleh keluar rumah sendirian, dll.
Dalam menghadapi perubahan pada penyandang demensia, peran keluarga sangatlah penting. Keluarga perlu terlibat aktif untuk meningkatkan kualitas hidup mereka. Misalnya, menjaga rutinitas dan menata rumah sedemikian rupa agar aman, dengan cara menyimpan benda tajam di tempat yang sulit dijangkau. Selain itu, dibutuhkan dukungan emosional dan psikososial dengan kesabaran, empati, kasih sayang, dan menghindari konfrontasi.
Saat penyandang demensia bingung, dengarkanlah keluhannya tanpa menghakimi. Hati mereka perlu ditenteramkan.
Keluarga perlu berbicara perlahan dengan suara tenang, singkat, dan jelas, agar tidak menimbulkan tekanan. Keluarga juga perlu bersikap netral dan berusaha menghibur mereka. Jawablah pertanyaan yang diulang-ulang seakan-akan pertanyaan itu baru diajukan untuk pertama kalinya.
Untuk stimulasi kognitif, penyandang demensia perlu diajak berbincang-bincang, mengenang masa lalu, melihat kembali album foto, mengerjakan hobi sederhana (memasak, menjahit, melukis, menyanyi), olahraga bersama, berjalan-jalan, bermain puzzle, dll. Perlakukan mereka sebagai orang dewasa, bukan anak kecil.
Untuk membantu aktivitas harian, biasanya diperlukan juga bantuan perawat atau caregiver, yang berpengalaman menangani penyandang demensia. Mereka dapat membantu merawat kesehatan fisik dengan memandikan, membantu berpakaian, membantu makan dan minum, serta menjaga konsumsi obat secara teratur. Perawat perlu sabar dalam menerima keadaan dan kondisi penyandang demensia, yang kadang-kadang bersifat agresif dan sulit dikendalikan.
Sampai saat ini, belum ada terapi obat yang dapat menyembuhkan demensia. Obat-obatan yang ada hanya dapat menghambat progresivitas, agar tidak segera menuju tahap demensia berat. Pada tahap berat, penyandang demensia tidak mampu mengenali lagi anggota keluarga dan sahabat dekatnya; tidak mampu mengerjakan apa pun; tidak dapat mengontrol buang air besar dan buang air kecil; sulit berkomunikasi; pergerakannya sangat terbatas, sehingga membutuhkan kursi roda, dan tergantung sepenuhnya pada orang yang merawatnya.
Anggota keluarga sering kali menjadi sangat lelah, stres, sedih, bahkan juga depresi, karena kemampuan orang yang dicintainya menurun. Selain itu, ada potensi terjadi masalah keuangan, pekerjaan, dll. Oleh karena itu, peran gereja sangat dibutuhkan untuk memberikan dukungan emosional, sosial, dan spiritual bagi para anggota keluarga penderita demensia ini.
Pdt. Andar Ismail menyatakan dalam bukunya, Selamat Bercinta: 33 Renungan tentang Komitmen (2016), gereja mempunyai tugas untuk mendidik dan menggembalakan penyandang demensia dan keluarganya, sebab demensia adalah kondisi yang memerlukan relasi vertikal dan horizontal. Konseling pastoral, kunjungan, doa, serta terapi berbasis iman akan menjadi perpanjangan tangan Tuhan yang Maha Kasih.
Di buku yang sama, khususnya di bab 32, “Cinta Penyandang Demensia”, Pdt. Andar Ismail menyatakan, “Penyandang demensia berat tidak bisa tahu apa yang dia yakini dan percayai tentang Allah. Jangankan mengenal Kristus, mengenal dirinya sendiri pun ia tidak … Bagaimana cara melawat dia? … Terbitnya buku Demensia: Allah Senantiasa Ingat, karangan John Swinton terbitan Bina Kasih menolong kita … berorientasi pada iman Kristen … memahami demensia dari perspektif iman Kristen … mengembangkan metode perawatan demensia yang sepenuhnya dijiwai oleh semangat Kristiani.”
Pembaca juga dapat membaca lebih lanjut mengenai demensia dan krisis lanjut usia dalam buku yang saya tulis bersama Pdt. Andar Ismail, Memahami Krisis Lanjut Usia: Uraian Medis dan Pedagogis (2009), yang banyak membahas mengenai demensia ini, terutama pada bab ketujuh, “Krisis Fungsi Mental”. (Hanna Santoso*/Lydia Kurniawati)
*Penulis adalah anggota GKI Gading Serpong, dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung. Pernah bertugas di Poliklinik GKI, Jl. Kelinci, Jakarta. Medical Advisor di PT. Squibb Indonesia. Direktur PT. Pharma Metric Lab. Medical Consultant PT. Pharos Indonesia.



Comments