Awal tahun 2017, Rubin Kristiantara Gunawan, salah seorang aktivis GKI Gading Serpong yang saat itu melayani sebagai penatua wilayah VII, tergerak untuk membentuk Kelompok Kecil Khusus Cancer survivor (KKKC), setelah mengetahui beberapa jemaat di wilayahnya menderita kanker. Oleh karena itu, ia menghubungi Pdt. Em. Santoni Ong, yang saat itu belum menjalani emeritasi, untuk berkenan mendampingi kelompok kecil (KK) tersebut. Almh. Elly, Indrayati Boestami, dan Maryuningtyas menjadi anggota-anggota pertamanya. Oleh berkat Tuhan, ada beberapa dokter yang bersedia bergabung untuk mendukung para anggota yang memiliki pertanyaan-pertanyaan seputar penyakitnya, di antaranya dr. Rebbeca N Angka, M.Biomed, salah seorang pengurus Yayasan Kanker Indonesia; dr. Subagja Santosa Sudjono, Sp. Rad.; dan yang terbaru dr. Ryan Ardian Saputra, Sp.PD, Subsp. H.Onk.M(K).

dr. Ryan Ardian Saputra, Sp.PD, Subsp. H.Onk.M(K), salah seorang dokter yang baru bergabung dalam komunitas KKKC, foto: https://www.emc.id/id/doctors/r-ryan-ardian-saputra

dr. Rebbeca N Angka, M.Biomed, salah seorang pengurus Yayasan Kanker Indonesia, yang ikut bergabung dalam komunitas KKKC, foto: pribadi Janne Idris
Dalam pertemuan KK ini, biasanya Pdt. Em. Santoni melayankan renungan singkat dari firman Tuhan, dan setiap anggota diajak untuk berbagi pengalaman ataupun pergumulannya. Awalnya, persekutuan diadakan sebulan sekali di rumah Indrayati Boestami, di Alam Sutera. Selama pandemi Covid 19, pertemuan diadakan secara daring. Setelah pandemi selesai, pertemuan tetap diadakan sebulan sekali, tetapi bergantian antara daring dan luring, di rumah salah seorang anggota. Rubin dengan setia mengingatkan para anggotanya untuk mengikuti persekutuan. Mari simak kesaksian beberapa anggotanya yang masih aktif, agar kita dapat lebih mendapatkan gambaran tentang KKKC ini.
Salah satu anggota pertama KKKC, yakni Elly, telah berpulang ke Rumah Bapa. Dalam perjalanan hidupnya, Tuhan mengizinkan Elly mengalami beberapa kali kekambuhan. Namun demikian, ia tetap memiliki iman yang kuat, sehingga dalam kondisi sakit pun, masih terus menjadi kesaksian yang menguatkan bagi rekan-rekan yang lain.

Beberapa anggota KKKC melayat almh. Elly di RD UKRIDA, Jakarta, 1 Februari 2025, foto: pribadi Rubin Kristiantara Gunawan
Demikian pula Indrayati Boestami (Iin), sebagai anggota paling senior saat itu, yang didiagnosis menderita kanker payudara, juga ikut berbagi cerita. Iin sempat merasa takut menjalani operasi pengangkatan payudara. Akan tetapi, Maryuningtyas (Maryu) yang sudah lebih dahulu dioperasi dan masih menjalani kemoterapi, berupaya menguatkannya, sehingga akhirnya Iin bersedia menjalani operasi tersebut. Pada masa itulah KKKC dibentuk.
Pada akhir Januari 2017, Maryu yang merupakan seorang kepala sekolah, didiagnosis menderita kanker payudara. Vonis tersebut sempat membuatnya syok. Namun, Tuhan terus menolongnya, sehingga ia selalu mendapatkan dukungan, baik dari rekan-rekan guru sekolah di tempatnya mengajar, pengurus yayasan, maupun suami dan putranya, serta orang-orang terdekatnya.
Melalui kelompok kecil ini, Maryu menerima banyak manfaat, terutama membuatnya merasa tidak sendirian, karena ada teman-teman yang bisa saling memahami, bersama-sama berjuang, dan juga berbagi rasa takut dan sakit. Walaupun ia berobat di rumah sakit dan dokter yang berbeda dari anggota lainnya, tetapi dengan mereka saling berbagi cerita tentang setiap tindakan pengobatan yang dilakukan, ia mendapatkan wawasan baru sebagai persiapan menghadapi tindakan berikutnya. Hal itu mampu meningkatkan semangat dan harapannya untuk sembuh.
Selain itu, Maryu dan anggota lainnya dapat saling berbagi saran dan cara praktis dari dokter masing-masing, seperti berbagi pengalaman dan cara terbaik dalam menghadapi mual saat kemoterapi, mengelola efek samping radiasi, maupun perubahan penampilan tubuh pascakemoterapi. Kualitas hidup mereka pun meningkat, karena tidak sendirian menanggung rasa takut, stres, ataupun cemas. Pendeta pun selalu hadir untuk menguatkan iman, agar mereka senantiasa berharap kepada Tuhan dalam hidup ini. Dengan begitu, mereka tidak lagi merasakan beban berat dalam menghadapi pergumulan, karena penyakit yang diderita.

Sudarjono Sukoreno dan Tri Subranti, anggota tertua KKKC, yang saat ini masih menjalani pengobatan, foto: pribadi Janne Idris
Hal luar biasa juga dialami Muljati Widjaja (Mumuy), saat pertama kali diajak bergabung dalam kelompok kecil ini. Sebab, melaluinya, Mumuy bisa bertemu dengan orang-orang yang saling mengerti dan sepenanggungan. Pertemuan-pertemuan itu bukan hanya terasa menyenangkan, tetapi sungguh mengagumkan. Sebab, dalam setiap pertemuan, semua anggota selalu diingatkan dan dikuatkan dengan firman Tuhan yang disampaikan oleh Pdt. Em. Santoni. Sekalipun sudah sembuh dari kanker sejak tahun 2003, tetapi Mumuy tetap mengikuti pertemuan kelompok kecil ini. Ia pikir, ini akan menyenangkan, karena bisa berbagi cerita dan menghibur para anggota yang masih berjuang.
Di kelompok kecil ini, ada beberapa anggota yang masih menjalani kemoterapi, yang terkadang menyebabkan rasa sakit di beberapa bagian tubuh mereka. Mungkin, pembaca akan berpikir, kondisi para anggota tersebut pasti sangat mengenaskan dan putus harapan. Namun kenyataannya, tidak terlihat wajah putus asa. Mereka penuh senyum, berkelakar, bahkan bisa mentertawakan keadaan diri mereka sendiri. Terlebih lagi, dengan penuh pengharapan, mereka terus melakukan pengobatan, tetapi tetap menyerahkan semuanya kepada kedaulatan Tuhan. Mereka pun saling menguatkan dan berbagi informasi. Sungguh luar biasa!
Menyaksikan hal itu, Mumuy sangat bersyukur bisa bertemu dan bersekutu dengan orang-orang tangguh, pejuang kehidupan yang taat dan tetap berserah pada Tuhan, sehingga ia bisa banyak belajar dan terus berpengharapan, serta berserah pada Tuhan dalam hidup ini.
Ketika bergabung dalam kelompok kecil pada bulan Mei 2018, awalnya Suryati Sumardi tidak mengenal satu pun anggota kelompok, kecuali Pdt. Em. Santoni dan Yockie Kalangie, yang menjemputnya untuk menghadiri persekutuan. Namun seiring berjalannya waktu, Suryati yang terdiagnosis kanker justru termotivasi untuk bisa saling mendukung, saling mendoakan, dan saling menyemangati dalam menjalani hidup. Terlebih lagi, melalui kelompok kecil ini, ia dapat semakin mengenal dan mengasihi sesama penderita kanker yang sedang menjalani pengobatan, karena ia juga pernah mengalami apa yang mereka rasakan.
Di samping itu, Suryati dan anggota kelompok kecil, merasa dapat semakin bertumbuh dalam iman kepada Tuhan. Sebab, dalam penderitaan akibat penyakit, mereka justru mendapatkan kesembuhan dan pemulihan dalam diri sendiri, khususnya ketika mengerti dan memahami arti kasih Tuhan kepada orang-orang yang dipilih-Nya, untuk menyatakan kemuliaan Tuhan.
Dalam hidup Leli Halim, penyakit kanker itu seperti vonis yang mengerikan. Namun, sejak divonis menderita kanker payudara dan bergabung dalam kelompok kecil pada tahun 2019, ia menjadi lebih kuat dan tidak merasa sendirian, karena ada keluarga seiman, seperti pendeta, koordinator, kakak, adik, dan para dokter/ahli yang mendampingi. Leli bersyukur memiliki komunitas baru, yakni teman- teman seperjuangan yang begitu bersemangat dan suportif. Dengan begitu, selama masa pengobatan, ia menjadi lebih bersemangat, karena banyak yang mendoakan. Ia pun bertekad ingin menjadi penyintas/survivor seperti anggota-anggota lainnya.
Pertemuan rutin yang diadakan setiap bulan membuat para anggota terus terhubung secara lebih intim dan dekat, saling menguatkan, saling menghibur, dan terus saling menjadi berkat melalui pengalaman masing-masing. Oleh karena itu, Leli berterima kasih kepada Tuhan atas adanya komunitas kelompok kecil ini, dan juga Pdt. Em. Santoni yang setia mendampingi para pejuang dan penyintas kanker.
Leli menyampaikan, kelompok kecil ini mempunyai moto, “Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang” (Amsal 17:22). Mereka juga punya doa bersama, “Ya Tuhan, karena inilah hatiku mengharapkan Engkau, tenangkanlah jiwaku, pulihkanlah kesehatanku, biarlah aku tetap hidup!” (Yesaya 38:16).

Nats Alkitab yang diberikan oleh Pdt. Em. Santoni Ong, foto: pribadi Rubin Kristiantara Gunawan
Bermula dari hati yang kacau, takut, dan sedih ketika dokter memastikannya terkena kanker payudara, Allice Margaretha tidak tahu harus bagaimana. Lalu, ia bertanya kepada salah seorang teman gereja, yang kemudian mengenalkannya kepada salah seorang anggota KKKC ini. Setelah itu, Pdt. Em. Santoni menghubungi dan mengajaknya bergabung.
Dalam kelompok kecil ini, Allice berjumpa dengan para penyintas, yang memberikan dukungan, semangat, berbagi pengalaman, juga saling mendoakan serta menguatkan. Selain itu, ada juga beberapa dokter yang mendukung dan memberikan saran, serta pandangan atas pendapat umum yang diterima dari luar, ataupun menjawab pertanyaan-pertanyaan anggota. Ia merasa senang bisa bertemu dengan para penyintas kanker dalam kasih persaudaraan Kristus. Sebab, mereka dapat saling mendukung dan menguatkan satu sama lain. Harapannya, kelompok kecil ini dapat menjadi berkat bagi orang-orang sekitar.
Bagi Yockie Kalangie yang bergabung sekitar lima tahun lalu, kelompok kecil ini sangat memberi manfaat, karena bisa berbagi/sharing pengalaman dengan anggota yang baru bergabung, maupun yang sudah lama. Lebih lagi, di dalam kelompok kecil ini, anggota bisa saling menguatkan, mendoakan, mendukung dan menyemangati.
“Saya tidak bahagia dengan hasil pemeriksaan ini!” kata dokter yang memeriksa Janne Idris. Dengan kata-kata tersebut, dokter memberitahu bahwa benjolan di payudaranya ternyata kanker. Ketika mendengar itu, Janne merasa dunia runtuh, dan tidak menyangka sama sekali. Sebab, dalam riwayat keluarga dekat, tidak ada yang menderita sakit kanker.
Namun pada saat yang sama, firman Tuhan yang merupakan doa Tuhan Yesus sebelum ditangkap di Taman Getsemani, bersuara dalam hatinya, “Ya Bapa, jikalau Engkau berkenan, ambillah cawan ini dari pada-Ku. Tetapi, jangan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang jadi” (Lukas 22:42), dan “Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” (Ayub 2:10b). Janne merasa, segala hal yang diterima dari Tuhan selama ini, adalah hal-hal yang baik dan menyenangkan. Jadi, ketika Tuhan izinkan menderita kanker, yang merupakan hal yang sama sekali tidak diharapkan, itu adalah hal yang sangat buruk. Akan tetapi, melalui kedua firman Tuhan tersebut, ia sungguh-sungguh dapat memasrahkan diri kepada-Nya, sehingga Tuhan bisa berkarya melalui penyakit yang dialaminya.
Selama masa pengobatan itulah, Janne diajak Pdt. Em. Santoni untuk bergabung dalam KKKC. Awalnya, Janne menolak, tetapi karena dorongan dari suaminya, Johannes Tanuwijaya, akhirnya ia mau juga bergabung. Melalui kelompok kecil ini, selain bisa mendengar firman Tuhan yang menguatkan iman, Tuhan juga terus memperlengkapinya untuk dapat melayani, yaitu menguatkan mereka yang masih dalam proses pengobatan.

Persekutuan 10 Oktober 2025 di RM Walao Eh, sekaligus perayaan ulang tahun beberapa anggota KKKC, foto: pribadi Rubin Kristiantara Gunawan
Sebagai tambahan, yang bisa menjadi anggota KKKC ini adalah para penderita cancer atau cancer survivor beserta pasangannya. Sebab menurut pengalaman, orang yang paling terbeban, ketika Tuhan izinkan seseorang menderita sakit adalah pasangan hidupnya. Dengan demikian, pasien yang bergabung bersama pasangannya akan sama-sama beroleh kekuatan dan dukungan dari rekan-rekan anggota KKKC yang lain.
*Penulis adalah pengurus Komisi Usindah untuk masa pelayanan 2024–2026, dan masih aktif melayani sebagai guru Sekolah Minggu GKI Gading Serpong.