top of page

Menyikapi Fenomena Fatherless: Sebuah Perspektif dari Sisi Psikologis dan Teologis

  • Majalah Sepercik Anugerah
  • 20 hours ago
  • 4 min read

Menyikapi Fenomena Fatherless: Sebuah Perspektif dari Sisi Psikologis dan Teologis (sumber: unsplash.com)
Menyikapi Fenomena Fatherless: Sebuah Perspektif dari Sisi Psikologis dan Teologis (sumber: unsplash.com)

Fenomena Fatherless merupakan isu yang hangat dibicarakan di masa kini. Fenomena ini menggambarkan tumbuh kembang seorang anak tanpa kehadiran seorang ayah, bukan hanya secara fisik, melainkan juga secara emosi dan psikologis.


Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) BPS bulan Maret 2024 mencatat, terdapat sekitar 15,9 juta anak di Indonesia hidup tanpa peran aktif seorang ayah. Sebanyak 72% di antaranya memiliki ayah yang bekerja lebih dari 60 jam per minggu, dan sisanya hidup dalam keluarga tanpa ayah. Berdasarkan kondisi tersebut, Indonesia menempati urutan ketiga sebagai fatherless country.


Berbicara mengenai kehadiran ayah, berarti berbicara mengenai pengasuhan. Pengasuhan dilakukan oleh orang yang bertanggung jawab terhadap seorang anak, yaitu orang tua, yang terdiri dari ayah dan ibu. Menurut KBBI, asuh memiliki beberapa definisi, pertama ialah merawat dan mendidik anak; kedua, membimbing (membantu, melatih, dsb); dan ketiga, memimpin. Artinya, kedua orang tua bertanggung jawab menjalankan seluruh aspek dari definisi asuh tersebut. 


Sayangnya, realitanya berbeda. Peran pengasuhan sering kali dikotak-kotakkan. Misalnya,

para ibu bertugas untuk merawat (memberi makan, memandikan, mengurus keseharian anak, dll.), sedangkan para ayah bertugas mencari nafkah untuk kebutuhan pendidikan anak. Tak jarang, kesibukan dalam pekerjaan menjadi kendala bagi para ayah untuk dapat hadir secara penuh bagi anak. Indonesia menganut budaya patriarki yang cukup kuat. Laki-laki, sebagai kepala keluarga memiliki stereotipe tertentu, seperti peran sebagai penanggung jawab ekonomi keluarga, pengambil keputusan, serta partisipasi dalam ranah publik. Hal ini menyebabkan adanya anggapan, adalah lumrah jika seorang ayah tidak hadir dalam pengasuhan, karena ia harus berfokus pada peran lain yang berbeda, dalam menopang keluarga. 


Berdasarkan penelitian dalam ilmu psikologi yang dilakukan oleh Cimino, et al., dalam “Fathers as Key Figures Shaping the Foundations of Early Childhood Development: an Exploratory Longitudinal Study on Web-Based Intervention”; Puglisi, et al., dalam “Father Involvement and Emotion Regulation during Early Childhood: a Systematic Review (2024); serta Reis, et al., dalam “Fathers’ Engagement in Parenting Programs: a Systematic Review Study (2025), disimpulkan ada tujuh aspek besar dalam tumbuh kembang anak, yang dipengaruhi secara signifikan oleh kehadiran seorang ayah, di antaranya: kemampuan berpikir, kestabilan emosi, keterampilan sosial, regulasi diri, rasa aman ketika berhubungan dengan orang lain, pembentukan identitas (termasuk identitas gender), serta kesehatan mental anak secara jangka panjang. Artinya, kehadiran ayah berperan dalam seluruh aspek kehidupan anak di sepanjang masa tumbuh kembangnya. Ayah dan ibu memang memiliki natur dan peran yang berbeda, tetapi dibutuhkan harmoni dari keduanya, untuk saling melengkapi dalam pengasuhan anak. 


Ilmu psikologi saat ini semakin menyoroti pentingnya kehadiran dan keterlibatan ayah dalam

pembentukan kepribadian dan kesehatan mental anak. Ayah memiliki posisi signifikan dalam keluarga, yaitu sebagai pemimpin kehidupan spiritualitas. Efesus 6:4 berbunyi, “Hai Bapak-bapak, janganlah bangkitkan kemarahan anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.” Dengan jelas, Tuhan meminta ayah menjadi teladan bagi anak, untuk memperkenalkan kompas kehidupan, yaitu firman Tuhan. 


Tanpa kehadiran nakhoda yang mengendalikan kemudi, kapal akan terombang-ambing kehilangan arah, bahkan para awak di dalamnya dapat terlempar ke laut. Demikian pula, nilai dan identitas di dalam Tuhan sebagai fondasi perkembangan anak akan mudah tergoyahkan, bila sang ayah tidak terlibat di dalam keluarga. Anggota-anggota keluarga rentan terbawa arus dunia, sibuk mencari “rumah” dengan versinya masing-masing. Identitas diri, nilai, bahkan arah hidup menjadi kabur, membuka celah bagi nilai-nilai di luar firman untuk merasuk. Kondisi kesehatan mental pun terancam. Terlebih lagi, arus informasi di era digital saat ini bagaikan ombak dan badai yang dapat dengan cepat menggoyang nilai kebenaran.


Penelitian dari Culpin, dalam “Father Absence and Trajectories of Offspring Mental Health Across Adolescence and Young Adulthood: Findings from a UK-birth Cohort (2022); Nafisah, dalam “The Impact of Father Involvement in the Early Childhood Problematic Behavior (2023); Annor, dalam “Parental Absence as an Adverse Childhood Experience among Young Adults in Sub-Saharan Africa (2024); dan Alemu, dalam “Better than My Father or Better than His Absence: Understanding How Variation in Patterns of Absence Influence Intentions for Fatherhood (2025) secara konsisten menemukan, anak-anak yang tumbuh dalam keluarga fatherless rentan mengalami depresi, kecemasan, terlibat dalam perilaku bermasalah, penurunan capaian pendidikan atau performa kerja, serta penurunan kepercayaan diri. Bahkan, analisis jangka panjang menunjukkan, kondisi yang sama berpotensi terulang, menjadi rantai warisan luka. Ketika anak tersebut berkeluarga, karena tidak mendapatkan panutan yang baik untuk menjadi orang tua (baik ayah maupun ibu), ia dapat mengulang pola yang sama.


Lalu, bagaimana seharusnya? Keterlibatan ayah bukan berarti ia harus selalu hadir setiap hari, ataupun harus berinteraksi bersama pasangan dan anak setiap saat. Menjadi ayah adalah salah satu dari berbagai peran yang dipunyai seorang laki-laki yang sudah berkeluarga. Setiap peran perlu dijalankan secara maksimal, baik sebagai seorang pekerja atau pengusaha, suami, ayah, pelayan di gereja, maupun sebagai seorang anak. Menjalani berbagai peran secara bersamaan tentu tidak mudah. Semua peran membutuhkan waktu tersendiri. Dibutuhkan hikmat dan kebijaksanaan untuk mengatur, agar setiap peran dapat dijalankan dengan baik. Oleh karena itu, keterlibatan ayah tidak dapat diukur hanya dari seberapa banyak waktu yang dihabiskannya bersama anak, melainkan bagaimana waktu tersebut digunakan. 


Rolle, dalam “Father Involvement and Cognitive Development in Early and Middle Childhood: A Systematic Review (2019) dan Robinson, dalam “A Systematic Review of Father–Child Play Interactions and the Impacts on Child Development (2021) menemukan, kualitas interaksi dengan anak jauh lebih berdampak dibandingkan kuantitasnya (durasinya). Kualitas interaksi mengacu pada bagaimana seorang ayah dapat hadir secara utuh, baik jiwa maupun raga, selama beraktivitas dengan anak – yaitu dengan merespons dengan hangat dan penuh kasih, tetapi tetap mendidik, khususnya dalam kebenaran firman Tuhan. Kemajuan teknologi dan internet dalam era digital bisa dimanfaatkan sebagai media kehadiran ayah untuk anaknya, sehingga ruang dan waktu tidak lagi menjadi penghalang dalam membangun kualitas interaksi yang baik dengan anak.


Mengemban berbagai peran dan tanggung jawab sekaligus tidaklah mudah. Ekspektasi dan tuntutan yang tinggi, juga stereotipe “ayah harus selalu kuat” mungkin sering menutup ruang bagi para ayah untuk menumpahkan rasa lelah, sedih, ataupun cemas. Namun ingatlah, para ayah pun memiliki ayah. Bukan hanya ayah biologis yang ada di dunia ini, tetapi juga Bapa yang Kekal, Sang Sumber Kekuatan. Dialah teladan seorang Bapa yang sempurna. Para ayah, sandarkanlah seluruh lelah, sedih, dan cemasmu kepada Sang Bapa! Datanglah seperti seorang anak yang sedang membutuhkan tuntunan bapanya. Belajarlah dari Dia, yang telah menunjukkan kasih seorang Bapa terlebih dahulu, yaitu kasih yang tanpa syarat. Pada akhirnya, sumber dan standar tertinggi kasih seorang ayah bukan berasal dari kekuatannya sendiri, melainkan dari Tuhan, yang telah terlebih dahulu mengasihi umat-Nya. 


“Seperti bapak sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.” (Mazmur 103:13). Kiranya Tuhan memberkati dan memampukan setiap orang yang Ia panggil untuk menjalani peran sebagai ayah. (Maria Jessica Alexandra Soebroto*/Isna Christie Rambitan)



*Penulis adalah psikolog klinis anak dan remaja.


Comments


bottom of page