Berani Berbeda

Berani Berbeda (sumber: unsplash.com)
Pertengahan April 2026, kita dikejutkan dengan kasus grup chat enam belas mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI), yang isi chat-nya melecehkan teman-teman, dosen, bahkan kakak perempuan salah seorang pelaku secara seksual. Publik terhenyak, karena kasus ini muncul dari fakultas hukum paling top di Indonesia. Tidak lama setelah kasus ini mencuat, bermunculanlah kasus-kasus sejenis dari kampus-kampus lainnya. Para korban dan orang lain yang mengetahui kasus-kasus tersebut, yang tadinya bungkam, kemudian berani ikut bersuara.
Netizen “Mahabenar”
Netizen Indonesia nan “mahabenar” pun ramai mencaci-maki para pelaku, orang tua, maupun para pejabat kampus terkait. Nama baik almamater perguruan tinggi, bahkan SMA asal, maupun orang tua para pelaku ikut tercoreng. Reputasi dan kepercayaan yang diperjuangkan bertahun-tahun, runtuh dalam sekejap. Entah apa yang membuat publik sepertinya menikmati betul kesempatan untuk menumpahkan caci-maki di kolom komentar media massa. Mungkin rasanya gagah, seru, seperti sedang melakukan “class action”.
Pihak-pihak terkait tentu saja tidak tinggal diam. Perguruan tinggi yang tersangkut beramai-ramai mengeluarkan permohonan maaf dan pernyataan sikap, serta berjanji untuk memperbaiki diri dan meningkatkan pengawasan. Beberapa di antaranya mencoba menjelaskan konteks terjadinya pelanggaran. Namun, terlambat. Publik sudah menghakimi. Netizen masa bodoh dengan konteks yang coba dijelaskan. Berita sudah tersebar begitu cepat dan luas di media sosial, bagaikan kebakaran hutan yang sulit dipadamkan. Penghakiman publik memang kejam.
Kalau sudah berkomentar, sepertinya semua orang begitu suci. Begitu mudah, bahkan nikmat menuding dan menggunjingkan kesalahan orang lain. Bukan berarti saya membela mereka yang berbuat kesalahan dan menerima pembenaran diri yang mereka kemukakan. Kesalahan tetaplah kesalahan, dan tentu menuntut perubahan, perbaikan, bahkan hukuman. Sesungguhnya, mungkin kita tidak lebih baik daripada mereka yang sedang kita tuding. “Dosa beberapa orang sangat jelas dan mendahului mereka ke penghakiman, tetapi dosa beberapa orang lagi baru menjadi nyata kemudian” (1Tim. 5:24). Kita semua punya kesalahan, hanya saja mungkin tidak ada yang tahu.
Perangkap Percakapan Tertutup
Menilik kembali kasus keenam belas mahasiswa FHUI tadi, grup chat itu mulanya hanya untuk memudahkan komunikasi antarteman sekos. Karena itu grup tertutup, semuanya laki-laki, sudah saling akrab, obrolan mereka makin lama makin liar. Orang bilang, sudah lazim bila obrolan kaum pria menyerempet kaum wanita. Seperti postingan akun Keongbergema di Instagram Post, “Ketika ada 16 orang, 1 orang ‘bercanda’, 4 orang mengiakan, 5 tertawa, dan 6 diam, 0 yang menegur, maka 16 orang telah bikin karma buruk!” Mungkin, tadinya hanya satu-dua orang yang “mulutnya kotor”, atau dalam kasus ini, “jempolnya kotor”. Namun, jika tidak ada yang berani menyatakan ketidaksetujuan, dengan cepat, tindakan pribadi itu berubah menjadi tindakan kelompok.
Chat dalam ruang privat, tanpa pengawasan “orang luar”, dengan mudah membuat seseorang yang tadinya takut-takut, tidak terbiasa berbicara kotor, jadi berani, karena melihat semuanya melakukan hal yang sama. Apa yang salah bisa terlihat normal, bahkan benar. Dalam kondisi seperti itu, integritaslah yang berbicara. Apa pilihan dan tindakan kita, ketika tidak ada yang mengawasi?
Bagi seorang ibu yang punya anak laki-laki usia kuliah, ini menakutkan. Siapa pun bisa jatuh dengan mudah di perangkap seperti ini. Sangat disayangkan, anak-anak yang begitu berpotensi harus kehilangan nama baik dan masa depannya karena kesalahan seperti itu. Dalam situasi seperti inilah, ajaran Kristiani yang kita tanamkan kepada anak-anak kita diuji. Apakah mereka akan hangus terbakar bersama lingkungan, atau timbul bagaikan emas? (Ayub 23:10). Sejak kecil, kita perlu menanamkan kepada anak-anak, agar mereka berbuat baik karena takut akan Tuhan, bukan hanya agar terlihat baik di mata manusia. Jika diperhadapkan pada situasi yang sama seperti anak-anak UI itu, beranikah mereka menyatakan sikap yang berbeda?
Berani Bersuara
Sebenarnya, kasus seperti ini bukan monopoli grup chat pria. Saya sendiri pernah mengalaminya. Dalam sebuah grup chat yang saya ikuti, ada beberapa orang yang sering melontarkan candaan, bahkan mengirimkan foto-foto yang tidak senonoh. Parahnya, pelakunya bukan hanya kaum pria. Ada juga yang wanita, bahkan sudah jadi ibu dari tiga anak perempuan. Sudah beberapa kali saya menyatakan keberatan saat mereka melontarkan joke-joke yang tidak pantas ini. Akhirnya, saya memilih keluar dari grup tersebut, karena keberatan saya tidak digubris.
Tidak hanya di dunia maya, di dunia nyata pun memang ada orang-orang yang suka melontarkan candaan bernada seksual seperti ini. Entah apa yang membuat mereka menganggap hal seperti itu lucu. Saya pernah mendamprat seorang rekan kerja karena menunjukkan gambar tidak senonoh kepada saya sambil tertawa-tawa. Sungguh tidak respectful terhadap tubuh wanita! Tahu saya marah, ia heran. Karena sebelumnya, ketika menunjukkan gambar yang sama kepada seorang rekan wanita sekantor kami, rekan wanita itu juga menganggap gambar itu lucu, dan ikut tertawa bersamanya. Setelah kejadian itu, rekan sekantor tadi tidak pernah lagi berani menunjukkan gambar-gambar tidak senonoh kepada saya, walaupun di luar kantor, ia masih punya cara bercanda, bahkan gaya hidup yang liar.
Apa yang normal di mata dunia tidak harus berarti normal di mata pengikut Kristus, dan kita tidak harus, bahkan harus menolak untuk ikut terhanyut. Kita baca dalam Efesus 5:11, “Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu.” Demikian juga Roma 12:2, “Janganlah menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu, sehingga kamu dapat membedakan mana kehendak Allah: Apa yang baik, yang berkenan kepada-Nya dan sempurna.” (Lanny Dewi Joeliani*)
*Penulis adalah anggota Redaksi Majalah Sepercik Anugerah GKI Gading Serpong.



Comments