top of page
GKI-Gading-Serpong-logo

Bukan Sekadar Tempat Berkumpul

Majalah Sepercik Anugerah
11 hours ago
4 min read

Bukan Sekadar Tempat Berkumpul (sumber: unsplash.com)
Bukan Sekadar Tempat Berkumpul (sumber: unsplash.com)

Pernahkah kita mendengar sebuah pernyataan yang seringkali diucapkan, “yang jauh mendekat, yang dekat menjauh”? Kalimat ini terasa relevan di era digital. Teknologi membuat orang yang jauh terasa dekat, tetapi tanpa disadari, justru membuat yang dekat terasa jauh. Tidak jarang, kita melihat gambaran satu keluarga duduk bersebelahan dalam satu rumah, tetapi mereka sibuk dengan gawainya masing-masing. Percakapan menjadi singkat, perhatian terbagi, dan kebersamaan yang seharusnya terasa hangat justru menjadi hambar. Sebaliknya, ketika kita sedang berjauhan, barulah muncul rasa rindu untuk berbicara lebih dalam dan lebih jujur.


Hal yang sama juga bisa terjadi dalam lingkaran pertemanan, bahkan dalam komunitas rohani. Saya bersyukur memiliki kelompok tumbuh bersama sejak masa sekolah. Kami sudah mengenal cukup lama, melewati banyak proses, dan pernah merasa sangat dekat. Namun, seiring berjalannya waktu, ketika masing-masing mulai memiliki kesibukan sendiri, kedekatan itu perlahan pudar. Percakapan tidak lagi sehangat dulu, pertemuan tidak lagi sesering dulu, dan tanpa disadari, muncul jarak yang tidak terlihat di antara kami.


Ketika sedang berada pada titik yang cukup berat di dalam hidup saya, terutama saat mengerjakan skripsi, saya justru dikuatkan oleh komunitas di luar lingkungan gereja. Di sana, saya bisa bercerita dengan jujur, tanpa harus terlihat kuat atau baik-baik saja. Mereka menerima saya apa adanya, bahkan ketika saya sedang tidak berada dalam kondisi terbaik.


Namun, di saat yang sama, ada juga pengalaman yang cukup menyentuh luka hati. Seorang teman lama, sebut saja Jarwo, pernah berkata dengan nada bercanda, “Wah, sekarang Jojo pindah ke karismatik, ya? Sekarang lebih aktif di sana, ya?” Mungkin, buat dia itu cuma gurauan, tapi pada saat kondisi saya sedang depresi, perkataan itu terasa seperti sindiran. Bukan hanya soal ucapannya, tetapi juga karena selama ini tidak ada percakapan yang benar-benar mendalam di antara kami. Tidak ada momen saling bertanya kabar kehidupan, tetapi justru komentar yang lebih cepat muncul, dalam hatiku bertanya ”Bukankah jika kita punya kedekatan dengan orang, seharusnya bisa saling berbicara dan memahami?”


Pengalaman ini menyadarkan saya, kedekatan tidak selalu ditentukan oleh lamanya suatu kebersamaan. Kita bisa lama bersama-sama, tapi belum tentu saling mengerti. Terkadang seberapa lama kita berkomunitas, belum tentu kesendirian ini hilang . Dunia digital memang memudahkan kita untuk terhubung, tapi belum tentu otomatis membuat hubungan jadi lebih mendalam dan bertumbuh.


Sejak awal, manusia diciptakan untuk hidup dalam sebuah relasi. Kita butuh suatu wadah, tempat kita bisa diterima, tanpa harus berpura-pura. Karena itu, ketika hubungan terasa renggang, hati kita akan selalu mencari tempat untuk pulang, tempat kita tidak dianggap asing.


Firman Tuhan dalam Alkitab, Efesus 2:19 berkata, “Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah.” Ayat ini mengingatkan, di dalam Kristus, kita dipanggil hidup sebagai suatu keluarga. Kita bukan orang asing terhadap satu sama lain, melainkan sesama anggota keluarga Allah. Identitas ini tidak berubah, walaupun zaman terus berubah. Justru, di tengah dunia yang semakin digital, kebenaran ini menjadi semakin penting. Ketika dunia dapat membuat orang merasa sendiri, firman Tuhan mengingatkan, kita seharusnya menjadi tempat seseorang merasa diterima dan dimiliki. Karena itu, di tengah transformasi digital, kita perlu kembali belajar hidup sebagai anggota keluarga Allah melalui komunikasi yang terbuka, memiliki hubungan yang tetap terhubung dengan Tuhan, dan sikap yang bijak dalam menjalani relasi.


Komunikasi Terbuka 

Dunia digital membuat orang mudah menampilkan versi terbaik dari dirinya. Kita terlihat kuat, terlihat bahagia, terlihat baik-baik saja. Namun, sering kali itu semua hanya “topeng”. Di balik layar, banyak orang sebenarnya sedang capek, terluka, dan butuh didengar. Hal yang sama juga bisa terjadi dalam komunitas rohani. Ada kalanya, seseorang justru lebih mudah terbuka di luar gereja, karena merasa lebih diterima tanpa banyak penilaian. Sementara, di dalam komunitas sendiri, muncul rasa takut untuk jujur. Takut dianggap kurang rohani, takut disalahpahami, atau takut dihakimi.


Padahal, sebagai keluarga Allah, kita dipanggil untuk hidup dalam terang. Komunikasi yang terbuka bukan berarti bebas berbicara apa saja, melainkan berani jujur dan menerima. Ketika seseorang berani membuka dirinya, seharusnya yang dia temukan bukanlah penilaian, melainkan pelukan; bukan sindiran, melainkan penguatan. Kalau gereja kehilangan ruang keterbukaan, orang akan mencari tempat lain untuk bercerita. Hal ini seharusnya menjadi refleksi penting bagi kita semua dan saling bergandengan tangan. 


Log in to God

Di tengah relasi yang kadang mengecewakan, kita diingatkan bahwa manusia tidak hanya membutuhkan manusia, tetapi juga membutuhkan Tuhan. Relasi dengan manusia bisa berubah, tetapi relasi dengan Tuhan harus tetap dijaga.


Di zaman sekarang, kita selalu online, tapi belum tentu selalu dekat dengan Tuhan. Kita cepat membuka media sosial, tetapi sering lupa membuka firman Tuhan. Kita mudah mencari penguatan dari manusia, tapi jarang datang kepada Tuhan. Kita seharusnya menyadari, sebagai anggota keluarga Allah, hubungan dengan Tuhan adalah dasar dari segalanya. Kalau kita tidak log in kepada Tuhan, kita akan terus mencari penerimaan dari manusia, tapi tidak pernah merasa cukup. 


Waktu kita kembali kepada Tuhan, kita akan mendapati, Tuhan sudah menerima kita terlebih dahulu. Ini membuat kita punya kekuatan untuk menghadapi relasi yang tidak sempurna, dan belajar mengasihi orang lain dengan benar.


Bijak Berelasi Online 

Dunia digital membuka banyak kesempatan untuk membangun relasi, tetapi juga menuntut kita untuk lebih bijak. Kita tidak bisa sembarangan berkomentar, tidak bisa asal menyindir, dan tidak bisa merasa paling benar.


Sebagai keluarga Allah, kita dipanggil untuk membangun, bukan meruntuhkan. Untuk mendengar, bukan menghakimi. Untuk menguatkan, bukan menjatuhkan. Setiap kata yang kita ucapkan dan setiap respons yang kita berikan mencerminkan siapa kita sebenarnya. Apakah kita benar-benar hidup sebagai keluarga Allah, atau hanya sekadar berada di dalam komunitas yang sama?


Menjadi Keluarga Sebenarnya

Pada akhirnya, semua ini membawa kita pada sebuah refleksi. Kalau kita benar adalah keluarga Allah, seperti apa seharusnya gereja itu? Gereja bukan cuma tempat berkumpul, bukan cuma tempat pelayanan, dan bukan cuma tempat beraktivitas. Gereja seharusnya jadi rumah. Tempat seseorang bisa datang dengan luka, dengan kelemahan, dengan ceritanya, dan tetap diterima. Terlebih buat anak-anak muda di era digital ini, yang setiap hari bergumul dengan banyak hal yang sering tidak terlihat. Mereka tidak hanya butuh program, tetapi juga butuh tempat yang aman. Tempat mereka bisa jujur, tanpa takut dihakimi. Tempat mereka bisa bertumbuh, tanpa harus pura-pura.


Karena itu, gereja perlu belajar lagi untuk mengasihi dengan lebih dalam. Bukan hanya terlihat baik di luar, tapi benar-benar hadir untuk satu sama lain. Bukan hanya aktif dalam kegiatan, tetapi peka terhadap kehidupan. Dan, dalam setiap pelayanan, kita perlu terus ingat satu hal, yaitu kita dipanggil untuk saling sayang-sayangan, bukan saling saing-saingan. Ketika kasih menjadi dasar, gereja akan kembali menjadi keluarga. Ketika gereja menjadi keluarga, setiap orang tidak lagi akan merasa asing, tetapi menemukan tempat untuk pulang. 

(Osu Jojo*/Adolf Panggabean)


*Penulis adalah guru Sekolah Minggu GKI Gading Serpong.


Comments


bottom of page