Belajar Setia di Tengah Kesibukan Menatap Layar

Belajar Setia di Tengah Kesibukan Menatap Layar (sumber: unsplash.com)
Di dunia digital saat ini, hidup terasa berjalan sangat cepat. Pagi hari dimulai dengan notifikasi, siang dipenuhi pesan pekerjaan dan media sosial, malam diakhiri dengan video atau berita yang seolah tidak pernah habis. Teknologi memberi banyak kemudahan, tetapi tanpa disadari, ia juga bisa membuat hati kita lelah, dan hubungan kita dengan Tuhan menjadi semakin jauh.
Di tengah kesibukan itu, saya teringat kepada Letty, anabul kesayangan, yang pernah menjadi bagian penting dalam hidup keluarga kami. Letty memang tidak dapat berkata-kata untuk menunjukkan rasa cintanya kepada kami. Namun, ia hadir dengan setia, menemani, menunggu, dan selalu ada.
Hadir untuk Tuhan
Sering kali, dunia digital membuat kita hadir di banyak tempat, tetapi tidak sungguh hadir untuk Tuhan. Jari kita aktif menggulir layar, tetapi hati kita kosong. Pikiran dipenuhi informasi, tetapi jiwa kita haus akan damai.
Letty saja selalu setia menunggu kesempatan jalan bersama; terlebih Tuhan, yang selalu rindu menanti kita menyediakan waktu untuk-Nya. Bukan sekadar membaca satu ayat sambil lalu, tetapi sungguh memberi ruang bagi-Nya, untuk berbicara melalui firman dan doa.
Hubungan dengan Tuhan terpelihara melalui momen-momen kecil yang dilakukan dengan setia: doa pagi sebelum membuka ponsel, ucapan syukur di sela pekerjaan, atau saat teduh singkat sebelum tidur. Kesetiaan dalam hal-hal sederhana.
Kasih tidak selalu diukur dengan sesuatu yang besar. Kadang, justru terlihat dari kesetiaan melakukan rutinitas sederhana. Seperti dahulu, ketika Letty masih hidup, kami mengajaknya berjalan keliling setiap pagi dan sore. Rutinitas itu tampak biasa, tetapi justru membangun ikatan kasih di antara kami. Demikian pula hubungan kita dengan Tuhan. Saat kita setia menyediakan waktu setiap hari, hubungan itu akan semakin kuat.
Dunia digital sering mencuri perhatian kita sedikit demi sedikit. Karena itu, kesetiaan kecil menjadi sangat penting. Dapat kita mulai dengan sejenak menutup aplikasi untuk berdoa, memilih mendengarkan renungan daripada konten yang melelahkan hati, atau membatasi waktu scrolling demi bersaat teduh. Ini semua adalah bentuk kasih kita kepada Tuhan.
Hubungan yang dekat dengan Tuhan akan memengaruhi cara kita hadir di dunia digital. Orang yang hidup dekat dengan Kristus akan memancarkan kasih-Nya, bahkan lewat komentar singkat, pesan pribadi, ataupun unggahan sederhana. Ruang digital sering menjadi ruang yang penuh perdebatan, kata-kata tajam, dan penghakiman. Kita dipanggil untuk menjadi pembawa damai. Seperti kasih yang tulus dan murni, yang pernah kita rasakan dalam relasi dengan makhluk yang kita sayangi, demikian pula kasih Kristus harus mengalir melalui hidup kita kepada orang lain.
Menemukan-Nya dalam Keheningan
Ada kalanya, kita perlu berhenti dari kebisingan digital untuk kembali mendengar suara Tuhan. Sama seperti momen tenang, saat duduk bersama Letty tanpa banyak kata, keheningan bersama Tuhan sering kali justru menjadi saat yang paling mendalam. Matikan notifikasi, letakkan ponsel, lalu datanglah kepada Tuhan dengan hati yang jujur. Dalam keheningan itu, Tuhan memulihkan jiwa, menguatkan hati, dan mengingatkan, kita tidak pernah berjalan sendirian.
Dunia digital akan terus berkembang, tetapi kebutuhan hati manusia tetap sama: kasih, kehadiran, dan hubungan yang nyata. Tuhan Yesus rindu kita tetap dekat kepada-Nya di tengah segala kesibukan digital, melalui kesetiaan sederhana, seperti kasih yang pernah saya pelajari dari Letty. Kita diingatkan, hubungan yang indah dibangun dengan kehadiran yang terus dijaga. Kiranya di tengah dunia digital, hati kita tetap menemukan rumahnya di dalam kasih Kristus.
Doa Singkat
Tuhan Yesus, di tengah dunia digital yang begitu sibuk, ajar kami untuk tetap setia menyediakan waktu bagi-Mu. Biarlah hati kami tidak dikuasai oleh distraksi, tetapi tetap berakar dalam kasih-Mu. Tolong kami, agar dapat senantiasa membawa terang dan damai kasih-Mu ke setiap ruang digital yang kami masuki. Amin. (Lisa Dewi*/Lanny Dewi Joeliani)
*Penulis adalah guru Sekolah Minggu GKI Gading Serpong.



Comments