Iman Kristen berpusat dalam Kristus merupakan anugerah Tuhan. Beriman kepada Kristus berarti seluruh kehidupan orang percaya berada dalam Kristus dan terus mengalami pertumbuhan semakin dewasa dalam Kristus. Iman Kristen tidak boleh berhenti dalam berbagai konteks hidup orang percaya yang terus berubah. Tetapi realitanya tidak selalu konteks hidup orang percaya berada dalam kondisi yang kondusif dalam pertumbuhan iman orang percaya. Orang percaya seringkali diperhadapkan dengan realita hidup yang sangat sulit bagi orang percaya untuk bertumbuh.

Dalam konteks hidup yang sulit merupakan kesempatan orang percaya untuk menemukan hal-hal baru yang sebelumnya tersembunyi. Menyikapi realita hidup yang sulit memberi kesempatan kepada orang percaya untuk menunjukkan bahwa orang percaya tetap memiliki penghiburan dan kekuatan di dalam Kristus dan keyakinan bahwa providensia Allah tetap hadir dan berkuasa atas hidupnya. Oleh karena itu inti iman Kristen berdasarkan Alkitab mengajar orang percaya untuk terus mengalami pertumbuhan rohani yang dinamis untuk semakin mengenal Kristus dalam berbagai konteks hidupnya.

PENDAHULUAN

Orang percaya sering kali menghadapi berbagai situasi yang sulit atau pergumulan dan tidak dapat dihindari. Orang percaya tidak punya pilihan selain tetap melangkah maju di tengah-tengah pergumulan. Permasalahannya adalah bagaimana sikap kita menghadapi pergumulan tersebut sangat ditentukan pula oleh bagaimana kita di hadapan Allah dan cara pandang kita terhadap kehidupan ini. Dalam kondisi yang sulit ini merupakan kesempatan bagi orang percaya untuk menerapkan kebenaran Allah yang diyakini. Orang Kristen harus melihat berdasarkan perspektif Allah dengan dasar teologi yang benar dan bukan berdasarkan pikiran dan pengalaman manusia.

Relasi orang percaya dengan Tuhan harus didasari dengan pemahaman yang benar untuk menuntunnya menghadapi berbagai krisis hidup yang tidak mudah. Iman Kristen terus bergerak dinamis dalam menghadapi berbagai konteks kehidupan yang terus berubah dan tidak dapat dihindari.2 Inti iman Kristen di dalam Kristus tidak berubah dalam berbagai konteks hidup yang terus berubah ini sehingga orang percaya harus memberikan respons yang tepat dalam berbagai konteks hidup.

Orang percaya dan seluruh manusia pada umumnya sedang menghadapi pergumulan terkait dengan wabah COVID-19. Hampir semua manusia dari berbagai belahan dunia dan tingkat sosial mengalami dampaknya. COVID-19 ini menyerang kesehatan manusia dan berdampak ke berbagai sektor kehidupan seperti ekonomi, sosial, budaya bahkan aktivitas pelayanan gereja. Manusia dilanda berbagai ketakutan akibat dampak yang ditimbulkannya. Kehidupan manusia mengalami perubahan yang sangat drastis, dan tidak sedikit manusia termasuk orang percaya tidak siap menghadapinya. Bahkan John Piper mengatakan bahwa wabah Corona ini sebagai musim yang pahit.

Piper mengakui sepenuhnya kedaulatan Tuhan, pemeliharaan-Nya atas ciptaan ini, dan tidak ada yang jahat dari Allah, tetapi terwujud dalam penderitaan manusia.

Wabah COVID-19 dan berbagai akibat yang ditimbulkannya membuat kita berpikir lagi apakah bentuk penyertaan Tuhan kepada orang percaya hanya dalam bentuk berkat yang menyenangkan orang percaya, atau pemeliharaan Tuhan tetap diwujudkan meskipun orang percaya mengalami krisis dan begitu menderita. Apakah orang percaya masih dapat menyaksikan kemuliaan Tuhan melalui berbagai pergumulan ini?

Artikel ini akan menegaskan kembali pentingnya orang Kristen mengenali kebenaran Allah (inti iman Kristen sebagaimana yang diajarkan Alkitab) dan bergaul akrab dengan Allah. Tanpa mengenal Allah dengan benar maka orang Kristen akan memandang realita hidup ini dengan pesimis, keputus-asaan, tanpa pengharapan yang berakhir dengan kekecewaan kepada Allah. Orang percaya melihat realita hidup dari perspektif Allah sehingga memampukannya menjalani hidup dengan tetap beriman kepada Allah.

INTI IMAN KRISTEN

Alkitab mengajarkan bahwa manusia dapat mengenal Allah oleh karena Allah yang menyatakan Diri-Nya kepada manusia. Allah mengasihi manusia yang berdosa sehingga Allah mengutus Yesus Kristus ke dunia untuk menebus manusia dari penghukuman dosa (Yoh. 3:16; 1 Pet. 1:18-20). Penebusan Kristus menjadikan orang percaya milik Allah dan memperoleh hidup yang kekal. Itulah sebabnya keselamatan orang percaya hanya karena anugerah Tuhan. Keselamatan hanya melalui Yesus Kristus (Yoh. 14:6). Inti iman Kristen berpusat kepada Kristus, dan inilah yang membedakan iman Kristen berdasarkan Alkitab dengan keyakinan yang lain.

Selanjutnya Bavinck mengatakan, “While revelation may be made credible proofs, it is and remains a truth of faith, a gift of grace. Only the Spirit of God can make a person inwardly certain of the truth of divine revelation. God’s revelation can be believed only in a religious sense, on God’s own authority.” Alkitab menegaskan bahwa orang percaya tidak akan dapat terpisah dari Kristus sekarang ini sampai menuju kekekalan. Bavinck mengatakan, “Our soul, accordingly, may be inseparably bound to Christ, the living Lord of heavens, by mystical union forged by the Holy Spirit; still, to our consciousness, Christ, in fact the whole realm of ‘things hope for,’ exists only through the witness of God in his Word.” Allah yang menjamin hidup orang percaya sekarang sampai selama-lamanya. Ef. 1:13 mengatakan bahwa Roh Kudus yang memeteraikan orang percaya untuk tetap di dalam Kristus, dan Ef. 1:14 mengatakan bahwa Roh Kudus menjadi jaminan kita memperoleh keseluruhan berkat rohani dalam Kristus. Penggunaan kata meterai dalam Ef. 1:13 adalah sphragizo (aor. pass. ind) menegaskan tentang kepemilikan (ownership).

Roh Kudus mempersatukan orang percaya dengan Kristus dan menjadi milik Kristus selama-lamanya. Sedang kata jaminan dalam Ef. 1:14 adalah arrabwn yang mengindikasikan bahwa pembayaran (deposit) atau dow npayment pasti dibayarkan seluruhnya.

Paulus ingin menegaskan bahwa setiap orang percaya pasti akan memperoleh janji Allah dalam penebusan Kristus yang menjadikan orang percaya milik Allah. Selanjutnya Roma 8:37-39 mengatakan “Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Th. van den End menjelaskan teks ini dan mengatakan bahwa kasih Allah dinyatakan dalam Kristus yang telah mengalahkan segala kuasa yang ingin menghukum manusia, sehingga dalam Kristus tidak ada satu kuasa mana pun yang dapat memisahkan orang percaya dengan Kristus.

Paulus mau menegaskan bahwa karya penebusan Kristus memastikan hidup orang percaya terpelihara pada masa kini sampai kekekalan. Beriman dalam Kristus merupakan anugerah Tuhan yang tidak ternilai bagi orang percaya.

Beriman berarti memiliki pengetahuan kebenaran, menerima atau mengakui pengajaran Alkitab yang benar dengan seluruh totalitas hidup, dan menyerahkan hidup seutuhnya kepada Allah di dalam Kristus. Katekismus Heidelberg juga mengajarkan prinsip ini kepada semua orang percaya di segala jaman, dan mengatakan, "Iman yang sejati hanya suatu pengetahuan yang pasti, yang dengannya aku memegang segala sesuatu yang telah Allah nyatakan kepada kita di dalam FirmanNya sebagai kebenaran, tetapi juga satu keyakinan yang teguh yang Roh Kudus kerjakan di dalam hatiku melalui Injil, bahwa bukan hanya bagi orang lain, tetapi juga bagiku, pengampunan dosa, kebenaran yang kekal, dan keselamatan telah dikaruniakan secara cuma-cuma oleh Allah, semata-mata oleh anugerah, hanya karena jasa Kristus."

Katekismus Heidelberg ini menegaskan bahwa beriman kepada Kristus merupakan anugerah Allah, karya Roh Kudus dan tidak ada jasa manusia di dalamnya, seperti perbuatan baik.

IMPLEMENTASI BERIMAN DALAM KRISTUS SEPANJANG HIDUP

Alkitab menegaskan bahwa Allah tidak berubah dan Allah maha kuasa meskipun banyak orang mengalami penderitaan bahkan kehilangan nyawa. Kebesaran dan keagungan Allah tidak bergantung kepada realita hidup manusia. Allah tetap hidup dan berkarya dalam dunia ciptaan ini. Dalam konteks inilah orang percaya dapat semakin mengenal Allah dan karya-Nya yang melampaui pikiran manusia. 

PENGHIBURAN YANG SEJATI

Allah tetap hadir dan menyediakan penghiburan bagi orang percaya dalam berbagai dinamika pergumulannya dalam dunia. Allah ingin mengajarkan orang percaya bahwa hidup ini bukan hanya di sini dan kini (sekarang), tetapi orang percaya memiliki hidup yang kekal yang tidak akan binasa. Kehidupan dalam dunia ini hanya sementara dan pasti akan berakhir. Katekismus Heidelberg memberikan pengajaran penting terkait dengan penghiburan sejati bagi orang percaya kepada Kristus melalui pertanyaan dan jawaban 1, yaitu:

P (pertanyaan). Apakah satu-satunya penghiburanmu di dalam kehidupan dan kematian?

J (jawaban). Bahwa aku, dengan tubuh dan jiwa, baik di dalam kehidupan maupun kematian, bukanlah milikku sendiri, melainkan milik Yesus Kristus Juruselamatku yang setia; yang dengan darah-Nya yang berharga dengan sepenuhnya telah melunasi segala dosaku, dan melepaskan aku dari segala kuasa Iblis; dan dengan cara demikian rupa memeliharaku sehingga tanpa kehendak Bapa sorgawiku tidak sehelai rambut pun yang bisa gugur dari kepalaku; dan bukan hanya itu, juga bahwa segala sesuatu pasti melayani keselamatanku, dan itulah sebabnya dengan Roh Kudus-Nya Ia juga memberi kepastian bagiku dan kehidupan yang kekal, dan membuatku dengan sepenuh hati bersedia dan siap, sejak saat ini, untuk hidup bagi-Nya.

Katekismus Heidelberg berasal dari Jerman, dan atas kehendak Fredrick III, seorang penguasa daerah yang hidup di Heidelberg pada masa reformasi, rakyatnya memiliki panduan yang lebih baik untuk pengajaran agama, hasilnya sebuah katekismus yang ditulis oleh Zacharian Ursinus yang diterbitkan pada tahun 1563 dan secara cepat dan luas diterima.

Pengajaran Katekismus Heidelberg ini tetap relevan sampai saat ini. Katekismus ini mulai pengajarannya dengan pemahaman tentang penghiburan orang percaya sepanjang hidupnya saat ini maupun kekekalan. Penghiburan sejati orang percaya adalah keselamatan dalam Kristus, dosa-dosanya telah ditebus melalui kematian Kristus dan orang percaya menjadi milik Allah sampai selama-lamanya. Zacharias Ursinus mengatakan keselamatan dalam Kristus sebagai penghiburan sejati bagi orang percaya, yaitu “Christ has redeemed me from the power of death and I know that through him I shall come fort from death unto eternal life.”

Pengajaran ini mengakui bahwa persoalan terbesar manusia ialah kejatuhan ke dalam dosa dan hidup manusia menuju kepada kematian kekal. Piper mengatakan bahwa kita semua sudah berdosa, mengganti nilai, keagungan, keindahan Allah dengan hal-hal yang kita nikmati dan hal ini adalah penghinaan terhadap Allah sehingga kita dihukum dan menjadi objek murka Allah.

Betapa mengerikannya akibat dosa dalam hidup manusia, sehingga pembebasan dari hukuman dosa merupakan penghiburan besar dalam hidup manusia. Fred H. Kloster mengatakan “This Comforter (Paraclete, Advocate) stood in our place to die our death and now stands at our side to enable us to live the Christian life of thanks. This is the believer’s comfort-a comfort that involves strength, joy, hope. A mighty comfort is our God, a bulwark never failing.”

Paulus telah menegaskan prinsip ini dalam Roma 8:1-2, ”Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukuman dosa dan hukum maut.”

Orang percaya memiliki tanggung jawab menghidupi inti imannya dalam Kristus sepanjang hidupnya. Allah menyediakan konteks hidup yang beragam untuk memperkaya hidup dan pengenalan yang benar akan Kristus. Iman orang percaya hadir dalam konteks hidup setiap saat yang dinamis dan bukan hanya sebatas berorientasi masa depan. Penghiburan sejati berdasarkan katekismus Heidelberg ini tidak akan diperoleh dalam dunia yang fana. Berbagai fasilitas hidup, kenyamanan, kesuksesan yang mungkin dapat diraih berdasarkan kerja kerasnya, tidak akan mampu memberikan penghiburan sejati yang hanya ada di dalam Kristus. Oleh karena itu orang percaya seharusnya tidak terjebak kepada pergumulan hidup sehingga kehilangan pengharapan di dalam Kristus. Kehadiran wabah COVID-19 yang telah menimbulkan penderitaan, pergumulan hidup yang sudah mapan seharusnya tidak menghancurkan hidup orang percaya. Paulus menyatakan dalam Roma 14: 8-9, “Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan. Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup.” Inilah penghiburan orang percaya sepanjang hidup.

PROVIDENSIA ALLAH

Allah adalah Allah yang berdaulat mutlak. Allah berkuasa dan mampu memelihara hidup manusia dan seluruh ciptaan-Nya. Tidak ada sesuatu yang terjadi di luar kendali Tuhan. Hal ini juga menjadi penghiburan orang percaya seperti yang diajarkan katekismus Heidelberg yaitu jaminan pemeliharaan Tuhan dalam hidup orang percaya. Allah menciptakan alam semesta dan segala isinya (Kejadian 1:1-31) adalah Allah yang memelihara ciptaan-Nya menuju kepada kehendak-Nya yaitu memuliakan Dia. Millard J. Erickson mendefinisikan providensia Allah, “The providence of God means the continuing action of God in preserving his creation and guiding it toward his intended purposes.

Providensia Allah berarti Allah tetap hadir dan terlibat dalam dunia ciptaan, Allah tidak meninggalkan ciptaan-Nya. Mazmur 19:2 mengatakan, “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya.” Daud mengakui sepenuhnya bahwa karya Allah menunjukkan keagungan Allah sepanjang masa. Oleh karena itu Allah tetap terlibat dalam dunia ciptaan ini seperti pernyataan 18 Millard J. Erickson, Christian Theology (Grand Rapids: Baker Books House, 1999), 412. Erickson berikut ini, “Providence is in certain ways central to the conduct of the Christian life. It means that we are able to live in the assurance that God is present and active in our lives. We are in his care and can therefore face the future confidently, knowing that God, hears and acts upon our prayers.”

Allah tetap peduli kepada kehidupan yang telah dirusak oleh dosa. Allah juga mendegar keluhan dan penderitaan yang dialami oleh anak-anak-Nya. Kehadiran wabah COVID-19 bukanlah bukti bahwa Allah meninggalkan ciptaan-Nya. Sebaliknya, Allah menghendaki manusia mengakui kedaulatan-Nya dan tunduk kepada-Nya. Terkait dengan wabah virus Corona ini, Piper mengatakan bahwa Allah berdaulat menghentikan wabah ini, tetapi untuk saat ini tidak, dan Allah yang sama mampu memelihara hidup manusia (orang percaya) di jaman ini.

R.C. Sproul mengatakan bahwa tidak sesuatu pun yang terjadi di luar lingkup pemerintahan dan pemeliharaan Allah yang berdaulat.21 Allah menghendaki bahwa orang percaya tetap percaya kepada Allah yang berdaulat dan pemelihara hidup manusia meskipun manusia berada dalam berbagai bahaya dalam dunia ini. Orang percaya dapat belajar dari kehidupan Ayub setelah melalui berbagai kesulitan (krisis) tetap percaya kepada Allah dan mengatakan “Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal.” Prinsip ini merupakan penghiburan bagi setiap orang percaya sepanjang hidupnya.

PERTUMBUHAN ROHANI

Allah menghendaki hidup orang percaya bertumbuh dalam pengenalan akan Allah dalam berbagai dinamika hidupnya yang beragam. Paulus dalam Roma 8:29 menegaskan bahwa Allah menghendaki orang percaya mengalami pembaharuan hidup semakin serupa dengan gambaran Anak-Nya (Yesus Kristus). Hal ini dapat terwujud melalui berbagai pengalaman rohani yang Tuhan sediakan bagi orang percaya sebagai sarana bertumbuh. Susabda mengatakan, “Allah adalah Allah yang menyingkapkan diri dan melalui penyingkapan diri tersebut, Dia ingin dikenal dan disembah dengan sikap, pikiran, dan perasaan, bahkan pengalaman-pengalaman rohani yang dikehendaki-Nya.”

Pertumbuhan rohani bukan hanya terjadi ketika semua perencanaan berjalan dengan baik dan lancar, tetapi terjadi juga dalam sitausi yang amat sulit dalam realita hidup masa kini. Pertumbuhan rohani mencakup totalitas hidup orang percaya dan bukan hanya dalam aspek kognitif.

Pertumbuhan rohani berarti memiliki kehidupan yang meneladani Kristus, berakar dan dibangun di dalam Kristus, dan bertambah teguh di dalam iman, dan hati yang melimpah dengan ucapan syukur (Kolose 2:6-7). Teks ini menuntun setiap orang percaya untuk lebih peka dengan konteks jaman ini dan melihat kehendak Tuhan dalam berbagai kejadian, termasuk dalam menyikapi wabah virus Corona sekarang ini. Iman orang percaya tidak seharusnya luntur atau lemah menghadapi wabah ini, sebaliknya semakin kuat karena anugerah Tuhan dan menyaksikan kebesaran Tuhan dibalik kejadian ini.

Iman Kristen tidak bergantung kepada konteks hidup orang percaya. Orang percaya harus tetap bertumbuh dalam berbagai konteks hidup yang dinamis. Susabda mengatakan bahwa iman Kristen yang sejati selalu menempatkan orang percaya dalam proses yang tidak pernah berhenti sehingga iman Kristen harus mempunyai ruang untuk integrasi dengan realita hidup yang paradoks.

Iman Kristen seharusnya siap beradaptasi dengan pola hidup yang baru atau 23 Ibid, 15. keluar dari zona nyaman. Iman Kristen tidak bergantung kepada sistem hidup yang sudah mapan, tetapi iman Kristen terus bergerak dan menemukan hal-hal baru yang sebelumnya masih tersembunyi. Dalam konteks inilah Allah memberikan hikmat dan pengertian kepada orang percaya untuk terus bertumbuh semakin dewasa dalam Kristus.

KESIMPULAN

Inti iman Kristen berpusat kepada Kristus. Allah menganugerahkan keselamatan kepada orang percaya. Keselamatan dalam Kristus tidak ada andil atau usaha manusia di dalamnya. Beriman kepada Kristus memberikan jaminan hidup kekal kepada orang percaya. Iman Kristen yang berpusat kepada Kristus harus terealisasi dalam berbagai dinamika kehidupan orang percaya. Allah menuntun, memimpin serta memelihara orang percaya dalam berbagai konteks hidup yang dinamis. Allah tidak menjanjikan bahwa orang percaya berada dalam keadaan yang menyenangkan sepanjang hidupnya. Sebaliknya, Allah menghendaki orang percaya mengalami pertumbuhan rohani untuk semakin mengenal Kristus dan meninggalkan manusia lama. Termasuk dalam situasi pandemi COVID-19 ini menjadi kesempatan bagi orang percaya menyatakan iman dalam Kristus. Allah tetap berkuasa memelihara ciptaan-Nya meskipun ciptaan-Nya sudah jatuh ke dalam dosa. Allah menghendaki setiap orang percaya tetap berharap kepada Allah sumber hidup dan sumber penghiburan sepanjang hidupnya.

REFERENSI

• Bavinck, Herman. Reformed Dogmatic: Abridged in One Volume. Grand Rapids: Baker Academic, 2011.

• End, Th van den. Tafsiran Alkitab: Surat Roma. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997.

• Erickson, Millard J. Christian Theology. Grand Rapids: Baker Books House, 1999.

• Hoekema, Anthony A. Diselamatkan Oleh Anugerah. Edited by Solomon Yo. Surabaya: Momentum, 2001.

• Klooster, Fred H. A Mighty Comfort: The Christian Faith According to Heidelberg Catechism. Grand Rapids: CRC Publications, 1990.

• Packer, J. I. Tuntunan Praktis Untuk Mengenal Allah. Yogyakarta: Yayasan Andi, 2002.

• Piper, John. Kristus Dan Virus Corona. Edited by Vionatha Lengkong. Surabaya: Literatur Perkantas, 2020.

• Rienecker, Fritz; Rogers, Cleon. Linguistic Key to the Greek New Testament. Grand Rapids: Regency Reference Library - Zondervan Publishing House, 1976.

• Sproul, R. C. Kebenaran-Kebenaran Dasar Iman Kristen. Malang: Seminari Alkitab Asia Tenggara, 2014.

• Susabda, Yakub B. Mengenal Dan Bergaul Dengan Allah. Yogyakarta: Penerbit Andi, 2010.

• Ursinus, Zacharias. The Commentary of Dr Zacharias Ursinus on the Heidelberg Catechism. Edited by Eric D. Briestley. Unted States: The Synod of the Reformed Church in the United States, 2004.

• Williamson, G. I. Ketekismus Heidelberg. Edited by Irwan Tjulianto. Surabaya: Momentum, 2017.