top of page

Royman Simanjuntak

Majalah Sepercik Anugerah
15 hours ago
9 min read

dr. Royman Simanjuntak, Sp. BTKV. Sumber: Pribadi


Sore itu, langit Gading Serpong perlahan meredup. Di sebuah kedai kopi yang tidak jauh dari SMA Penabur Gading Serpong, suasana terasa hangat—alunan musik pelan mengisi ruang, bercampur dengan percakapan ringan para pengunjung. Di salah satu sudut, seorang pria berkumis tipis dan berkacamata duduk santai, menikmati ubi goreng dan secangkir minuman hangat.


Namanya Royman Simanjuntak. Dokter Spesialis Bedah Toraks dan Kardiovaskular ini baru saja menyelesaikan praktiknya. Namun, wajahnya tidak menunjukkan kelelahan yang berarti. Sebaliknya, ia tampak terbuka, ramah, dan penuh energi. Sesekali ia tersenyum, lalu tergelak kecil saat mengingat pengalaman-pengalaman yang ia ceritakan. Cara bicaranya mengalir, tanpa jarak, membuat percakapan terasa seperti pertemuan lama yang tertunda.


Waktu kami tidak panjang. Hanya sekitar satu jam, sebelum ia harus kembali bergegas untuk perjalanan berikutnya. Namun, dalam waktu yang terbatas itu, cerita yang muncul justru terasa utuh—tentang perjalanan panjang seorang dokter, tentang iman, dan tentang dunia yang berubah dengan cepat.


Di tengah percakapan, ia sempat terdiam sejenak. Ia tampak menerawang, seolah kembali pada banyak momen yang pernah ia alami, “Kadang, kita sebagai dokter merasa tidak berdaya.” Kalimat itu sederhana. Tidak dramatis, tetapi di dalamnya terkandung kekuatan. Ia membuka sebuah sisi yang jarang terlihat—bahwa di balik profesi yang identik dengan kepastian, selalu ada ruang ketidakpastian, yang tidak sepenuhnya bisa dijawab oleh ilmu dan teknologi.

Perjalanan Sebuah Panggilan


Royman lahir di Medan, 12 Januari 1968, dari keluarga yang tidak asing dengan dunia kedokteran. Ayahnya adalah seorang dokter jantung lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Namun, kisahnya tidak sekadar mengikuti jejak yang sudah ada.


Sejak awal kehidupannya, ia sudah membawa cerita yang tidak biasa. Nama kecilnya, Ro-Iman, dalam bahasa Batak berarti “datanglah iman”—sebuah doa yang lahir dari kekhawatiran orang tuanya. Saat dilahirkan, Royman sempat tidak bernapas—tubuhnya membiru di tengah proses persalinan. Namun, melalui doa yang dipanjatkan orang tuanya, bayi mungil itu akhirnya dapat bernapas dan menangis. Nama itu, tanpa disadari, seperti menjadi benang merah yang terus mengikuti perjalanan hidupnya—di antara dunia yang sangat rasional, ilmu kedokteran, dan dunia yang tidak selalu bisa dijelaskan, yaitu iman.


Setelah menamatkan pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Royman sempat berencana menjadi dosen di sana. Namun, arah kehidupan membawanya ke tempat yang sama sekali berbeda, yaitu ke Porsea, Sumatera Utara—tempat yang justru sejak awal ia dambakan, karena di sanalah ia ingin mengabdi.


Di sana, ia berhadapan dengan realitas yang jauh dari bayangannya. Tidak ada listrik. Tidak ada air. Fasilitas yang sangat terbatas, bahkan untuk kebutuhan dasar. Bagi seseorang yang datang dari Jakarta, perbedaan itu terasa sangat kontras. Justru, di tempat itulah sesuatu berubah. Ia tidak lagi melihat profesi dokter sebagai pekerjaan. Ia mulai melihatnya sebagai kehadiran. “Saya bertekad harus melayani orang-orang yang minim perhatian,” kenangnya. Kalimat itu lahir bukan dari teori, melainkan dari perjumpaan langsung dengan mereka yang tidak memiliki banyak pilihan. 


Di Porsea pada masa itu, hari-hari berjalan dengan ritme yang berbeda dari Jakarta. Ketika malam tiba, gelap benar-benar gelap—tanpa lampu kota, tanpa hiruk-pikuk. Hanya suara alam yang menemani. Dalam kondisi seperti itu, seorang dokter bukan hanya menjadi tenaga medis, tetapi menjadi satu-satunya tempat bergantung bagi banyak orang. Ia harus mengambil keputusan dalam keterbatasan. Tidak semua alat tersedia. Tidak semua data bisa didapatkan. Justru, di tempat yang minim itulah, makna “melayani” menjadi sangat nyata.


Dalam perjalanan pendidikannya, pada Maret 1998 ia mendapat kesempatan untuk memperdalam ilmu bedah jantung di Jerman. Selama enam tahun ia menjalani proses tersebut, sebelum akhirnya kembali ke Indonesia pada tahun 2005 dengan bekal pengalaman yang makin memperkaya pelayanannya. 


Royman menekuni bidang bedah umum, hingga akhirnya masuk ke spesialisasi bedah toraks dan kardiovaskular—sebuah bidang yang sarat dengan keputusan besar. Sebagai dokter yang berurusan dengan jantung, ia sering berhadapan dengan pasien yang harus mengambil keputusan yang tidak mudah. Operasi, risiko, kemungkinan hidup dan mati—semua hadir dalam satu ruang percakapan.


Yang menarik, pasien-pasien hari ini datang dengan pengetahuan yang jauh lebih banyak dibandingkan sebelumnya. Mereka sudah membaca, mencari, bahkan memahami detail prosedur medis. “Mereka sudah tahu prosedurnya, tahu tindakannya, tetapi tetap takut. Saya tahu, mereka butuh diyakinkan,” ujarnya. Tidak jarang, percakapan berlangsung panjang—bukan karena pasien tidak mengerti, tetapi karena mereka belum siap menerima. Dalam momen seperti itu, Royman menyadari, betapa kata-kata memiliki bobot yang berbeda. Cara menyampaikan bisa menentukan bagaimana seseorang memandang harapan.


Ia tidak hanya menjelaskan risiko, tetapi juga berusaha menjaga harapan tetap hidup. Bukan dengan janji kosong, melainkan dengan kehadiran yang jujur dan empati yang nyata, seperti yang dikatakannya, “Mungkin saja ada alasan lain. Misalnya, ketiadaan biaya dan lainnya. Jadi, mereka hanya butuh diyakinkan, sebenarnya.” Royman menyadari, dokter tidak cukup hanya menjelaskan. Ada sesuatu yang lain yang harus dipenuhi—pasien butuh merasa didampingi. Dalam banyak situasi, yang dibutuhkan pasien bukanlah tambahan informasi, melainkan keyakinan bahwa mereka tidak sendirian.


Sebagai dokter sekaligus seorang yang beriman kepada Yesus Kristus, Royman kerap membawa pendekatan yang lebih utuh. Ia tidak hanya berbicara tentang medis, tetapi juga tentang penguatan, yang terkadang muncul lewat kesaksian yang ia bagikan. Dalam beberapa kesempatan, ia bahkan mendoakan pasiennya—memberikan ruang bagi mereka untuk menemukan ketenangan, yang tidak selalu datang dari data. Dari pengalaman-pengalaman itulah, ia melihat bahwa penyembuhan tidak selalu hanya soal fisik.


Dunia Digital


Perubahan besar dalam perjalanan hidupnya di media sosial sebenarnya terjadi di masa pandemi Covid-19. Awal tahun 2020, kebutuhan masyarakat akan informasi kesehatan meningkat tajam. Di tengah situasi tersebut, Royman mulai masuk ke dunia digital. Hingga kini, ia kerap memberikan edukasi tentang kesehatan jantung melalui YouTube maupun Instagram.


Awalnya sederhana. Dorongan datang dari mahasiswa yang melihat pentingnya suara dokter hadir di media sosial. “Dok, coba bikin (video, ed.) YouTube,” kenangnya menirukan. Namun, apa yang terjadi setelah itu melampaui perkiraan. Pesan berdatangan. Pertanyaan mengalir tanpa henti. Ia mulai tampil dalam berbagai podcast, berdiskusi dengan berbagai tokoh nasional, hingga menjangkau audiens yang jauh lebih luas. Ia bahkan sempat mendapat tawaran untuk masuk ke lingkaran pemerintahan. Semua itu berawal dari satu langkah kecil, yaitu hadir di ruang digital.

Di balik itu, ada kesadaran lain yang muncul. Media sosial memang membuka akses, tetapi juga membuka tuntutan. Ia kini tidak hanya berhadapan dengan pasien di ruang praktik, tetapi juga dengan publik luas, yang memiliki ekspektasi tinggi.


Baginya, media sosial adalah peluang besar—tetapi harus dijalani dengan hati-hati. “Jangan sampai tujuan awal—melayani—bergeser menjadi sekadar tampil,” katanya. Kalimat ini benar-benar tersampaikan dengan wajah yang serius. Ia mengingatkan, dokter itu profesi etik. Jangan sampai kehadiran di dunia media sosial mengalahkan profesi utama.


Ia juga meyakini, perkembangan kecerdasan buatan (AI) makin mempercepat perubahan dalam dunia kedokteran. Dalam banyak hal, teknologi ini memberikan kemudahan, seperti analisis data yang lebih cepat, dukungan diagnosis, hingga rekomendasi terapi. Royman tidak menolak hal ini. Ia justru melihatnya sebagai alat yang sangat membantu. Namun, ia juga menyadari batasnya. Ia melihat, ada sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh teknologi.


Yang Tak Tergantikan


“AI itu alat, tetapi tidak punya rasa,” ujarnya sambil tersenyum, seolah menyadari, betapa cepat dunia berubah—tetapi ada hal-hal yang tetap tidak tergantikan. Keputusan medis, menurutnya, tidak selalu linear. Tidak selalu bisa dihitung. Ada faktor psikis, sosial, bahkan spiritual yang tidak bisa dimasukkan ke dalam algoritma. Ia mengakui, AI bisa membantu, bahkan bisa sangat akurat. Namun, AI tidak bisa menggantikan relasi.


Dalam keyakinannya, perkembangan teknologi justru menuntut manusia untuk semakin berhikmat. Seperti tertulis

dalam Yakobus 1:5a, “Namun, apabila di antara kamu ada yang kurang berhikmat, hendaklah ia memintanya kepada Allah.” Baginya, hikmat inilah yang menjadi penuntun, agar teknologi digunakan bukan sekadar untuk efisiensi, tetapi untuk kebaikan yang utuh bagi manusia.


Hari ini, hampir semua pasien datang dengan informasi awal. Internet, media sosial, bahkan AI menjadi sumber pertama sebelum mereka bertemu dokter—terutama generasi muda. Mereka datang dengan pertanyaan kritis, dengan data, dengan asumsi awal. Namun, informasi yang melimpah ternyata tidak selalu membawa kejelasan. 


“Jawaban di AI itu bisa menenangkan, tetapi juga bisa membingungkan,” tuturnya. Dalam banyak kasus, justru muncul kecemasan yang berlebih. Pasien harus menyaring sendiri informasi yang mereka terima—tanpa pendampingan. Dalam hal inilah, peran dokter kembali berubah. Bukan hanya sebagai pemberi jawaban, tetapi sebagai penuntun—membantu pasien memahami, bukan sekadar mengetahui.


Di tengah semua perubahan itu, Royman tetap memegang satu hal, yaitu relasi. Interaksi langsung dengan pasien menghadirkan sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh teknologi. Ada ekspresi, bahasa tubuh, dan kehangatan, yang hanya bisa dirasakan dalam pertemuan nyata. 


Sambil tersenyum, ia mengisahkan praktiknya hari itu, “Hari ini, pasien saya semuanya orang Batak. Rasanya seperti mengobati orang kampung sendiri.” Ia tertawa kecil. Ada kedekatan yang tidak bisa dijelaskan oleh data. Dalam banyak situasi, kehadiran dokter saja sudah menjadi bagian dari proses penyembuhan. Pasien yang lemah bisa kembali bersemangat ketika merasa diperhatikan. 


Hal-hal seperti ini tidak bisa direplikasi oleh mesin. Di ruang praktik, hal-hal kecil sering kali justru menjadi hal yang paling berarti. Cara dokter menyapa, bagaimana ia menatap pasien, atau sekadar kesediaannya untuk mendengarkan tanpa menyela—semuanya membentuk rasa aman, yang tidak tertulis dalam rekomendasi AI.


Royman memahami, bagi sebagian orang, datang ke dokter bukan hanya soal mencari kesembuhan, tetapi juga membawa kegelisahan yang sudah lama terpendam. Ada pasien yang datang dengan keluhan fisik, tetapi di balik itu tersimpan kelelahan emosional yang tidak mudah diungkapkan. Dalam situasi seperti itu, ia belajar untuk tidak terburu-buru menyimpulkan. Kadang, ia membiarkan percakapan mengalir lebih lama dari yang seharusnya. Mungkin tidak efisien, tetapi ia tahu, kepercayaan tidak bisa dibangun dengan terburu-buru. Ada proses yang harus dijalani—pelan, tetapi nyata.


Di tengah tuntutan sistem kesehatan yang makin cepat dan terukur, ruang seperti ini memang menjadi makin sempit. Waktu konsultasi sering kali dibatasi, antrean pasien tidak pernah benar-benar sepi, dan tekanan untuk efisiensi terus meningkat. Namun bagi Royman, ada batas yang tidak boleh dilewati, relasi tidak boleh dikorbankan.


Ia percaya, teknologi boleh berkembang sejauh apa pun, tetapi sentuhan manusia tetap menjadi inti dari pelayanan. Bahkan, di era ketika data tersedia dalam hitungan detik, keputusan terbaik sering kali tetap membutuhkan kepekaan—sesuatu yang hanya bisa tumbuh dari pengalaman, empati, dan hati yang mau mendengar. Ia melihat, perannya hari ini tidak lagi sekadar sebagai dokter yang mengobati, tetapi juga sebagai pendamping yang berjalan bersama pasien—melewati ketidakpastian, dengan harapan yang terus dijaga.


Gereja dan Keluarga


Di luar profesinya sebagai dokter, Royman juga menjalani panggilan lain, yaitu sebagai penatua di GKI Gading Serpong. Perjalanan itu tidak terjadi secara instan. Ia telah menjadi bagian dari gereja ini sejak 2005, berawal dari pelayanan sederhana seperti vocal group Narwastu. Selama bertahun-tahun, ia sempat menjadi simpatisan, mulai aktif, hingga akhirnya dipercaya menjadi penatua pada tahun 2024.


Keputusan itu bukan tanpa pergumulan. Ia menyadari, peran tersebut akan menyita waktu, apalagi di tengah kesibukannya sebagai dokter. Dengan nada ringan, ia sempat berseloroh, “Kalau CEO kayaknya enggak harus sibuk setiap akhir pekan, beda dengan penatua.” Ia pun tertawa.


Namun di balik itu, ia melihat sesuatu yang lebih dalam, yaitu waktu Tuhan. Mengapa setelah hampir dua dekade, baru sekarang ia diminta melayani lebih jauh? Baginya, itu bukan kebetulan. Perjalanan itu juga tidak lepas dari keterlibatannya dalam pengurusan izin gereja—sebuah proses yang tidak mudah, tetapi justru memperjelas panggilannya.


Peran ini pun tidak terlepas dari dukungan keluarga. Istrinya, Glory Duma Indrawati Aritonang, aktif melayani di gereja dan memegang berbagai tanggung jawab penting. Dengan nada bercanda, ia mengakui, “Harusnya dia yang jadi penatua, bukan saya.” Ia tersenyum, lalu melanjutkan, “tetapi dulu saya enggak bolehin, supaya dia punya waktu untuk keluarga. Mungkin nanti ‘gantian.”


Candaan itu terasa ringan, tetapi di baliknya tersimpan kesadaran, setiap peran memiliki waktunya. Dalam keluarga, ia percaya, panggilan tidak dijalani sendiri, melainkan bertumbuh, dibagikan, dan menemukan jalannya dalam kehidupan orang-orang terdekat.


Dalam keluarga itu pula, nilai tentang pendidikan dan panggilan hidup bertumbuh. Dari keempat anaknya, dua di antaranya mengikuti jejaknya di dunia kedokteran. Putri keduanya, Dorothy Simanjuntak, kini sedang menempuh pendidikan spesialis jantung di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, sementara putra tunggalnya, Joshua Yonathan Patuan Simanjuntak, melanjutkan studi kedokteran di Universitas Udayana. Putri sulungnya, Ivanna Simanjuntak, menempuh pendidikan hukum di Universitas Indonesia, dan putri bungsunya, Emily Simanjuntak, mengambil bidang computer science di universitas yang sama.


Data dan Manusia


Percakapan sore itu akhirnya harus diakhiri. Waktu terus berjalan, dan ia harus kembali melanjutkan perjalanannya. Sebelum berpisah, tersisa satu pertanyaan. Apakah suatu hari nanti dokter tidak lagi dibutuhkan? Ia tersenyum, sejenak terdiam, lalu menjawab dengan tenang, “Kita tidak tahu, tetapi yang pasti, AI tidak sempurna.”


Di tengah dunia yang semakin dipenuhi data, manusia tetap mencari sesuatu yang tidak bisa dihitung. Di balik setiap diagnosis, selalu ada manusia dengan cerita yang tidak sederhana. Ada kecemasan yang tidak selalu terucap, ada ketakutan yang tidak selalu terlihat, dan ada harapan yang sering kali tersembunyi di balik pertanyaan-pertanyaan yang terdengar rasional. Dalam ruang seperti ini, kehadiran seorang dokter menjadi lebih dari sekadar pemberi jawaban.


AI mungkin mampu menjawab dengan cepat. Namun, ia tidak bisa duduk di hadapan pasien yang gelisah, tidak bisa membaca bahasa tubuh yang ragu, dan tidak bisa memberikan ketenangan melalui tatapan yang meyakinkan. Ia bekerja dengan algoritma, tetapi tidak memiliki rasa.


Di sisi lain, tidak semua keputusan medis dapat diselesaikan secara hitam dan putih. Di tengah derasnya arus teknologi, ia juga meyakini, manusia tidak boleh direduksi menjadi sekadar data. Seperti yang tertulis dalam Mazmur 139:14a, “Aku bersyukur kepada-Mu sebab aku dijadikan dengan dahsyat dan ajaib.” Bagi Royman, setiap manusia memiliki martabat yang tidak dapat digantikan atau disederhanakan oleh algoritma apa pun.


Ada situasi ketika pilihan terbaik tidak hanya ditentukan oleh data, tetapi juga oleh kondisi psikologis, latar belakang sosial, bahkan nilai hidup yang dipegang oleh pasien. Dalam situasi seperti ini, yang dibutuhkan bukan sekadar kecerdasan, melainkan kebijaksanaan. Karena itulah, peran dokter menjadi tidak tergantikan.


Mungkin, yang akan berubah bukanlah keberadaan dokter, melainkan cara mereka bekerja. Teknologi akan menjadi pendamping, bukan pengganti. AI akan membaca data, tetapi manusia tetap dibutuhkan untuk memahami makna di baliknya. Karena pada akhirnya, manusia tidak hanya mencari jawaban. Mereka mencari kehadiran. Mencari penguatan. Dan, mencari seseorang — dengan jas putihnya, yang bisa berkata bahwa mereka tidak sendirian. (Eris Estrada Sembiring*/Lanny Dewi Joeliani)


*Penulis adalah anggota GKI Gading Serpong, anggota Redaksi Majalah Sepercik Anugerah, GKI Gading Serpong.


Comments


bottom of page