Suatu hari, ada seorang bapak yang bertanya kepada saya selaku pembina Komisi Anak GKI Gading Serpong. Bapak itu melontarkan kritik yang cukup menggelitik, “Bu, kenapa anak saya tidak tahu cerita Simson dan Delila? Apa saja yang Ibu ajarkan di sekolah Minggu, sehingga mereka tidak mengetahui cerita yang cukup terkenal itu?” Spontan saya menjawab, “Nah, itu tugas orang tua, Pak!”

Sering kali, orang tua menganggap tugas mereka sudah selesai dengan membawa anak-anak ke sekolah Minggu, lalu melimpahkan seluruh kewajiban mendidik iman anak kepada para guru sekolah Minggu. Pendidikan iman dirasa kurang penting dan kerap dinomorduakan. Para orang tua lebih mementingkan pendidikan akademik anak. Maka, tidak heran jika ada beberapa orang tua yang langsung menyalahkan guru sekolah Minggu, ketika anak tidak mengetahui kisah-kisah Alkitab.

Padahal, pendidikan iman anak adalah tanggung jawab orang tua sebagai wakil Allah. Orang tua harus mengajarkannya secara berulang-ulang, agar anak tidak menyimpang dari jalan Tuhan.

Haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu ...” (Ulangan 6:7)

Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari jalan itu.” (Amsal 22:6)

Gereja yang ramah anak memperhatikan kebutuhan anak-anak, khususnya dalam hal didikan dari keluarga. Lalu, apa yang bisa gereja berikan? Gereja bisa memberikan pembinaan kepada orang tua, misalnya tentang pentingnya membangun mazbah keluarga, serta mengingatkan keluarga-keluarga untuk menciptakan iklim yang sehat di rumah. Dengan demikian, anak dapat meneladani apa yang dilakukan oleh orang tuanya.

Salah satu hal baik yang telah dilakukan oleh gereja kita adalah mengadakan ibadah intergenerasi. Ibadah ini memungkinkan orang tua beribadah bersama dengan anak-anak mereka. Namun demikian, pelaksanaannya masih perlu ditingkatkan, terutama agar pujian dan pemberitaan firman Tuhan juga ramah anak. Dengan begitu, anak-anak dapat memahami dan menikmati ibadah dengan baik.

Mengikutsertakan anak-anak dalam pelayanan ibadah juga merupakan langkah penting. Talenta dan kerinduan mereka untuk berpartisipasi perlu difasilitasi oleh gereja. Kebutuhan anak untuk merasa dihargai dapat terpenuhi melalui keterlibatan mereka dalam pelayanan, serta apresiasi atas kontribusi yang mereka berikan.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan gereja adalah mendorong jemaat menghidupkan mazbah keluarga. Dalam kegiatan tersebut, selain membaca dan merenungkan firman Tuhan, orang tua juga dapat menjelaskan aplikasi konkret firman tersebut kepada anak-anak. Semua ini bertujuan untuk mewujudkan gereja yang sehat secara holistik, serta memampukan jemaat hidup berkenan di hadapan Allah. 

Tulisan telah dimuat di Majalah Sepercik Anugerah edisi 22