top of page

Gereja sebagai Keluarga yang Melayani di Era Digital 

Majalah Sepercik Anugerah
6 hours ago
4 min read

Penulis: Victor Purba*

Penyunting: Lanny Dewi Joeliani

 

Foto Bersama Peserta Seminar (sumber: imagoDeus)
Foto Bersama Peserta Seminar (sumber: imagoDeus)

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital dan arus informasi yang mengubah pola interaksi serta relasi manusia, gereja dipanggil untuk tetap hadir secara relevan sebagai komunitas iman, yang hidup melalui konsep ecclesia familia et digitalis. Berakar dari makna familia (berasal dari kata famulus yang berarti pelayan), keluarga Kristen dan gereja dipahami sebagai komunitas orang percaya, yang dipanggil untuk melayani Kristus serta sesama, baik dalam kehidupan nyata maupun di ruang digital.

 

Berdasarkan Program Pelayanan Gereja GKI Gading Serpong Tahun 2026–2027, serta kebutuhan untuk memperlengkapi umat menghadapi tantangan zaman, maka Komisi Ibadah GKI Gading Serpong menyelenggarakan seminar sebagai ruang pembelajaran bersama, yang memadukan refleksi teologis Alkitabiah dan perspektif praktis, sehingga jemaat mampu menjaga nilai iman, serta bertumbuh secara bijaksana di era digital.

 

Seminar yang mengambil tema “Ecclesia Familia et Digitalis” (gereja sebagai keluarga yang melayani di era digital) ini dihadiri oleh 107 orang peserta, yang terdiri dari 47 orang laki-laki dan 60 orang wanita. Seminar diselenggarakan pada Sabtu, 22 Agustus, pukul 08.30–13.30, bertempat di Aula Lantai 6 SMA Kristen Penabur Gading Serpong, Jl. Kelapa Gading Barat Raya, Pakulonan Barat, Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang.

 

Doa Pembukaan oleh Pdt. Danny Purnama (sumber: imagoDeus)
Doa Pembukaan oleh Pdt. Danny Purnama (sumber: imagoDeus) 

Acara dibuka dengan doa yang dipimpin oleh Pdt. Danny Purnama. Pnt. Edo Pasaribu dan Pnt. Yohana Inge Sugiarto sebagai pembawa acara, mengajak peserta menyanyikan lagu “Bertemu dalam Kasih-Nya”. Untuk mencairkan suasana, pembawa acara kemudian mengajak peserta untuk menyanyikan “O How I Love Jesus” dan “Lean Forward, Lean Backward”. Mula-mula, kedua pembawa acara mencontohkan gerakannya, kemudian seluruh peserta menirukannya. Seperti lirik lagu ini, semuanya kemudian lean forward, lean backward, to the left, to the right, stand up, sit down, to the left, to the right (mencondongkan diri ke depan, ke belakang, ke kiri, ke kanan, berdiri, duduk, ke kiri, dan ke kanan). Senyuman mulai bermunculan di wajah para peserta, tidak lagi kaku seperti sebelumnya.

Pnt. Edo dan Pnt. Inge sebagai Pembawa Acara (sumber: imagoDeus)
Pnt. Edo dan Pnt. Inge sebagai Pembawa Acara (sumber: imagoDeus)

 

Ice Breaking Dipimpin Pnt. Inge dan Pnt. Edo (sumber: imagoDeus)
Ice Breaking Dipimpin Pnt. Inge dan Pnt. Edo (sumber: imagoDeus)

 

Iringan Musik oleh Adrian Santoso (sumber: imagoDeus)
Iringan Musik oleh Adrian Santoso (sumber: imagoDeus)

Acara pun dilanjutkan dengan sesi pertama. Pdt. Cordelia Gunawan (Ketua Umum BPMSW GKI SW Jawa Barat) membahas gereja sebagai keluarga Allah dan panggilan gereja dalam menghadapi perkembangan dunia digital berdasarkan perspektif Alkitabiah dan teologis. Pdt. Cordelia menekankan pentingnya gereja dan keluarga menyikapi perkembangan era digital bukan sekadar sebagai media, melainkan sebagai budaya dan konteks kehidupan, yang membentuk gaya hidup masyarakat. Meskipun teknologi terus berkembang pesat dan mengubah cara belajar, berkomunikasi, serta berpelayanan, misi Allah dan inti iman Kristiani tidak berubah. Oleh karena itu, gereja dan keluarga dipanggil untuk beradaptasi secara kontekstual, bijak, dan kreatif—menggabungkan kemudahan teknologi dengan perjumpaan yang bermakna (high tech, high touch)—sehingga pelayanan dan pendidikan iman tidak hanya menjadi transfer pengetahuan secara digital, tetapi menghasilkan pengalaman iman yang nyata (experiencing faith), dengan tetap menjadikan Tuhan sebagai pusat kehidupan.  

 

Pdt. Cordelia Gunawan (Ketua Umum BPMSW GKI SW Jawa Barat) sebagai pembicara Sesi Pertama, yang Membahas dari Sisi Teologi (sumber: imagoDeus)
Pdt. Cordelia Gunawan (Ketua Umum BPMSW GKI SW Jawa Barat) sebagai pembicara Sesi Pertama, yang Membahas dari Sisi Teologi (sumber: imagoDeus)

Setelah diskusi yang dipimpin oleh Pnt. Edo dan Pnt. Inge, acara dilanjutkan dengan sesi kedua, yang dibawakan oleh Dr. Sonny Sintong Panutur (praktisi di bidang telekomunikasi/senior leader di PT Telekomunikasi Seluler), membahas kondisi nyata di lapangan mengenai dinamika kehidupan keluarga, relasi sosial, serta penggunaan teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari sebagai kesaksian iman. Dr. Sonny menekankan pentingnya peran gereja dan keluarga Kristen dalam menyikapi transformasi era digital—yang berkembang pesat dari era komputer awal hingga kecerdasan buatan (AI)—secara bijaksana, berbasiskan firman Tuhan (Efesus 2:19). Perkembangan teknologi telah menggeser peran manusia, dari sekadar pekerjaan rutin (doing) menjadi pekerjaan yang berfokus pada pemikiran, pengambilan keputusan, dan pemikiran kreatif (thinking, deciding, innovating). Karena itu, teknologi tidak boleh memicu kecanduan, individualisme atau merusak komunikasi, melainkan harus diposisikan sebagai alat (tool) untuk membimbing iman keluarga, membangun literasi digital yang kritis, memperkuat relasi antaranggota keluarga, serta memperluas jangkuan pelayanan dan kesaksian Injil, demi kemuliaan Tuhan.  

 

Dr. Sonny Sintong Panutur (praktisi di bidang telekomunikasi/senior leader di PT Telekomunikasi Seluler) sebagai Pembicara Sesi Kedua, yang Membahas dari Sisi Teknik Implementasi (sumber: imagoDeus)
Dr. Sonny Sintong Panutur (praktisi di bidang telekomunikasi/senior leader di PT Telekomunikasi Seluler) sebagai Pembicara Sesi Kedua, yang Membahas dari Sisi Teknik Implementasi (sumber: imagoDeus)

Seminar berjalan sangat dinamis, dan para peserta antusias mengajukan berbagai pertanyaan, untuk memperkaya pemahaman mereka. Dari hasil diskusi, didapatkan beberapa wawasan baru. Gereja perlu memiliki tim digital creator khusus (pembuat konten rohani untuk reels dan media sosial); memberikan dukungan tech for elderly (kelas literasi digital untuk jemaat senior/lansia); menyesuaikan format ibadah, khususnya untuk level remaja, agar sesuai dengan harapan mereka, misalnya dengan mengoptimalkan platform digital, yang dapat memenuhi keingintahuan mereka. Gereja juga perlu mendukung remaja untuk mengatasi pola hidup serba instan dan tingkat daya juang yang rendah, dengan mendorong mereka keluar dari comfort zone.

 

Acara Tanya Jawab (sumber: imagoDeus)
Acara Tanya Jawab (sumber: imagoDeus)

Secara praktisnya, jemaat perlu menjadwalkan aksi nyata bulanan tanpa gawai (puasa gawai), dengan mengadakan kegiatan seperti bakti sosial, kerja bakti lingkungan, atau kegiatan alam terbuka, untuk melatih empati dan pengalaman iman yang nyata (experiencing faith). Eksekusi hasil seminar “Ecclesia Hospitalis” perlu diterapkan di seluruh bidang, agar setiap orang merasa diterima dan dihargai, sehingga terbangun suasana yang kondusif untuk perjumpaan dengan Tuhan. Pnt. Wani Gunardi kemudian menutup acara dengan doa.

 

Doa Penutup oleh Pnt. Wani Gunardi (sumber: imagoDeus)
Doa Penutup oleh Pnt. Wani Gunardi (sumber: imagoDeus)
Konsumsi yang Disediakan Panitia (sumber: imagoDeus)
Konsumsi yang Disediakan Panitia (sumber: imagoDeus)

 *Penulis adalah pengurus Komisi Ibadah GKI Gading Serpong Bidang Seminar/Rekrutmen/Pembinaan tahun 2026–2028, sekretaris Komisi Humas GKI Gading Serpong tahun 2026–2028, dan ketua Paduan Suara Proskuneo tahun 2026–2028.

Comments


bottom of page