top of page

Second Journey: Peluncuran Komunitas Pasutri Senior GKI Gading Serpong

  • Majalah Sepercik Anugerah
  • 5 days ago
  • 4 min read

Penulis: Adolf Martua Panggabean*

Editor: Lanny Dewi Joeliani

 

Keberadaan Komisi Pasutri di Gereja Kristen Indonesia Gading Serpong adalah salah satu wujud kepedulian gereja dalam memperlengkapi pasangan suami istri (pasutri) untuk membentuk keluarga yang mengandalkan Tuhan dalam setiap langkah hidup mereka. Selama ini, pelayanan pasutri di gereja ini masih menyajikan materi pembinaan secara umum untuk seluruh rentang usia pernikahan, dan baru berfokus pada Komunitas Pasutri Muda dan Dewasa. Seiring berjalannya waktu, keberadaan pasutri senior, dengan segala dinamika dan pergumulan hidupnya, tentu membutuhkan perhatian khusus dari gereja.


Melihat adanya kebutuhan yang berbeda-beda di setiap jenjang usia pernikahan, pada tahun pelayanan ini, Komisi Pasutri pun memfokuskan pelayanannya pada tiga komunitas pasutri. Pertama, Komunitas Pasutri Muda, ditujukan bagi mereka yang baru memasuki kehidupan rumah tangga hingga usia pernikahan 15 tahun. Kedua, Komunitas Pasutri Dewasa, ditujukan bagi pasutri dengan rentang usia pernikahan 16 hingga 30 tahun. Ketiga, Komunitas Pasutri Senior, ditujukan bagi mereka yang telah memasuki usia pernikahan lebih dari 30 tahun.


Pada Sabtu, 25 Juli 2026, pukul 10.00 – 14.00 WIB, di Penabur Learning Centre (PLC), Jl. Layar Raya, Kelapa Dua, Tangerang, Komisi Pasutri GKI Gading Serpong pun mengadakan acara peluncuran Komunitas Pasutri Senior. Acara yang diikuti oleh 185 orang ini diisi dengan seminar yang dibawakan oleh Pendeta Yohanes Adrie Hartopo, B.A., Ph.D. dari GKY Citra Garden, serta talk show bertema "Second Journey", yang menghadirkan narasumber dari RUKUN Senior Living dan Panti Werda Hana.


Rangkaian acara diawali dengan doa pembuka oleh Pendeta Em. Santoni Ong, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu pujian ”Bapa Engkau Sungguh Baik”, yang dipandu oleh Tina Karnadi. Setelah itu, Pendeta Yohanes Adrie Hartopo menyampaikan renungan tentang bagaimana sebaiknya pasangan suami istri menjalani paruh kedua kehidupan pernikahan mereka.


Paruh kedua kehidupan pernikahan biasanya ditandai dengan masa empty nest (kondisi ketika anak-anak sudah menikah dan mandiri), pensiun, serta perubahan kondisi kesehatan yang mulai menurun. Saat memasuki fase ini, sering kali muncul pertanyaan di benak pasutri, "Sekarang tinggal kita berdua, lalu apa selanjutnya? Bagaimana kita akan menjalani hidup bersama setelah ini?"


Dalam materi yang dibawakannya, Pendeta Yohanes Adrie Hartopo mengingatkan, paruh kedua pernikahan justru memberikan kesempatan emas bagi pasutri untuk menemukan kembali makna pernikahan mereka, melakukan penyesuaian di tengah perjalanan, serta membangun kembali hubungan yang lebih mendalam dan bermakna. Beliau menegaskan, masa-masa terbaik dalam pernikahan tidak selalu berada di masa lalu. Bisa jadi, baru akan kita masuki di masa depan.


Untuk membantu pasutri tidak hanya sekadar bertahan (survive), melainkan tetap berkembang, bahkan berkembang pesat (thrive) di paruh kedua pernikahan, Pendeta Yohanes Adrie Hartopo memberikan beberapa nasihat praktis bagi para pasutri senior. Pertama, pasutri diminta melepaskan kekecewaan masa lalu dan saling mengampuni. Kedua, kembali berfokus dan memberi perhatian penuh satu sama lain. Ketiga, membangun komunikasi yang baik, jujur, dan intim. Keempat, menjadikan konflik sebagai sarana untuk saling membangun, bukan saling menghancurkan. Kelima, memperbarui romantisme dan keintiman dalam relasi pasutri. Keenam, menghadapi perubahan peran hidup dengan kasih dan hikmat. Ketujuh, pasutri terus bertumbuh dalam kerohanian, membangun pelayanan bersama, serta meninggalkan warisan iman bagi generasi penerus.


Menutup renungannya, Pendeta Yohanes Adrie Hartopo menyampaikan, pernikahan yang mampu bertahan lebih dari 30 tahun merupakan bukti nyata rahmat dan kesetiaan Tuhan. Janji pernikahan yang diucapkan puluhan tahun lalu, baik dalam suka maupun duka, sehat maupun sakit, bukan sekadar kata-kata kosong. Sesi renungan ini kemudian ditutup dengan tanya jawab dan kesaksian dari beberapa pasutri yang hadir, dilanjutkan dengan doa makan oleh Pendeta Em. Andreas Loanka, serta makan siang dan ramah tamah bersama.


Memasuki bagian kedua, kegiatan dilanjutkan dengan talk show mengenai senior living atau hunian alternatif bagi pasutri senior, yang dipandu oleh Leli Halim, ditemani oleh  Emir Fachry dan Ryan Tejo sebagai pemateri dari RUKUN Senior Living, serta Winny Setiatmadja dan Antoni Siahaan dari Panti Werda Hana. Dalam sesi ini, perwakilan dari RUKUN Senior Living dan Panti Werda Hana menjelaskan, hunian alternatif bagi lansia bukanlah tempat "pembuangan", melainkan sarana agar pasutri senior dapat hidup mandiri, aman, aktif, produktif, dan dapat terus berkegiatan dalam komunitas yang mendukung. Senior living hendaknya tidak dimaknai sebagai akhir perjalanan, melainkan babak baru, tempat mereka tetap bisa terkoneksi dan menjalani kehidupan yang bermakna. Pada kesempatan ini juga diputarkan dua video testimoni dari dua pasutri penghuni Panti Werda Hana, yang menceritakan tentang suka dan duka kehidupan pasutri di sana.


Leli Halim kemudian mengajak seluruh hadirin untuk senantiasa memiliki hati yang bersyukur atas setiap berkat Tuhan, dan menyambut setiap perubahan hidup dengan damai sejahtera. Sebagai pasangan suami istri yang telah memasuki paruh kedua kehidupan pernikahan, mari memasukinya dengan iman, hati yang bersyukur, serta semangat yang tetap menyala, sambil percaya bahwa Tuhan, Sang Gembala, akan terus menyediakan yang terbaik bagi kita.


Eka Djuhari Surjadi, ketua Komisi Pasutri GKI Gading Serpong, lalu mempersilakan Pendeta Danny Purnama menyerahkan piagam ucapan terima kasih untuk pelayanan RUKUN Senior Living, dan Panti Werda Hana, dilanjutkan pengumuman dari panitia dan sambutan oleh Pendeta Danny Purnama.


Dalam sambutannya, Pendeta Danny Purnama menekankan, komunitas ini bukan sekadar tempat berkumpulnya orang tua, melainkan saksi hidup atas pemeliharaan Tuhan sepanjang perjalanan rumah tangga. Tidak banyak pasangan yang bisa mencapai usia pernikahan 30 tahun dengan tetap dipenuhi sukacita, dan bagi mereka yang berhasil mencapainya, ada misi mulia dari Tuhan yang perlu terus dijalankan.


Senada dengan hal tersebut, Pendeta Em. Santoni Ong menggarisbawahi pentingnya memaknai second journey ini sebagai momentum untuk membangun aktivitas dan dinamika baru dalam menjalani paruh kedua pernikahan. Sementara itu, Pendeta Em. Andreas Loanka mengingatkan kembali, paruh kedua ini bukanlah akhir perjalanan, melainkan kesempatan berharga untuk merajut masa depan pernikahan yang lebih indah.


Sebagai puncak acara peluncuran Komunitas Pasutri Senior, Pendeta Em. Andreas Loanka, Pendeta Em. Santoni Ong dan Pendeta Danny Purnama membunyikan lonceng, sebagai tanda dimulainya babak baru pelayanan dan persekutuan bagi pasangan suami istri senior di GKI GS. Acara kemudian ditutup secara resmi dengan doa yang dipimpin oleh Pendeta Danny Purnama.


Berikut foto-foto kegiatan:


Kata Sambutan Pdt (Emeritus) Andreas Loanka
Kata Sambutan Pdt (Emeritus) Andreas Loanka
Kata Sambutan Pendeta Danny Purnama
Kata Sambutan Pendeta Danny Purnama
Hiburan oleh Panitia
Hiburan oleh Panitia

 

Pemaparan oleh Pdt. Yohanes Adrie Hartopo
Pemaparan oleh Pdt. Yohanes Adrie Hartopo
Lonceng: Babak Baru Dimulainya Kegiatan Pelayanan Komunitas Pasutri Senior
Lonceng: Babak Baru Dimulainya Kegiatan Pelayanan Komunitas Pasutri Senior
Penyerahan Piagam Apresiasi kepada Panti Werda Hana
Penyerahan Piagam Apresiasi kepada Panti Werda Hana
Piagam Apresiasi kepada RUKUN Senior Living dan Panti Werda Hana
Piagam Apresiasi kepada RUKUN Senior Living dan Panti Werda Hana
Talkshow: Pemaparan oleh Panti Werda Hana
Talkshow: Pemaparan oleh Panti Werda Hana

Talkshow: Pemaparan oleh RUKUN Senior Living
Talkshow: Pemaparan oleh RUKUN Senior Living

*Penulis adalah pengurus Komisi Pasutri GKI GS untuk tahun pelayanan 2026-2028.

Comments


bottom of page