Sebagaimana kita yakini, Alkitab adalah firman Allah. Kekristenan di era postmodernisme ini dalam keadaan tidak baik-baik saja. Di era postmodernisme, kebenaran absolut ditolak. Tidak ada kebenaran mutlak. Semuanya serba relatif. Relativisme ini menolak otoritas Alkitab. Kekristenan Progresif sangat dipengaruhi oleh spirit postmodernisme ini. Ironisnya, penolakan terhadap otoritas Alkitab justru datang dari mereka yang mengaku Kristen. Diperparah lagi, penolakan itu justru datang dari sebagian pendeta yang seharusnya percaya Alkitab adalah firman Allah. Mereka menganggap Alkitab sebagai produk masa lalu yang sudah tidak relevan lagi.
Uskup John Shelby Spong, mantan pendeta gereja Episcopal dan ketua Diocese (keuskupan/klasis) Netwark, New Jersey, USA, yang juga seorang penganut Kekristenan Progresif yang radikal, menulis dalam bukunya, Rescuing the Bible from Fundamentalism, bahwa jika ditafsirkan secara literal, Alkitab harus disingkirkan karena sudah usang dan tidak relevan lagi. Ia mempertanyakan, apakah manusia modern dapat terus berpura-pura memperlakukan sebuah kitab yang selesai ditulis pada abad kedua sebagai sebuah kebenaran yang tidak berubah, abadi, dan melampaui ruang dan waktu.
If it continues to be viewed literally, the Bible, in my opinion, is doomed to be cast aside as both dated and irrelevant. Can modern men and women continue to pretend that timeless, eternal, and unchanging truth has been captured in the words of a book that achieved its final written form midway into the second century of this common era? (1992, 15)
Lebih lanjut, Uskup Spong menggugat dengan mengatakan, Alkitab yang disebut firman Tuhan berisikan teks, yang pada masa kini akan dinilai secara universal sebagai kejahatan. Maka, Spong memberi judul bukunya The Sin of Scripture (Keberdosaan Alkitab). Lebih lanjut, Uskup Spong menyatakan, klaim bahwa Alkitab diinspirasi oleh Allah dan bahwa Alkitab adalah firman Allah merupakan pernyataan yang secara harfiah sangat merusak, sehingga ia tidak ingin menjadi bagian dari jenis kekristenan yang seperti ini.
It is quite clear to me that it is the assumption that the Bible is in any sense the “Word of God” that has given rise to what I have called in the title of this book “the sin of scripture.” By “the sin of scripture” I mean those terrible texts that have been quoted throughout Christian history to justify behavior that is today universally recognized as evil ... I want to say in response that the claim that the scriptures are either divinely inspired or are the “Word of God” in any literal sense has been so destructive that I no longer want to be part of that kind of Christianity (2006, 18).
Uskup Spong, dalam bukunya, A New Christianity for a New World, secara eksplisit menyatakan, ia tidak percaya Alkitab adalah firman Tuhan, bahwa Alkitab bukan pernyataan (wahyu) Allah, dan ia tidak percaya Allah menginspirasi penulisan Alkitab. Bagi Spong, Alkitab tidak lebih dari tulisan manusia, yang memiliki keterbatasan sudut pandang, walaupun mungkin berisi nasihat yang bijak.
I do not believe the Bible is the “Word of God” in any literal sense. I do not regard it as the primary source of divine revelation. I do not believe that god dictatcted it or even inspired its production in its entirety. I see the Bible as a human book mixing the profound wisdom of sages through the centuries with the limitations of human perceptions of reality at a particular time in human history (2001, 6, 7).
Selanjutnya, dalam bukunya, Why Christianity Must Change or Die, Uskup Spong dengan tegas menolak Alkitab sebagai firman Tuhan. Bagi Spong, Alkitab tidak akan pernah menjadi firman Tuhan; tidak mungkin diinspirasikan oleh Allah dan tidak memiliki kesalahan; ditulis oleh komunitas orang percaya yang mengekspresikan prasangka dari komunitas tersebut; penuh dengan kontradiksi, konsep moral, dan intelektual yang memalukan; tidak bersifat statis; dapat diubah; dan Alkitab yang sekarang bukan merupakan yang asli.
The Bible is not the word of God in any literal or verbal sense. It never has been! The Gospels are not inerrant works, divinely authored. They were written by communities of faith, and they express even the biases of those communities. The Gospels are not without significant internal contradictions or embarrassing moral and intellectual concepts. The Gospels are not static. They reveal changing, evolving theological perspectives. They are not even original (1998, 72).
Rob Bell, mantan pendeta Mars Hill Bible Church, dalam bukunya, What Is the Bible?: How an Ancient Library of Poems, Letters, and Stories Can Transform the Way You Think and Feel About Everything, menulis bahwa Alkitab adalah kumpulan buku yang merefleksikan bagaimana manusia memahami yang ilahi, bukan dari sudut pandang ilahi, tetapi dari sudut pandang manusia. Bahwa buku-buku yang berisi pengalaman manusia ini tidak diinspirasikan secara ilahi, dan bukan pula merupakan firman Tuhan. Intinya, upaya manusia memahami yang ilahi ini begitu berkesan, sehingga mendorong orang menuliskannya dalam sebuah buku.
The Bible is a library of books reflecting how human beings have understood the divine. . . It’s not God’s perspective – it’s theirs… And when they say it’s God’s perpective, what they’re telling you is their perspective on God’s perspective…. The Bible is not an argument. Its is a record of human experience. The point is not to prove that it’s the word of God or it’s inspired or it’s whatever the current word is that people are using. The point is to enter into its stories with such intention and vitality that you find what it is that inspired people to write these books (2017, 295, 296)
Brian Zahnd, pendeta Word of Life Church, dalam bukunya, Sinner in the Hands of a Loving God, menulis bahwa Alkitab tidak sempurna. Sebagian Alkitab sudah usang. Jika kita menjadikan Alkitab sebagai otoritas final, hal ini merupakan pemberhalaan. Alkitab penuh dengan narasi kekerasan. Kisah Alkitab penuh dengan adegan kekerasan, bahkan kekerasan yang mengerikan. “The Bible is not perfect; part of it are now obsolete … If we want to make the Bible our final authority, which is an act of idolatry… The Bible is a violent book. The story it tells is crowded with scenes of violence, some of it horrific violence” (2017, 42,43,46).
Robin R. Meyers, pendeta Mayflower Congregational UCC Church of Oklahoma City, menulis dalam bukunya, Saving Jesus from the Church, Alkitab bukanlah catatan sejarah melainkan kesaksian iman. Jika kita mempelajari Alkitab secara teliti, kita akan mendapati bahwa Alkitab merupakan kumpulan dari berbagai ragam kitab sastra. Tidak mungkin tidak ada kesalahan dalam Alkitab. Alkitab merupakan produk manusia semata-mata “… they (the Bible) are not historical accounts but testimonies of faith … What we learn if we study the Bible carefully is that this library of books, this far-flung and diverse collection of literature, is neither inffalible nor inerrant. It is entirely a human product” (2009, 22, 29).
Brian McLaren, mantan pendeta Cedar Ridge Community Church, menulis dalam bukunya, New Kind of Christianity, Alkitab bukanlah merupakan sebuah konstitusi yang harus ditaati. Alkitab berisi kumpulan narasi budaya dari sekelompok komunitas, yang berupaya menelusuri sejarah mereka dari Abraham, Ishak dan Yakub. “… whatever the Bible is, it simply is not a constitution. I would like to propose that it is something for more interesting and important: it’s the library of culture and community of people who trace their history back to to Abraham, Isaac, and Jacob” (2011, 81).
Philip Gulley, pendeta gereja Fairfield Friends Meeting, dan James Mulholland, mantan pendeta, dalam buku mereka, If Grace Is True: Why God Will Save Every Person, menulis bahwa mereka tidak percaya Alkitab tidak memiliki kesalahan. Oleh sebab itu, mereka merasa tidak perlu melakukan harmonisasi kontradiksi dalam ayat-ayat Alkitab. Karena banyaknya kontradiksi ayat-ayat Alkitab, Gulley menyimpulkan bahwa ayat yang demikian tidak mengandung kebenaran. “Since I don’t believe the Bible inerrant, I have no need either to harmonize every voice or to explain away every inconsistency. I am willing and able to say of many verses, ‘I don’t believe that to be true’” (2010, 200).
Peter Enns, Professor of Biblical Studies di Eastern University, St. Davids, Pennsylvania, yang juga seorang penganut Kekristenan Progresif, menulis dalam bukunya, The Bible Tells Me So, bahwa konsep Alkitab adalah sebuah buku peraturan adalah ciptaan manusia, bukan kehendak Tuhan. Seperti penulis cerita pada umumnya, penulis narasi Alkitab menciptakan dialog, karakter, dan adegan masa lalu sebagai sebuah cerita yang mengalir. Itulah yang dilakukan penulis dalam menciptakan sebuah narasi. Mereka memanipulasi masa lalu yang dirajut dengan momen tertentu, dengan tujuan menceritakan narasi untuk pemirsanya. Begitu jugalah yang dilakukan oleh para penulis Alkitab. Mereka menghadirkan berbagai kisah masa lalu dari beragam sudut pandang.
“Bible as rulebook” is a human invention and not what God Intended or wants ... To make that happen, like all storytellers, biblical storytellers invented and augmented dialogue, characters, and scenes to turn past moments into a flowing story – not because they were lazy or sneaky, but because that’s what all storytellers need to do to create a narrative. They shifted and arranged the past, or wove together discrete moments, all for the purpose of telling their story for their audience. The Bible itself gives 100 percent proof that the biblical writers were doing just that: they present the same past events from different perspectives (2014, 74,75).
David M Felten dan Jeff Procter-Murphy adalah pendeta United Methodist di Fountain Hills, Arizona dan gembala sidang Dayspring United Methodist Church, Tempe, Arizona. Dalam bukunya, Living the Questions: The Wisdom of Progressive Christianity, mereka menulis, Alkitab penuh dengan cerita berbagai karakter kecurangan manusia, kebohongan, penipuan, kecanduan seks, kebencian, pengkhianatan, dll. Dalam Alkitab ada terlalu banyak inkonsistensi untuk dapat dianggap sebagai catatan saksi sejarah yang akurat. Dengan adanya berbagai kontradiksi dalam Alkitab, narasi Alkitab adalah kebohongan, dan karenanya harus diabaikan.
… the Bible is full of colorful characters, lying, cheating, sex, hate, war, sex, betrayal, murder, sex, letters, poetry, history, sex, great ideas, lousy ideas, and more sex ... There are just too may inconsistencies for them to take every word as historically accurate eyewitness accounts ... that there are contradictions in the Bible then the whole thing has to be dismissed as a worthless lie (2012, 13,14).
Steve Chalke, pendeta British Baptist dan Alan Mann, dalam buku The Lost Message of Jesus, menulis bahwa apa yang dianggap sebagai berita Injil keselamatan yang populer, akhirnya akan memudar atau menghilang, karena berita Injil ini tidak menawarkan harapan untuk kehidupan ini. Alkitab tidak pernah melukiskan Allah sebagai pemarah, haus kekuasaan, suka menghakimi. Alkitab tidak menyebut Allah dengan atribut yang lain, selain kasih. Kita seharusnya jangan menyebut Allah dengan atribut apa pun selain kasih.
What kind of good news is that for humanity as a whole? What popularly passes for “the gospel” might provide a faith to die by, but offers little hope to live by ...The Bible never defines God as anger, power or judgement – in fact it never defined him as anything other than love. We should never speak of any attribute of God outside of the context of his love (2003, 42, 63).
Gretta Vosper, mantan pendeta West Hill United Church, Canada, menulis dalam bukunya, With or Without God, bahwa Alkitab adalah sebuah dokumen manusia yang harus diperlakukan sama dengan koleksi buku-buku Shakespeare. Begitu ide kita tentang Alkitab bergeser dari firman Allah yang berotoritas dan berlaku sepanjang masa, segala sesuatu terbuka untuk kita interpretasikan, tanpa terikat apa pun. Bukan Alkitabnya yang harus kita kesampingkan, melainkan firman Tuhannya. Begitu Alkitab kita singkirkan sebagai sumber spiritualitas, kita dapat menemukan sumber spiritualitas itu dari buku-buku yang lain. Kita dapat membaca berbagai buku dari berbagai pengarang, untuk mendapat kebijaksanaan spiritualitas yang mendalam.
The Bible ia a human document ... The Bible should be looked at like Shakespeare’s collected works ... Once our idea of the Bible shifts away from its being TAWOGFAT (the authoritative word of God for all time) everything in it is up for grabs … It is not the Bible that must go: rather, it is the Word of God that must go ... once the Bible is set aside as the spiritual resource, you can be fed by many sources. Use whatever it is you’ re reading – Wliiam Blake or Mary Oliver, Maeve Binchy or Thich Nhat Hanh, Dean Koontz or Philippa Gregory. Seek out the deep spiritual wisdom that your perspective might find there (2008, 215, 223, 147, 220).
Para penulis buku di atas, yaitu John Shelby Spong, Rob Bell, Brian Zahnd, Robin R. Meyers, Brian McLaren, Philip Gulley, Peter Enns, David M. Felten, Procter-Murphy, Steve Chalke, Allan Mann, dan Gretta Vosper adalah para penganut Kekristenan Progresif, yang menolak gagasan bahwa Alkitab diinspirasikan oleh Roh Kudus. Mereka memandangnya sebagai buku yang tidak sempurna, bukan firman Tuhan, buku kuno berisi pengalaman spiritualitas manusia, sudah usang, tak relevan, banyak kontradiksi, dll. Jelas, pandangan yang demikian sangat bertolak belakang dengan kepercayaan terhadap Alkitab dari kalangan Kristen pada umumnya.
Tantangan terhadap Alkitab
Di era postmodernisme ini, iman Kristen menghadapi tantangan serius. Ada tekanan untuk mengkaji ulang teks Alkitab agar sesuai dengan perkembangan zaman. Dari kutipan buku-buku di atas, terlihat kelompok Kekristenan Progresif ini mengkritisi dan mendekonstruksi Alkitab. Mereka tidak lagi memercayai Alkitab sebagai firman Allah. Penolakan terhadap Alkitab sebagai firman Tuhan membuka peluang untuk menawarkan citra kekristenan yang baru. Tampaknya, mereka menjadikan keyakinan modern perihal ilmu pengetahuan dan sejarah, serta berbagai pengalaman spiritual modern sebagai patokan dalam menafsirkan ulang teks Alkitab.
Uskup Spong mengkritik mereka yang membaca Alkitab secara harfiah/literal. Yang dimaksudkan Spong dengan harfiah bukanlah menafsirkan ayat Alkitab apa adanya, atau ketidakmampuan membedakan antara puisi dan prosa, antara perumpamaan dan narasi sejarah, sehingga seluruh ayat Alkitab dipahami secara literal. Melainkan, keyakinan terhadap doktrin Alkitab, moral, peristiwa historis (sejarah) dalam Alkitab sebagai sebuah kebenaran mutlak.
Para penganut Kekristenan Progresif, sebagaimana pendahulu mereka, Kekristenan Liberal, menolak otoritas Alkitab. Bagi mereka, Alkitab tidak lebih dari sebuah buku yang ditulis oleh manusia, yang boleh diperlakukan seperti buku mana pun yang ada di dunia ini. Alkitab tidak lagi mereka jadikan dasar pijak utama dalam berteologi. Otoritas Alkitab diganti dan beralih ke pengalaman pribadi manusia yang subjektif. Titik tolak teologi Kekristenan Progresif bersifat antroposentris, karena bertolak dari diri manusia itu sendiri. Mereka tidak membuang Alkitab sama sekali, tetapi mereka tidak lagi menjadikannya sebagai dasar fondasi teologi mereka.
Walaupun para teolog Kekristenan Progresif ini menolak otoritas Alkitab, mereka masih tetap mengutipnya, untuk menunjukkan adanya kesalahan Alkitab (di antaranya kontradiksi antarayat Alkitab), atau untuk mendukung pandangan mereka. Mereka memilah dan memilih ayat Alkitab. Yang dianggap relevan dengan pengalaman subjektivitas mereka, mereka terima. Yang tidak relevan, mereka buang.
Gereja Katolik dan Gereja Protestan memegang teguh keyakinan terhadap kebenaran absolut Alkitab. Para teolog Kekristenan Progresif menolak ineransi Alkitab (ketidakbersalahan Alkitab). Bagi mereka, Alkitab tidak lebih dari sebuah dokumen kuno, yang ditulis oleh para penulis yang berupaya mempromosikan keyakinan spiritualitas dan ideologi mereka. Para teolog Kekristenan Progresif percaya, Alkitab mengandung kesalahan, distorsi, propaganda spritual, kumpulan cerita/mitos yang berlebihan, yang bersumber dari budaya penyembahan berhala.
Mereka menolak dan tidak memercayai adanya intervensi Roh Kudus yang menginspirasi para penulis Alkitab, yang mengakibatkan para penulis Alkitab tidak mungkin melakukan kesalahan dalam penulisan tersebut. Kekristenan Progresif mendewakan rasio/akal mereka, dan tidak percaya kepada kuasa supernatural atau campur tangan Allah dalam penulisan firman-Nya.
Pemahaman Alkitab di GKI
Sebagai jemaat GKI, tentu kita ingin tahu bagaimana pandangan GKI terhadap Alkitab. Acuan utamanya adalah Tata Gereja GKI. GKI meyakini Alkitab adalah firman Allah. Alkitab ditulis dan disusun dengan kuasa dan bimbingan Roh Kudus, yang menyertai dan mengilhami para penulis dan penyusunnya. Kebenaran dan kesaksian Alkitab, yaitu kebenaran dan kesaksian sentralnya tentang Kristus dan Kerajaan-Nya, melampaui batas-batas ruang dan waktu. Pemahaman yang benar mengenai isi Alkitab serta penghayatannya terjadi dengan bimbingan Roh Kudus. Kalimat lengkapnya seperti berikut,
GKI mengaku imannya bahwa Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru adalah firman Allah, yang menjadi dasar dan norma satu-satunya bagi kehidupan gereja (Pengakuan Iman, Pasal 3.2, 16).
Alkitab harus dipahami sebagai satu kesatuan, terutama ketika kita berusaha mendalami bagian-bagiannya. Kita menyadari adanya bahaya pemahaman yang menyimpang dari maksud Alkitab sebenarnya bila bagian-bagian Alkitab dipahami seolah-olah berdiri sendiri, atau dilepaskan satu dari lainnya. Dengan begitu, kita tidak boleh mengabaikan keutuhan Alkitab yang tersedia bagi kita, dan mengabaikan Pusat yang menyatukannya, yaitu Kristus (Pegangan Ajaran Mengenai Alkitab, Lampiran 5.5, 273).
Alkitab ditulis dan disusun dengan kuasa dan bimbingan Roh Kudus, yang menyertai dan mengilhami para penulis dan penyusunnya (bd. 2Ptr. 1:2; 2Tim. 3:16) ... Dari sejarah tentang Alkitab, kita mendapatkan informasi betapa rumit proses penulisan, pengumpulan, pelestarian kitab-kitab dalam Alkitab kita. Tidak dapat dibayangkan proses itu sebagai hasil dari perencanaan manusia saja. Karena itu, kita percaya bahwa Roh Kudus berperan dalam hal itu (Pegangan Ajaran Mengenai Alkitab, Lampiran 5.6, 273).
Kebenaran dan kesaksian Alkitab, yaitu kebenaran dan kesaksian sentralnya tentang Kristus dan Kerajaan-Nya, melampaui batas-batas ruang dan waktu. Kebenaran dan kesaksian Alkitab bukan hanya berlaku dalam budaya dan sejarah di mana ia dituliskan, tetapi berlaku juga bagi kita dalam budaya dan sejarah kita, kini dan di sini. Oleh sebab itu, kita mengaku bahwa Alkitab adalah firman Allah, meskipun firman Allah tidak identik dengan Alkitab. Alkitab sebagai buku adalah barang fana, tetapi firman Allah kekal selamanya (bd. Yes. 40:8; Luk. 21:33) (Pegangan Ajaran Mengenai Alkitab, Lampiran 5.8, 273).
Alkitab mempunyai kewibawaan tertinggi, dan menjadi pelita bagi kaki dan terang bagi jalan orang-orang yang percaya (Mzm. 119:105) serta menjadi dasar dan pedoman bagi perbuatan dan kehidupan orang beriman (2Tim 3:16-17) (Pegangan Ajaran Mengenai Alkitab, Lampiran 5.9, 275).
Pemahaman yang benar mengenai isi Alkitab serta penghayatannya terjadi dengan bimbingan Roh Kudus (Yoh. 16:15; 2Ptr. 1:20-21). Semua perlengkapan yang teruji untuk membantu kita memahami Alkitab patut diabdikan bagi pemahaman yang benar. Di dalamnya, kita percaya Roh Kudus bekerja, bukan saja secara ajaib, tetapi juga secara wajar (Pegangan Ajaran Mengenai Alkitab, Lampiran 5.10, 275).
Dalam bimbingan dan pertolongan Roh Kudus, GKI menggumuli firman Allah. Pergumulan itu terjadi secara terus-menerus dalam perjumpaan dengan Allah yang hidup, yang menyatakan dirinya dalam Tuhan Yesus Kristus, seperti yang diberitakan oleh Alkitab Perjanjian Lama dan perjanjian Baru (Penjelasan Tentang Mukadimah, Alinea 1b, 5).
Alkitab, yang terdiri dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru merupakan kesaksian yang menyeluruh mengenai Allah yang menyatakan diri, kehendak dam karya penciptaan, pemeliharaan dan penyelamatan kepada manusia, dan juga mengenai jawaban manusia terhadap-Nya. Kesaksian yang menyeluruh ini berpusat pada Yesus Kristus “Firman yang menjadi manusia” (Yoh. 1:14). Dengan demikian, pemahaman mengenai isi Alkitab, termasuk pemahaman atas bagian-bagiannya harus selalu dilihat sebgai satu kesatuan (Pemahaman Bersama Iman Kristen, Butir F.1, 270).
Kesaksian ini telah terjadi dengan kuasa dan bimbingan Allah sendiri melalui Roh Kudus, yang menyertai dan mengilhami para penulis Alkitab (2Ptr. 1:21; 2Tim. 3:16) kesaksian itu telah menggunakan bentuk-bentuk dan unsur-unsur kemanusiaan dan kebudayaan pada lingkup sejarah tertentu, sehingga menampakkan adanya keterbatasan-keterbatasan tertentu; namun kebenaran dan kesaksian Alkita tersebut melampaui batas-batas ruang dan waktu (Pemahaman Bersama Iman Kristen, Butir F.2, 270).
Sebagai firman Allah, Alkitab mempunyai kewibawaan tertinggi, dan menjadi “pelita pada kaki dan terang pada jalan” orang-orang percaya (Mzm. 119:105) serta menjadi dasar dan pedoman bagi perbuatan dan kehidupan orang beriman (2Tim. 3: 16-17) (Pemahaman Bersama Iman Kristen, Butir F.3, 270).
Liberalisme, Postmodernisme, dan Relativisme
Kekristenan Progresif berkaitan erat dengan liberalisme, postmodernisme dan relativisme. Kekristenan liberal bertumpu pada ilmu pengetahuan dan teori evolusi sebagai dasar untuk memahami segala sesuatu. Mereka mendukung kritik Alkitab untuk mencari kebenaran. Bagi mereka, Alkitab memiliki keterbatasan, dan hanya sebagian saja yang berisi firman Tuhan.
Postmodernisme berpendapat, kita tidak dapat mengetahui maksud penulis. Jadi, makna sebuah tulisan sangat bergantung pada kita atau komunitas, selaku pembaca teks. Demikian pula, teks Alkitab harus diperlakukan sama seperti teks lain, karena kita tidak mengetahui pikiran Roh Kudus. “… according to this postmodern view, we can not know the meaning of an author. Instead, the meaning of a text is up to the interpretive community. To be consistent, the meaning of Scripture should be treated no differently, so we cannot know what God the Holy Spirit had in mind” (Smith, 2005, 100, 101). Dengan kata lain, kita dapat menginterpretasikan Alkitab sesuai selera kita.
Postmodernisme ini juga berkaitan dengan deconstructionism (dekonstruksi/membongkar). Sebuah dokumen dapat didekonstruksi karena kita tidak tahu maksud penulis teks tersebut. Ketika penulis menulis sebuah teks, tidak ada makna tetap dalam teks tersebut. Makna selalu berubah, tergantung pembaca “… the heart of deconstructionism is the idea that you cannot get at and know the intention of an author when he or she wrote a text, and there is no fixed meaning in any text. That is because there are no identities; meanings, like anything else, always change, and are subject to what each reader brings to the text” (Smith, 2005, 70).
Makna sebuah teks sangat relatif, bergantung pada sudut pandang (perspektif) dari pembaca (reader) yang masuk berdialog ke dalam teks tersebut. Jadi, sebuah teks mempunyai makna beraneka ragam. “And because the meaning of a text is dependent on the perspective of the one who enter into dialogue with it, it has as many meanings as it has readers (or readings)” (Grennz, 1996, 6).
Jadi, postmodernisme dengan karakter relativisme ini menolak kemutlakan dan keabsolutan. Tidak ada yang mutlak. Postmodernisme yang telah melebur ke dalam liberalisme ini membentuk Kekristenan Progresif. Jadi, tidak heran Kekristenan Progresif menolak Alkitab sebagai firman Allah yang berotoritas.
Sepintas lalu, Kekristenan Progresif seperti hidup dalam dualisme. Di satu sisi, menolak kebenaran absolut Alkitab dengan menggunakan frasa “menolak ineransi Alkitab”, di sisi lain tidak mau melepaskan Alkitab sepenuhnya. Tampaknya, tidak ada konsistensi. Pdt. Eka Darmaputera menyebut orang yang demikian berkepribadian terbelah (split personality). Yang muncul adalah dualisme dengan mentalitas ganda. “Dualisme akan mengakibatkan kepribadian terbelah. Orang yang berkepribadian terbelah (split personality) pasti tidak sejahtera, dan mustahil berbahagia” (2005b, 105).
Dalam pandangan postmodernisme, makna sebuah teks sangat relatif, tergantung pada pembaca. Jika pembaca bersikukuh makna harus sesuai dengan keinginannya, walaupun sudah ditunjukkan bahwa makna tersebut tidak logis secara logika (penarikan kesimpulan menyalahi silogisme), mungkin memang yang bersangkutan menderita split personality atau menderita delusi. Jadi, jangan kita terlalu bersikukuh dengan sebuah istilah/frasa, seperti ineransi atau penolakan ineransi, karena makna istilah tersebut sangat bergantung pada interpretasi masing-masing pembacanya.
Kediktatoran Postmodernisme
Manusia postmodernist adalah manusia yang tidak takluk kepada apa pun. Manusialah yang berdaulat dan berotoritas. Manusia postmodernist ini mengagungkan diri sendiri sedemikan rupa, seperti digambarkan oleh Dr. J. Riberu dalam diktat “Dasar-Dasar Etika Bisnis”, (penulis menggunakan diktat tersebut semasa kuliah) demikian,
Tanpa paham-paham filsafat, kebudayaan, dan agama, manusia mulai menganggap dirinya sebagai tuan alam semesta. Ia menjadikan dirinya tolok ukur bagi segala sesuatu. Ia tidak menerima norma lain dari apa yang dipikirkan dan dihasilkan penalarannya. Ia mulai mengukur apa saja dengan tolok ukur yang dibuatnya sendiri. Norma etis/moral yang berkembang di dalam masyarakat disoroti secara kritis. Norma-norma agama demikian pula. Semua dianalisis dengan pisau rasionya yang kritis. Yang tahan uji – artinya yang dirasa “masuk akal”-nya – ia terima. Yang tidak tahan uji dibuang, dianggap menghalangi perkembangan dan kemajuan dirinya dan masyarakat.
Manusia mendewakan rasionya dan memutlakkan individunya sendiri. Ia merasa dirinya otonom dan tidak takluk kepada kekuasaan apa pun, tidak takluk kepada norma mana pun yang “dipaksakan” kepadanya dari luar, atau “dari atas”.
Pedoman perilakunya, norma etis yang dianggap sah, bukan lagi norma yang telah berkembang di dalam pelbagai kebudayaan manusia, bukan pula norma moral berdasarkan keyakinan agama/kepercayaan. Pedoman perilakunya adalah diri dan penalarannya. Manusia menjadi tuan atas dirinya dan pedoman terakhir bagi baik-buruknya perilakunya. (1994. 31, 32).
Kita perlu mewaspadai Kekristenan Progresif dengan paham postmodernisme yang membentuk komunitas tersendiri, dengan cerita kecil yang mengabaikan dan mendekonstruksi cerita besar, yaitu narasi Alkitab itu sendiri. Saya tidak membahas hal ini secara detail. Untuk memahami lebih lanjut hal ini, dapat dibaca di tulisan saya tahun 2017, “Postmodernisme dan Alkitab”, di https://www.gkigadingserpong.org/artikel/opini/postmodernisme-dan-alkitab. Kekristenan Progresif menolak Alkitab sebagai firman Tuhan yang absolut. Spirit relativisme menjadi acuan kaum postmodernist untuk menindas mereka yang percaya kepada Alkitab. Frans Magnis-Suseno dalam Pijar-Pijar Filsafat: Dari Gatholoco ke Filsafat Perempuan, dari Adam Muller ke Postmodernisme mengingatkan, cerita kecil paham postmodernisme dapat berkembang menjadi fasisme. “Apabila kita membatasi diri pada cerita-cerita kecil, yang menang adalah yang kuat. Itulah persis posisi fasisme” (2005, 224).
Kardinal Joseph Ratzinger, dalam homili 2005, sebelum terpilih menjadi Paus menggantikan Paus Paulus Johanes II yang wafat, memperingatkan agar kita berhati-hati terhadap penganut ideologi liberal, relativisme, dsb. Mereka ini menganut paham “tidak ada kebenaran mutlak”, yang sekaligus juga adalah penganut paham relativitas yang bersifat diktator/absolut (a dictatorship of relativism), karena menempatkan diri mereka sendiri sebagai kebenaran mutlak. All truths are his/her truth.
Kardinal Joseph Ratzinger menggunakan ungkapan “dictatorship of relativism”, yang mengambarkan sebuah paradoks. Penganut paham relativisme seharusnya bersikap terbuka, karena semua serba nisbi, tidak ada yang mutlak. Namun, kenyataannya, mereka tidak mau menerima pendapat pihak lain, ngotot mempertahankan pendapat mereka. Dengan kata lain, mereka memutlakkan pendapat/diri mereka sendiri, atau mempertuhankan diri mereka sendiri. Kita sedang bergerak menuju kediktatoran relativisme, yang tidak mengakui adanya kepastian, dan menggantikannya dengan ego dan tujuan kita sendiri.
In his homily to the 2005 conclave that would soon choose him as the successor of Pope John Paul II, Cardinal Joseph Ratzinger warned those attending, “We are moving toward a dictatorship of relativism which does not recognize anything as for certain and which has as its highest goal one’s own ego and one’s own desires.” https://www.ncregister.com/blog/benedict-vs-the-dictatorship-of-relativism.
Manusia yang bermoral dan beretika adalah manusia yang mengindahkan kaidah moral, etika dan agamanya. Tidak ada kebebasan mutlak dalam bidang apa pun, termasuk kebebasan akademik, tanpa mengindahkan kaidah moral yang berlaku. Kebebasan mutlak tanpa mengindahkan moral adalah sebuah bentuk fasisme atau kediktatoran.
Otonomi pelbagai bidang kehidupan dan kegiatan manusia wajib diakui dan dihargai. Akan tetapi, tidak dapat disangkal, bahwa kegiatan manusia di bidang apa saja – sejauh kegiatan itu ingin dianggap manusiawi – tidak lolos dari penilaian etis/moral ... Oleh karena itu, selain memperhitungkan hukum yang berlaku bagi tiap bidang, pelaku wajib mempertimbangkan hukum yang berlaku bagi tiap kegiatan yang patut disebut kegiatan manusiawi. Hukum itu adalah hukum etika. Selanjutnya, orang yang beragama wajib menelaah sejauh mana kegiatan yang ia lakukan sejalan dengan kaidah agamanya. Kaidah itu adalah hukum moral. Jadi, kegiatan manusia di bidang apa pun takluk kepada hukum etika dan moral yang dianuti. Otonomi bidang-bidang kehidupan bukan otonomi mutlak. Ia dibatasi oleh hukum etika dan moral (Riberu, 1994, 35 -36).
Keabsolutan Alkitab
Kekristenan Progresif menolak gagasan Alkitab adalah firman Tuhan. Bagi mereka, Alkitab mengandung firman Tuhan. Oleh sebab itu, mereka gencar menolak ineransi (keabsolutan, kemutlakan, ketidakbersalahan) Alkitab. Istilah ineransi Alkitab dicetuskan pada awal abad ke-20, ketika terjadi perseteruan antara Kristen Fundamentalis dan Kristen Liberal. Istilah ineransi Alkitab tidak digunakan bapa-bapa gereja hingga para Reformator, dalam mempertahankan kebenaran mutlak Alkitab sebagai firman Allah.
Kekristenan Progresif, yang menolak kemutlakan dan keabsolutan Alkitab mengungkapkan keyakinan ini dengan frasa “menolak ineransi Alkitab”. Kata/istilah/terminologi “ineransi” memang tidak ada dalam Alkitab. Demikian pula, kata/istilah/terminologi tritunggal, dosa asal (original sin) tidak ada dalam Alkitab. Walaupun Alkitab tidak memakai istilah tersebut, bukan berarti tidak ada ayat yang mendukung istilah/kata/terminologi tersebut.
David M Felten dan Jeff Procter-Murohy mengutip Harrell Beck, yang menyatakan Alkitab bukan firman Tuhan, tetapi firman Tuhan ada di dalam Alkitab. “The Bible is not the Word of God – but the Word of God is in the Bible.” Pernyataan bahwa “firman Tuhan ada di Alkitab” identik dengan “Alkitab mengandung firman Tuhan”. Bagaimana menentukan ayat Alkitab yang mengandung firman Tuhan dan yang tidak? Sangat tergantung pada subjek (pembaca/reader). Tidak ada standar yang baku untuk menentukan bagian mana yang firman Tuhan dan mana yang tidak. Yang berdaulat dan berotoritas adalah pembaca. Tidak ada doktrin yang dapat mengikat pembaca dalam memahami Alkitab. Doktrin kebenaran yang diwariskan oleh para asul, bapa gereja, dan para Reformator mereka anggap telah usang dan tidak mengikat.
Jika para pendeta dari kelompok Kekristenan Progresif, seperti para penulis buku yang saya kutip di bagian awal tulisan ini me-review Tata Gereja GKI, terutama mengenai pernyataan iman yang menyangkut Alkitab, mereka pasti akan menarik kesimpulan bahwa GKI menganut ineransi Alkitab, karena ada pernyataan yang tidak sesuai dengan pemahaman Alkitab mereka. Mereka tidak dapat menerima konsep bahwa Alkitab adalah firman Allah, ditulis dan disusun dengan kuasa dan bimbingan Roh Kudus, kebenaran dan kesaksiannya melampaui batas-batas ruang dan waktu, mempunyai kewibawaan tertinggi, serta bimbingan Roh Kudus untuk memahami Alkitab.
Acapkali, sebagian kita ikut latah menggunakan frasa “menolak ineransi”, tanpa menyelidiki terlebih dahulu pemahaman Alkitab menurut Tata Gereja GKI. Di samping itu, juga tidak memahami teologi liberal/progresif. Akibatnya, terjadi sesat pikir (logical fallacy), penalarannya tidak ‘nyambung secara logika. Makna sebuah istilah/terminologi di era postmodern ini sangat tergantung pada para pembaca. Di era postmodernisme ini, logis atau tidak sangat tergantung pada para penafsir. Kita, yang pernah mengerjakan tugas kuliah, seperti menulis makalah, karya tulis, skripsi, tesis, disertasi, pasti memahami, sebuah istilah/terminologi harus didefinisikan.
- Kata-kata atau ungkapan secara aksidental tidak pernah memiliki kebakuan ... Setiap kata bisa memiliki konotasi yang berbeda ... Istilah-istilah yang dipakai ada kesamaannya, tetapi arti atau makna istilah-istilah itu bisa berbeda (Djojosuroto, 2006, 98, 99).
- Semua simbol, yaitu kata atau nama yang dipergunakan untuk menyebut suatu hal, biasanya bersifat konvensional. Artinya, makna yang dibawanya tergantung pada manusia sebagai subjek (Sumaryono, 2005, 27).
- Akhirnya definisi ini juga dapat dinyatakan dengan menggunakan sinonim. Hal ini terjadi dengan menggunakan kata yang sama artinya, yang lazim dipakai dan dapat dimengerti umum (Lanur, 2005, 22).
Jadi, kita tidak boleh memaksakan sebuah istilah/terminologi agar sesuai dengan definisi kita. Jangan sampai kita menggunakan kekuasaan untuk memaksakan agar sebuah istilah atau frasa sesuai dengan definisi kita. Frans Magnis-Suseno menyebut kondisi ini sebagai fasisme, benar atau salah tergantung pemilik kekuasaan. John McGowan menulis dalam bukunya, Postmodenism and Its Critics, “Both truth (claims to knowledge) and values (all moralities) collapse into the will to power. We declare something true or good when it serves our purposes: the true and the good are what we have found useful” (1991, 79).
Istilah ineransi Alkitab dan penolakan ineransi Alkitab tidak disebutkan dan tidak dikenal sama sekali dalam Tata Gereja GKI. Yang penting, sebagai jemaat GKI, kita berpegang pada Pemahaman Iman Bersama Kristen, Lampiran 4, Alkitab, Butir F (270-271), Pegangan Ajaran Mengenai Alkitab, Lampiran 5, (272-276), dan Pengakuan Iman GKI Pasal 3, (16-17) dalam memahami Alkitab. Terserah pada subjek (pembaca) untuk menyebut pemahaman Alkitab sesuai dengan Tata Gereja GKI tersebut dengan istilah ineran atau bukan ineran.
Pertimbangkanlah jika ingin membuat pernyataan bahwa gereja menolak ineransi Alkitab, karena sebutan ini sangat efektif untuk mengosongkan gereja. Jemaat akan eksodus ke gereja lain yang lebih konservatif. Pemakaian frasa “penolakan ineransi Alkitab” menunjukkan sikap tidak memercayai Alkitab adalah firman Allah, dan juga mengindikasikan ketidakpastian atau relativisme iman, sehingga tidak mengherankan jika gereja liberal/progresif di Eropa dan Amerika Utara ditinggalkan oleh jemaatnya. Sangat logis untuk meninggalkan gereja yang tidak memercayai atau menolak kebenaran absolut Alkitab.
Peran Roh Kudus
Sebagaimana kita ketahui, Alkitab ditulis dengan kuasa dan bimbingan Roh Kudus, yang menyertai dan mengilhami para penulis dan penyusunnya (bd. 2Ptr. 1:2; 2Tim. 3:16), dan pemahaman yang benar mengenai isi alkitab serta penghayatannya hanya dapat terjadi dengan bimbingan Roh Kudus (Yoh. 16:15; 2Ptr. 1:20-21).
Kekristenan Progresif menyangkal adanya peran Roh Kudus yang mengilhami para penulis Alkitab. Rentang waktu penulisan Alkitab sekitar 1.600 tahun. Meski ditulis dalam rentang waktu yang demikian panjang, pesan utama Alkitab adalah keselamatan melalui Yesus Kristus. Dari Kejadian sampai Wahyu, kita dapat melihat benang merah Alkitab, yaitu creation (penciptaan) – fall (kejatuhan) – redemption (penebusan) – consummation (restorasi). Kesinambungan pesan inti Alkitab ini tidak mungkin terwujud tanpa peran Roh Kudus.
Roh Kuduslah yang mengilhami penulis Alkitab, dan Roh Kudus pulalah yang bekerja dalam diri kita, sehingga dapat memahami dan menghayati Alkitab dengan benar. Walaupun Kekristenan Progresif memaparkan berbagai “kesalahan” Alkitab, tetapi usaha mereka tidak akan sepenuhnya berhasil. Roh Kudus bekerja di dalam hati orang percaya dan meneguhkan iman mereka akan kebenaran Alkitab. Kuasa Roh Kudus memastikan bahwa Alkitab sebagai firman Allah tetap relevan sepanjang masa, dari generasi ke generasi.
Kita dapat mendengar kesaksian dari Pdt. Jusuf Roni, bagaimana beliau berupaya mencari kesalahan Alkitab, untuk mendiskreditkannya. Pada tahun 1970-an, ia mengambil satu buah Alkitab dari tumpukan yang direncanakan untuk dimusnahkan di GKI Kebon Jati. Tujuan beliau mengambil Alkitab adalah untuk mencari kelemahannya. Namun, Roh Kudus bekerja dalam diri beliau ketika membaca sampai Injil Yohanes 1: 1, 14, 18. Beliau menjadi percaya dan menerima Yesus Kristus. Itulah bukti Roh Kudus bekerja dalam diri orang yang dipilih-Nya, sehingga dapat percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat (https://www.youtube.com/watch?v=YTg2FOC5pu8).
Sebab, untuk menjadi Kristen atau percaya kepada Yesus bukanlah hasil pekerjaan manusia, bukan juga hasil penginjil atau pendeta, namun adalah pekerjaan Tuhan, atau pekerjaan Roh Kudus itu sendiri di dalam hati manusia yang dipilih-Nya agar selamat! ... perlu diketahui, yang menjaga iman percaya Kristiani adalah Allah sendiri, melalui Roh Kudus, sehingga apa pun maksud-maksud lain untuk memutarbalikkan ajaran-Nya, maka Allah tetap menjaganya! (Roni, 1981,62,87).
Relativisme Etika dan Moral
Kekristenan Progresif juga menolak adanya etika dan moral yang absolut, yang berlaku untuk semua orang dan semua tempat. Sama halnya dengan postmodernisme, penganut etika relativisme berkeyakinan bahwa nilai dan prisinsip merupakan ciptaan manusia.
... what exactly is ethical relativism? It is the belief that there are no universal moral values or principles that are true for all people in all times and places. Like postmodernism, ethical relativism depends on the belief that ethical values and principles are just humanly made; that is, they are constructed (Smith, 2005, 162).
Kekristenan Progresif ini tidak mau diikat oleh standar etika, moral, dan norma moral mana pun. Merekalah yang berdaulat untuk menentukan etika, moral, norma moral mana yang benar dan salah. Mereka bertindak seperti Tuhan. Jelas, hal ini merupakan pemberhalaan diri. Relativism also put us in the idolatrous position of being God by deciding what is morally right or wrong (Smith, 2005, 168). Jika kebenaran Alkitab ditolak, maka etika dan moral Alkitab pun diperlakukan sama. Etika dan moral bersifat relatif.
Gretta Vosper, pendeta West Hill United Church, Canada, yang mengaku dirinya ateis, menolak untuk mundur, bahkan melawan ketika akan diberhentikan sebagai pendeta United Church. Bagi para pendeta Kekristenan Progresif, jabatan dan status pendeta sangat bermanfaat, walaupun mereka tidak lagi percaya pada iman Kristiani. Dengan status pendeta, buku-buku mereka akan menjadi best seller. Di samping itu, mereka pun menjadi terkenal dan laris diundang sebagai pembicara dalam seminar, dll. Mereka menjadi kaya raya karenanya. Mereka tidak memerlukan financial support dari gerejanya, yang memang mengalami kesulitan finansial (bleeding) karena ditinggalkan jemaatnya. Mereka memerlukan status sebagai pendeta untuk mendukung ego, tujuan, dan keuntungan pribadinya.
Ditinjau dari sisi etika dan moralitas, jelas hal ini sangat tidak etis. Inilah bentuk dekadensi moral. Postmodernisme dengan spirit relativisme, yang tidak mengindahkan etika dan moral, memang sangat menakutkan. Ibarat hidup di hutan rimba dengan hukum rimba, siapa yang kuat, dialah yang menang. Saya menghargai seorang pendeta muda pada awal 2024, yang mengakui dirinya sebagai Kekristenan Progresif, yang pernyataannya kemudian menimbulkan reaksi keras di media sosial, sehingga akhirnya ia mengundurkan diri dari sinode gerejanya. Setidaknya, pendeta ini menunjukkan etika dan moral yang baik. Karena mempunyai keyakinan iman yang berbeda dengan kekristenan konservatif, maka memilih untuk mundur.
Waspada terhadap Penyesatan
Alkitab adalah dasar pijak berteologi. Semua doktrin bersifat subordinan terhadap Alkitab. Kita percaya akan keilahian Kristus, kematian-Nya untuk menebus dosa manusa, kebangkitan-Nya secara harfiah, serta kedatangan-Nya kembali kelak. Jika pernyataan iman pertama, yaitu kebenaran Alkitab ditolak karena dianggap salah, maka secara logika, keempat pernyataan berikutnya juga akan ditolak, karena dianggap salah pula.
Kekristenan Progresif menolak Alkitab adalah firman Tuhan. Apakah dengan penolakan itu berarti Alkitab bukan firman Tuhan lagi? Alkitab adalah firman Tuhan, dan itu berlaku di sepanjang masa dan tempat, tanpa perlu pengakuan dari manusia. Roh Kuduslah yang mengilhami penulis Alkitab, dan Roh Kudus pulalah yang memeteraikan dalam diri kita, bahwa Alkitab adalah firman Allah.
Pdt. Eka Darmaputera, tanpa menyebut ineransi, sangat menekankan keabsolutan/kemutlakan Alkitab.
- Inti pesan Alkitab, yang kita yakini bersifat mutlak dan apriori selalu benar (2005c, 178).
- Titik tolak serta rujukan utama kita yang paling penting, tak bisa lain adalah ALKITAB (2005c, 86).
- Dan, kalau kita mulai meragukan kebenaran firman Allah, kita akan mulai berpaling kepada yang lain. Dan, kalau kita mulai berpaling kepada yang lain, biasanya kita akan tertarik kepada yag lain itu (2005f, 73).
- Bukan kebenaran Alkitab yang harus cocok dengan kebenaran saya, tetapi kebenaran yang saya yakini itu yang harus cocok dengan kebenaran Alkitab! (2005a, 32).
- Saya menentang kecenderungan sementara orang yang memahami firman Tuhan yang utuh itu sepotong-sepotong, dengan cara menggantungkan seluruh berita Alkitab hanya pada satu dua ayat tertentu saja. Alkitab tidak mengenal “ayat emas” atau “ayat tembaga”. Semua ayat adalah firman Tuhan. Setiap ayat adalah firman Tuhan. Artinya, Tuhan berkenan berfirman melaluinya” (2005b, 552).
- Kalau ada dua hal yang dikemukakan oleh Alkitab, atau mungkin bukan cuma dua, tetapi tiga, atau empat, atau lebih, dan semua itu saling berbeda, bahkan kelihatannya saling bertentangan satu sama lain, maka jangan tanya mana yang benar! Sebab apa? Sebab kalau kita percaya Alkitab itu firman Allah, sudah pasti semuanya benar. Jadi, jangan lalu kita pilih, mana yang paling cocok di hati, itulah yang benar! Jangan! Sebab yang benar itu kadang-kadang justru tidak cocok di hati dan pikiran kita! (2005e, 99, 100).
- Kehendak Tuhan itu selalu masuk akal, paling masuk akal, karena selalu paling baik. Kalau kelihatannya kurang masuk akal, itu hanya karena akal kita saja yang tidak “nyampe” (2005d, 15).
- Tetapi kalau mau benar-benar mendasarkan diri pada kebenaran firman Allah, jangan hanya mengutip ayat sepotong-sepotong; hanya pilih yang kebetulan cocok dengan selera dan tujuanmu yang jahat itu (2005g, 63).
Kutipan kalimat mengenai Alkitab dari tulisan Pdt. Eka Darmaputera ini bertolak belakang dengan tulisan para pendeta dari kelompok Kekristenan Progresif di atas. Jangan sampai kita seperti mereka, tidak bersedia menerima berita Alkitab apa adanya, lalu memaksakan kehendak kita, supaya Alkitab takluk kepada kita. Pdt. Eka Darmaputera mengingatkan “... sering kita tidak bersedia untuk menerima berita Alkitab itu seperti apa adanya. Lalu, kita memaksa dan memerkosanya supaya cocok dengan teologi dan pikiran kita” (2013, 5).
Kita harus waspada terhadap ajaran palsu, sekalipun ajaran tersebut dikatakan oleh seorang profesor, contohnya Robin R. Meyers dan Paul Enns, yang adalah seorang pendeta sekaligus profesor (guru besar). Pdt. Eka Darmaputera mengingatkan kita untuk kritis dan analitis, karena “tidak semua, yang walaupun dikatakan oleh seorang profesor bermanfaat bagi kekristenan” (2005c, 183). Kita jangan teperdaya oleh ajaran pendeta yang melenceng. Kita harus bersikap kritis, menyelidiki pengajaran pendeta tersebut dengan menggunakan Alkitab sebagai tolok ukur. “Bagamanakah kami mengetahui perkataan yang tidak difirmankan Tuhan? ... bagaimana kita tahu kalau ia menambah-nambah atau mengurangi firman Tuhan? Tidak ada jalan lain. Anda sendiri harus akrab bergaul dengan firman Tuhan. Harus mempelajari firman Tuhan” (2005a, 63).
Semasa hidupnya, Pdt. Eka Darmaputera menempuh pendidikan di Boston College dan Andover Newton Theological School, di USA. Beliau memperoleh gelar Ph.D dari Boston College. Boston College dan Boston University adalah dua institusi pendidikan tinggi yang berbeda. Andover Newton Theological School adalah salah satu institusi pendidikan teologi liberal di Amerika. Liberal seminaries and theological schools included those at Andover, Yale, Union, Boston University, and the University of Chicago (Reeves, 1996, 92). Jelas, Eka Darmaputera sangat mengenal ajaran teologi liberal, yang merupakan induk dari ajaran Kekristenan Progresif. Beliau tentu juga sangat mengenal postmodernisme dengan spirit relativisme. Beliau memahami bahwa teologi liberal, postmodernisme, dan relativisme ini sangat destruktif, merusak iman jemaat dan menghancurkan gereja. Oleh sebab itu, beliau mengingatkan kita melalui berbagai buku yang ditulisnya, untuk berpegang teguh pada kebenaran firman Tuhan, dan juga berpegang pada etika dan moral Kristiani. Walaupun beliau tidak bersama kita lagi, karena telah dipanggil pulang ke rumah Bapa pada tahun 2005, tetapi tulisan beliau dapat menolong kita sebagai jemaat GKI, untuk tetap teguh di dalam iman kebenaran kepada Yesus Kristus, sebagaimana yang disaksikan Alkitab.
Petrus mengingatkan kita dalam 2Petrus 3:17, “Karena itu, waspadalah, supaya kamu jangan terseret ke dalam kesesatan orang-orang yang tidak mengenal hukum, dan jangan kehilangan pnganganmu yang teguh”. Kita tidak perlu berpaling dari Alkitab untuk mencari sumber kebenaran lain, seperti yang dilakukan oleh kelompok Kekristenan Progresif. Jangan terpengaruh dengan bujukan half truth dengan gagasan Alkitab adalah firman Tuhan “dengan syarat …, sejauh … atau apabila … Alkitab adalah firman Allah, tanpa perlu kita batasi otoritasnya. Percayalah, Alkitab adalah firman Tuhan yang berotoritas, yang menjadi norma satu-satunya bagi kehidupan gereja. Ingat, kita akan mempertanggungjawabkan diri kita ketika Tuhan Yesus Kristus datang kembali. Pdt. Eka Darmaputera mengingatkan,
Sekali lagi, Alkitab amat menekankan tanggung jawab manusia! Kalau setiap minggu kita mengikrarkan, “Dan akan datang kembali dari sana untuk menghakimi orang yang hidup dan mati,” maka itu artinya, manusia harus mempertanggungjawabkan seluruh hidupnya kepada Tuhan. Semua orang, tanpa kecuali. Bahkan yang sudah mati pun, akan dibangkitkan kembali, hanya untuk diadili dan dihakimi, mempertanggungjawabkan perbuatannya kepada Tuhan (2005e, 99).
Daftar Pustaka
Alkitab. 2023. Alkitab Terjemahan Baru Edisi Kedua. Lembaga Alkitab Indonesia, Jakarta
BPMS GKI. 2009. Tata Gereja dan Tata Laksana Gereja Kristen Indonesia. PT. Adhitya Andrebina Agung, Jakarta.
Bell, Rob, 2017. What Is the Bible?: How an Ancient Library of Poems, Letters, and Stories Can Transform the Way You Think and Feel About Everything. HarperCollins, USA.
Chalke, Steve. 2003. The Lost Message of Jesus. Zondervan, UK.
Darmaputera, Eka. 2005a. Iman dan Tantangan Zaman: Khotbah-Khotbah tentang Menyikapi Isu-Isu Aktual Masa Kini. BPK Gunung Mulia, Jakarta.
Darmaputera, Eka. 2005b. 365 Anak Tangga Menuju Hidup Berkemenangan. BPK Gunung Mulia, Jakarta.
Darmaputera, Eka. 2005c. Sepuluh Perintah Allah – Museumkan Saja?: Sebuah Uraian Populer Tentang Relevansi Dasa Titah di Masa Kini. Gloria Graffa, Yogyakarta.
Darmaputera, Eka. 2005d. Dengan Mata Menatap Yesus. BPK Gunung Mulia, Jakarta.
Darmaputera, Eka. 2005e. Spiritualitas Siap Juang. BPK Gunung Mulia, Jakarta.
Darmaputera, Eka. 2005f. Iman: Menjawab Pertanyaan, Mempertanyakan Jawaban. BPK Gunung Mulia, Jakarta.
Darmaputera, Eka. 2005g. Menyembah dalam Roh & Kebenaran: Khotbah-Khotbah tentang Kehidupan Beribadah dan Bergereja yang Kontekstual. BPK Gunung Mulia, Jakarta.
Darmaputera, Eka. 2013. Merayakan Hidup: Pemahaman Kitab Pengkhotbah tentang Kesia-siaan Segala Sesuatu. BPK Gunung Mulia, Jakarta.
Enns, Peter. 2014. The Bible Tells Me So: Why Defending Scripture Has Made Us Unable to Read It. HarperOne, USA.
Felten, David M dan Procter-Murphy, Jeff. 2012. Living The Questions: The Wisdom of Progressive Christianity. HarperOne, USA.
Greenz, Stanley J. 1996. A Primer on Postmodernism. William B. Eerdmans Publishing Company.
Gulley, Philip dan Mulholland, James. 2010. If Grace Is True: Why God Will Save Every Person. Harper One, USA.
Kinayati Djojosuroto, 2006. Filsafat Bahasa: Buku yang Mengulas tentang Bahasa dan Paradigma yang Paling Substansial. Pustaka, Yogyakarta.
Lanur, Alex, 2005. Logika Selayang Pandang. Kanisius, Yogyakarta
McGowan, John. 1991. Postmodernism and Its Critics. Cornell University Press. USA.
McLaren, Brian. 2011. A New Kind of Christianity. HarperCollins, USA.
Meyers R. Robin. 2009. Saving Jesus from The Church: How to Stop Worshiping Christ and Start Following Jesus. HarperOne, USA.
Riberu. J. 1994. Dasar-Dasar Etika Bisnis: Pedoman Perilaku Dalam Berbisnis. Jakarta, Luceat.
Reeves, Thomas C. 1996. The Empty Church: The Suicide of Liberal Christianity. The Free Press, USA.
Smith, R. Scott. 2005. Truth & The New Kind of Christian: The Emerging Effects of Postmodernism in the Church. Crossway Books, USA.
Spong, John Shelby. 1992. Rescuing the Bible from Fundamentalism: A Bishop Rethinks the Meaning of Scripture. HarperOne, USA.
Spong, John Shelby. 1998. Why Christianity Must Change or Die: A Bishop Speaks to Believers in Exile. Harper San Fransisco, USA.
Spong, John Shelby, 2001. A New Christianity for a New World: Why Traditional Faith is Dying & How a New Faith is Being Born. HarperCollins, USA.
Spong, John Shelby, 2006. The Sins of Scripture: Exposing the Bibles’s Texts of Hate to Reveal the God of Love. HarperOne, USA.
Sumaryono, E. 2005. Dasar-Dasar Logika. Kanisius, Yogyakarta.
Suseno, Franz Magnis. 2005. Pijar-Pijar Filsafat: Dari Gatholoco ke Filsafat Perempuan, dari Adam Muller ke Postmodernisme. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
Vosper, Gretta. 2008. With or Without God: Why the Way We Live is More Important than What We Believe. HarperCollins Publishers, Canada.
Zahnd, Brian. 2017. Sinners in the Hands of a Loving God: The Scandalous Truth of the Very Good News. Penguin Random House, USA.