top of page

Dari Layar ke Hati

Majalah Sepercik Anugerah
19 hours ago
2 min read



Dari Layar ke Hati (sumber: unsplash.com)


Di era digital saat ini, tontonan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Kita dapat dengan mudah mengakses berbagai jenis hiburan. Siapa yang tidak mengenal drama Korea dan China yang saat ini sedang populer? Dari cerita yang ringan, hingga yang penuh konflik dan emosi, semuanya tersedia hanya dalam genggaman.


Tidak dapat disangkal, tontonan ini memberi hiburan. Di tengah tekanan hidup, cerita yang indah dan berakhir bahagia sering menjadi pelipur lara. Kisah cinta yang tampak sempurna, tokoh utama yang akhirnya menemukan kebahagiaan, serta alur cerita yang menyenangkan, membuat kita merasa hangat dan terhibur.


Sejak kecil, banyak dari kita telah diperkenalkan kepada kisah Cinderella, seorang gadis sederhana yang akhirnya dipertemukan dengan seorang pangeran tampan, dan hidup dalam kemewahan. Cerita ini begitu melekat, membentuk gambaran bahwa kehidupan pada akhirnya akan berpihak kepada yang baik, dengan cara yang indah dan ajaib.


Namun, realitas tidak selalu demikian. Kita dapat melihat contoh nyata dalam kehidupan Putri Diana. Ia sering digambarkan sebagai “Cinderella modern”—seorang wanita biasa yang menikah dengan pangeran dan masuk ke dalam kehidupan kerajaan. Dunia mengagumi pesona, kecantikan, dan kisah hidupnya yang tampak sempurna. Namun, di balik itu semua, hidupnya penuh tekanan, konflik, dan pergumulan batin yang tidak terlihat oleh publik. Kisahnya bahkan berakhir secara tragis. Ini mengingatkan kita, apa yang tampak seperti dongeng di luar tidak selalu seindah kenyataan di dalam.


Fenomena yang sama juga terlihat dalam tontonan masa kini. Banyak drama mengangkat pola cerita yang serupa—kisah cinta antara CEO kaya dan seseorang yang sederhana, identitas tersembunyi, hingga akhir bahagia yang memuaskan.


Contoh lain dapat kita lihat dalam film The Twilight Saga, kisah cinta vampir rupawan yang baik hati dan romantis. Bahkan, dalam salah satu bagiannya yang berjudul Breaking Dawn, terdapat lagu “A Thousand Years”, yang sering digunakan dalam momen pernikahan. Liriknya indah dan penuh janji kesetiaan. Namun, jika kita melihat lebih dalam, cerita ini sebenarnya berbicara tentang hubungan yang tidak realistis dan berada di luar nilai-nilai kebenaran. 


Kita perlu berhenti sejenak dan bertanya, apakah semua yang terasa indah layak kita terima begitu saja? Tanpa disadari, tontonan seperti ini perlahan membentuk cara kita berpikir—tentang cinta, kebahagiaan, bahkan nilai seseorang. Apa yang kita lihat secara terus-menerus akan membentuk hati kita. Apa yang kita nikmati akan memengaruhi cara kita menilai dunia. Pada akhirnya, itu akan memengaruhi cara kita hidup.


Matius 5:13–14 mengingatkan, kita adalah garam dan terang dunia. Artinya, kita tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pembawa pengaruh. Di tengah dunia yang dipenuhi tontonan yang “manis di luar”, kita dipanggil untuk menghadirkan sesuatu yang “benar di dalam”, melalui karya, tulisan, maupun pilihan hidup kita sehari-hari. Jangan hanya menikmati apa yang membentuk dunia. Jadilah pribadi yang membentuk dunia dengan kebenaran. Marilah kita menggarami dunia ini dengan karya yang mencerminkan iman kita. (Tjhia Yen Nie*/Eris Estrada Sembiring) 


*Penulis adalah jemaat GKI Gading Serpong wilayah IX.


Comments


bottom of page