top of page
GKI-Gading-Serpong-logo

Satu Garis di Ujung Langit

Majalah Sepercik Anugerah
3 hours ago
5 min read

Satu Garis di Ujung Langit (sumber: unsplash.com)


Langit pagi di Pulau Sumba merekah perlahan, seperti bisikan lembut yang membangunkan dunia dari mimpinya. Angin laut dari Ratenggaro tidak pernah benar-benar diam. Ia membawa suara ombak yang pecah di kejauhan, menyapu padang sabana yang menguning, lalu berakhir di antara rumah-rumah adat yang menjulang tinggi, seperti doa yang tidak pernah selesai.


Angin kering menyapu halaman, membawa debu tipis yang menempel di kaki-kaki telanjang Mina. Mina sudah terjaga, bahkan sebelum ayam berkokok. Ia berdiri di belakang rumah adatnya yang beratap tinggi. Di dekat rumahnya, batu-batu kubur leluhur berdiri sunyi, seolah mengingatkan, hidup di tempat ini bukan hanya tentang hari ini, tetapi juga tentang jejak panjang yang tidak pernah benar-benar hilang.


Mina menarik tali sumur dengan kedua tangan. Serat kasar menggesek kulitnya, meninggalkan perih yang tidak pernah benar-benar hilang. Ember itu berat. Selalu berat. Namun, Mina tidak pernah berhenti di tengah. Baginya, berhenti adalah sesuatu yang terlalu mahal untuk dimiliki.


Di dapur, asap kayu bakar memenuhi sudut. Ina Rambu berjongkok di dekat tungku, meniup bara dengan sabar. “Mina, mai makan dulu,” panggilnya lembut, “perut kosong tidak bisa berpikir.” 


Mina masuk, duduk di lantai kayu yang hangat oleh api. Tangannya masih sedikit basah sehabis dari sumur. Di sudut dapur, ponselnya tergeletak. Diam, seolah tidak peduli akan hari yang begitu penting. 


“Aku tidak terlalu lapar, Ina.”


Ina berhenti meniup api, menoleh pelan. “Kalau bukan hari ini, Ina tidak akan memaksa,” katanya lembut, “tetapi, hari ini kamu butuh tenaga!”


Mina tersenyum tipis. Ia tahu, ini bukan soal makan. Ia mengambil jagung bakar, dan menggigitnya perlahan.


Di luar, langkah kaki terdengar. Ama Rambu masuk sambil membawa tali kuda.


“Sudah siap?” tanyanya. Mina mengangguk. Hening sebentar. Hanya suara kayu bakar.


“Dulu,” kata Ama pelan, duduk di dekat pintu, “Ama tidak pernah ikut ujian seperti ini.”


Mina menoleh, “Kenapa?”


Ama tersenyum kecil. “Karena Ama berhenti sekolah sebelum sampai sana.”


Mina tidak langsung menjawab. Ina melirik sekilas, lalu kembali ke tungku.


“Ama tidak menyesal?” tanya Mina pelan. Ama berpikir sebentar.


“Penyesalan itu datang belakangan,” katanya. “Waktu Ama lihat orang lain bisa pergi lebih jauh,” Ia menatap Mina.


“Namun sekarang, Ama tidak ingin kamu merasakan hal yang sama.”


Mina menunduk. “Aku takut, Ama,” katanya jujur, “bukan karena soal ujian,” ia berhenti sejenak, “tetapi kalau sinyal tidak ada!”


Hari ini ujian. Hari yang katanya menentukan masa depan. Namun, di tempat seperti ini, masa depan sering kali ditentukan oleh sesuatu yang begitu remeh. Sinyal. Mina lama menatap ponsel itu. Benda kecil itu seperti pintu. Bisa terbuka, bisa juga terkunci, tanpa alasan.


Dulu, Mina tidak pernah berpikir sejauh ini. Ia pernah menjadi anak yang tertawa keras di kelas, berlari di padang, dan percaya bahwa dunia akan baik-baik saja, sampai bangku di sebelahnya kosong.


Lodu. Namanya masih tertinggal di meja kayu, terukir kecil oleh ujung pensil. Namun, pemiliknya tidak pernah kembali. Suatu sore, Mina menemuinya di ladang. Matahari membakar tanah. Angin membawa debu. Lodu berdiri dengan cangkul di tangan. Tubuhnya membungkuk seperti orang dewasa.


“Aku berhenti,” katanya.


Mina menelan sesuatu yang pahit di tenggorokannya. “Kenapa?”


Lodu tidak langsung menjawab. Ia hanya melihat ke arah bukit, ke arah sekolah, yang bahkan tidak terlihat dari sana. “Aku capek,” katanya pelan, “mengejar sesuatu yang selalu menjauh.”


Kalimat itu tinggal. Menetap. Dan, perlahan mengubah Mina.


Keesokan harinya, guru mereka berdiri di depan kelas yang lebih sepi. “Bukan karena kalian tidak mampu,” katanya, “tetapi karena jalan untuk belajar sering kali terlalu sulit.”


Mina menunduk. Untuk pertama kalinya, ia tidak hanya ingin lulus. Ia ingin mengubah jalan itu. 


Sejak hari itu, Mina belajar seperti orang yang takut kehilangan. Malam-malamnya diisi dengan buku lusuh, cahaya redup, dan asap dapur yang membuat matanya perih. Ia membaca sambil terbatuk-batuk kecil, menghafal sambil mengusap mata. 


Ia tidak pernah bilang ke siapa pun. Namun, setiap kali melihat anak-anak kecil berlari di kampung, ia tahu … Ia ingin menjadi guru. Bukan guru yang hanya mengajar, tetapi guru yang memahami kenapa seseorang bisa tertinggal. Guru yang tidak membiarkan siapa pun berhenti, seperti Lodu.


“Na, mau ke bukit sekarang?” Suara Ama membuyarkan pikirannya. Mina mengangguk. Ia mengambil ponsel, membungkusnya dengan kain kecil, lalu melangkah keluar. 


Padang sabana terbentang luas. Kuda-kuda berdiri diam. Angin membawa bau laut dari kejauhan. Langkah Mina cepat. Ia tahu, ujian bukan hanya tentang nilai. Ini tentang apakah dia bisa terus melangkah. Bukit kecil itu sunyi, seperti biasa. Tempat sinyal kadang muncul, kadang menghilang, tanpa pamit.


Satu garis. Ia menarik nafas, membuka aplikasi ujian. Soal pertama muncul, lalu berhenti. Lingkaran kecil berputar.


Mina tidak marah. Ia hanya diam. Melangkah sedikit. Sinyal hilang. Kembali, muncul lagi. Ia tersenyum tipis. “Nah, jangan hilang sekarang!” Ia pun mengerjakan soal secepat-cepatnya.

Tetes hujan jatuh. Satu. Dua. Lalu, semakin deras. Mina menutup ponsel dengan tangannya. Waktu terus berjalan.


Di dalam kepalanya, wajah Lodu muncul lagi, tertawa di kelas, duduk di sampingnya. Lalu, menghilang. Dan, semua anak lain yang mungkin akan menyusul.


E. Sinyal menghilang. 


Mina menggenggam ponselnya erat. Jika ia berhenti hari ini, maka semua akan tetap sama. Namun, jika ia bertahan, mungkin suatu hari nanti, sesuatu bisa berubah.


Sinyal muncul lagi. Ia langsung menjawabnya. Satu soal. Dua soal. Hujan membasahi rambutnya. Bajunya basah. Tangannya gemetar. Namun, matanya tidak goyah. Ia tidak lagi mengejar nilai sempurna. Ia hanya memastikan satu hal, bahwa ia tidak berhenti.


Waktu habis.


“Submit berhasil.”


Hujan perlahan reda. Langit kembali luas. Dari atas bukit, garis antara langit dan air hampir

tak terlihat. Keduanya menyatu dalam warna biru yang luas, tanpa batas, tanpa ujung.

Beberapa minggu kemudian, hasil ujian keluar. Nilai Mina tidak sempurna, tetapi cukup. Cukup untuk membuka jalan. Mina lulus!


Suatu sore, Mina kembali ke bukit. Dari tempat ia berdiri, kampung terlihat kecil. Rumah-rumah adat menjulang dengan atap tinggi, seperti tangan yang terus terangkat ke langit, memohon sesuatu yang tidak pernah benar-benar terjelaskan. Di tangannya, ada selembar surat. Ia membukanya perlahan. Setelah sebelumnya adalah tentang kelulusannya, kali ini adalah tentang kesempatan. 


Diterima.


Ia tidak langsung tersenyum. Ia menatap kampungnya dari atas. Batu-batu kubur leluhur terbaring sunyi. Diam, tetapi terasa hidup, seolah menyimpan cerita tentang orang-orang yang pernah bermimpi di tanah yang sama. Anak-anak berlari tanpa alas kaki. Dan, jalan panjang yang dulu terasa mustahil.


Ia teringat Lodu.


“Aku capek mengejar sesuatu yang selalu menjauh.”


Mina menggenggam surat itu erat. Air matanya jatuh. Bukan karena sedih, tetapi karena ia akhinya mengerti. Ia tidak lagi mengejar sesuatu yang menjauh. Ia sedang membuat yang jauh itu mendekat.


Beberapa tahun kemudian … Langit masih sama. Bukit masih sama. Namun, Mina sudah berbeda.


Seorang anak kecil berlari ke arahnya. “Mbak Mina! Mai! Di sini ada sinyal!”


Mina tertawa kecil. Ia berjalan mendekat. Di tangannya, ada buku-buku. Di matanya, sesuatu yang dulu hampir padam, kini menyala. Ia berdiri di samping anak itu, lalu berkata pelan. “Sekarang, kamu tidak perlu berjuang sendirian.”


Angin berhembus lembut. Dan untuk pertama kalinya, bukit itu bukan lagi tempat mencari sinyal, melainkan tempat masa depan akhirnya terhubung.


Catatan:


Di NTT, di beberapa sekolah, karena keterbatasan jaringan internet, ujian akhir boleh diselenggarakan secara mandiri oleh sekolah. Sering kali, menggunakan aplikasi/website (Google Form, CBT, dll), dan bisa dikerjakan dari rumah atau tempat masing-masing (tidak harus di sekolah). Banyak daerah yang mengalami kasus/kendala nyata seperti ini.


Keterangan:


Ina = kata panggilan untuk ibu

Ama = kata panggilan untuk ayah

Mai = ke sini/kemari

Na = ayo/mari.


*Penulis adalah anggota GKI Gading Serpong.


Comments


bottom of page