Minggu pagi itu, seperti biasa, ruang ibadah dipenuhi anak-anak muda. Lagu-lagu pujian bergema, dan suasana terlihat akrab, tertawa, tos, dan pelukan hangat antarteman se-KTB. Namun, di barisan paling belakang, duduk seorang remaja laki-laki yang baru pertama kali hadir. Namanya Kris, siswa pindahan dari kota lain. Ia pendiam, mengenakan jaket lusuh, dan tidak banyak bicara.
Sepanjang ibadah, tidak ada yang menyapanya. Bahkan, beberapa orang menatapnya dengan pandangan bertanya-tanya. Seusai ibadah, ia beranjak pergi, tanpa satu pun tangan yang terulur menjabat, tanpa satu senyum pun yang ditawarkan. Ia tidak pernah datang lagi.
Seminggu kemudian, dalam sebuah renungan kecil, seorang remaja dari tim pujian berkata, “Kita baru saja menyanyikan lagu ‘Kami Datang Menyembah-Mu’, tetapi apakah kita sungguh menyambut mereka yang datang ke gereja untuk pertama kalinya?”
Kejadian itu menjadi titik balik. Komunitas youth mulai belajar memperhatikan bangku kosong di barisan belakang. Bukan hanya dengan mata, tetapi dengan hati yang mau merangkul.
Fragmentasi dan Gereja
Cerita di atas bukan sekadar ilustrasi, tetapi mungkin pernah kita alami, baik sebagai jemaat gereja atau tamu yang baru hadir dalam suatu peribadahan. Perlu semakin dipahami, di tengah dunia yang terfragmentasi oleh perbedaan budaya, status sosial, dan kondisi mental maupun fisik, gereja sebagai tubuh Kristus dipanggil untuk menjadi tempat yang inklusif, terbuka, dan penuh kasih. Banyak anak muda Kristen saat ini bertumbuh dalam lingkungan sosial yang cenderung selektif dan canggung dalam menghadapi mereka yang dianggap “berbeda”. Dalam konteks ini, panggilan Yesus dalam Matius 25:35–36 menjadi sangat relevan, “… Ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu menjenguk Aku…”
Melalui tulisan ini, kita akan merenungkan bagaimana gereja, khususnya pelayanan kaum muda, dapat menjadi komunitas yang benar-benar merangkul dan kemudian menyambut orang asing, serta memperhatikan mereka yang lemah, serupa dengan teladan Tuhan Yesus Kristus. Melalui dasar dan refleksi teologis, kita akan menyoroti strategi konkret kaum muda dalam membangun gereja yang inklusif di era modern.
Menyambut Orang Asing
Dalam Kejadian 18:1–8, kita melihat contoh keramahan Abraham yang menyambut tiga orang asing, yang ternyata adalah Malaikat TUHAN. Abraham tidak mengenal mereka, tetapi dengan segera menyediakan makanan, tempat istirahat, dan menghormati mereka layaknya tamu istimewa. Sikap ini menggambarkan prinsip dasar dari “merangkul”, yaitu membuka diri kepada yang tidak dikenal, yang berbeda, bahkan yang mungkin tidak diterima oleh komunitas sekitar.
Jika kita kaitkan dengan era globalisasi ini, “orang asing” yang dimaksud adalah pendatang baru di lingkungan gereja, mahasiswa rantau, atau bahkan remaja yang berpikir dan berpenampilan berbeda dari mayoritas. Gereja dipanggil untuk tidak menjadi eksklusif, apalagi dalam komunitas youth, yang sering kali di dalamnya terbentuk dalam “circle-circle” tertentu. “Circle-circle” yang menciptakan gap (jarak), sehingga tidak sedikit orang muda merasa ditolak atau tidak dianggap, karena gaya hidup, penampilan, atau latar belakang mereka.
Salah satu cara youth ministry merespons panggilan ini adalah dengan menciptakan budaya “welcome” yang nyata: menyapa wajah baru, membangun kelompok kecil inklusif, dan memberi ruang bagi semua untuk terlibat dalam pelayanan. Gereja harus belajar menjadi rumah bagi siapa saja, tanpa memandang perbedaan. Seperti yang dikatakan Henri Nouwen, “Hospitality means primarily the creation of a free space where the stranger can enter and become a friend (Reaching Out: The Three Movements of the Spiritual Life, 1986).
Menyambut Orang Lemah
Paulus menulis, “… anggota-anggota tubuh yang tampaknya paling lemah, justru yang paling dibutuhkan. Kepada anggota-anggota tubuh yang menurut pandangan kita kurang terhormat, kita berikan penghormatan khusus …” (1Kor. 12:22–23). Ini bukan sekadar ajakan untuk menghargai semua orang, tetapi penegasan, bahwa mereka yang lemah dan tersisih justru memiliki tempat penting dalam tubuh Kristus.
Dalam konteks budaya modern, “orang lemah” bisa mencakup banyak hal: orang dengan disabilitas fisik atau mental, orang yang berjuang dengan trauma/rasa takut pada masa lalu, atau bahkan remaja dari keluarga disfungsional. Sayangnya, masih banyak gereja yang belum siap secara struktural maupun budaya untuk menyambut mereka.
Anak-anak muda Kristen perlu dilatih untuk peka terhadap keberadaan teman-teman yang tampak “berbeda” dan tidak menjauhi mereka. Gereja bisa mengadakan pelatihan empati, membuka ruang diskusi tentang kesehatan mental, dan membentuk komunitas pendukung bagi mereka yang merasa lemah atau terpinggirkan. Seperti dikatakan oleh Timothy Keller, “The gospel is this: We are more sinful and flawed in ourselves than we ever dared believe, yet at the very same time we are more loved and accepted in Jesus Christ than we ever dared hope (The Meaning of Marriage. 2011). Menariknya, dalam pelayanan seperti ini, youth tidak hanya belajar memberi, tetapi juga menerima. Belajar dari ketulusan dan ketekunan, karena dalam tubuh Kristus, semua saling melengkapi.
Gereja yang Merangkul
Yesus berkata, bahwa apa pun yang kita lakukan kepada “salah seorang yang paling hina ini”, kita lakukan kepada-Nya (Mat. 25:40). Inilah teologi pelukan kasih, bahwa Kristus hadir kepada mereka yang dianggap asing, lemah, dan bahkan yang tak dianggap. David Kinnaman dalam bukunya yang berjudul You Lost Me: Why Young Christians Are Leaving Church ... and Rethinking Faith (2011) mencatat, wisdom empowers us to live faithfully in a changing culture. Hikmat yang dianugerahkan Tuhan menolong umat gereja, secara khusus kaum muda, untuk hidup setia dalam budaya yang berubah. Hidup setia adalah hidup yang bukan saja memahami ajaran Kristus, tetapi lebih dari itu, memelihara dan melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan iman yang demikian, kaum muda di gereja tidak menjadi klub eksklusif, melainkan rumah yang terbuka, tempat setiap orang diterima dan dirangkul dalam kasih.
Di tengah era yang cepat berubah, pelayanan kaum muda Kristen memiliki peran strategis untuk mewujudkan gereja inklusif. Dengan hati yang terbuka, telinga yang mau mendengar, dan tangan yang siap menolong, generasi muda Kristen dapat menjadi wajah kasih Kristus di tengah dunia yang sering menolak perbedaan. Mengakhiri tulisan ini dengan pernyataan David Kinnaman, “young people are the leaders of tomorrow”. Inilah panggilan kita sebagai kaum muda yang kelak akan memimpin gereja untuk membentuk komunitas yang benar-benar mencerminkan Kerajaan Allah, yakni gereja yang merangkul.
*Penulis adalah anggota GKI Gading Serpong dan saat ini bekerja sebagai guru agama SMAK 4 PENABUR, Jakarta.
Tulisan telah dimuat di Majalah Sepercik Anugerah edisi 22