top of page
GKI-Gading-Serpong-logo

Hidup dalam Pemulihan Tuhan

Writer: Admin GKI GS
Admin GKI GS
Oct 10
2 min read

Bacaan Leksionaris: Keluaran 32:1-14; Mazmur 106:1-6, 19-23; Filipi 4:1-9; Matius 22:1-14


Mobil di depan Ali tiba-tiba berhenti. Tak pelak lagi Ali menabrak mobil itu. Lalu mobil Ali ditabrak dari belakang. Tujuh mobil tabrakan beruntun. Ali terluka. Sampai sekarang ia tidak mau lewat jalan tol itu lagi.

Budi sering melihat ayah dan ibunya bertengkar. Bahkan kemudian mereka bercerai. Itu terjadi empat puluh tahun yang lalu, namun sampai sekarang Budi tidak mau berumah tangga.

Carlo adalah seorang dokter. Ia membuka poliklinik di sebelah rumahnya. Banyak warga miskin mendapat pertolongannya. Pada suatu hari terjadi kerusuhan. Carlo termasuk golongan etnik dan agama yang dijadikan sasaran. Rumah dan polikliniknya hancur dijarah. Sampai hari ini Carlo sering terbangun ketakutan karena mimpi buruk.

Kisah ini disadur dari buku Selamat Berpulih karya Andar Ismail. Ketiga orang itu menderita TRAUMA (Kata Yunani: tramatos, yang berarti luka dari sumber luar). Trauma adalah luka emosi, rohani dan fisik yang disebabkan oleh keadaan yang mengancam diri kita. Trauma menimbulkan kepedihan dan penderitaan yang bisa berkepanjangan.

Ada banyak luka, kepahitan dan kepedihan dalam hidup ini, termasuk dalam hidup berkeluarga, yang menyebabkan trauma. Bila dibiarkan, luka ini akan membusuk dan menyebabkan berbagai persoalan lanjutannya. Karenanya kita perlu dipulihkan.

Apa itu pemulihan? Umumnya kita mengartikan sebagai sembuh dari sakit, kembali kuat setelah lemah, punya semangat lagi setelah gagal, kaya setelah bangkrut. Memulihkan pada intinya berarti “menjadikan suatu keadaan kembali seperti semula”.

Untuk bisa dipulihkan, pertama-tama perlu ada keterbukaan dan penerimaan diri. Kita perlu juga pihak lain untuk membantu pemulihan. Namun yang terutama dan pasti, kita memerlukan pertolongan Tuhan seperti Pemazmur Daud sampaikan dalam Mzm. 85:5 – “Pulihkanlah kami, ya Allah”.

Bacaan Alkitab Minggu ini bicara tentang relasi-relasi yang koyak dan menimbulkan luka. Ada ketidaksetiaan umat pada Allah (bacaan pertama: Kel. 32:1-14), ada konflik antar umat Tuhan, yaitu Euodia dan Sintikhe (bacaan kedua: Filipi 4:2-3), selain itu ada penolakan untuk ikut dalam undangan pesta bagi anak raja (bacaan Injil: Matius 22:1-14).

Di tengah kondisi itu Tuhan tidak berhenti bekerja. Dalam bacaan alkitab minggu ini, Allah bekerja melalui Musa, Paulus, Yesus - Sang Putera untuk memulihkan keadaan. Karya Allah yang memulihkan itu mesti disambut dengan kerinduan kita untuk hidup dalam pemulihan.

Pertama, hidup dalam pemulihan Tuhan diawali dengan menjadikan Tuhan pusat hidup ini, tidak melupakan karya Tuhan, apalagi berpaling dari-Nya, seperti yang pernah terjadi dalam hidup umat Israel dalam perjalanan menuju tanah perjanjian. Hidup yang menjadikan Tuhan dan kehendak-Nya sebagai pusat kehidupan membuat kita menuruti tuntunan-Nya, bukan menuruti keinginan diri dengan segala hawa nafsunya.

Hal kedua yang dilakukan untuk hidup dalam pemulihan adalah menghadirkan damai sejahtera. Rasul Paulus menasihati Euodia dan Sintikhe untuk "sehati sepikir dalam Tuhan." Paulus memberikan resep praktis agar jemaat hidup dalam pemulihan dan damai sejahtera Tuhan, yaitu bersukacita dan tidak khawatir, melainkan membawa segala hal dalam doa dan ucapan syukur, serta mengisi pikiran dengan hal yang positif.

Ketiga, menerima undangan Tuhan dan mengenakan "pakaian pesta" kehidupan baru. Di tengah banyak pihak yang menolak undangan pesta, ada satu orang memenuhi undangan itu. Namun sayangnya ia tidak mengenakan pakaian pesta. Ia menerima undangan, tetapi tidak menghargai kehormatan undangan tersebut. Pakaian pesta menggambarkan kehidupan yang selaras dengan panggilan Allah.

Andar Ismail menegaskan: Dalam lubuk hati tiap orang terdapat sebuah kerinduan, yaitu rindu untuk pulih, dipulihkan dan memulihkan. Tuhan terus berkarya untuk memulihkan umat-Nya. Maka mari sambut karya pemulihan Tuhan dengan hidup dalam pemulihan-Nya.

Pdt. Danny Purnama

Comments


bottom of page