Aku lahir di kota Malang, Jawa Timur. Ayah adalah seorang China totok kelahiran Tiongkok yang mendambakan anak sulungnya laki-laki. Tapi ternyata anak sulung yang lahir adalah aku, perempuan. Ia memberiku nama yang berarti “Bunga Teratai”.

Sejak kecil aku bersekolah di Sekolah Mandarin. Pada suatu hari di SMA, guru yang mengajar Bahasa Mandarin memberi PR untuk mengarang dengan judul “Nama Masing-masing“ beserta artinya. Boleh tanya ayah masing-masing apa maksud ayah memberi nama ini dan itu pada anaknya. “Orang Tionghoa memberi nama bagi anaknya tidak sembarangan. Pasti punya maksud dan harapan yang baik,” kata Pak Guru.

Malam harinya, dengan penuh semangat aku bertanya kepada Ayah. Ayah menjelaskan panjang lebar tentang namaku dan adik-adikku. “‘Bunga teratai aku tahu itu, tapi yang aku tanyakan: Ayah punya maksud apa memberiku nama itu?” “Kamu tahu bunga teratai? Indah dipandang tapi tidak memberikan bau yang harum. Itu lambang wanita indah dipandang tapi tidak berguna, tidak bisa menurunkan nama marga pada keturunannya. Bagi orang Tionghoa, anak sulung wanita bawa sial.” “Itukah bunga teratai yang Ayah maksudkan?

Tapi aku tidak minta dilahirkan.” Kutulis semua penjelasan Ayah dalam karangan PR-ku dan kuserahkan kepada Pak Guru keesokan harinya, meski sesungguhnya dengan hati yang kecewa. Tuhan, andaikan jaman itu sudah ada USG (ultrasonography) sehingga janin dalam rahim Ibu bisa dideteksi laki-laki atau perempuan barangkali aku tidak jadi lahir di dunia ini. Kami tinggal di rumah Nenek (ibu dari ibuku), sebuah rumah besar sewaan pada jaman jajahan Belanda dulu. Bagi Nenek, aku adalah cucu pertama, disayang-sayang.

Dari kecil aku lebih dekat dengan Nenek, bahkan setiap malam aku tidur bersama Nenek. Malam itu kuceritakan semua penjelasan Ayah kepada Nenek sambil menangis kecewa. Nenek menganjurkan, “Belajar baik-baik. Tunjukkan prestasimu. Tak perlu sakit hati. Percayalah, pelan-pelan Ayahmu pasti berubah menjadi sayang padamu. Mungkin itu sudah sifat bawaan dari China totok begitu.” Aku tidak putus asa. Ingin kutunjukkan kepada Ayah untuk menjadi manusia yang berguna, meskipun aku wanita. Aku tidak mau tenggelam dalam kekecewaan. Pastinya Ayah kecewa punya aku sebagai anak sulungnya. Dengan berjalannya waktu, banyak buku dan majalah yang kubaca. Terbacalah dari Majalah Senior no. 95 tentang ‘Bunga Teratai dan Khasiatnya’ dan kutulis sebuah sajak untuk Ayah:

BUNGA TERATAI

Teratai oh teratai

Bunga elok kesayanganku

Kau tahan hidup di air keruh

Menumbuhkan tangkai yang kukuh

Menopang bunga besar yang indah itu

Membentangkan daun besar yang bulat penuh

 

Teratai oh teratai

Bunga yang indah rupawan

Penampilanmu menawan

Gagah dan megah menghias empang

Memperelok keindahan alam

Menjadi kesukaan banyak orang

 

Teratai oh teratai

Kau jadi makanan para bangsawan

Mengundang penyelidikan para ilmuwan

Sebagai obyek penelitian

Tentang khasiat dan kegunaan

Kau bukan sekedar penghias empang

Setiap bagian dari bunga daun sampai akar

Berguna dalam dunia kesehatan

 

Teratai oh teratai

Sungguhpun tak harum baumu

Kau bentangkan daun besarmu

Menutupi air yang keruh

Kau tetap tegak tak cepat layu

Semua terkagum oleh khasiatmu

Demi teratai sang nama

Aku berjuang tak henti-hentinya

Menunjukkan kehadiranku di dunia

Sebagai wanita yang berguna

Seperti teratai yang sesungguhnya

Dulu kutangisi namaku yang hina

Kini aku membanggakannya

Wahai Ayah tercinta

Andaikan tahu teratai berguna

Nama apa yang Ayah berikan kepada saya?

Setelah lulus SMA Mandarin, banyak kawanku yang melanjutkan kuliah ke RRT (Republik Rakyat Tiongkok). Ketika hubungan diplomatik antara RRT dan Indonesia dibuka kembali, kawankawanku banyak yang datang ke Indonesia mengunjungi orang tua mereka dan kawan-kawan yang di Indonesi

a. Salah satu kawanku memuat ‘NAMAKU’ dalam majalah terbitan Bei Jing. Ia membawa majalah itu untuk aku. Kata kawan-kawanku, di China ada peraturan pemerintah bahwa satu keluarga hanya boleh mempunyai satu anak karena jumlah rakyat terlalu banyak. Jumlah populasi China nomor satu di dunia. Sebetulnya peraturan pemerintah itu tidak salah, tapi karena mindset yang salah maka banyak orang yang membuang bayi wanitanya. Kemudian para ahli Chinese Herbal Medicine menemukan ramuan herbal untuk ibu-ibu muda yang hamil agar janin dalam kandungan mereka laki-laki. Obat itu laku pesat sehingga satu generasi di bawahku hampir semua laki-laki.

Perempuan menjadi langka di sana, sehingga mereka banyak yang membujang karena tidak punya pasangan. Karena hal itu, pemerintah mengubah peraturan. Bagi yang memiliki bayi perempuan boleh melahirkan bayi kedua, baik laki-laki maupun perempuan. Setelah itu, ibu harus melakukan sterilisasi sehingga tidak ada bayi ketiga. Obat herbal untuk janin laki-laki itu ditarik dari peredaran. Bagi siapa yang membuang bayi perempuan dihukum. Demikian cerita kawan-kawanku. Di Hongkong, pada waktu itu masih di bawah pemerintahan Inggris, anak sulung wanita banyak yang diserahkan ke gereja Katolik dan kemudian menjadi suster. Kabarnya, di Singkawang juga banyak anak sulung perempuan yang diberikan kepada penduduk asli di sana. Mengetahui semua ini, aku benar-benar memaafkan Ayah yang memiliki mindset yang salah itu. Kasihan Ayah. Ampuni Ayahku, ya Tuhan. Amin. n