top of page

Sekolah Minggu Ber-High Tech!

  • Majalah Sepercik Anugerah
  • 4 days ago
  • 4 min read

Updated: 3 days ago

Whee… Canggih! 

“Wow, sekolah Minggunya tadi KEREN!” 


Setidaknya, itulah decak kagum yang diharapkan dapat muncul seusai perayaan ibadah Minggu di Sekolah Minggu GKI Gading Serpong, kecanggihan yang dapat memperjumpakan iman seseorang (anak sekolah Minggu [ASM], para guru sekolah Minggu [GSM], para pendamping guru sekolah Minggu [PGSM], juga para orang tua murid yang berkesempatan mendampingi ASM) dengan Tuhannya. 


Bukan arogansi pujian yang diharapkan, tetapi ekspresi jujur yang terpancar dengan sukacita, dan memperjumpakan keajaiban sinergisitas karya Allah dan karya manusia yang menakjubkan, yaitu firman Tuhan dalam Alkitab dan teknologi. Terlebih dari itu, yang diharapkan adalah anak-anak dapat lebih mengerti apa yang dipelajari dan diajarkan.


Keberhasilan sekolah Minggu ditentukan oleh berbagai faktor, yaitu bagaimana tindakan para GSM dalam menangani berbagai masalah dan tantangan yang dihadapi di hari Minggu; persiapan ASM dalam menerima pengajaran; peran orang tua dalam mempersiapkan kondisi ASM agar prima secara kognitif, afeksi, maupun kooperatif secara psikomotorik; serta sarana-prasarana penunjang yang baik; dan tentu saja kasih karunia TUHAN sendiri. 


Tanggap Kebutuhan Teknologi 


Teknologi adalah penerapan ilmu pengetahuan untuk tujuan praktis dalam kehidupan manusia, dan digunakan untuk membantu manusia menyelesaikan berbagai permasalahan atau meningkatkan efisiensi aktivitas.


Generasi baby boomers, generasi X, generasi Y (milenial), generasi Z, generasi Alpha, dan generasi Beta, masing-masing memiliki cara tersendiri dalam berpikir, memandang, menyikapi, dan mengadaptasi perubahan dan perkembangan teknologi. 




Pengajaran Celik Teknologi


Berkait sekolah Minggu, banyak kemajuan teknologi yang dapat mendukung proses belajar-mengajar sejak sesi persiapan pengajaran, sesi pengajaran, hingga masa seusai pengajaran. Penggunaan teknologi yang bijaksana dapat menjadikan pelayanan berbuah kian lebat. 


Beberapa kemajuan teknologi yang berkaitan dengan aktivitas sekolah Minggu di antaranya adalah: handphone (media komunikasi antara GSM dan orang tua ASM, koordinasi persiapan dan pengajaran); laptop (mempersiapkan bahan ajar sampai proses penyampaian pengajaran); aplikasi Power Point, Canva, Slide Go, dan lain-lain; penggunaan artificial intelligence; kanal-kanal media sosial seperti YouTube, Tiktok, Facebook, Instagram, Pinterest, Snack Video, dll.; kamera (dokumentasi dan publikasi); proyektor; smart TV; dan CCTV. GSM yang celik teknologi semacam ini dapat membuat anak-anak terlayani dengan baik. 


Di atas semuanya itu, tetap diperlukan GSM yang cekatan, mampu, dan mahir mengoperasionalkan berbagai kemajuan teknologi tersebut secara etis dan tepat sasaran, sehingga efektif dan efisien dalam penggunaannya.


Screen Time Sehat


Golden moment, yaitu lima tahun pertama usia anak adalah masa krusial untuk pola asah, asih, asuh, serta komunikasi yang baik. Steve Jobs, CEO Apple, ternyata membatasi penggunaan iPad untuk anak-anaknya. Demikian pula Bill Gates, pendiri Microsoft, yang baru memberikan handphone kepada anak-anaknya setelah mereka berusia 14 tahun (https://tekno.kompas.com/read/2021/09/21/10120037/steve-jobs-larang-anaknya-main-ipad-ini-alasannya).


Pemerintah Indonesia pun secara resmi membatasi penggunaan media sosial untuk anak di bawah 16 tahun sejak 28 Maret 2026, menurut pernyataan Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid (https://www.bbc.com/indonesia/articles/clyve80pj7eo).


Menurut N. K. Atmajahadinoto dalam Dialog dan Edukasi (1990), tumbuh kembang anak yang masih berkembang secara kognitif, psikis, moral, sosial, iman, dan emosi perlu diperhatikan dengan serius. Menurut saya, fase golden moment memerlukan kehadiran orang tua secara konkret, untuk menumbuhkan rasa percaya dan membentuk memori sukacita yang nyata, dengan sentuhan kasih sayang yang proporsional dan sehat secara mental. Jika ini semua tidak terpenuhi, dapat menghasilkan pertumbuhan yang cacat, timpang, atau bermasalah di fase berikutnya.


Ketertiban hidup harus diajarkan sejak dini, mulai dari perkara-perkara kecil. Ini memerlukan orang tua yang hadir secara nyata, mewujudkan kasih Tuhan yang mulia, tulus, dan sabar. Untuk meminimalisasi masalah di kemudian hari, berikut adalah bagan singkat yang saya dapatkan dari Smart Kids Clinic, tentang pola mengasuh anak di tengah zaman penggunaan gadget, yang kian meresahkan dampaknya, jika digunakan terus-menerus, terlebih sejak usia dini. Pakar kesehatan merekomendasikan pembatasan penggunaan gadget seperti berikut:


Sumber: Dokumentasi SmartKid Child Development & Learning Difficulties Center.
Sumber: Dokumentasi SmartKid Child Development & Learning Difficulties Center.

Mengembangkan Kecerdasan Majemuk 


Kita mengenal berbagai kecerdasan, yaitu: kecerdasan linguistik, musikal, matematis, spasial, kinestetik, intrapersonal, interpersonal, naturalis, eksistensial, emosional, spiritual, daya juang (adversity), digital, finansial, kenosis, IQ, seksualitas, hati, artificial intelligence, soft skill, hard skill, quantum, sosial, istirahat, release quotion. Ini semua dituliskan perkembangannya dalam karya novel non fiksi yang saya tulis, Lika-liku Kehidupan (2025).


Penggunaan teknologi yang baik dapat mendukung pengembangan berbagai jenis kecerdasan di atas, selain mendukung karunia dan buah roh yang nyata dalam kehidupan anak. Dengan bantuan beberapa kemajuan teknologi seperti yang telah disebutkan sebelumnya, sekolah Minggu dapat membantu terbentuknya kepribadian yang matang, tangguh, percaya diri, beriman, dan menjadi berkat bagi sesama.


Untuk menghasilkan ASM yang berkualitas, anak-anak ini perlu ditangani secara sinergis, baik oleh para pendidik, yaitu GSM-PGSM, juga para orang tua, yang asah-asih-asuh secara maksimal. Penggunaan teknologi tak selamanya baik, jika penggunaannya berlebihan, dapat menimbulkan adiksi dan menghambat tumbuh kembang anak, seperti yang sudah dikemukakan di atas. 


“‘Segala sesuatu diperbolehkan.’ Benar, tetapi tidak semua berguna. ‘Segala sesuatu diperbolehkan,’ tetapi tidak semua membangun. Jangan seorang pun mencari keuntungannya sendiri, tetapi hendaklah tiap-tiap orang mencari keuntungan orang lain” (1Korintus 10:23–24). Ayat ini menegaskan, meskipun orang percaya memiliki kebebasan (halal/sah), tidak semua hal memberikan manfaat, membangun iman, atau mendatangkan kebaikan, sehingga perlu hikmat dalam bertindak. 


Konteks serupa juga ada dalam 1Korintus 6:12, “‘Segala sesuatu diperbolehkan bagiku,’ tetapi tidak semuanya berguna. Segala sesuatu diperbolehkan bagiku, tetapi aku tidak mau membiarkan diriku diperhamba oleh apa pun.” 


Pada intinya, Paulus mengajarkan, kebebasan dalam Kristus tidak boleh dijadikan alasan untuk melakukan hal-hal yang tidak berguna, atau justru merusak diri sendiri dan orang lain. Fokusnya adalah membangun sesama dan memuliakan Tuhan. 


Baiklah kita semua bersinergi untuk menciptakan generasi yang sehat mental dan seimbang pertumbuhannya. Untuk itu, kita perlu berani menunda penggunaan gadget secara bijaksana, memberikan pendampingan dalam penggunaannya, serta menyaring setiap tayangan yang kita saksikan, dengan hikmat Tuhan. Untuk anak-anak sekolah Minggu dan anak-anak Indonesia, mari kita bersatu hati dalam pemikiran, doa, dan upaya. Masih ada peran Roh Kudus, yang menjadikan semuanya baik dan berhasil. Amin. (Elvier Christanty S.si, Theol., MA.*/Lanny Dewi Joeliani)


*Penulis adalah guru Sekolah Minggu GKI Gading Serpong.


Comments


bottom of page