top of page

Kesaksian Seorang Pendidik Kristen di Tengah Arus Digital

Majalah Sepercik Anugerah
19 hours ago
5 min read

Kesaksian Seorang Pendidik Kristen di Tengah Arus Digital (sumber: pribadi)
Kesaksian Seorang Pendidik Kristen di Tengah Arus Digital (sumber: pribadi)

Di tengah perkembangan teknologi digital yang begitu pesat, dunia mengalami perubahan besar dalam hampir seluruh aspek kehidupan. Cara manusia bekerja, belajar, berelasi, bahkan beribadah tidak lagi sama seperti satu atau dua dekade yang lalu. Di balik kemudahan yang ditawarkan teknologi, muncul pula tantangan serius bagi kehidupan iman. Dalam konteks inilah kesaksian Kadwi Puji Rahayu, seorang pendidik Kristen sekaligus aktivis GKI Gading Serpong, menjadi gambaran nyata bagaimana nilai-nilai Kerajaan Allah tetap dapat dihidupi di tengah dunia digital, yang serba cepat dan instan.


Panggilan Hidup 


Kadwi mendedikasikan hidupnya sebagai seorang guru di sebuah sekolah Kristen di Jakarta. Selain sebagai pendidik, ia juga seorang ibu rumah tangga, yang setia melayani keluarga, mendampingi suami dan kedua putrinya dalam aktivitas sehari-hari. Kesibukan ini tidak menghalanginya untuk tetap aktif dalam pelayanan gerejawi. Ia memulai pelayanannya sebagai bagian dari tim pelawat wilayah, terlibat dalam pelayanan doa pagi, hingga dipercaya menjadi Koordinator Wilayah 8A dan Penatua Jemaat Wilayah 8, yang bertugas mengembangkan jemaat bersama tim POKJA PD Griya Shalom dalam menjalankan misi gereja, dengan memfasilitasi tempat peribadatan di wilayah BSD dan sekitarnya. 


Bagi Kadwi, hidup bukan sekadar menjalankan profesi atau rutinitas, melainkan sebuah panggilan untuk melayani Tuhan dan sesama. Prinsip ini menjadi fondasi yang kokoh ketika ia harus berhadapan dengan perubahan zaman yang begitu cepat, terutama dalam dunia digital.


Perubahan Besar 


Sebagai seorang guru, Kadwi merasakan secara langsung dampak besar perkembangan teknologi dalam dunia pendidikan. Teknologi digital kini menjadi kebutuhan yang tidak terpisahkan dari pekerjaannya. Proses belajar-mengajar menuntut penggunaan berbagai platform digital, mulai dari presentasi visual, video pembelajaran, hingga sistem kelas daring. Hal ini sangat kontras dengan pengalaman mengajar sepuluh hingga dua puluh tahun yang lalu, ketika guru cukup membawa buku dan materi ajar, tanpa bantuan teknologi canggih. Pada masa itu, keterbatasan fasilitas justru melatih daya juang siswa untuk memahami pelajaran secara lebih mendalam. 


Kini, kenyamanan yang diberikan teknologi sering kali membuat peserta didik menjadi lebih pasif. Segalanya tersedia secara instan, visual, dan mudah diakses. Fenomena ini menjadi tantangan tersendiri bagi pendidik Kristen, yang bukan hanya dituntut untuk mengajar secara efektif, tetapi juga membentuk karakter dan nilai hidup peserta didik di tengah budaya serba instan.


Sarana, Bukan Tujuan


Dalam kesehariannya, Kadwi memanfaatkan berbagai platform digital, seperti Instagram, TikTok, Google Classroom, Google Docs, Slides, Forms, serta aplikasi kuis interaktif, seperti Quizizz dan ePuzzle. Semua platform ini digunakan sebagai sarana pendukung pembelajaran dan komunikasi, bukan sebagai tujuan utama. 


Prinsip ini juga diterapkan dalam kehidupan rohani. Baginya, teknologi hanyalah alat, yang bisa menolong, tetapi juga berpotensi mengganggu, jika tidak digunakan dengan bijak. Karena itu, diperlukan disiplin rohani dan kesadaran iman, agar teknologi tidak mengambil alih pusat kehidupan manusia.


Nilai-Nilai Kerajaan Allah 


Di tengah arus teknologi yang sering kali berfokus pada pencitraan diri, popularitas, dan pengakuan sosial, Kadwi melihat, nilai-nilai Kerajaan Allah – kasih, keadilan, dan kebenaran – tetap relevan dan sangat mungkin diwujudkan dalam dunia digital. Media sosial, misalnya, dapat menjadi sarana untuk menguatkan orang lain melalui kata-kata yang membangun, bukan sekadar tempat memamerkan pencapaian pribadi atau kelompok tertentu. 


Nilai keadilan dapat diwujudkan dengan memperjuangkan akses teknologi yang setara, termasuk bagi mereka yang memiliki keterbatasan fisik. Sementara itu, di tengah maraknya hoax dan budaya post-truth, komitmen terhadap kebenaran menjadi kesaksian iman yang nyata. Menolak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi adalah bentuk ketaatan sederhana yang mencerminkan integritas orang percaya. 


Menghadirkan Kerajaan Allah 


Bagi Kadwi, Kerajaan Allah bukan hanya hadir di ruang ibadah fisik, tetapi juga dapat dihadirkan di dunia maya. Ia memanfaatkan teknologi untuk mengikuti ibadah daring, persekutuan kelompok kecil melalui Zoom, grup WhatsApp untuk saling menguatkan dan mendoakan, serta kelompok pendalaman Alkitab secara digital. Semua ini memberinya fleksibilitas dalam membangun kehidupan rohani tanpa dibatasi ruang dan waktu. 


Namun, ia juga menyadari sisi gelap dunia digital. Ketika seseorang membangun identitas semu demi mengikuti tren atau rasa takut tertinggal (FOMO), teknologi justru dapat membawa dampak negatif. Karena itu, diperlukan hikmat untuk menjadikan dunia maya sebagai alat menyatakan kasih Tuhan, bukan sebagai tempat pelarian dari jati diri sejati. 


Menjaga Kehidupan Rohani 


Salah satu tantangan terbesar di era digital adalah menjaga fokus hati kepada Tuhan. Kadwi secara pribadi menggunakan perangkat digital untuk mendukung kehidupan rohaninya, seperti mendengarkan renungan pagi dari Our Daily Bread Ministries melalui ponsel, sebagai dasar menjalani aktivitas sehari-hari. Dengan cara ini, teknologi justru menjadi alat yang menolongnya tetap terhubung dengan firman Tuhan. 


Dalam bermedia sosial, ia memilih dengan sadar konten yang bersifat membangun, serta menghindari keterlibatan dalam percakapan penuh amarah, atau konflik politik yang dapat menggerogoti damai sejahtera batin.

 

Memberkati Sesama 


Kesaksian iman Kadwi juga nyata melalui tindakan sederhana, tetapi bermakna. Ia pernah membantu siswa yang kesulitan memahami materi pelajaran dengan membagikan tautan video pembelajaran yang mudah dipahami. Bahkan, ia membuat konten edukasi di TikTok sebagai media pembelajaran alternatif, serta mengarahkan para siswa ke berbagai platform digital yang dapat menunjang proses belajar mereka. 


Selain itu, ia percaya, menghadirkan Kerajaan Allah di dunia digital dapat dilakukan melalui hal-hal sederhana: memberi komentar yang membangun, mendukung konten positif, serta menolak menyebarkan hoax. Kesetiaan dalam hal kecil inilah yang mencerminkan integritas imannya sehari-hari. 


Tantangan dan Pergumulan 


Tantangan terbesar dalam era digital bukanlah konten negatif semata, melainkan menjaga hati agar tetap bersyukur dan berfokus pada Tuhan dalam segala keadaan. Kadwi membatasi penggunaan gawai untuk hal-hal yang tidak produktif, terutama dalam keluarga, dengan menetapkan waktu penggunaan yang bijaksana dan fleksibel, sesuai kebutuhan. Kekhawatiran terbesarnya adalah dampak teknologi terhadap kualitas relasi manusia. Banyak orang menjadi semakin individualis dan kurang peduli terhadap sesame, karena terlalu terikat pada gawai mereka. 


Peran Gereja 


Menurut Kadwi, gereja memiliki peran strategis dalam dunia digital, karena ruang maya telah menjadi “ladang baru” pelayanan, dengan banyaknya gereja dan persekutuan yang membuka pelayanan ibadah secara online. Namun, meski ibadah online dapat menolong pertumbuhan iman, tetapi tidak dapat menggantikan persekutuan yang nyata. Ibadah online adalah alat, bukan tujuan. Gereja dipanggil untuk hadir secara relevan, tidak hanya secara fisik tetapi juga digital, tanpa kehilangan esensi persekutuan dan perjumpaan nyata dengan Tuhan. Selain itu, yang terpenting bukan hanya “hadir secara digital”, tetapi memungkinkan jemaat mengalami perjumpaan dengan Tuhan secara nyata.


Harapannya, orang percaya tidak berhenti pada kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga harus bijak dan bertanggung jawab. Pesan imannya sederhana, tetapi mendalam. Secerdas apa pun teknologi manusia, Tuhan tetap jauh melampaui semuanya. Karena itu, orang percaya dipanggil untuk terus berakar dan bertumbuh di dalam Tuhan; menjaga relasinya dengan Tuhan agar dapat menjadi garam dan terang dunia, di mana pun berada, termasuk di dunia digital, sebagaimana firman Allah dalam Matius 5:13-14, “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin disembunyikan.” (Isna Christie Rambitan*/Lanny Dewi Joeliani)


*Penulis adalah anggota Redaksi Majalah Sepercik Anugerah GKI Gading Serpong.


Comments


bottom of page