top of page
GKI-Gading-Serpong-logo

Taat dan Mendengarkan

Majalah Sepercik Anugerah
4 hours ago
5 min read

Taat dan Mendengarkan (sumber: unsplash.com)


Menurut KBBI, taat berarti patuh, senantiasa tunduk kepada otoritas yang lebih tinggi (Tuhan, pemerintah, dan sebagainya). Ketaatan merupakan sikap dan tindakan untuk mematuhi dan menjalankan aturan atau perintah yang diberikan oleh otoritas tersebut. Agar seseorang bisa melakukan suatu aturan/perintah dengan baik, ia perlu mengerti terlebih dahulu maksud dan tujuannya. Pengertian ini hanya didapatkan kalau ia mau mendengarkan perintah/aturan tersebut dengan baik dan saksama. 


Dalam Perjanjian Lama, ada banyak tokoh Alkitab yang menunjukkan sikap taat dan mendengarkan perintah Tuhan. Salah satunya adalah Nuh, yang membuat bahtera ketika Tuhan berfirman akan mendatangkan air bah (Kejadian 6:13-22). Lalu, Yosua yang merebut Yerikho dengan cara mengelilinginya selama tujuh hari, sesuai yang difirmankan Tuhan (Yosua 6:2-16). 


Akan tetapi, ada juga tokoh Alkitab yang bersikap sebaliknya. Contohnya, Adam dan Hawa, yang melanggar perintah untuk tidak makan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat (Kejadian 2:16-17, 3:1-6). Begitu pula Abraham, sewaktu diberitahu akan memiliki keturunan yang banyak (Kejadian 15:4-6), tetapi justru menuruti perkataan Sarai, dengan mengambil Hagar menjadi istrinya (Kejadian 16:1-3).


Pada zaman raja-raja Yehuda, ada seorang raja yang sangat taat kepada Tuhan, yaitu Yosia (2Raja-raja 22:1-2). Alkitab mencatat, Yosia adalah satu-satunya raja Yehuda yang berbalik kepada Tuhan dengan segenap hatinya, dengan segenap jiwanya, dan dengan segenap kekuatannya, sesuai dengan seluruh Taurat Musa (2Raja-raja 23:25). Bahkan, pada zaman pemerintahan Yosia, bangsa Yehuda kembali merayakan Paskah (2Raja-raja 23:21-23).


Semasa memerintah kerajaan Yehuda, Yosia melakukan pembersihan besar-besaran. Pertama-tama, dengan memperbaiki dan membersihkan Rumah Tuhan. Kemudian, mengajak seluruh rakyat Yehuda mengikat perjanjian di hadapan Tuhan, untuk hidup taat dan mengikut Tuhan. Selanjutnya, ia memberi perintah kepada Imam Besar Hilkia, para imam di bawahnya, serta para penjaga pintu, untuk mengeluarkan dari Bait Tuhan segala perlengkapan yang telah dibuat untuk Ba’al. Ia juga memberhentikan para imam berhala dan orang-orang yang menyembah Ba’al (2Raja-raja 23:3-5). Sebagai puncaknya, Yosia memusnahkan tempat-tempat dan kuil pemujaan berhala, tugu-tugu berhala, maupun mezbah-mezbah yang dibuat raja-raja Yehuda sebelumya, dan semua hal yang najis bagi Tuhan (2Raja-raja 23:7-19).


Setelah semuanya selesai, Yosia memberi perintah kepada seluruh bangsa Yehuda untuk merayakan Paskah, sesuai dengan yang tertulis pada gulungan Taurat yang ditemukan Imam Besar Hilkia dalam Rumah Tuhan. Pada zaman itu, bangsa Yehuda bertobat, dan kembali menyembah Tuhan, serta hidup taat kepada-Nya. Yosia berhasil mereformasi bangsanya. Semua yang dilakukannya menunjukkan, ia benar-benar taat kepada Tuhan. Namun demikian, Alkitab mencatat ada satu kelalaian yang dilakukan Yosia, yang berdampak luar biasa bagi hidupnya sendiri dan kerajaan Yehuda. 


Saat reformasi kerajaan Yehuda telah berjalan dengan baik, ada permasalahan yang muncul. Waktu itu, Nekho, raja Mesir, hendak berperang di Karkemis, di tepi sungai Efrat. Untuk menuju ke sana, pasukan Mesir harus melewati wilayah Yehuda. Melihat situasi itu, Yosia pun membawa pasukannya untuk menghadang mereka di lembah Megido. Menanggapi hal tersebut, Nekho mengirim utusan kepada Yosia. Ia memberi pesan bahwa tujuan mereka adalah Karkemis, untuk berperang melawan kerajaan Babel, dan bukan menyerang Yehuda. Namun, Yosia tidak mendengarkan penjelasan Nekho, ia bersikeras untuk menghalanginya mencapai Karkemis. Akibatnya, Yosia terluka parah karena terkena serangan panah dari tentara Mesir, dan meninggal di Yerusalem.


Sebenarnya, ada dua alasan yang melatarbelakangi sikap Yosia tersebut, yaitu berkaitan dengan kedaulatan negara dan situasi politik. Sebagai negara yang berdaulat dan merdeka, Yehuda tidak bisa menerima pasukan negara lain masuk ke dalam wilayahnya. Sebab, hal itu dapat menjadi ancaman bagi rakyatnya. Jadi, pasukan Mesir harus mengambil jalan memutar untuk menuju ke Karkemis. Lagi pula, saat itu ada tiga kekuatan besar di sekeliling kerajaan Yehuda, yaitu Mesir, Asyur, dan Babel. Yehuda menjalin hubungan damai dengan Mesir, tetapi memiliki sejarah tidak menyenangkan dengan Asyur, yang terjadi pada zaman pemerintahan Raja Ahas. 


Kala itu, Yehuda diserang pasukan Aram dan Israel. Ahas meminta bantuan Asyur, dengan menyerahkan diri sebagai negara taklukannya, dan memberikan hadiah kepada raja Asyur (2Raja-raja 16:7-8). Akan tetapi, saat Hizkia, anaknya, menjadi raja menggantikannya, Yehuda dapat melepaskan diri dari Asyur, setelah Sanherib, raja Asyur, berhasil dipukul mundur saat mengepung Yerusalem (2Raja-raja 19:35-36). Sementara itu, hubungan baik dengan Babel bermula ketika Merodakh-Baladan bin Baladan, raja Babel, mendengar Hizkia sakit. Lalu, ia menyuruh orang membawa surat dan pemberian kepada Hizkia (2Raja-raja 20:12). 


Tampaknya, peta politik inilah yang menjadi pertimbangan Yosia, sehingga ia bersikeras untuk menghalangi Nekho pergi ke Karkemis. Ia tahu, tujuan Nekho adalah membantu Asyur berperang melawan Babel. Dalam pemikirannya, jika Babel berhasil dikalahkan oleh gabungan kekuatan Mesir dan Asyur, berikutnya pasti Yehuda yang akan diserang. Jadi, kalau Mesir berhasil diusir kembali ke negaranya, dan Babel bisa mengalahkan Asyur, Yehuda dapat merasa tenang. Sebab, Yehuda dan Babel mempunyai hubungan yang baik. 


Ada hal yang cukup menarik dari potongan perkataan Nekho kepada Yosia. Ia berkata, “Hentikanlah niatmu menentang Allah yang menyertai aku, supaya engkau tidak dimusnahkan-Nya!” (2Tawarikh 35:21b). Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan. Apakah benar, yang dimaksud oleh Nekho adalah Allah Abraham, Ishak, dan Yakub, ataukah sebenarnya yang ia maksud ialah allah mereka sendiri (dewa Amon-Ra)?


Penulis kitab 2Tawarikh menekankan kata Elohim pada perkataan Nekho, untuk menunjukkan bahwa Nekho saat itu “dipakai” Tuhan untuk melaksanakan rencana-Nya. Selain itu, hendak menyampaikan juga tentang alasan kematian Yosia, yaitu karena ia menghalangi pekerjaan Tuhan.


Terlepas benar atau tidaknya Nekho melaksanakan perintah Tuhan, seharusnya Yosia memahami ucapan Nekho itu sebagai peringatan, atau pertanda dari Tuhan. Dengan begitu, ia tidak langsung bertindak sesuai dengan keinginannya sendiri, melainkan mengambil waktu untuk bertanya kepada Tuhan, dan mendengarkan apa yang Tuhan kehendaki untuk dilakukannya.


Beberapa kali dicatat dalam Alkitab, Yesus mengambil waktu untuk berdoa sebelum melakukan pekerjaan-Nya. Pertama, saat Yesus akan memanggil kedua belas murid-Nya. Ia pergi ke bukit untuk berdoa kepada Allah sepanjang malam. Lalu, keesokan harinya, Ia mulai memanggil dan memilih dua belas orang untuk menjadi murid-murid-Nya (Lukas 6:12-13). 


Kedua, setelah mukjizat lima roti dan dua ikan, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri (Matius 14:23). Sebab, Yesus tahu, orang-orang yang telah melihat mukjizat yang diperbuat-Nya, hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja. Oleh karena itu, Ia pun menyingkir (Yohanes 6:14-15), mengambil waktu tenang dan berdoa. Yesus tetap taat untuk melakukan rencana karya penebusan dosa manusia dalam diri-Nya, dan tidak mengikuti godaan duniawi.


Ketiga, ketika akan memulai Via Dolorosa, Yesus pergi ke Taman Getsemani untuk berdoa kepada Bapa-Nya. Bukan hanya sekali, tetapi tiga kali. Momen ini benar-benar menggambarkan pergumulan yang sangat hebat antara kemanusiaan Yesus dan ketuhanan-Nya. Di satu sisi, keinginan kemanusiaan Yesus untuk tidak menempuh Jalan Salib yang penuh penderitaan. Di sisi lainnya, ketaatan-Nya untuk menggenapi rencana Allah yang sudah dinubuatkan sejak kejatuhan manusia ke dalam dosa (Kejadian 3:15). Namun demikian, Yesus tetap mendengarkan kehendak Bapa-Nya. Ia taat untuk menggenapi karya penebusan manusia dari dosa, dan tidak menggunakan ketuhanan-Nya untuk melawan, selama menjalani Via Dolorosa.


Bukan hanya pada saat tertentu saja, tetapi sering kali Yesus pergi ke tempat yang terpencil untuk berdoa (Markus 1:35; Lukas 5:16). Hal itu Ia lakukan supaya terhubung setiap waktu dengan Bapa-Nya, dan dapat mendengarkan kehendak Bapa dalam rangka menjalankan karya keselamatan manusia.


Yosia memang taat kepada Tuhan, bahkan ia berhasil mereformasi kehidupan spiritual rakyat Yehuda, dengan kembali menyembah Tuhan dan meninggalkan berhala. Akan tetapi, ia tidak selalu mendengarkan Tuhan saat dirinya harus mengambil keputusan penting. Yosia lebih mendengarkan suara hati, pikiran, dan pengetahuannya sendiri tentang situasi politik saat itu, sehingga ia harus mengalami kematian.


Sekalipun Yesus adalah Allah yang menjadi manusia, Ia tetap berdoa dan mendengarkan kehendak Bapa, agar rencana Allah bagi umat manusia dapat diselesaikan dengan sempurna oleh-Nya. Yesus memberikan teladan kepada kita untuk selalu berdoa, supaya kita bisa mendengar kehendak Tuhan. 


Ketika menghadapi persoalan yang memerlukan jawaban yang tepat, berhentilah sejenak, dan luangkan waktu untuk berdoa kepada Tuhan. Dengan demikian, kita akan mengerti yang Tuhan kehendaki untuk kita lakukan dalam menyelesaikan persoalan itu. Mari, dengarkanlah suara Tuhan dalam setiap langkah kehidupan kita. (Mattias Malanthon*/Iwid Faskayana)


*Penulis adalah guru Sekolah Minggu GKI Gading Serpong.



Comments


bottom of page