top of page

Dalam Pergumulan Ada Keteguhan

  • Writer: Admin GKI GS
    Admin GKI GS
  • Aug 1
  • 2 min read

Updated: 2 hours ago

Bacaan Leksionaris: Kejadian 32:22–31; Mazmur 17:1–7,15; Roma 9:1–5; Matius 14:13–21


Pergumulan adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Setiap orang pernah menghadapi situasi yang membuat hati dipenuhi kecemasan, kehilangan harapan, atau merasa tidak sanggup melangkah lagi. Namun, firman Tuhan pada minggu ini mengingatkan bahwa pergumulan bukanlah tanda Allah meninggalkan umat-Nya. Justru di tengah pergumulan, Allah sedang membentuk keteguhan iman.


Yakub bergumul semalaman dengan Allah sebelum bertemu Esau. Pergumulan itu mengubah dirinya dari seorang yang mengandalkan kecerdikan menjadi pribadi yang belajar bergantung kepada Tuhan. Mazmur 17 memperlihatkan doa seorang yang mencari perlindungan di tengah ancaman. Rasul Paulus dalam Roma 9 bahkan memperlihatkan pergumulan batin yang begitu mendalam demi keselamatan saudara-saudaranya sebangsa. Sementara itu, Injil Matius menceritakan Yesus yang memberi makan lebih dari lima ribu orang. Di tengah keterbatasan lima roti dan dua ikan, Yesus justru menyatakan bahwa kuasa Allah bekerja ketika manusia bersedia mempersembahkan apa yang dimilikinya.


Keempat bacaan ini memiliki benang merah yang sama. Keteguhan lahir bukan ketika semua persoalan selesai, melainkan ketika kita tetap percaya kepada Allah di tengah segala keterbatasan. Allah tidak selalu menghilangkan pergumulan, tetapi Ia selalu hadir di dalamnya. Kehadiran-Nya memberi kekuatan untuk melangkah, hikmat untuk mengambil keputusan, dan pengharapan untuk memandang masa depan.


Kita hidup di zaman yang penuh ketidakpastian. Tantangan ekonomi, persoalan keluarga, tekanan pekerjaan, konflik sosial, bahkan pergumulan iman sering kali membuat kita mudah putus asa. Firman Tuhan mengajak kita untuk tidak menyerah pada keadaan. Seperti Yakub yang tidak melepaskan Tuhan, seperti pemazmur yang terus berseru, seperti Paulus yang tetap mengasihi bangsanya, dan seperti para murid yang menyerahkan sedikit yang mereka miliki kepada Yesus, kita pun dipanggil untuk tetap setia berjalan bersama Tuhan.


Kiranya melalui setiap pergumulan, kita tidak menjadi pribadi yang pahit, melainkan semakin dewasa dalam iman. Sebab keteguhan bukanlah hasil dari hidup yang bebas masalah, melainkan buah dari hati yang terus berpegang kepada Allah. Ketika kita menyerahkan hidup ke dalam tangan-Nya, Tuhan sanggup memakai setiap luka, keterbatasan, dan pergumulan untuk membentuk kita menjadi saksi kasih dan pengharapan bagi dunia.

Comments


bottom of page