“Bukan soal apa yang sudah kita lakukan, tetapi berapa banyak yang telah kita lakukan untuk orang lain.” 

YMCA (Young Men’s Christian Association) adalah gerakan Kristen, oikumenis, suka rela di seluruh dunia untuk laki-laki dan perempuan, dengan penekanan khusus pada keterlibatan kawula muda Kristen yang punya hati untuk bermisi, dengan membangun komunitas yang membawa keadilan, kasih, perdamaian dan rekonsiliasi secara holistik untuk seluruh ciptaan. Dari YMCA lahirlah dua penerima hadiah nobel dan penemuan tiga cabang olah raga terbesar di dunia, yakni bola basket, voli, dan permainan racquetball.

YMCA adalah organisasi pemuda/i Kristen tertua dan terbesar di dunia, berkantor pusat di Geneva, Switzerland, dengan staf penuh waktu sebanyak 88.485 orang dan melibatkan sukarelawan di 120 negara sebanyak 919.671 orang. YMCA pertama kali berdiri pada tahun 1844, atau 176 tahun lalu.

Setiap tahun, tanggal 6 Juni diperingati sebagai hari lahirnya YMCA, atau sering dikenal dengan YMCA Day. Siapakah tokoh di balik lahirnya perkumpulan organisasi pemuda kristiani terbesar sedunia tersebut? Ia adalah George Williams, sang pendiri YMCA. Melalui organisasi YMCA, George Williams menggalang generasi muda dari berbagai penjuru dunia untuk terlibat dalam berbagai kegiatan penginjilan dan kegiatan yang mengarah pada gerakan perubahan sosial. Salah satu yang dilakukannya adalah berjuang untuk perbaikan kondisi kehidupan 150.000 kaum buruh pertokoan di London dari perbudakan para majikan yang telah dimulai sejak 1841.

Salah satu moto hidupnya yang banyak dikenal yaitu, “Bukan soal apa yang sudah kita lakukan, tetapi berapa banyak yang telah kita lakukan untuk orang lain.” Sebagai seorang pengusaha muda yang peduli akan nasib mereka yang kurang mampu, George Williams secara rutin menyerahkan dua pertiga dari pendapatannya dalam rangka membantu mereka. Begitu pula ketika mendirikan YMCA, George Williams tidak segan-segan menggunakan uang pribadinya untuk pendanaan YMCA, agar ada banyak pemuda dan pemudi dijangkau dari pergaulan yang merusak. Atas upaya tersebut, pada tahun 1894, Ratu Victoria memberikan gelar kebangsawanan kepada George Williams.

Kenangan terakhir George Williams melalui organisasi yang didirikannya adalah pada ulang tahun YMCA ke-61, tanggal 6 Juni 1905. Pesan terakhirnya ketika itu adalah “…jika Anda ingin memiliki kehidupan yang bahagia, berguna, dan menguntungkan, berikanlah hati Anda sepenuhnya selagi Anda masih muda.” Beliau meninggal pada tanggal 16 November 1905, dan dikuburkan di dalam Katedral Santo Paulus (St. Paul’s Cathedral) di London.

KEHIDUPAN MASA KECIL

George Williams adalah anak bungsu dari delapan bersaudara, dari pasangan Amos dan Elisabeth Williams. Ia dilahirkan pada tanggal 11 Oktober 1821, di Dulverton, Somerset, Inggris.

Kelahiran George Williams mewakili sebuah pergeseran situasi sosial Revolusi Industri, di mana terjadi arus urbanisasi dari pedesaan ke kota-kota berkembang di Inggris. Ia bukanlah seorang yang taat beragama, bahkan tidak percaya adanya Tuhan pada awalnya. Perjumpaannya dengan Tuhan dimulai ketika Wiliams tinggal di Bridgewater. Sebagai seorang pemuda, ia menggambarkan dirinya sebagai “pemuda yang ceroboh, tidak berpikir jauh, tidak percaya Tuhan, dan muluh penuh sumpah serapah”.

Pada saat ia berusia 14 tahun, keluarganya mengirimnya ke Bridgewater untuk menjadi pekerja magang di toko pakaian seorang sahabat ayahnya, yang bernama Henry William Holmes. Pada suatu musim dingin di tahun 1837, William diundang menghadiri sebuah kebaktian Di dalam kebaktian itu ia secara pribadi berjumpa dengan Kristus, dalam sebuah khotbah yang mengusik hatinya.

William segera pulang mencari tempat yang sepi, lalu bersujud di bagian belakang toko yang kosong, dan setelah itu mengeluarkan buku sakunya, menuliskan pengalaman yang istimewa tersebut “ Saya tidak mampu menggambarkan sukacita dan damai sejahtera yang mengalir dalam jiwa saya, ketika untuk pertama kalinya saya melihat, bahwa Tuhan Yesus telah mati demi dosa dosa saya, dan bahwa dosa-dosa saya telah diampuni seluruhnya. Ya Tuhan, jagalah dan peliharalah aku hingga akhir… bimbinglah setiap pertimbanganku dan peliharalah aku di jalan yang benar.”

WILLIAMS DEWASA

Pada tahun 1841, Williams muda mengarungi nasibnya dengan pergi ke London, dan bekerja sebagai pekerja magang di Hitchcock & Rogers, sebuah toko kain yang lebih besar. George Williams belajar lebih banyak mengenai Alkitab melalui kelompok-kelompok persekutuan doa di berbagai organisasi Kristen, antara lain Church Missionary Society, The British and Foreign Bible, and Religious Tract Society.

Keaktifannya dalam organisasi Kristen tersebut mendorong dirinya menemukan cara yang lebih efektif untuk memberitakan Injil. Kejujuran dan keuletannya membawa Williams dipromosikan menjadi manajer departemen setelah tiga tahun bekerja. Putri sang majikan jatuh hati padanya. Dia menikah dengan putri George Hitchcock, Helen Jane Maunder Hitchcock pada tahun 1853.

Bersama Jane, Williams memiliki 7 orang anak. Perusahaannya semakin besar, dan oleh mertuanya ditawarkan kemitraan bersama. Secara legal, perusahaannya berubah nama menjadi George Hitchcock, Williams & Co. Keterlibatan Williams dalam pendalaman Alkitab membuat banyak rekan yang ingin menjalin kemitraan dengannya, salah-satunya adalah Christopher S. Smith.

Ketika Hitchcock meninggal pada tahun 1863, Williams menjadi satu-satunya pemilik perusahaan tersebut.

PENDIRIAN YMCA

Williams sangat terkejut dengan kondisi lingkungan di London, yang menurutnya tidak sehat bagi para pria muda yang bekerja. Mereka harus bekerja rata-rata empat belas jam sehari. Sesudah itu, untuk mengisi kepenatan kerja mereka, ada banyak tempat hiburan, hotel, dan pub yang menawarkan gaya hidup bebas dan merusak. Ada banyak kesenjangan sosial dan kriminalitas, seperti perampokan dan kekerasan yang kerap terjadi di kota London.

Keprihatinan atas kondisi ini membawa 11 orang pemuda berkumpul. Selama bulan Juni dan awal Juli 1844, serangkaian diskusi berlangsung di ruang rapat, di atas toko kain Hitchcock & Roger di St. Paul’s Churchyard. George Williams, Christopher Smith, Edward Valentine, John Symons, dan delapan pemuda lainnya yang terlibat, membahas pengaturan baru. Salah satu pengaturan baru tersebut adalah kesepakatan untuk mengurangi jam kerja pertokoan mereka, dari 14 jam menjadi 8 jam kerja per hari. Diharapkan dengan pengurangan jam kerja tersebut, kaum buruh dan generasi muda akan mendapatkan kesempatan untuk memiliki pilihan hidup dan aktivitas yang lebih sehat. Aktivitas-aktivitas positif itu dipusatkan dalam sebuah asosiasi, yang kemudian dikenal sebagai YMCA, terutama di bidang pendidikan, olahraga, pemahaman Alkitab dan persekutuan.

Nama Young Men’s Christian Association (YMCA) ditetapkan atas saran Christopher W. Smith. Mertuanya, George Hitchcock, didaulat sebagai bendahara pertama organisasi tersebut.

Begitu menariknya asosiasi ini, sehingga dalam setahun sudah memiliki cabang di West End, seperti Gereja Skotlandia, Swallow Street, Piccadilly, Islington, Pimlico, Southwark - dan kemudian di Leeds, Manchester, Liverpool, Exeter, Bristol, Plymouth dan Hull. YMCA kemudian menjadi asosiasi independen. Pada tahun 1851, asosiasi ini menyebar ke Australia, Perancis, India, dan Amerika Utara. Di kemudian hari, YMCA membentuk gerakan yang berpusatkan pada kawula muda, untuk membangun iman mereka dalam Yesus Kristus, dan membaktikan hidup mereka untuk kemuliaan nama-Nya, hingga hari ini.

ANUGERAH KEHORMATAN

Saat memperingati ulang tahun emas 50 tahun YMCA, atas jasanya bagi Inggris, terutama dalam mengubah hidup banyak orang di London, Williams dianugerahi gelar kebangsawanan oleh Ratu Victoria pada tahun 1894. Setelah kematiannya, pada tahun 1905, wajah George Williams diabadikan dalam ukiran jendela kaca patri di tengah-tengah Gereja Westminster. Untuk memperingati George Williams, Universitas Sir George Williams di Montreal, yang didirikan oleh YMCA, di kemudian hari melebur menjadi Universitas Concordia, dan nama Kampusnya diberi nama Sir George Williams.

SUMBANGSIH YMCA BAGI DUNIA

Ada tiga cabang olah raga yang lahir dari rahim YMCA. Pertama adalah olah raga basket, kemudian voli, dan racquetball.

  • Bola Basket

Bola basket ditemukan di YMCA Springfield, Massachusetts, pada tahun 1891, oleh Dr. James Naismith, seorang pendeta, pendidik, dan dokter. Naismith diminta untuk memikirkan sebuah “selingan atletik” dalam ruangan, dengan tujuan untuk memberi kesibukan kepada para pemuda di bulanbulan musim dingin di sana. Luther Gulick, seorang dokter, kepala Springfield YMCA, memberi tugas kepada Naismith muda selama dua minggu, untuk mengusulkan sebuah permainan, dengan kriteria harus aktif secara fisik, mudah dimengerti, dan memiliki kekasaran fisik yang minimal. Naismith menciptakan permainan bola basket pertamanya. Permainan aslinya dimainkan dengan bola sepak dan dua 29 Juli 2020 - Desember 2020 keranjang buah dipaku ke balkon YMCA Springfield.

Permainan ini menjadi terkenal sejak hari itu, dan mengalami modifikasi hingga menjadi yang dikenal seperti hari ini.

  • Bola Voli

Empat tahun setelah James Naismith menemukan bola basket di Springfield pada tahun 1891, William G. Morgan, seorang instruktur YMCA di Holyoke, Massachusetts, ingin membuat permainan lain untuk para pria yang lebih tua, yang menuntut kontak fisik yang lebih sedikit.

Setelah bertemu dan berdiskusi dengan James Naismith, Morgan mendapatkan gagasan, dan menciptakan sebuah olahraga baru yang bernama Mintonette, dan kemudian berubah nama menjadi voli pada tahun 1896 Morgan meminjam jaring tenis, mengangkatnya setinggi 6 kaki dan 6 inci di atas lantai, dan menciptakan permainan mintonette, yang dapat dimainkan oleh sekelompok orang, berapa pun jumlahnya, dan melibatkan tendangan bola besar ke atas jaring. Sama halnya dengan James Naismith, William G. Morgan juga mendedikasikan hidupnya sebagai seorang instruktur pendidikan jasmani di YMCA.

  • Racquetball

Racquetball adalah olahraga lain yang ditemukan oleh YMCA. Joseph Sobek, seorang pemain tenis dan squash, yang bekerja di sebuah pabrik karet, tidak puas dengan pilihan cabang olahraga dalam ruangan di Greenwich, Connecticut. Dia tidak dapat menemukan pemain squash yang handal. Pada tahun 1950, dia merancang raket pendek dengan senar, menggunakan bola karet mainan anak-anak, dan membuat peraturan untuk permainan baru ini, dan menggunakan lapangan bola tangan. Dia menyebut olahraga barunya “raket dayung”. Olahraga ini benarbenar lepas landas pada tahun 1970- an, dan diperkirakan saat ini ada 15 juta orang yang memainkannya di seluruh dunia.

NOBEL PERDAMAIAN

Adalah Henry Dunant, yang hidupnya terinspirasi oleh Williams. Dunant ikut mendirikan YMCA di Genewa pada tahun 1852, dan merupakan salah satu pendiri YMCA Dunia. Di tahun 1901, Henry Dunant dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian pertama, karena mendirikan Komite Palang Merah Internasional (PMI) pada tahun 1863, dan menginspirasi Konvensi Genewa (Konvensi de Genève).

Selain Dunant ada tokoh lain yang hidupnya terinspirasi oleh Williams, yakni John R. Mott. Mott adalah presiden YMCA Global, dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 1946 atas “Usaha tanpa lelah yang panjang dalam mengumpulkan orang-orang dari berbagai bangsa, ras dalam persekutuan ikatan kerohanian yang sama.” Salah-satu peninggalan John R. Mott adalah Federasi/Gerakan Mahasiswa Kristen Dunia pada tahun 1895, Konferensi Misionaris Dunia 1910, dan Dewan Gereja-Gereja Sedunia pada tahun 1948.

SUMBANGSIH YANG TERUS BERLANJUT

Saat ini YMCA sudah berusia 176 tahun. Warisan Williams ini terus menginspirasi kawula muda untuk mengharumkan nama Kristus. YMCA sudah terbentuk di 120 negara, termasuk di Indonesia. Bersama-sama dengan YMCA lain, YMCA Indonesia juga menandatangani piagam Aliansi Dunia YMCA di tahun 1998, yang merumuskan visi dan tantangan abad 21 sebagai berikut:

• Membagikan kabar baik tentang Yesus Kristus dan berjuang untuk kesejahteraan holistik; spiritual, intelektual, dan fisik individu maupun keutuhan komunitas.

• Memberdayakan semua orang untuk mengambil tanggung jawab dan kepemimpinan menuju masyarakat yang adil.

• Mengadvokasi dan mempromosikan hak-hak dan menjunjung tinggi hak-hak anak yang terlantar.

• Membina dialog dan kemitraan antara orang-orang dari agama dan ideologi yang berbeda dan mengenali identitas budaya pihak lain serta mempromosikan pembaruan budaya.

• Berkomitmen untuk bekerja dalam solidaritas dengan orang-orang miskin yang haknya direbut, dicabut, dan dengan mereka yang merupakan minoritas dalam ras, agama dan etnis yang tertindas.

• Menjadi mediator dan juru damai dalam situasi konflik

• Mempertahankan keutuhan ciptaan Tuhan terhadap semua yang akan menghancurkannya, dan melestarikan serta melindungi sumber daya bumi untuk generasi mendatang. U

ntuk menghadapi tantangan-tantangan ini, YMCA akan mengembangkan pola kerja sama di semua tingkatan, yang memungkinkan penyatuan tersebut.

Kiranya kisah hidup, warisan, dan sumbangsih George Williams dapat menginspirasi hidup kita, bagi kemuliaan nama Kristus.

DAFTAR PUSTAKA

• John Pollock, Kisah-kisah Raksasa Iman di Garis Depan Perubahan: 28 Heroes, Andi, Yoyakarta, 2011

http://www.ymca.int/georgewilliams-founder-of-the-first-ymcajune-6th-1844/

• https://www.ymca.org.uk/about/ leadership/founder

• Smith, Daniel (30 January 2018). “History Lesson: Early basketball at YMCA”. Courier & Press.

• “Popular sports invented at YMCA” by Jill Fandrich, 25 May 2009

• http://www3.telus.net/st_simons/ cr9604.htm

https://pbvsi.or.id/blog/sejarahpermainan-bola-voli/

• https://www.ymca.int/about-us/ ymca-history/