top of page

Goresan Warna untuk Tuhan

  • Majalah SA
  • 3 days ago
  • 7 min read

Kelas Melukis Usindah 5 Juni 2026 (sumber: dokumentasi Lydia Dini Kurnia)
Kelas Melukis Usindah 5 Juni 2026 (sumber: dokumentasi Lydia Dini Kurnia)

Penulis: Esther Yulia Triwardani*

Editor: Lanny Dewi Joeliani


Melukis merupakan media terapi seni yang sangat efektif untuk meredakan kecemasan dan mengatasi stres. Aktivitas kreatif ini merangsang daya ingat, konsentrasi, dan koordinasi tangan dan mata; menjadi saran mengekspresikan perasaan dan talenta yang Tuhan berikan; serta melatih keterampilan motorik halus.


Kelas melukis yang diinisiasi oleh Komisi Usia Indah GKI Gading Serpong (Usindah) berawal dari suatu kunjungan perlawatan oleh Anita Tjitrawati selaku ketua Usindah saat itu, Rini Rahardjo, serta Pdt. Danny Purnama ke rumah keluarga Hendro Kuntjoro dan Dede Susana. Terungkap, Hendro merupakan seorang guru melukis. 


Hendro lulus dari Akademi Seni Rupa Indonesia Yogyakarta pada tahun 1978. Setelah bekerja di biro iklan, ia mengajar di sebuah sekolah, yang membuka kelas melukis sebagai kegiatan ekstrakurikuler pada tahun 2004–2008. Saat ini, ia masih aktif mengajar melukis di sebuah tempat kursus di Serpong Park.


Informasi mengenai profesi Hendro sebagai guru melukis ini kemudian ditindaklanjuti oleh Pdt. Santoni Ong, Vera Yuliana Marchus, dan Linda yang kembali mengunjungi Hendro untuk meminta kesediaannya mengajar jemaat Usindah melukis, dan menanyakan perlengkapan apa saja yang diperlukan. Usulan membuka kelas melukis ini lalu disetujui dalam rapat pleno Usindah dan rapat Bidang Pengembangan Jemaat. Kelas pertama dibuka pada 5 Juni 2024, dan diikuti oleh delapan belas orang.


Jumlah anggota Usindah yang mengikuti kelas melukis ini tidak menentu. Kadang banyak, tetapi tidak jarang hanya sedikit, karena berbagai kendala, seperti kondisi kesehatan yang menurun, dan alasan lainnya. Jumlah peserta pun perlahan berkurang. Anita Tjitrawati, selaku salah satu penggagas program ini kemudian mengusulkan dalam Rapat Bidang GKI Gading Serpong, agar kegiatan tersebut dipromosikan juga kepada Komisi Dewasa, dengan harapan minat terhadap kelas melukis kembali meningkat, seperti pada awal penyelenggaraannya. Penatua juga menyarankan agar hasil karya peserta dipamerkan dalam kegiatan khusus yang diselenggarakan Komisi Usindah. Beberapa anggota baru mulai bergabung, tetapi ada pula yang kemudian mengundurkan diri karena berbagai kendala.


Hasil karya peserta Kelas Melukis Usindah pun dipamerkan selama satu bulan dalam Bulan Keluarga 2025, mulai tanggal 8 Oktober 2025, di Ruang Kana Griya Kasih GKI Gading Serpong. Beragam tema pernah diangkat, seperti buah anggur, lima roti dan dua ikan, bahkan potret diri yang dilukis secara hitam-putih. Lukisan-lukisan tersebut tampak hidup, meskipun hanya menggunakan pensil hitam. Banyak jemaat yang terkagum-kagum saat melihat karya para ibu dan oma tersebut. Sapuan berbagai warna pada kertas gambar menghasilkan karya yang indah dan memukau. Menariknya, para pelukisnya mungkin baru menyadari bakat melukisnya ketika usia mereka tidak lagi muda.


Anggota-anggota Kana Line Dance Mengagumi Karya-karya Peserta Kelas Melukis yang Dipamerkan di Ruang Kana, Griya Kasih, Oktober 2025 (sumber: dokumentasi pribadi Kana Line Dance)
Anggota-anggota Kana Line Dance Mengagumi Karya-karya Peserta Kelas Melukis yang Dipamerkan di Ruang Kana, Griya Kasih, Oktober 2025 (sumber: dokumentasi pribadi Kana Line Dance)

Suatu kehormatan bagi saya untuk bisa meliput kegiatan melukis ini. Jumat, 5 Juni 2026. Waktu masih menunjukkan pukul 09.00 WIB, tetapi ibu-ibu dan oma-oma sudah berkumpul di ruang Kana, Griya Kasih, Jalan Kelapa Gading Selatan Blok AG15 No.16, Kelapa Dua, Pakulonan Barat, Tangerang. Mereka saling menanyakan kabar. Ada yang berdiri berkelompok, saling menceritakan kegiatan sepekan itu. Ada yang sibuk memberi instruksi kepada asisten rumah tangganya. Ada juga yang berbagi tips kesehatan, sementara di sudut lain ada yang bercanda, saling menggoda satu dengan lainnya.

 

Suasana Kelas Melukis Usindah 5 Juni 2026 (sumber: dokumentasi pribadi Lydia Dini Kurnia)
Suasana Kelas Melukis Usindah 5 Juni 2026 (sumber: dokumentasi pribadi Lydia Dini Kurnia)

Rupa-rupa peralatan melukis yang dibawa hari itu. Ada yang membawa pensil warna, ada yang membawa krayon ataupun cat air. Ruangan yang sejuk ber-AC berubah menjadi hidup, hangat, dan guyub dengan kehadiran ibu-ibu dan oma-oma. Para peserta tidak harus memiliki peralatan lengkap dan mahal, juga tidak harus memiliki latar belakang seni lukis untuk bisa bergabung di kelas ini. Yang penting, punya keinginan yang sama, yaitu bisa melukis. Hendro Kuntjoro, selaku pengajar dan satu-satunya laki-laki di kelas melukis itu mengatakan, semakin sering berlatih melukis, tangan akan semakin luwes menggoreskan warna di kertas gambar. Ada beberapa ibu yang memang suka melukis, tetapi sebagian besar merasa sama sekali tidak bisa menggambar, dan itulah justru yang memotivasi mereka untuk mengikuti kelas, agar bisa melukis dengan indah.

Lukisan Karya Esther Yulia Triwardani (sumber: dokumentasi pribadi Esther Yulia Triwardani)
Lukisan Karya Esther Yulia Triwardani (sumber: dokumentasi pribadi Esther Yulia Triwardani)

Beberapa peserta membagikan alasannya mengikuti kelas melukis. Titik Marlina bercerita, ketika kecil, ia belum bisa melukis. “Papi pintar melukis, tetapi kita, anak-anaknya ‘gak diajarin melukis. Alhasil, ketika SMA, aku baru mulai bisa sedikit-sedikit melukis, walaupun itu juga penuh perjuangan,” lanjutnya, “bulan Maret lalu aku reuni SD. Sudah hampir lima puluh tahun lebih ‘gak ketemu. Ternyata, disambut baik oleh kepala sekolahnya. Aku dan beberapa teman diminta memberi motivasi kepada siswa-siswi sekolah tersebut. Ketika diminta memberi motivasi, aku jadi bingung sendiri.” ujarnya. Titik merasa, dulu dia bukanlah siapa-siapa, sehingga tidak punya cita-cita. “Kalian harus punya cita-cita, jangan seperti saya, setelah gede baru menyadari, ternyata punya kemampuan macam-macam. Jadi atlet, bisa main musik, jualan masakan, dan ikut kelas melukis Usindah. Hasil lukisan saya pernah dipamerkan di acara yang diadakan oleh Komisi Usindah GKI Gading Serpong, Tangerang”.

 


 

Lukisan Karya Titik Marlina (sumber: dokumentasi pribadi Titik Marlina)
Lukisan Karya Titik Marlina (sumber: dokumentasi pribadi Titik Marlina)

Titik kemudian memberikan enam buah lukisannya, untuk dipasang di setiap ruang kelas sekolah tersebut. “Jadi, cita-cita harus dimiliki sejak kecil. Kalau sudah lansia baru menyadari bahwa dirinya berpotensi, kan sayang! Sudah membuang waktu puluhan tahun, baru punya cita-cita,” imbuhnya. Walaupun tak setiap kali kelas melukis diadakan ia hadir karena kendala kesehatannya, semangatnya untuk melukis di rumah tetap membara.

 

Seorang peserta lainnya, Lana Lukito dahulu adalah seorang guru. Ia mengajar bahasa Inggris di sebuah sekolah swasta di kota Surabaya sejak tahun 1992. Pada tahun 1999, Lana dan keluarga pindah ke Gading Serpong. Ia kemudian aktif di GKI Gading Serpong, Tangerang sebagai penatua pada tahun 2003–2006. Bersama suami, ia mulai mengikuti ibadah Usindah di awal tahun 2025.

 

Mengetahui kelas melukis hanya diadakan dua kali dalam sebulan, bergantian dengan latihan angklung, Lana pun tertarik untuk bergabung. “Jam melukis hanya dua jam. Tidak perlu meninggalkan urusan di rumah terlalu lama, dan mulainya pun tidak terlalu pagi,” pikirnya. Awal Agustus 2025, ia pun bergabung di kelas melukis ini. “Dari kelas melukis ini, aku baru mengetahui teknik menggambar. Salah satu contohnya waktu Hendro mengajar melukis kuda. Diawali dengan membuat sketsa bulatan kepala, kemudian badannya, berlanjut ke kakinya, dan seterusnya. Kalau ‘gak ikut kelas melukis ini, aku ‘gak akan pernah tahu step by step proses pembuatannya”. Salah satu lukisan Lana juga dipamerkan di ruang Kana Griya Kasih, pada bulan keluarga, Oktober 2025

 

Lukisan Karya Lana Lukito (sumber: dokumentasi pribadi Lana Lukito)
Lukisan Karya Lana Lukito (sumber: dokumentasi pribadi Lana Lukito)

Tidak ada kompetisi yang harus dimenangkan dalam kelas melukis ini. “Seorang teman yang sudah terlebih dulu mengikuti kelas melukis ini mengajakku bergabung. Tanpa berpikir panjang, aku bilang mau ikut bergabung, dan ternyata aku dapat ilmu banyak tentang melukis,”  tutur Rebekka, yang bergabung di kelas melukis ini sejak Desember 2025. “Ketika menggambar, aku merasa seolah sedang bermeditasi. Hati dan pikiran tercurah untuk membuat satu gambar yang indah. Tidak ada persaingan di kelas ini, karena Pak Hendro membebaskan semua yang hadir menggambar sesuai tema yang telah disepakati bersama, dan mewarnainya sesuai dengan keinginan sendiri,” lanjutnya, “dulu waktu masih sekolah, aku sering menggambar vignette. Enggak tahu, apakah aku berbakat menggambar atau tidak, tetapi di semua bukuku pasti ada gambar vignette yang kubuat,” jelasnya.


“Suatu waktu, aku pernah menggambar dan sudah kuwarnai. Ternyata, aku sadar gambarku salah. Bagaimana cara memperbaikinya? Aku pun bertanya kepada Hendro, bagaimana cara menghapus warna pada gambarku, karena gambar tersebut sudah terlanjur kuwarnai. Menurut Hendro, tidak ada yang perlu dihapus. Meskipun sudah terlanjur diwarnai, cukup tambahkan gambar rumput atau bunga, lalu beri warna lagi. Aku pun mengikuti sarannya. Setelah itu, aku takjub melihat gambarku sendiri. Eh, benar lho, kok jadi lebih bagus gambarku sekarang,” ujar Rebekka sambil tersenyum. “Selama mengikuti kelas melukis, bukan hanya bertambah teman persekutuan, tetapi juga muncul rasa bahagia dan kerinduan untuk kembali hadir pada pertemuan berikutnya.”

Lukisan Karya Rebekka (sumber: dokumentasi pribadi Rebekka)
Lukisan Karya Rebekka (sumber: dokumentasi pribadi Rebekka)

Kelas melukis diawali dengan doa bersama yang dipimpin oleh Hendro Kuntjoro. Tema lukisan pada hari itu, sebagaimana telah disepakati oleh ibu-ibu dan oma-oma yang hadir, adalah pemandangan alam. Hendro memberikan berbagai contoh lukisan pemandangan, yang dapat dijadikan referensi melalui grup WhatsApp.


Para peserta menyimak dengan saksama ketika Hendro menjelaskan langkah demi langkah membuat sebuah lukisan. Sekilas memang tampak mudah, tetapi ketika dikerjakan, ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan. Menghapus sketsa berulang kali menjadi hal yang lumrah. Gambar contoh yang terlihat mudah ditiru, ternyata sering kali memerlukan ketelitian dan kesabaran. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangat para peserta untuk terus melukis.

Ada yang menggambar di atas kertas menggunakan pensil warna, ada pula yang menggunakan cat akrilik dan kanvas. Warna demi warna mulai disapukan pada kertas gambar maupun kanvas. Sebagian peserta tampak tenang dan percaya diri, sementara sebagian lainnya masih kebingungan, karena warna yang dihasilkan belum sesuai harapan. Semua itu berlangsung dalam suasana santai, hangat, dan penuh kekeluargaan.


Suasana kelas melukis jauh dari suasana tegang. Hendro dengan sabar dan telaten menjawab berbagai pertanyaan dari para peserta. Sesekali, suasana diwarnai canda dan guyonan, yang membuat tawa pecah di berbagai sudut ruangan. Ia juga beberapa kali berkeliling untuk melihat hasil sketsa para peserta. Sesekali, Hendro memberikan sentuhan kecil, berupa goresan pensil warna atau cat akrilik pada beberapa karya peserta. Di tengah suasana yang akrab itu, salah seorang peserta menggoda temannya sambil tertawa, “Ini krayon yang dipakai punya siapa? Jangan-jangan punya cucu yang masih sekolah, dipinjam omanya!”


Untuk sesaat, kepenatan akibat berbagai pergumulan hidup yang mungkin sedang dihadapi para peserta seolah memudar. Suasana nyaman di kelas melukis membuat waktu dua jam berlalu tanpa terasa. Kegiatan ini bukan sekadar menorehkan warna-warni di atas kertas gambar atau kanvas, bukan pula semata-mata soal keterampilan menghasilkan lukisan yang indah. Ada makna yang lebih dalam, yang dirasakan dan dibawa pulang oleh para peserta. Ada nilai persekutuan dan persaudaraan dalam iman. Ada passion untuk terus berkarya dan menghasilkan sesuatu yang lebih baik, lebih indah, dan lebih bermakna.


Menjelang kelas berakhir, beberapa ibu membagikan camilan yang telah mereka siapkan untuk dinikmati bersama atau dibawa pulang. Kegiatan kemudian ditutup dengan doa, yang dipimpin oleh Lana Lukito.


Sambil membereskan peralatan melukis, beberapa peserta masih sempat mengomentari hasil karya mereka pada hari itu. “Ah, warnanya kurang keluar kalau pakai pensil warna. Lebih bagus kalau pakai cat akrilik. Semoga pada pertemuan berikutnya bisa membuat yang lebih baik!” Meskipun merasa hasil lukisannya belum sesuai harapan, mereka tidak putus asa. “Ada rasa rindu, kangen, untuk datang kembali ke kelas melukis berikutnya,” demikian Rebekka menggambarkan suasana hatinya selama mengikuti kegiatan tersebut.

Peserta Kelas Melukis Usindah beserta Karya Masing-masing (dokumentasi pribadi Lydia Dini Kurnia)
Peserta Kelas Melukis Usindah beserta Karya Masing-masing (dokumentasi pribadi Lydia Dini Kurnia)

Mazmur 92:15 mengatakan, “Pada masa tua pun mereka masih berbuah, tetap segar dan bugar.” Tidak pernah ada kata terlambat untuk mempersembahkan yang terbaik bagi Tuhan. Melalui sapuan warna-warni yang lahir dari jemari yang tak lagi muda, ibu-ibu dan oma-oma dalam Kelas Melukis Usindah menghasilkan karya-karya yang indah dan bermakna. Dengan kerinduan sederhana untuk menjadi berkat bagi sesama dan menyenangkan hati Tuhan, mereka terus belajar, bertumbuh, dan berkarya. Sungguh indah ungkapan syukur dan kasih kepada Tuhan yang dicurahkan lewat goresan warna yang lahir dari hati.


*Penulis adalah anggota GKI Gading Serpong.

 
 
 

Comments


bottom of page