Anak Mendengar, Anak Meniru; Orang Tua?
Penulis: Santhy David*
Penyunting: Lanny Dewi Joeliani

Foto Bersama Pembicara, Panitia dan Para Guru Sekolah Minggu (sumber: dokumentasi Komisi Anak GKI GS)
“Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah kautaruh dalam hatimu. Haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya, ketika engkau duduk di rumahmu atau sedang dalam perjalanan, ketika engkau berbaring atau bangun.”
(Ulangan 6:6–7)
Mungkin sebagian dari kita sempat mengalami, rumah menjadi tempat yang sangat riuh, tetapi seolah kehilangan kata-kata. Saat pandemi melanda beberapa tahun lalu, dunia seolah berhenti berputar. Pintu-pintu rumah tertutup rapat, interaksi dengan dunia luar terputus, dan seolah kita punya tambahan anggota keluarga baru, yaitu layar gadget, yang tanpa sadar menjadi “pengasuh” anak-anak.

Coffee Morning Sebelum Acara Dimulai (sumber: dokumentasi Komisi Anak GKI GS)
Masa-masa itu penuh dengan dinamika yang tidak mudah. Banyak anak-anak mengalami keterlambatan bicara (speech delay). Karena keterbatasan kosa kata untuk mengungkapkan apa yang dirasakan, emosinya sering kali meledak dalam bentuk tantrum yang hebat. Di tengah tekanan pekerjaan, isolasi sosial, dan kecemasan masa pandemi, jeritan dan tangisan anak di rumah kerap menguji batas kesabaran para orang tua yang mungkin saat itu kurang menyadari, anak-anak adalah peniru yang sangat ulung. Mereka tidak hanya mendengarkan perkataan atau nasihat, tetapi mencerna dan meniru perilaku, respons, serta spiritualitas yang ditunjukkan orang tua di rumah sehari-hari.
Sebagai akibatnya, sesudah pandemi berlalu dan ibadah sekolah Minggu kembali digelar secara onsite, guru-guru sekolah Minggu sedikit gelisah mendapati perubahan pada diri anak-anak. Ada yang belum lancar berbicara, ada yang tidak menjawab ketika diajak berbicara, ada yang tidak dapat berkonsentrasi, ada yang berlari-larian, dll. Dirasakan, hal ini perlu segera ditangani/ditindaklanjuti.

dr. Febryna Grace Maya Waloni sebagai Pembicara (sumber: dokumentasi Komisi Anak GKI GS)

Kara Handali M.Psi sebagai Pembicara (sumber: dokumentasi Komisi Anak GKI GS)

Pdt Erma P. Kristiyono, S.Si.Teol. sebagai Pembicara (sumber: dokumentasi Komisi Anak GKI GS)
Mempertimbangkan perilaku anak-anak pada masa pandemi ini, Komisi Anak GKI Gading Serpong mencoba membuat suatu acara Pertemuan Orang Tua Murid (POTM) Sekolah Minggu, dengan tema “Peneladanan dan Tanggung Jawab Moral”. Acara diadakan pada Sabtu, 29 Agustus 2026, pukul 8.30–11.30, dengan Pdt. Erma Primastuti Kristiyono, dr. Febrina Maya Waloni, dan Kara H, S.Psi di gedung SD Penabur lantai 2.

Anak-anak Sekolah Minggu Jenjang Imut dan Jenjang Kecil Mengisi Pujian (sumber: dokumentasi Komisi Anak GKI GS)

Anak-anak Sekolah Minggu Jenjang Tengah dan Jenjang Besar Mengisi Pujian (sumber: dokumentasi Komisi Anak GKI GS)
Ada beberapa kondisi masa pandemi yang patut diperhatikan. Pada masa itu, terjadi isolasi sosial dan kurangnya stimulasi lingkungan. Pembatasan interaksi membuat anak-anak balita kehilangan kesempatan bersosialisasi dengan teman sebaya, kerabat, atau lingkungan luar, yang biasanya kaya akan kosa kata dan dinamika komunikasi. Paparan layar (screen time) juga meningkat, akibat keterbatasan aktivitas di luar rumah dan kesibukan orang tua yang bekerja dari rumah. Gadget sering menjadi media hiburan utama, yang berisiko memperlambat perkembangan bahasa aktif (speech delay). Ketika anak-anak memiliki banyak keinginan atau emosi, tetapi belum mampu mengekspresikannya secara verbal, tantrum menjadi satu-satunya cara mereka berkomunikasi. Pandemi membawa beban finansial, emosional, dan pekerjaan bagi orang tua. Anak-anak yang sangat peka akan menyerap (meniru) ketegangan dan kecemasan yang dirasakan orang tuanya di rumah.

Orang Tua Murid yang Hadir (sumber: dokumentasi Komisi Anak GKI GS)
Orang tua perlu berefleksi apa yang dilihat dan didengar oleh anak-anak. Mereka mungkin mudah melupakan nasihat tertulis, tetapi mereka merekam cara orang tua berbicara kepada sesama, menyelesaikan masalah, dan berdoa saat menghadapi kesulitan. Pengajaran iman tidak hanya terjadi di sekolah Minggu, tetapi juga melalui interaksi harian di meja makan dan kehidupan keluarga di rumah. Orang tua juga perlu memperhatikan integrasi antara perkataan dan perbuatan, serta pentingnya keselarasan antara apa yang diajarkan di sekolah Minggu (firman Tuhan/nilai moral) dan apa yang dipraktikkan orang tua sehari-hari.

Suasana Acara (sumber: dokumentasi Komisi Anak GKI GS)
Sebelum anak-anak mendengar kata-kata atau nasihat kita, mereka terlebih dahulu merekam dan meniru cara kita merespons keadaan. Ketika kita merespons tantrumnya dengan kekesalan, nada suara yang tinggi, atau raut wajah frustrasi, anak-anak justru menyerap ketegangan itu. Mereka belajar bahwa emosi harus dibalas dengan nada keras. Namun, ketika kita mencoba tenang, berlutut dan menyamakan tinggi badan, serta memeluknya dengan lembut di tengah tangisnya, perlahan-lahan napasnya melambat. Ia meniru ketenangan yang kita tawarkan.
Iman Kristen sering mengajarkan bahwa rumah adalah gereja kecil (ecclesia domestica). Di sanalah ajaran kasih bukan hanya diucapkan, tetapi dipraktikkan secara nyata. Anak-anak mungkin belum mengerti firman Tuhan yang rumit, tetapi mereka dapat "membaca" kasih Kristus lewat kesabaran dan kelembutan orang tuanya setiap hari.
Anak-anak balita masa pandemi mengajarkan kita, bahwa mereka tidak membutuhkan orang tua yang sempurna, melainkan orang tua yang mau hadir secara utuh, mendengarkan dengan kasih, dan memberikan teladan yang menenangkan. Mari berjuang mendampingi anak sesuai dengan tahapan tumbuh kembangnya. Ingatlah, kita tidak berjalan sendiri. Kasih karunia Tuhan selalu cukup untuk memulihkan dan memampukan kita menjadi cermin kasih-Nya bagi buah hati tercinta.
*Penulis adalah pengurus Komisi Anak GKI Gading Serpong untuk masa pelayanan 2026 – 2028.



Comments