“Jadi untuk ayat hafalan minggu ini, mari kita sama-sama berdiri dan ucapkan yah!” Besar dan berat suara Om Kuda mengajak anak-anak sekolah minggu untuk mengulangi ayat hafalan minggu ini.

Yoyo si monyet lincah dan Yaya si angsa putih bersama yang lain beranjak berdiri, dan bersama-sama mengeluarkan suara agar terdengar oleh Om Kuda.

“2 Korintus 9:6, orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga!” seru anak-anak sekolah minggu dengan begitu bersemangat di Gereja Hutan Berkat. Setelah sekolah minggu usai, mereka pun pulang ke rumah masing-masing.

Ketika Yoyo dan Yaya dalam perjalanan pulang, ternyata Yaya kehabisan air minum, maka Yoyo memberikan minuman yang dia bawa kepada Yaya. Sebelum mereka berpisah, mereka berjanji untuk bertemu dan bermain di danau sore hari nanti. Sesampainya Yoyo dirumah, perutnya sangat lapar. Ternyata mamanya belum menyiapkan makan siang. Lalu Mama menyuruh Yoyo ke kebun untuk makan bersama Papa di sana.

Dengan perasaan kesal karena perut lapar, Yoyo berlari mencari Papa di kebun. Setelah bertemu, ternyata buah yang matang dan manis tidak banyak. Yoyo hanya makan seadanya dan masih merasa lapar. Karena sudah sore dan teringat janjinya pada Yaya, maka Yoyo pergi ke danau untuk bermain setelah meminta izin dari papanya.

Dari kejauhan, Yoyo melihat Yaya sedang memakan roti dengan nikmatnya di pinggir danau, lalu Yoyo mempercepat langkahnya.

“Wah, sepertinya roti itu enak sekali yah?” ucap Yoyo kepada Yaya.

“Betul sekali Yoyo, mamaku tadi baru selesai membuatnya. Tapi sayang aku hanya punya satu saja, dan ini adalah gigitan yang terakhir.” Sambil berkata begitu, Yaya memasukkan potongan roti kecil itu ke dalam mulutnya.

“Yaya…” sambung Yoyo, “Sepertinya ayat hafalan yang tadi kita sebutkan bersama Om Kuda itu tidak benar yah!”

“Kenapa Begitu, Yo? Firman Tuhan yang ada di Alkitab sudah pasti benar!” sambung Yaya.

Yoyo meneruskan “Katanya bila kita menabur, nanti kita akan menuai. Tapi hari ini hal itu tidak terjadi. Aku sudah menabur kebaikan padamu dengan memberikan air minum, tapi yang kualami hari ini, aku merasa kelaparan. Mama tidak menyiapkan makan siang untukku. Kebun yang dikerjakan ayah tidak memiliki buah yang cukup agar aku kenyang. Dan kau tidak memiliki roti lebih agar aku juga bisa menikmatinya.”

“Yoyo, berkat Tuhan tidak hanya melalui makanan saja, dan belum tentu terjadi setelah kamu melakukan hal yang baik. Kalau kamu mengharapkan sesuatu secara langsung, itu tandanya kita mengharapkan pamrih!” Yaya berusaha menjelaskan.

“Pamrih? Apa itu?” tanya Yoyo. “Kita mengharapkan balasan dari Tuhan atas kebaikan yang kita lakukan, atau dari siapa pun yang kita tolong. Kita tidak memberi dengan tulus.” sambung Yaya. “Kamu masih bisa tahan lapar sedikit lagi gak?” lanjut Yaya.

“Bisa sih, kenapa?” tanya Yoyo. “Sepertinya mamaku masih punya beberapa potong roti. Yuk main ke rumahku dulu, nanti kita lanjut main di sana saja.” Ajak Yaya.

________________________________________

Kata-kata Sulit:

Tabur - /ta·bur/ ~ banyak berderma (bersedekah, menjamu, dan sebagainya);

Tuai - /tu·ai/ ~ menjalankan panen; memanen; memetik hasil;

Pamrih - /pam·rih/ ~ maksud yang tersembunyi dalam memenuhi keinginan untuk memperoleh keuntungan pribadi