top of page

Apakah Salib Identik dengan Cosmic Child Abuse? Sebuah Dekonstruksi Teologi Progresif Melalui Lensa Christian Worldview

  • Majalah Sepercik Anugerah
  • Jul 28
  • 32 min read

Updated: 1 hour ago

Apakah Salib Identik dengan Cosmic Child Abuse? Sebuah Dekonstruksi Teologi Progresif Melalui Lensa Christian Worldview (sumber: unsplash.com)
Apakah Salib Identik dengan Cosmic Child Abuse? Sebuah Dekonstruksi Teologi Progresif Melalui Lensa Christian Worldview (sumber: unsplash.com)

Penulis: Benedictus Leonardus

Editor: Lanny Dewi Joeliani

 

Kematian Yesus Kristus di kayu salib merupakan inti iman Kristen. Selama berabad-abad, mayoritas gereja menganut doktrin Penal Substitutionary Atonement (PSA) atau Penebusan Pengganti—sebuah teologi yang menggambarkan sosok Allah yang murka terhadap dosa manusia, menuntut keadilan, dan Yesus hadir sebagai kurban pengganti.


Namun, di era kontemporer, narasi tradisional ini mendapat gugatan keras dari kalangan teolog Progresif yang menggugat salib. Mereka mempertanyakan moralitas di balik peristiwa Golgota, dan meluncurkan premis provokatif, yaitu apakah teologi salib tradisional pada hakikatnya identik dengan tindakan cosmic child abuse (penyiksaan anak secara kosmik) oleh Allah Bapa kepada Sang Anak?


Istilah "cosmic child abuse" diperkenalkan Steve Chalke & Alan Mann dalam buku The Lost Message of Jesus (2003), untuk mengkritik doktrin penebusan melalui penggantian hukuman (Penal Substitution). Mereka menolak gambaran Bapa yang "penuh dendam" menghukum Anak yang tak bersalah—seperti penyiksaan anak secara kosmik. Gagasan ini kemudian diadopsi oleh pemikir Progresif modern sebagai senjata untuk meruntuhkan kredibilitas moral doktrin Penebusan klasik.


Untuk membedah dan menjawab tuduhan ini secara memadai, peristiwa salib tidak boleh diisolasi sebagai sebuah insiden yang berdiri sendiri. Salib harus diletakkan dalam kacamata Christian worldview yang utuh, melalui lensa narasi besar sejarah penebusan, yang mencakup empat fase kosmik, yang sering disingkat sebagai CFRC: creation (penciptaan), Fall (kejatuhan), redemption (penebusan), dan consummation/restoration (pemulihan akhir). Mengenai hal ini, pemikir dan teolog James Sire memberikan sebuah konseptualisasi yang sangat mendasar, mengenai bagaimana seluruh bentangan sejarah dan eksistensi manusia dapat diringkas secara utuh. Sire menegaskan,


"Human beings were created good, but through the Fall the image of God became defaced, though not so ruined as not to be capable of restoration: through the work of Christ God redeemed humanity and began the process of restoring people to goodness, though any given person may choose to reject that redemption. Human “history” can be subsumed under four words – creation, Fall, redemption, glorification." (1988, 36).


Melalui perspektif Sire, sejarah manusia secara kokoh ditopang oleh empat pilar utama: creation, Fall, redemption, dan consummation/glorification. Selaras dengan hal tersebut, kerangka sejarah penebusan ini juga dipaparkan secara tajam oleh Sen Senjaya dalam konteks kepemimpinan Kristen melalui bukunya, Leadership Reformed. Senjaya menegaskan, makrokosmos sejarah manusia bergerak dalam empat sirkuit yang serupa.


Kerangka kerja sejarah penebusan meliputi penciptaan, kejatuhan, penebusan, penciptaan kembali. Allah menciptakan kita untuk menjadi rekan pengelola dan pencipta dalam dunia yang baik ini: kita melengserkan Allah dan mengambil takhta-Nya, menyebabkan dosa dan kejahatan menguasai masyarakat; Kristus datang menebus dunia melalui kematian dan kebangkitan-Nya; Ia akan kembali untuk memperbarui segala ciptaan, menghapus kejahatan, serta memulihkan kedamaian dan keadilan di dunia (2020, 233).


Melengkapi harmoni pemikiran Sire dan Senjaya, Alisa Childers dalam bukunya, Another Gospel? memberikan penegasan yang sangat jernih dan kokoh mengapa alur CFRC ini bersifat mutlak dalam mendefinisikan esensi kabar baik Kristen. Childers menyatakan, "The Christian gospel can be best explained in four movements: Creation, Fall, Redemption, and Restoration. The gospel is God’s plan to save, or redeem and restore, mankind" (2020, 88).


Teologi Kristen historis dibangun di atas empat fase besar: CFRC. Penebusan di salib bukan peristiwa terpisah, melainkan respons logis atas kejatuhan manusia untuk memulihkan ciptaan. Penolakan kaum Progresif terhadap kerangka utuh ini dinilai merusak gereja. Untuk memahami ketegangan ini, keempat fase sejarah penebusan perlu ditelusuri secara mendalam.

 

1. Creation (Penciptaan): Landasan Keadilan dan Nilai Manusia


Gugatan terhadap salib sering kali mengabaikan premis awal dinamika relasi Allah dan ciptaan. Dalam tahap creation, Allah menciptakan alam semesta dan manusia dalam kondisi yang sangat baik. Keadilan, kekudusan, dan kasih berada dalam harmoni yang sempurna. Seperti yang diungkapkan oleh Senjaya, Allah mendesain manusia dengan mandat mulia untuk menjadi "rekan pengelola dan pencipta dalam dunia yang baik ini" (2020, 233). Allah menetapkan hukum moral kosmis bukan karena Dia seorang tiran, melainkan karena hukum tersebut mencerminkan natur diri-Nya yang kudus. Alkitab mencatat kemuliaan tatanan awal ini, "Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh sangat baik." (Kejadian 1:31a).


Tuduhan kekerasan ilahi digugurkan oleh premis ini, karena pada awal penciptaan, Allah mendesain manusia dengan martabat yang tinggi, merdeka, dan bertanggung jawab secara moral atas keputusannya sendiri. Hukum dan konsekuensi yang Allah tetapkan sejak awal adalah wujud keadilan-Nya, yang tidak bisa dikompromikan demi tatanan semesta. Karakter Allah yang adil dan benar ini ditegaskan dalam Mazmur, "Keadilan dan hukum adalah tumpuan takhta-Mu, kasih dan kesetiaan berjalan di depan-Mu." (Mazmur 89:15)

 

2. Fall (Kejatuhan): Akar Kekerasan yang Sebenarnya


Kritik Richard Rohr berfokus pada doktrin dosa asal. Menurut Richard Rohr, doktrin dosa asal adalah konsep asing, karena tidak sesuai dengan pemahaman umum mengenai dosa. "Strange concept of original sin does not match the way we usually think of sin (2019, 61). Dosa biasanya dipahami sebagai tindakan yang dilakukan secara sadar oleh seseorang, sedangkan dosa asal bukan sesuatu yang diperbuat manusia, melainkan sebagai kondisi yang diwariskan sejak lahir. Dengan demikian, ketika doktrin dosa asal tidak lagi diterima, dasar teologis yang menopang perlunya penebusan melalui penggantian hukuman (Penal Substitutionary Atonement) juga ikut dipertanyakan.


Philip Gulley dan James Mulholland dalam If Grace is True (2004) menolak doktrin ini. Awalnya, mereka menerima pandangan tradisional bahwa pengampunan Allah harus dibayar melalui kematian Kristus. Namun, seiring pemahaman mereka tentang kasih karunia semakin kuat, mereka mempertanyakan konsep Allah yang menuntut pengorbanan berdarah sebagai syarat pengampunan. Akhirnya, simbolisme darah Kristus sebagai sarana penyucian dosa tidak lagi bermakna bagi mereka. Eventually, those words no longer made sense to me (2004, 128).


Dalam konteks Indonesia, pembongkaran radikal terhadap fase Fall ini disuarakan secara ekstrem oleh mantan pendeta GKI, Ioanes Rakhmat. Demi meruntuhkan seluruh bangunan teologi salib secara total, Ioanes tidak hanya meminimalkan dampak kejatuhan, melainkan menghapus keberadaan dosa asal itu sendiri, dan memutarbalikkan narasi Kejadian secara drastis. Ioanes menyatakan,


... saya menyimpulkan bahwa dosa asal tidak ada, dan bahwa Hawa adalah seorang hero pemberani yang bertindak benar ketika dia berhasil mendapatkan “pengetahuan”. Lebih jauh, saya menegaskan, penderitaan dan kematian yang harus dialami setiap manusia bukan timbul karena “dosa warisan” dan hukuman yang diakibatkannya ..."(2010, 23).


Namun, tuduhan kaum Progresif bahwa doktrin ini adalah "konsep yang asing" runtuh ketika kita melihat akar teologi historisnya. Sifat dosa asal bukanlah sekadar "penderitaan pasif yang menimpa manusia" seperti klaim Rohr, melainkan sebuah kerusakan keturunan yang legal dan mendarah daging, akibat pemberontakan sengaja manusia pertama. Mengutip Senjaya, esensi kejatuhan adalah tindakan radikal, ketika manusia "melengserkan Allah dan mengambil takhta-Nya, menyebabkan dosa dan kejahatan menguasai masyarakat" (2020, 233).


Agustinus, dalam A Treatise on the Grace of Christ and on Original Sin, memperkenalkan istilah "dosa asal" (original sin). Ia menjelaskan, dosa masuk melalui satu manusia (Adam), sehingga seluruh umat manusia berada di bawah kuasa dosa dan kematian. Kejatuhan Adam merusak natur manusia secara menyeluruh, dan setiap keturunan mewarisi keadaan yang tercemar dosa sejak lahir—sehingga semua manusia berada di bawah penghukuman adil. Satu-satunya jalan pembebasan bukan melalui kelahiran jasmani, melainkan melalui kelahiran kembali secara rohani, yang dikerjakan Allah “In this condemned stock carnal generation holds every man; and from it nothing but spiritual regeneration liberates him.” (2018, 105).


Mengembangkan pemikiran tersebut, Henri Blocher menjelaskan, original sin tidak berarti dosa merupakan natur asli manusia. Sebaliknya, dosa telah begitu menguasai kehidupan manusia sehingga seolah-olah menjadi "natur kedua", meskipun tetap bertentangan dengan tujuan Allah dalam penciptaan. Karena itu, Blocher menyatakan, “Sinfulness has become our quasi-nature while remaining truly our anti-nature” (2000, 30).


David Young memberikan konseptualisasi yang sangat tajam mengenai bagaimana dosa telah merusak seluruh elemen eksistensial manusia tanpa terkecuali (total depravity). "Proof of our sinful nature is around us and offers a driving concern for any variety of human behaviors: politic, jurisprudence, psychology, sociology, and more" (2019, 81).


Wayne Grudem menolak reduksi kaum Progresif yang meminimalkan kedahsyatan dampak kejatuhan ini, dengan menyatakan, “Every part of our being is affected by sin – our intellects, our emotions, our desires, our hearts, our goals, our motives, and even our physical bodies. All are subject to the decay and destruction caused by sin. Our actions, our attitudes, and our very natures all make us guilty of sin” (2022, 63). 


Kritik atas penolakan doktrin krusial ini juga dilontarkan secara bernas oleh Alisa Childers dalam bukunya, Another Gospel? Childers menepis ilusi optimisme palsu teologi Progresif tentang natur manusia, dengan menegaskan, meruntuhkan doktrin dosa asal sama saja dengan meruntuhkan relevansi Injil itu sendiri, "Put simply, original sin explains what’s wrong with the world, and it’s an integral part of the gospel because if nothing is broken, nothing needs to be fixed. The gospel means ‘good news’ because it is the cure for the disease of sin." (2020, 88).


Dengan demikian, tesis kaum Progresif menjadi cacat logika. Jika tidak ada "penyakit" dosa asal yang merusak natur manusia, maka Injil tidak lagi menjadi "berita baik", melainkan sekadar ornamen moralitas yang tidak diperlukan. Konsep keselamatan membutuhkan pengakuan objektif atas kerusakan tersebut. Sire secara seimbang mencatat, melalui kejatuhan manusia, "The image of God became defaced, though not so ruined as not to be capable of restoration" (1988. 36). Kerusakan itu masif, tetapi tidak menghapus kemungkinan pemulihan ilahi.


Gregory Koukl, dalam The Story of Reality menegaskan, pasca-kejatuhan, manusia menghadapi kerusakan radikal dan keputusasaan legal. Persoalan mendasar adalah rusaknya hubungan dengan Allah akibat pemberontakan aktif manusia—yang tidak hanya memengaruhi pribadi, tetapi juga seluruh tatanan dunia. Akibatnya, setiap orang berada dalam kondisi bersalah di hadapan Allah, diperbudak oleh dosa, tersesat, dan mati secara rohani. Karena itu, kesalahan manusia menuntut hukuman adil, utang dosa harus dilunasi, dan manusia memerlukan pembebasan dari perbudakan dosa.


Dalam kerangka ini, Yesus dari Nazaret dipahami sebagai satu-satunya jalan kepada Allah dan satu-satunya sumber keselamatan. Hanya Dia yang mampu menyelesaikan persoalan mendasar manusia—sesuatu yang tak dapat dilakukan siapa pun. Tanpa karya penebusan Kristus, manusia harus menanggung sendiri hukuman kekal atas dosanya. Namun, Yesus, Anak Allah yang sempurna, telah membayar lunas utang dosa bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya, sehingga mereka tidak lagi berada di bawah hukuman Allah dan memperoleh hidup kekal bersama-Nya. “Jesus alone, the perfect Son of God, paid the debt for those who trust in him so they would not perish under God’s punishment, but have life with him fully and forever” (2017, 132).


Manusia, di dalam Adam, secara legal memilih memisahkan diri dari Sang Sumber Hidup. Wayne Grudem menegaskan, "Therefore, when Adam sinned God thought of us all as having sinned" (2020, 64)—gagasan ini berakar pada Roma 5:12, bahwa dosa dan maut masuk melalui satu orang dan menjalar ke semua orang. Konsekuensi radikal dari kejatuhan (Fall) adalah masuknya maut dan kekerasan ke dalam sejarah manusia. Karena itu, sumber kekerasan di Golgota bukanlah Allah, melainkan dosa manusia. Manusia yang kecanduan dosa, ego, dan sistem rusak itulah yang menyalibkan Kristus ketika Dia datang.

 

3. Redemption (Penebusan): Mengapa Salib Bukan "Cosmic Child Abuse"


Robin Meyers dalam Saving Jesus from the Church menolak doktrin Penal Substitution, dengan menggunakan istilah divine child abuse. Ia berargumen, Allah yang mahakuasa dan mahakasih seharusnya tidak memerlukan pengorbanan berdarah untuk memulihkan hubungan dengan ciptaan-Nya. Jika kematian Yesus dianggap sebagai keharusan yang ditetapkan Allah, maka Allah digambarkan tunduk pada mekanisme pembayaran sebelum pengampunan diberikan—seolah-olah dapat "dibujuk" melalui pengorbanan, atau bahkan layak disebut melakukan divine child abuse terhadap Anak-Nya sendiri “... then we are dealing with a deity who not only must play by our rules but is, at best, capable of being bribed, or at worst, guilty of divine child abuse” (2009, 69).


Brian Zahnd memperluas kritik tersebut dengan berpendapat, jika salib dipahami sebagai penghukuman yang dikehendaki Allah atas Anak-Nya sendiri, maka Allah akan tampil sebagai "monster moral" dan pelaku "sadisme ilahi” – “A theory of the cross that says it was God who desired the torture and murder of Jesus on Good Friday turns the Father of Jesus into cruel and sadistic monster. It’s salvation by divine sadism (2017, 68,69).


John Shelby Spong, dalam bukunya, The Sins of Scripture menyatakan peristiwa di bukit Kalvari merupakan bentuk kekejaman dan kekerasan ilahi terhadap Anak. Ia menilai hal tersebut menggambarkan sosok Tuhan yang sadis dan umat-Nya yang masochistic, "...a cruel act of divine child abuse that was said to have occurred on a hill called Calvary ... It paints the portrait of a sadistic God served by masochistic children" (2005, 171, 172).


Ia menegaskan posisi Kristen Progresif yang membuang jauh-jauh status manusia sebagai makhluk berdosa yang memerlukan penebusan darah,


Let me state this boldly and succinctly: Jesus did not die for your sins or my sins. That proclamation is theological nonsense ... The interpretation of Jesus as sacrificed victim is a human creation, not a divine revelation ... We are not fallen, sinful people who deserve to be punished (2005, 173).


Bahkan secara lebih radikal, Spong menegaskan dalam Jesus for the Non-Religious, seluruh bangunan teologis mengenai Tuhan teistik yang sadis—yang menuntut pengurbanan Sang Anak untuk membayar tebusan dosa – kini telah bangkrut dan harus dihancurkan. Narasi teologis semacam ini dikritik karena menampilkan gambaran Tuhan yang menghukum secara kejam dan mereduksi hidup manusia sebagai makhluk rusak, yang hanya bisa mengemis pengampunan.


"... instead of a sign of the theistic deity’s sadistic nature, which required the sacrifice of the son to pay the price of sin ... with its language of sacrifice, its abusive, punishing picture of God and its definition of human life as fallen, sinful and broken, capable only of begging for mercy – that has become bankrupt and that must now be dismantled" (2007, 284).


Tony Jones dalam Did God Kill Jesus? memperluas gugatan terhadap moralitas Allah. Ia menegaskan, interpretasi tradisional atas salib menggambarkan Allah sebagai sosok penuh kekerasan, karena pengampunan dosa hanya dapat diperoleh melalui mekanisme kekerasan brutal yang tak terhindarkan. Jones menganggap, mengadopsi doktrin salib tradisional sama saja merangkul kekerasan sebagai jalan keselamatan, yang pada gilirannya melanggengkan siklus kekerasan dalam peradaban manusia. “God is violent, and the means by which we’re forgiven of our sins is violent, and necessarily so ... In addition to embracing violence as the means of salvation and thereby perpetuating violence” (2015, 155).


Pandangan mereka dirangkum oleh Alisa Childers, bahwa kalangan Kristen Progresif memandang doktrin penebusan historis sebagai gambaran Allah yang melakukan kekerasan terhadap Anak-Nya, “According to their wisdom, the historic view makes God nothing more than an abusive father” (2020, 206).


Menurutnya, makna salib bersifat multidimensional. Kristus digambarkan sebagai "tebusan" dalam Markus 10:45, sekaligus pemenang yang mengalahkan maut dan dosa dalam 1Korintus 15:54-57. Lebih jauh, salib bertindak sebagai teladan moral bagi orang percaya untuk menjadi serupa dengan Kristus (Filipi 3:10-12), dan sarana penebusan dari hukum Taurat yang memulihkan status kita sebagai anak-anak angkat Allah (Galatia 4:4-7).


Childers menyatakan, doktrin Penal Substitutionary Atonement—Yesus mati menggantikan manusia dan menanggung hukuman dosa mereka—adalah inti iman Kristen historis yang berakar dari tradisi rasuli (1 Korintus 15:3-5). Namun, model penebusan yang menekankan aspek hukuman ini justru paling kerap ditolak oleh kelompok Kristen Progresif. Mereka menilai, doktrin tradisional menggambarkan Allah sebagai Bapa yang kasar atau melakukan kekerasan terhadap Anak-Nya. "According to their wisdom, the historic view makes God nothing more than an abusive father" (2020, 206).


Dalam bukunya, Deconstructing Progressive Christianity, John Piippo menegaskan, teologi penebusan (atonement) bukanlah dogma opsional, melainkan elemen mutlak yang menentukan apakah suatu iman masih layak disebut Kristen atau tidak. Piippo memperingatkan kecenderungan dekonstruktif ini, “... Progressive Christians question, doubt, and disbelieve atonement theories of the cross” (2021, 96, 98).


Menjadi semakin jelas, ketika kaum Progresif meragukan dan menolak salib karena berpendapat penebusan sarat dengn kekerasan, mereka sedang keluar dari jalur Alkitab, dan memutus hubungan dengan Kekristenan historis. “The core of the progressivist rejection of atonement theory is discomfort with the idea of God’s wrath, and the violence inherent in the atonement” (2021, 102).


Argumen "cosmic child abuse" dan seruan pembongkaran dogma runtuh, jika doktrin penebusan dipahami melalui lensa Kristologi ortodoks (Trinitas). David Young berpendapat, Kristen Progresif menolak doktrin penebusan, karena mereka juga menolak konsep dosa dan penghakiman ilahi. Padahal, doktrin Penebusan sangat penting untuk mempertahankan keseimbangan antara keadilan dan belas kasihan Allah. Tanpa penebusan, Allah tidak lagi adil—karena berarti Allah membiarkan pelanggaran dan kejahatan manusia tanpa pertanggungjawaban. “God will be unjust God, for it would mean that God is okay with the many crimes we have committed against one another” (2019, 83).


Ia mendeteksi kesalahan fatal teologi Progresif. Masalah utamanya bukan pada "kekerasan," melainkan penolakan mereka untuk memahami keilahian Yesus Kristus, saat menyebut doktrin Penebusan sebagai cosmic child abuse. Menurutnya, jika Yesus adalah Tuhan, maka Allah tidak sedang menghukum seseorang demi dosa orang lain, melainkan Yesus sendiri—sebagai Tuhan—yang secara sukarela menanggung dosa dunia. “If Jesus is divine, then God didn’t punish one man for another man’s sins. Rather ... Jesus himself is God, who takes upon himself the sins of the world” (2019, 84).


William Lane Craig, dalam Atonement and the Death of Christ memberikan kerangka definisial yang ketat secara hukum dan teologis mengenai Penal Substitution. Ia menjelaskan, doktrin ini berarti Kristus mengjalani penderitaan yang kita layak terima sebagai hukuman atas dosa-dosa kita, sehingga kita tidak lagi layak menerima hukuman tersebut. "... penal substitution in a theological context ought to be understood as the doctrine that Christ endured the suffering that we deserved as the punishment for our sins, as a result of which we no longer deserve punishment" (2020, 149).


Melalui definisinya, Craig membersihkan kesalahpahaman yang mengaburkan makna salib. Penebusan bukanlah pelampiasan kemarahan ayah tiran (seperti klaim Chalke, Zahnd, Spong, Jones, Meyers), melainkan transaksi legal kosmis yang berbasis pada keadilan absolut Allah.


Yang terjadi di atas salib bukanlah kekerasan yang dipaksakan Bapa terhadap Anak, melainkan karya sukarela dari Pribadi Kedua Allah Tritunggal, yang dalam kesatuan kehendak ilahi, menanggung konsekuensi dosa manusia demi menegakkan keadilan dan meluapkan kasih-Nya. Dengan menimpakan dosa kita pada-Nya. Kristus menanggung hukuman yang layak kita terima, sehingga dosa dihapus, Allah didamaikan, keadilan ilahi dipuaskan, dan kita memperoleh pengampunan dosa.


Pemahaman tentang mekanisme penebusan yang agung ini bukanlah inovasi teologis belaka. Jauh sebelum Golgota, natur penebusan yang bersifat pengganti secara penal telah dinubuatkan berabad-abad sebelumnya oleh nabi Yesaya, "Akan tetapi, dia ditikam karena pemberontakan kita, dia diremukkan karena kejahatan kita. Hajaran yang mendatangkan damai sejahtera bagi kita ditimpakan kepadanya, dan karena bilur-bilurnya kita disembuhkan" (Yesaya 53:5). Dengan demikian, apa yang dicapai Kristus di kayu salib bukanlah kekerasan ilahi yang irasional, melainkan penggenapan dari rencana keselamatan Allah yang telah digariskan sejak zaman nabi-nabi.


Di atas salib, Allah tidak sedang mengeksploitasi pihak lain yang tak bersalah. Melalui Yesus, Allah sendiri yang melangkah masuk secara sukarela, mengambil alih hukuman yang seharusnya menimpa ciptaan-Nya. Ini bukan kekerasan, melainkan pengorbanan diri (self-substitution). Sebagaimana yang dicatat oleh James Sire, "Through the work of Christ, God redeemed humanity and began the process of restoring people to goodness" (1988, 36). Sebagaimana yang ditegaskan oleh Senjaya, "Kristus datang menebus dunia melalui kematian dan kebangkitan-Nya" (2020, 233). Dan, sebagaimana yang disimpulkan oleh Childers, Injil pada hakikatnya adalah "... God’s plan to save, or redeem and restore, mankind" (2020, 88).


Owen Strachan menegaskan bagaimana Redemption ini menyelesaikan ketegangan antara kasih dan keadilan. Salib Kristus merupakan solusi mutlak Allah atas dilema antara keadilan dan belas kasihan. Melalui salib yang sama, Allah tidak mengabaikan keadilan-Nya demi menyatakan pengampunan, melainkan justru memenuhi seluruh tuntutan kodrat-Nya yang kudus dalam kematian Sang Anak, sehingga keadilan ilahi terpuaskan dan belas kasihan ilahi dapat terjamin. “The cross of Christ gives us God’s ultimate resolution of the justice-mercy conundrum. The same cross satisfies divine justice and secure divine mercy ... God does not set aside His justice in the death of His Son; He meets the full terms of His holy nature through the cross” (2019, 99).


Joseph Ratzinger menyatakan, inti Injil justru terletak pada kenyataan bahwa Allah sendiri mengambil inisiatif untuk mendamaikan manusia dengan diri-Nya. Melalui Anak-Nya, Allah memikul sendiri penderitaan yang seharusnya ditanggung manusia. Karena itu, Ratzinger menegaskan, “It is not a case of a cruel God demanding the infinite. It is exactly the opposite: God himself becomes the locus of reconciliation, and in the person of his Son takes the suffering upon himself” (2023, 232). Dengan demikian, salib bukanlah manifestasi kekejaman Allah terhadap Anak-Nya, melainkan tindakan kasih Allah, yang secara sukarela menanggung sendiri konsekuensi dosa manusia, demi menghadirkan pendamaian.


Menyambung pembelaan Ratzinger tersebut, Pdt. Dr. Eka Darmaputera memberikan konseptualisasi langsung yang sangat tajam, logis, dan mendalam mengenai paradoks agung di balik penebusan substitutif ini. Kaum Progresif sering kali gagal melihat kaitan logis antara keadilan Allah dan kebutuhan akan pengurbanan. Terhadap kebingungan rasio modern ini, Pdt. Eka mengurai logika alkitabiah tersebut secara gamblang,


Yesus mati di atas kayu salib. Baik, kita menerima itu. Kita diselamatkan oleh Allah. Kita menerimanya. Tetapi bagaimana sebab atau karena Yesus mati di atas kayu salib, lalu akibatnya kita diselamatkan – bagaimana hubungan sebab akibatnya di sini? Apa yang bisanya paling tidak dapat dimengerti orang mengenai doktrin penebusan ini? Yang pertama adalah ini: manusia berdosa, ini orang setuju. Akibat yang logis dari dosa adalah Allah marah. Allah murka, manusia harus dihukum. Ini yang logis, karena Allah itu Mahakudus, tak akan membiarkan atau menolerir dosa. Juga karena Allah itu Mahaadil, maka kalau ada yang salah, ya harus dihukum. (2005, 120).


Dengan demikian, tuduhan "sadisme ilahi" runtuh, ketika dipahami bahwa hukuman itu adalah konsekuensi logis dari tabrakan antara dosa manusia dan kekudusan Allah. Namun, bagaimana jembatan menuju keselamatan itu dibangun? Pdt. Eka menegaskan, keselamatan kita tidak diperoleh lewat kompromi murahan yang mengabaikan keadilan, melainkan lewat penyerahan diri Kristus yang seutuhnya, "Kasih Allah itu dinyatakan dengan mengurbankan Putra-Nya sendiri, Yesus Kristus, sampai mati untuk kita. Dan karena kurban Kristus itu, karena kematian Kristus itu, karena darah Kristus itu, kita dibenarkan, bahkan dikatakan 'pasti akan diselamatkan'" (2005, 120).


Di tengah arus teologi modern yang kerap mengaburkan arti penting penebusan, kita perlu kembali kepada hakikat keselamatan di dalam Kristus, yang adalah ekspresi tertinggi dari kasih Allah. Di salib, keadilan Allah yang radikal dan kasih Allah yang radikal bertemu. Peristiwa penyaliban bukanlah cosmic/divine child abuse, seperti yang dituduhkan oleh kalangan Kristen Progresif. Pdt. Eka menegaskan, kita baru bisa melihat ngerinya kejatuhan manusia, justru ketika kita berdiri di bawah terang keselamatan Kristus, "Tetapi sebaliknya: karena saya terlebih dulu menyadari betapa besar anugerah Allah, betapa besar kasih Allah, betapa besar makna penyelamatan Allah di dalam Yesus Kristus, barulah saya menyadari betapa celakanya saya, betapa dalamnya saya telah jatuh ke dalam dosa" (2005, 55).


Ketegasan teologis yang kaku, tetapi penuh anugerah dari Pdt. Eka ini menemukan gaungnya yang sangat kuat dalam pengakuan Billy Graham, yang ia kutip secara mendalam. Pdt. Eka menggambarkan esensi kebenaran ini dari kacamata pribadi yang remuk di hadapan kekudusan Allah,


Billy Graham mengatakan dua hal. Pertama, lambang salib mengingatkan bahwa kita adalah orang-orang berdosa yang hanya pantas untuk dibinasakan oleh Allah. Semua kita, tidak ada yang terkecuali. Di hadapan manusia, o, saya mungkin dilihat sebagai orang baik, yang hebat. Tetapi di hadapan Allah? Nol! Setiap kali saya melihat salib itu, saya sadar, sayalah yang mestinya digantung di situ! Eka yang mestinya digantung di situ ... Tetapi kedua, kata Billy Graham, dan ini yang jauh lebih penting, salib mengingatkan kita akan kasih Kristus. Setiap kali saya menyadari betapa kotor, cemar, najis, dan berdosanya saya, dan saya menatap ke salib itu, saya mendengar Tuhan berkata, “Eka, benar engkau najis, engkau kotor, engkau pantas untuk binasa – tetapi Aku mencintaimu!” Salib adalah ibarat surat dari surga yang isinya tiga kata itu: I love you. God loves you! Allah mencintaimu! Kristus mencintaimu! (2005, 49).


Di tengah maraknya klaim Kristen Progresif yang menolak natur dosa manusia demi memelihara harga diri ego modern, Alisa Childers juga menjatuhkan dirinya di bawah kaki salib, dengan pengakuan eksistensial yang tajam,


I, Alisa Childers, am a sinner. I would call myself the worst of sinners if the title wasn’t already taken by the apostle Paul (see 1 Timothy 1:15). I know how deeply I’ve rebelled against God. I know how desperately I need a Savior. This is why the Cross is so precious to me. This is why an attack on the Cross is an attack on the very core of what it means to be a Christian. As we’ll see, an attack on the Cross is an attack on the nature of God himself (2020, 201).


Melalui penjajaran dua pemikiran di atas, kita dapat melihat benang merah iman historis yang tak terputus. Baik Pdt. Eka maupun Childers sepakat, salib tidak akan pernah menjadi "manis" dan "berharga", jika manusia menolak mengakui betapa "pahit" dan "menjijikkannya" pemberontakan radikal mereka terhadap Allah. Menyerang keabsahan fungsi yudisial salib Kristen, bagi Childers, bukan sekadar perdebatan teoretis, melainkan sebuah serangan langsung terhadap karakter moral Allah serta identitas esensial dari Kekristenan itu sendiri.


Melalui analisis ini, ketiganya menunjukkan, peristiwa salib adalah titik balik ketika Allah mengubah tempat penghukuman menjadi tempat rekonsiliasi yang sah secara hukum moral kosmis. Landasan pembenaran legal oleh darah tebusan Kristus ini dirumuskan secara gamblang dalam surat Roma, "Dan oleh anugerah-Nya telah dibenarkan dengan cuma-cuma melalui penebusan dalam Kristus Yesus. Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian melalui iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan kebenaran-Nya ..." (Roma 3:24-25a).


Dalam kerangka CFRC, penebusan hanya dapat dipahami dengan benar, apabila diawali dengan pengakuan akan kejatuhan manusia dalam dosa. Karena itu, keselamatan bukanlah tindakan Allah yang tanpa biaya, melainkan karya penebusan yang menuntut pengurbanan Anak-Nya sendiri. Pdt. Dr. Eka menjelaskan,


Tetapi jangan salah sangka! Keselamatan itu cuma gratis untuk kita, tetapi sama sekali tidak gratis untuk Tuhan. Tuhan harus membayar “biaya” yang amat tinggi untuk keputusan-Nya sendiri itu. “Semua telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus,” kata Paulus. Yesus adalah “penebus” sekaligus “tebusan”! “Imam” sekaligus “kurban” (Ibr. 7:27) (2005, 510).


4. Consummation/Restoration (Pemulihan Akhir): Kemenangan Atas Kekerasan


Salib tidak boleh berhenti di hari Jumat Agung; ia bergerak menuju Paskah dan berujung pada consummation atau restoration (langit dan bumi yang baru). Di masa depan, Allah akan memulihkan seluruh ciptaan, dan menghapuskan segala bentuk kekerasan, dosa, dan maut untuk selamanya. Baik James Sire, Sen Senjaya, maupun Alisa Childers sepakat, redemption membuka pintu gerbang bagi fase final sejarah kosmis ini. Sire menyebut fase ini sebagai glorification, sebuah kondisi ketika pemulihan gambar Allah mencapai titik sempurnanya (Sire, 36). Senjaya menggunakan istilah “penciptaan kembali” untuk menggambarkan resolusi akhir dari drama kosmis ini, “Ia akan kembali untuk memperbarui segala ciptaan, menghapus kejahatan, serta memulihkan kedamaian dan keadilan di dunia" (2020, 233). Sementara itu, Childers menekankan, “pemulihan kosmis ini adalah muara dari seluruh rencana Allah, ketika Injil pada akhirnya menggenapi tujuannya untuk "redeem and restore, mankind" (2020, 88).


Di atas salib, seluruh murka Allah yang adil terhadap kekerasan dan dosa manusia telah ditumpahkan dan diselesaikan. Karena itu, salib adalah fondasi dari consummation. Joseph Ratzinger menegaskan, salib tidak hanya menyelesaikan persoalan dosa manusia, tetapi juga menjadi pusat sejarah keselamatan. Melalui salib dan kebangkitan Kristus, Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya, mengatasi akibat-akibat destruktif dosa, dan mengarahkan kembali seluruh sejarah manusia kepada maksud serta tujuan penciptaan-Nya. Karena itu, Ratzinger menyatakan, “His Cross and his exaltation is the Day of Atonement for the world, in which the whole of world history—in the face of all human sin and its destructive consequences—finds its meaning and is aligned with its true purpose and destiny” (2023, 79).


Baginya, tanpa salib dan kebangkitan fisik yang nyata, tidak akan pernah ada arah sejarah dunia menuju pemulihan akhir. Kebangkitan Kristus membuktikan, salib bukanlah akhir kekerasan yang tragis, melainkan alat penakluk kekerasan itu sendiri, untuk menyongsong pemulihan akhir semesta. Gambaran eskatologis mengenai pemulihan total tanpa maut dan air mata ini dinarasikan dalam Kitab Wahyu, "Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi. Tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu" (Wahyu 21:4).

 

Pengakuan Iman GKI vs. Gugatan Ioanes Rakhmat


Jemaat Gereja Kristen Indonesia (GKI) perlu menyadari, kerangka berpikir CFRC ini bukanlah sebuah konsep teologis eksternal yang asing. Alur narasi besar ini terpatri kuat, baik secara tersurat maupun tersirat dalam Tata Gereja GKI, seperti Mukadimah Tata Gereja GKI, Katekismus Heidelberg, serta Pemahaman Bersama Iman Kristen (PBIK) dari PGI.


Persoalan mengenai fondasi cara pandang Kristen (Christian Worldview) ini sebelumnya telah saya bahas pada tahun 2017, dalam artikel “Adakah Christian Worldview di GKI?”, khususnya mengenai bagaimana kerangka teologis CFRC tersirat di dalam Mukadimah Tata Gereja GKI https://gkigadingserpong.org/artikel/opini/adakah-christian-worldview-di-gki-2.


Namun, pengajaran resmi ini berseberangan secara diametral dengan pandangan Progresif-radikal, yang diusung oleh mantan pendeta GKI, Ioanes Rakhmat. Dalam bukunya, Membedah Soteriologi Salib, Ioanes meluncurkan gugatan tajam, yang secara radikal menolak keabsahan karya penebusan salib, dengan menuduh Allah melakukan kekerasan terhadap Anak-Nya,


Jika dosa adalah suatu tindak kekerasan melawan Allah dan melawan sesama manusia, apakah tindak kekerasan yang Allah lakukan terhadap Yesus Kristus (dengan mengharuskannya menempuh jalan sengsara dan akhirnya mengurbankannya di kayu salib) bisa menghapus dosa manusia? ... Bukankah dosa yang dibuat Allah ketika Dia mengurbankan Yesus, Anak-Nya, tidak bisa menghapus dosa yang dibuat manusia? (2010, 18).


Menurut Ioanes, soteriologi salib menunjukkan, atas kehendak dan perintah Allah, Yesus sengaja disiksa dan

dibunuh secara biadab di kayu salib, untuk menanggung hukuman yang seharusnya ditimpakan kepada manusia. Tujuannya adalah agar manusia luput dari murka Allah dan memperoleh keselamatan.


Ia juga menyatakan, kebangkitan Yesus—sebagai kemenangan atas maut—mensyaratkan Yesus terlebih dahulu mengalami penderitaan dan perlakuan tidak adil. Allah memang menghendaki Yesus menempuh via dolorosa (jalan penderitaan) untuk menanggung hukuman manusia, dan melalui kebangkitan-Nya, Allah membenarkan semua penderitaan yang telah dialami Yesus tersebut.


Gugatan radikal ini dibedah secara kritis oleh Pdt. Joas Adiprasetya, dalam bukunya, Berdamai dengan Salib: Membedah Ioanes Rakhmat dan Menyapa Umat. Adiprasetya (2010, 133-136) menjelaskan metodologi yang digunakan oleh Ioanes Rakhmat dalam mereduksi makna salib. Menurut Pdt.Joas, Ioanes mengandalkan pendekatan psikologis, yang mengklaim doktrin keselamatan salib yang sarat dengan metafora kekerasan sebenarnya hanyalah sebuah upaya legitimasi, justifikasi, atau rasionalisasi dari jemaat Kristen awal. Dalam sudut pandang Ioanes tersebut, rumusan teologi salib terlahir dari guncangan psikologis dan tekanan mental yang masif yang melanda para murid, akibat menyaksikan kematian Yesus yang begitu tragis di atas kayu salib.


Lebih jauh lagi, Pdt. Joas juga membongkar adanya persoalan etis yang mendasar, terkait integritas posisi Ioanes Rakhmat dalam institusi gereja tradisional, yang telah membesarkan dan memberikan jabatan kependetaan kepadanya. Pdt. Joas mengingatkan para pembaca kritis, meskipun Ioanes telah berstatus sebagai seorang pendeta emeritus (purnabakti), status tersebut sama sekali tidak menghapuskan tanggung jawab teologis yang ia miliki. Ketika seseorang ditahbiskan menjadi pendeta, ia mengikatkan diri pada janji-janji pelayanan yang spesifik, termasuk komitmen pastoral untuk terus memelihara dan mengajarkan doktrin yang sesuai dengan Alkitab, serta dianut oleh gereja tempatnya bernaung.


Ia mempertanyakan bagaimana secara teologis Ioanes memaknai penganugerahan status kependetaan tersebut. Di satu sisi, ia bersedia hadir mengenakan berbagai simbol kependetaan dalam ibadah resmi sebuah komunitas Kristen yang memegang teguh kanon Alkitab, tetapi di sisi lain, secara sarkastik ia menolak simbol-simbol tersebut, serta terus mencaci-maki institusi gereja, yang pada dasarnya berdiri di atas dasar iman soteriologi salib Kristus, yang ia tolak.


Keberadaan seorang pendeta yang mengajarkan pandangan super-Progresif dan mendekonstruksi doktrin utama ini tentu memicu kebingungan masif di kalangan jemaat GKI dan jemaat di luar GKI, sebab pemikiran tersebut jelas-jelas bertabrakan dengan Tata Gereja GKI, yang bersumber pada Alkitab, hukum, serta peraturan GKI.


Pada 5 April 2007, Ioanes Rakhmat menulis artikel di Harian Kompas berjudul "Kontroversi Temuan Makam Keluarga Yesus", yang memicu kontroversi luas, karena ia secara terang-terangan menolak kebangkitan fisik Yesus secara historis-literal, dan mereduksinya sebagai metafora rohani. Dalam artikel tersebut, ia tidak mencantumkan atribut kependetaannya di GKI, melainkan sebagai dosen STT Jakarta—yang dipahami sebagai upaya berlindung di balik kebebasan akademik, bukan berbicara atas nama dogma gereja. Padahal, sebelum diutus Sinode GKI Jawa Barat sebagai pendeta tugas khusus untuk mengajar di STT Jakarta (1995–2008), Ioanes adalah pendeta jemaat di salah satu GKI di Jakarta.


Kebebasan akademik yang digaungkan tidak menutupi cacat etika, berupa hilangnya komitmen moral terhadap komunitas iman yang membesarkan dan mengutusnya. Seorang pelayan firman wajib memelihara doktrin sehat, bukan menghancurkannya. Pdt. Eka menegaskan, integritas adalah kesatuan antara ucapan dan tindakan—kredibilitas mutlak (2004, 69) seorang pemimpin rohani. Dalam konteks ini, tindakan Ioanes yang menyerang pokok iman GKI di ruang publik sekuler merupakan pengabaian nyata terhadap integritas pelayanan. Ketika janji penumpangan tangan tidak selaras dengan tindakan di mimbar akademik, kepemimpinan rohani itu telah gugur secara moral, sebelum gugur secara hukum gereja.


Pdt. Dr. J. L. Ch. Abineno dalam bukunya, Garis-Garis Besar Hukum Gereja, Pdt. Dr. E. P. Gintings dalam bukunya, Apakah Hukum Gereja, dan Pdt. Dr. Eka Darmaputera dalam pembahasan mereka mengenai hukum gereja/tata gereja, menegaskan tata gereja memiliki kedudukan yang sangat fundamental dalam kehidupan gereja. Bahkan, Pdt. Eka Darmaputera menganologikannya dengan kedudukan Undang-Undang Dasar 1945. Analogi ini menunjukkan, tata gereja bukanlah dokumen yang dapat diabaikan, melainkan dasar normatif yang mengikat seluruh pelayan gereja. Oleh karena itu, apabila seorang pendeta secara sadar mengabaikan batasan-batasan teologis yang telah disepakati gerejanya, persoalan tersebut bukan hanya menyangkut perbedaan pendapat teologis, tetapi juga menyangkut integritas etis dan tanggung jawab moral terhadap komitmen yang telah diterimanya sebagai pelayan gereja.


Gereja Kristen Indonesia (GKI) secara historis dikenal sebagai salah satu institusi gerejawi yang akomodatif terhadap pluralisme pemikiran. Di dalam tubuh GKI, spektrum teologi membentang luas dan hidup berdampingan secara damai, mulai dari corak konservatif yang menekankan teologi Reformed (Calvinis) klasik, hingga pendekatan teologi yang lebih progresif. Keberagaman sudut pandang (misalnya perbedaan metode penafsiran) biasanya tetap ditoleransi. Namun, ruang kebebasan mimbar dan akademik di GKI bukanlah sebuah ruang kosong tanpa batas. Konstitusi gereja, yang tertuang dalam Tata Gereja dan Tata Laksana (TGTL) GKI, secara implisit mendirikan "pagar teologis" berupa Pengakuan Iman Ekumenis (Pengakuan Iman Rasuli, Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel, dan Pengakuan Iman Atanasius) dan tradisi Reformed/Calvinis sebagai jangkar iman bersama. Keberagaman teologi di GKI diizinkan bertumbuh, selama ia tidak meruntuhkan fondasi tempat ia berdiri.


Pascaperilisan buku Membedah Soteriologi Salib pada tahun 2010, yang kian menegaskan penyimpangan teologisnya, Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) GKI akhirnya mengambil tindakan tegas, setelah melalui prosedur yang mengacu kepada Tata Gereja dan Tata Laksana GKI. Pada November 2010, BPMS GKI, yang saat itu dipimpin oleh Pdt. Robert Setio (Ketua Umum) bersama Pdt. Lazarus H. Purwanto (Sekum, yang kebetulan juga merupakan dosen hukum gereja di STT Jakarta), secara resmi menanggalkan jabatan kependetaan Ioanes Rakhmat di GKI.


Langkah disiplin gerejawi ini diambil agar jemaat luas mafhum dan mendapat kepastian. Ioanes diberhentikan bukan karena persoalan personal, melainkan karena pandangan dan ajaran imannya telah menyimpang secara fundamental dari Tata Gereja GKI. Seseorang tidak bisa menuntut hak mimbar kependetaan, jika ia secara aktif meruntuhkan fondasi iman dari gereja yang mengutusnya.


Keputusan tegas BPMS GKI pada November 2010 membuktikan, pengosongan makna salib dan penolakan terhadap realitas kejatuhan tidak memiliki tempat dalam pengakuan iman GKI. Menghadapi riak teologis ini, Pdt. Eka menegaskan secara eksplisit, salib bukanlah panggung drama kosmik, ketika Allah mempertontonkan kekejaman-Nya, melainkan bukti autentik dari penebusan mahal yang diserahkan Kristus secara sukarela. Salib adalah puncak kasih Allah.


Ia menggarisbawahi, identitas GKI adalah kristosentris. Kepercayaan bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juru Selamat dunia adalah harga mati yang non-negosiasional. Menanggapi distorsi pengajaran radikal yang mereduksi karya Kristus seperti ini, Pdt. Eka memberikan pembedahan yang sangat analitis mengenai sifat dasar penyesatan informasi spiritual. Ia mengidentifikasi adanya bahaya tersembunyi yang manipulatif di balik argumen-argumen yang sengaja dirancang untuk merongrong iman jemaat,


Di situ ada unsur kesengajaan mengatakan sesuatu yang tidak benar. Di situ ada maksud dan tujuan yang destruktif; niat untuk menghancurkan. Dan di situ ada bentuk penipuan yang sedemikian pintarnya, membuat korban sama sekali tidak menyadari bahwa sebenarnya ia sedang didustai atau diperdaya. (2005, 230).


Oleh karena itu, Pdt. Eka memberikan peringatan keras dan ajakan profetik bagi segenap umat Kristen untuk bersikap kritis, aktif, dan waspada terhadap siapa saja, termasuk figur pemimpin agama yang menyebarkan doktrin menyimpang. Kita jangan teperdaya oleh ajaran pendeta yang melenceng. Kita harus bersikap kritis untuk menyelidiki pengajaran pendeta tersebut dengan menggunakan tolak ukur Alkitab. Pdt Eka menulis,


Sebab banyak orang mengaku utusan Tuhan – tetapi kok ajarannya lain-lain, bahkan bertentangan satu dengan yang lain. Itu persoalan yang kita baca dalam ayat 21: Bagaimana kita tahu kalau ia menambah-nambah atau mengurangi firman Tuhan? Tidak ada jalan lain. Anda sendiri harus akrab bergaul dengan firman Tuhan. Harus mempelajari firman Tuhan (Darmaputera, 2005a, 63).


Gugatan Ioanes yang menyerang keabsahan peristiwa salib ini, dengan menyebut Allah "membuat dosa" dan "melakukan tindak kekerasan yang biadab", sebenarnya telah diantisipasi oleh Alkitab, yang sejak awal mengingatkan jemaat purba akan munculnya pengajaran-pengajaran spekulatif yang memutarbalikkan Injil keselamatan Kristus, "Aku heran bahwa kamu begitu lekas berbalik dari Dia yang dalam anugerah Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain, yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus." (Galatia 1:6-7)


Salib bukanlah sebuah kecelakaan sejarah, bukan pula panggung drama kosmik, ketika Allah mempertontonkan kekejaman-Nya. Salib adalah bukti autentik dari sebuah penebusan yang mahal, ketika Kristus dengan sadar dan sukarela menyerahkan diri-Nya untuk membayar lunas apa yang tidak mampu kita bayar. Dalam bukunya, Jalan Kematian, Jalan Kehidupan. Pdt. Eka menolak segala bentuk reduksi spekulatif terhadap peristiwa salib ini, dan menyatakan secara eksplisit,


Dari sudut Tuhan, mengampuni dosa manusia itu berat, mahal dan sulit! Ini harus kita ingat. Sebab untuk itu, Tuhan harus membayar dengan jiwa Anak-Nya sendiri! Untuk itu, Yesus “yang tidak berdosa harus dijadikan dosa ganti kita, memanggul salib dan mati di Golgota!'” Sebab itu jangan pernah kita mengatakan, pengampunan dosa itu enteng dan murah dan mudah! (2005, 45).


Oleh karena itu, dalam menyikapi tarikan teologis Progresif-radikal, yang mengaburkan ketuhanan Kristus, Pdt. Eka secara legasi menggariskan parameter yang kokoh bagi seluruh keluarga besar GKI. Beliau menegaskan, kristosentrisme bukanlah hal yang bisa ditawar,


Karena itu, dapat kita katakan identitas ajaran GKI adalah KRISTOSENTRIS – berpusat pada Kristus ... bahwa kepercayaan akan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat Dunia, merupakan harga mati, harga pas. Sampai kapan pun selama GKI adalah GKI, kepercayaan itu harus dipertahankan. Kita harus berdiri diatas kepercayaan itu (Darmaputera, 2004, 25).


Jika karena ketegasan teologis ini gereja dicap kuno, Pdt. Eka dengan berani memungkasi, “Yesus Tuhan dan Juru Selamat adalah harga mati. Kalau karena itu saya lalu dituduh eksklusif, silakan” (2004, 21).


Impak Penolakan CFRC: Lahirnya "Religious Nones" dan Keruntuhan Jemaat


Ketika teolog atau gereja Progresif menolak narasi CFRC—termasuk teologi salib, keilahian Kristus, dan otoritas Alkitab—mereka mendegradasi, bahkan menyingkirkan fase Fall dan redemption, melakukan lompatan langsung dari creation menuju consummation. Eksperimen sekuler ini melahirkan krisis eksistensial berupa fenomena religious nones (agnostik, ateis, dan "spiritual but not religious", yang sebagian besar adalah penganut New Age Movement). Bagi mereka, jika fondasi iman sudah hilang, untuk apa mengikatkan diri dengan gereja? Pada titik ini, gereja kehilangan keunikannya dan menjadi identik dengan humanisme sekuler.


Gereja-gereja Progresif, yang menukar kebenaran absolut Alkitab demi relevansi budaya kontemporer, pada akhirnya menuai kehancuran rohani dan numerik jemaatnya sendiri. Gejala penolakan terhadap doktrin sehat ini telah dinubuatkan oleh rasul Paulus, "Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng" (2Timotius 4:3-4).


Penelitian Rebekka King mencatat ironi teologi Progresif sebagai racun yang bekerja perlahan pada jemaat. Ketika John Spong hadir di George Street United Church, mempromosikan buku Jesus for Non-Religious, yang mendekonstruksi iman historis, sekitar delapan ratus orang memadati gedung, karena penasaran dengan argumennya, bahwa narasi tradisional Kekristenan tentang Yesus sudah keliru. “… in which he argues that the Christian narratives as it traditionally has been portrayed is wrong” (King, 2023, 82).


Namun, itu hanyalah ilusi pertumbuhan sesaat. Saat King menghadiri kebaktian Minggu rutin di gereja yang sama, untuk melihat kondisi nyata jemaat setelah terpapar pengajaran Progresif, ia mendapati pemandangan sangat kontras. Gedung itu tampak sepi, hanya dihadiri sekitar 80 – 100 orang—bukti keruntuhan jemaat secara nyata. “The attendance of approximately eighty to one hundred people was greater than I expected. Even with that number, the cavernous church appeared sparsely populated" (King, 2023, 38). 


Ini menjadi bukti empiris bahwa pengajaran Progresif Spong yang diadopsi oleh mereka yang menyebut “disciples of Spong” (King, 2023, 90) hanya sukses menarik massa untuk pameran intelektual, tetapi gagal total dalam membangun jemaat penyembah yang setia. Gedung gotik raksasa yang dulu menjadi episentrum rohani kini kosong dan sepi.


Penelitian lapangan King mencatat ironi besar. Kelompok orang yang meninggalkan iman dan menjadi sekuler atau nones justru paling banyak lahir dari kalangan Kristen moderat dan Progresif, yang telah membuang teologi tradisional mereka. Hal ini ditegaskan Yancey & Quosigk, orang Kristen yang beralih menjadi nones cenderung berasal dari Kristen moderat/Progresif, bukan dari Kristen konservatif (2021, 214).


Di West Hill United Church, seorang jemaat bernama Pauline bangga memiliki pendeta Gretta Vosper, yang menjadi sorotan publik dan terpilih sebagai salah satu dari empat puluh wanita paling berpengaruh di Kanada (2009). Namun di balik popularitas itu, Pauline kecewa karena kondisi gereja justru sepi dan tidak dipenuhi jemaat, tanpa ia tahu pasti penyebabnya.


Fakta tak terbantahkan, ketika West Hill United Church bergeser sepenuhnya ke teologi ateis, jemaat mengalami penurunan drastis, karena kehilangan makna iman sejati. King mengamati eksodus jemaat. Sebagian anggota pergi ke gereja United Church lain karena tidak nyaman dengan sikap ateis gereja tersebut. “This departure signified a growing discomfort with the church’s atheist stance" (2023, 56). 


King mencatat adanya perpecahan nyata di West Hill United Church akibat penolakan terhadap ajaran salib, yang memicu ketegangan dan perpecahan internal. Banyak jemaat memilih pindah ke United Church lain, yang masih mempertahankan iman historis, atau ke gereja-gereja konservatif, karena menilai West Hill telah "terlalu jauh" meninggalkan praktik dan bahasa keagamaan Kristen tradisional. Saat penelitian King dilakukan, gereja tersebut hanya memiliki 145 anggota. Seorang jemaat bernama Bill menggambarkan situasi itu dengan jujur, "We're in a very stressful situation; we've lost a lot of membership" (2023, 61), sementara jemaat lain, Hedy, mengungkapkan ketidakpastian dan kegelisahannya terhadap masa depan West Hill United Church.


Sam Hailes, dalam artikelnya "Bart Campolo Says Progressive Christians Turn into Atheists. Maybe He's Right", mengutip pernyataan Bart Campolo—seorang tokoh yang mengidentifikasi dirinya dengan Progressive Christianity—yang memperkirakan bahwa sekitar empat puluh persen penganut Progressive Christianity pada akhirnya akan menjadi ateis. Campolo berpendapat, bagi sebagian orang, Progressive Christianity hanyalah fase transisi sebelum meninggalkan iman Kristen sepenuhnya. Jika prediksi tersebut terbukti, fenomena itu berpotensi menimbulkan efek berantai (snowball effect) yang semakin mempercepat penurunan jumlah jemaat.


GKI sendiri mengakui, salah satu tantangan yang dihadapi gereja masa kini adalah berkembangnya agnostisisme dan ateisme (Tata Gereja GKI, 2023, 15). Pengalaman kedua gereja tersebut menjadi peringatan yang patut dicermati oleh gereja-gereja, agar waspada terhadap pengaruh teologi Kristen Progresif. Ketika pemberitaan dari mimbar mulai mengesampingkan pokok-pokok iman Kristen dan tradisi Alkitabiah demi memperoleh penerimaan dalam budaya sekuler, yang terjadi bukanlah pertumbuhan rohani jemaat, melainkan meningkatnya perpecahan internal serta melemahnya daya hidup gereja, yang pada akhirnya dapat mengarah pada kemunduran, bahkan kepunahan gereja.


Kekristenan Progresif di Indonesia belum redup—gerakannya justru bermutasi dan mencari celah baru. Ketika Ioanes Rakhmat dicabut jabatan kependetaannya, jemaat cenderung lengah dan menganggapnya sekadar pemikir bebas dari luar sistem gereja. Kewaspadaan kembali diuji pada Maret 2024, ketika Brian Siawarta secara terbuka memproklamasikan diri sebagai Kristen Progresif. Pernyataan-pernyataannya yang bertentangan dengan iman historis memicu kontroversi besar, hingga ia mengundurkan diri dari jabatan pendeta di sinodenya. Fenomena ini membuktikan, riak teologi Progresif masih sangat aktif dan terus mengintai gereja-gereja di Indonesia.


Peringatan Pdt. Eka Darmaputera: Perjuangan "Ecclesia Militans" Melawan Musuh dari Dalam


Fakta sejarah runtuhnya jemaat gereja akibat infiltrasi teologi radikal sekuler ini menjadi alarm keras bagi kita. Bagi jemaat GKI, Pdt. Dr. Eka jauh-jauh hari telah memberikan warisan pesan profetik yang sangat krusial mengenai esensi gereja di dalam dunia. Ia mengingatkan, gereja di bumi bukanlah institusi yang steril dari serangan dogma-dogma yang merusak, melainkan sebuah medan pertempuran doktrinal yang aktif.


Tantangan terbesar gereja sering kali bukan penindasan dari luar, melainkan penyimpangan internal. Hal ini selaras dengan peringatan keras rasul Paulus kepada para penatua di Efesus mengenai ancaman internal pasca-kepergiannya, "Aku tahu bahwa sesudah aku pergi, serigala-serigala yang ganas akan masuk ke tengah-tengah kamu dan tidak akan menyayangkan kawanan itu. Bahkan dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang, yang dengan ajaran palsu berusaha menarik murid-murid supaya mengikut mereka." (Kisah Para Rasul 20:29-30).


Prinsip kewaspadaan rasuli inilah yang dihidupkan kembali oleh Pdt. Eka Darmaputera, ketika menjelaskan natur gereja di dunia. Esensi kebenaran Injil membutuhkan keberanian eksistensial yang ekstrem, sebuah sikap berjaga-jaga, murid Kristus tidak boleh gentar menghadapi penderitaan demi tegaknya kebenaran ortodoks, "… bila perlu, ikhlas dipaku demi kebenaran." (2004, 61).


Kesediaan untuk "ikhlas dipaku" ini menjadi karakter utama dari ecclesia militans yang sesungguhnya, ketika diperhadapkan kepada kompromi zaman. Mengenai kedudukan teologis gereja ini, Pdt. Eka menerangkan,


Di dalam dogmatika (ilmu yang mempelajari dogma-dogma gereja) dikatakan, bahwa selama masih ada di dalam dunia ini, dan selama isinya adalah manusia-manusia seperti saya dan Anda, maka gereja itu sebagai ecclesia militans, artinya, gereja yang berjuang dan berperang. Berjuang dan berperang melawan musuh-musuh yang datang dari luar, tetapi terutama melawan musuh-musuh dalam selimut, yang terus-menerus berusaha merongrong gereja dari dalam (2005, 36–37).


Pandangan-pandangan Progresif-sekuler yang mereduksi pengurbanan Kristus di kayu salib menjadi sekadar "kekerasan kosmik", "divine sadism", atau "dosa yang dibuat Allah"—sebagaimana yang dituliskan oleh Ioanes Rakhmat dan Brian Zahnd—adalah contoh nyata dari "musuh dalam selimut" teologis, yang sedang merongrong gereja dari dalam jemaat itu sendiri. Pdt. Eka selanjutnya menerangkan, "Selama gereja itu masih ecclesia militans, tidak ada gereja yang ideal. Gereja yang ideal adalah ecclesia triumphans, gereja yang menang. Tetapi ecclesia triumphans itu baru ada nanti, setelah Yesus datang kembali" (Darmaputera, 2005, 37).


Oleh karena itu, tugas jemaat GKI hari ini sebagai bagian dari ecclesia militans adalah terus bertempur menjaga kemurnian dogma Kristen, tidak berkompromi dengan pengosongan makna salib, dan setia memegang kebenaran firman di tengah gempuran zaman, tetap setia kepada firman Allah yang tidak berubah, di tengah-tengah dunia yang terus berubah.


Kesimpulan: Kebodohan bagi yang Binasa, Kekuatan bagi yang Diselamatkan


Sebagai warga GKI, kita tidak perlu terjebak dalam perdebatan mengenai ada tidaknya istilah-istilah seperti original sinpenal substitutionary atonementtotal depravity, kristosentris, atau biblical inerrancy di dalam Alkitab maupun Tata Gereja GKI. Memang, istilah-istilah tersebut bukanlah terminologi resmi. Namun, sejak gereja mula-mula, berbagai rumusan teologis telah digunakan untuk merangkum dan menjelaskan ajaran Alkitab secara sistematis. Karena itu, yang perlu diuji bukanlah keberadaan istilah, melainkan kesetiaan konsep teologis yang diwakilinya terhadap keseluruhan kesaksian Alkitab. Jangan biarkan perdebatan terminologi mengalihkan perhatian kita dari substansi ajaran Alkitab itu sendiri.


John Shelby Spong dan Ioanes Rakhmat telah meninggal dunia pada tahun 2021 dan 2025, tetapi pemikiran mereka masih memengaruhi sebagian kalangan Kristen Progresif. Sebaliknya, Pdt. Dr. Eka Darmaputera telah kembali ke rumah Bapa pada tahun 2005, tetapi warisan teologisnya tetap menjadi berkat bagi gereja dalam mempertahankan iman yang berakar pada kesaksian Alkitab. Karena itu, yang menentukan bukanlah apakah seorang tokoh masih hidup, melainkan apakah ajarannya setia kepada Injil yang diberitakan para rasul.


Semasa hidupnya, Pdt. Eka Darmaputera, dosen STT Jakarta yang mengampu mata kuliah etika, dikenal sebagai seorang pemikir Kristen yang sangat menaruh perhatian pada moralitas, norma, nilai-nilai etika, dan integritas. Beliau mengingatkan, kualitas iman tidak diukur hanya dari kecakapan berteologi atau kemampuan berargumentasi, tetapi terutama dari kesetiaan menjalani kehidupan yang mencerminkan kebenaran, kejujuran, tanggung jawab, dan karakter Kristiani. Dalam konteks itu, integritas teologis menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari integritas moral. Sebab, teologi yang sehat bukan hanya menghasilkan pemahaman yang benar tentang Allah, tetapi juga membentuk kehidupan yang taat kepada firman-Nya. Karena itu, pemikirannya tetap relevan sebagai pengingat, bahwa teologi yang sehat semestinya melahirkan kehidupan yang berintegritas.


Melalui kerangka CFRC—yang tersirat dalam Tata Gereja GKI dan diperkuat oleh analisis Ratzinger, Childers, Sire, dan Senjaya—tuduhan cosmic child abuse tidak berdasar jika seluruh narasi Alkitab dibaca secara utuh. Studi di Barat menunjukkan korelasi antara reduksi doktrin inti (termasuk makna salib) dengan penurunan jemaat dan meningkatnya religious nones. Meskipun faktor penyebabnya kompleks, kecenderungan ini patut menjadi refleksi bagi gereja.


Membuang salib demi kenyamanan intelektual tidak menghasilkan pembaruan rohani, melainkan mengosongkan inti Injil. Penolakan terhadap salib adalah konsekuensi dari direduksinya atau ditolaknya unsur Fall dalam kerangka CFRC. Ketika realitas dosa, kejatuhan manusia, dan murka Allah tidak lagi diakui, kebutuhan akan redemption melalui pengurbanan Kristus kehilangan makna. Akibatnya, narasi Alkitab terpecah: Creation kehilangan penjelasan kerusakannya, Fall direduksi menjadi ketidaksempurnaan, redemption menjadi teladan moral semata, dan consummation kehilangan makna sebagai pemulihan final. Padahal, keempat pilar ini merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Tanpa Fall, tidak ada alasan bagi redemption; tanpa redemption, pengharapan akan consummation kehilangan fondasi.


Dengan demikian, perdebatan mengenai makna salib pada akhirnya bukan sekadar persoalan memilih model penebusan tertentu, melainkan menyangkut apakah gereja masih setia kepada narasi besar Alkitab tentang penciptaan, kejatuhan, penebusan, dan penggenapan (CFRC). Karena itu, bagi iman Kristen yang setia kepada kesaksian Alkitab, pemberitaan tentang salib bukanlah doktrin yang dapat dinegosiasikan, melainkan pusat Injil dan jantung karya penebusan Allah dalam sejarah. Sebagaimana ditegaskan Rasul Paulus, "Sebab, pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang menuju kebinasaan, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah" (1Korintus 1:18).

 

Daftar Pustaka dan Catatan Sitasi

Abineno, J.L.Ch. 2009. Garis-Garis Besar Hukum Gereja. BPK Gunung Mulia, Jakarta

Alkitab. 2023. Alkitab Terjemahan Baru Edisi Kedua. Lembaga Alkitab Indonesia, Jakarta

BPMS GKI. 2009. Tata Gereja dan Tata Laksana Gereja Kristen Indonesia. PT. Adhitya Andrebina Agung, Jakarta.

BPMS GKI. 2023. Tata Gereja dan Tata Laksana Gereja Kristen Indonesia. PT. Adhitya Printing, Jakarta.

Blocher, Henry. 2000. Original Sin: Illuminating The Riddle. Inter Varsity Press, USA.

St. Augustine. 2018. A Treatise on the Grace of Christ, and on Original Sin. Lighthouse Publishing, USA.

Chalke, Steve & Alan Mann. 2003. The Lost Message of Jesus. Zondervan, USA.

Childers, Alisa. 2020. Another Gospel?: A Lifelong Christian Seeks Truth in Response to Progressive Christianity. Tybdle House Publisher, USA.

Craig, William Lane. 2020. Atonement and the Death of Christ: An Exegetical, Historical, and Philosophical Exploration. Baylor University Press, USA.

Darmaputera, Eka. 2004b. Identitas GKI di dalam Hodos: GKI di Tengah Kepelbagaian Ajaran. Kelompok Kerja pembinaan GKI Jabar, Jakarta.

Darmaputera, Eka. 2004c. 2004. Tuhan Ajarlah Kami Berdoa.Glorian Graff, Yogyakarta.

Darmaputera, Eka. 2005a. Iman dan Tantangan Zaman: Khotbah-Khotbah tentang Menyikapi Isu-Isu Aktual Masa Kini. BPK Gunung Mulia, Jakarta.

Darmaputera, Eka. 2005b. 365 Anak Tangga Menuju Hidup Berkemenangan. BPK Gunung Mulia, Jakarta.

Darmaputera, Eka. 2005c. Spiritualitas Siap Juang. BPK Gunung Mulia, Jakarta

Darmaputera, Eka. 2005d. Tegak Sebab Didirikan di Atas Batu. BPK Gunung Mulia, Jakarta.

Darmaputera, Eka. 2005e.  Jalan Kematian, Jalan Kehidupan. BPK Gunung Mulia, Jakarta.

Darmaputera, Eka. 2005f. Menyembah dalam Roh dan Kebenaran: Khotbah-Khotbah tentang Kehidupan Beribadah dan Bergereja yang Kontekstual. BPK Gunung Mulia, Jakarta.

Darmaputera, Eka. 2005g. Sepuluh Perintah Allah – Museumkan Saja?: Sebuah Uraian Populer tentang Relevansi Dasa Titah di Masa Kini. Gloria Graffa, Yogyakarta.

Darmaputera, Eka. 2005h. Tatkala Allah Melawat Umat-Nya: Khotbah-Khotnah tentang Adven dan Natal. BPK Gunung Mulia, Jakarta.

Gintings E.P. 2009. Apakah Hukum Gereja. Jurnal Info Media, Bandung.

Gulley, Philip dan Mulholland, James. 2004. If Grace is True: Why God Will Save Every Person. Harper One, USA.

Grudem, Wayne A. 2022. Christian Belief: Twenty Basics Every Christian Should Know. Zondervan Academic, USA.

Hailes, Sam. 2017.  "Bart Campolo says progressive Christians turn into atheists. Maybe he's right." Diakses 02 Oktober 2025. https://www.premierchristianity.com/home/bart-campolo-says-progressive-christians-turn-into-atheists-maybe-hes-right/3759.article

Jones, Tony. 2015. Did God Kill Jesus?: Searching for Love in History’s Most Famous Execution. HarperCollins, USA.

King, Rebekka. 2023. The New Heretics: Skepticism, Secularism, and Progressive Christianity. New York University Press. USA.

Koukl, Gregory. 2017. The Story Reality, How the World Began, How It Ends, and Everything Important that Happens in Between. HarperCollins, USA.

Meyers R. Robin. 2009. Saving Jesus from the Church: How to Stop Worshiping Christ and Start Following Jesus. HarperOne, USA.

Piipo, John. 2021. Deconstucting Progressive Christianity. Independently Published, USA.

Rakhmat, Ioanes. 2010. Membedah Soteriologi Salib. Borobudur Indonesia Publishing, Jakarta

Ratzinger, Joseph (Pope Benedict XVI). 2023. Jesus of Nazareth: Holy Week: From the Entrance into Jerusalem to the Resurrection. Ignatius Press, USA.

Rohr, Richard. 2019. The Universal Christ: How a Forgotten Reality Can Change Everything We See, Hope for, and Believe. SPCK Publishing, USA.

Sendjaya, Sen. 2020. Leadership Reformed (Reformasi Kepemimpinan): Mengapa Pemimpin Membutuhkan Injil untuk Mengubah Dunia. Literartur Perkantas Jatim.

Sire, James W. 1988. The Universe Next Door. InterVarsity Press, USA

Spong, John Shelby. 2005. The Sins of Scripture: Exposing the Bibles’s Texts of Hate to Reveal the God of Love. HarperCollins, USA

Spong, John Shelby. 2007. Jesus for the Non-Religious. HarperOne, USA

Strachan, Owen. 2021. How the Social Justice Movement is Hijacking the Gospel – and the Way to Stop It. Salem Books, USA.

Yancey, George & Quosigk, Ashlee. 2021. One Faith No Longer: The Transformation of Christianity in Red and Blue America. New York University, USA.

Young, David. 2019. A Grand Illusion: How Progressive Christianity Undermines Biblical Faith. Renew, USA

Zahnd, Brian. 2017. Sinners in the Hands of a Loving God: The Scandalous Truth of the Very Good News. Penguin Random House, USA.

Comments


bottom of page