Berdamai dengan Perubahan
- Majalah SA
- 2 hours ago
- 3 min read

Penulis: Vica Herawati*
Editor: Lanny Dewi Joeliani
Siapa di antara kita yang tidak pernah mengalami perubahan? Dulu kita adalah bayi yang merangkak, anak kecil yang berlari tanpa kenal lelah dan remaja yang penuh energi. Kini, kita berdiri di titik kehidupan yang berbeda, dengan tubuh yang berbeda pula. Rambut memutih, lutut terasa ngilu, stamina perlu dijaga, dan metabolisme bekerja lebih lambat. Semua ini bukan kebetulan, bukan pula kegagalan, ini adalah fase yang dirasakan setiap manusia, karena tubuh kita adalah tubuh yang fana.
Perubahan pada tubuh kita inilah yang coba dijelaskan oleh Komisi Dewasa GKI Gading Serpong, dengan mengadakan persekutuan dan seminar kesehatan bertema “Berdamai dengan Perubahan”, pada Kamis, 18 Juni 2026, pukul 10.00–12.00 WIB di Aula Kana, Griya Kasih, Jl. Kelapa Gading Selatan Blok AG15 No.16, Kelapa Dua, Pakulonan Barat, Tangerang, yang dihadiri oleh 56 jemaat. Melalui perpaduan firman Tuhan dan wawasan medis, jemaat diajak memandang perubahan bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai bagian dari rencana Allah yang baik, karena meskipun tubuh terus berubah, kasih karunia dan kesetiaan Allah tidak pernah berkurang.
Persekutuan dilayani oleh ibu-ibu Kelompok Kecil (KK) Anugerah. Lie Funni Veronika bertugas sebagai PIC on-site. Anah dan Valentina Mainaky melayani sebagai usher untuk menyambut jemaat yang datang. Shasy Indria Sukmawati memimpin pujian, didampingi singer Sonny Margaret Sihite dan Indriyanti Kesumahati, serta pemusik Lesty Daryanti Suhendra. Jemaat diantar ke dalam suasana syukur melalui medley “Kumasuki Gerbangnya” dan “Dengar Dia Panggil Nama Saya”, dilanjutkan lagu pengantar firman “Bagaikan Bejana Siap Dibentuk”, sebuah undangan untuk menyerahkan hati, agar dibentuk seturut kehendak Tuhan dalam setiap fase kehidupan.

Berlandaskan 2Korintus 4:16, Pdt. Pramudya Hidayat membawa renungan bertema “Berdamai dengan Perubahan, karena Tuhan Tidak Pernah Berubah”, menyoroti betapa melelahkannya tampil baik-baik saja saat tubuh dan emosi berubah, tetapi berusaha seolah tidak terjadi apa-apa. Elisabet, dalam Lukas 1:5-7 menjadi cermin perempuan saleh yang tampil luar biasa di hadapan banyak orang, tetapi menanggung beban tersembunyi berupa kemandulan.
Pdt. Pramudya menjelaskan, aib yang disandang Elisabet memiliki dimensi fisik (tidak dapat memberi keturunan) dan secara psikologis (tekanan masyarakat patriarkal yang menilai perempuan dari kemampuan melahirkan). Kisah Sara, istri Abraham, turut disebut sebagai bukti bahwa Alkitab mengakui perubahan tubuh seiring usia, dan justru di tengah keterbatasan itulah, Allah menyatakan kuasa-Nya.
Dari Lukas 1:25, Elisabet bersaksi, Tuhan berkenan menghapus aibnya. Pesan ini menggemakan bahwa ketika seseorang mengalami perubahan emosional di masa menopause, ia perlu diberi ruang, bukan penghakiman. Allah, yang memasukkan Elisabet dalam kisah keselamatan-Nya adalah Allah yang sama, yang hadir bagi kita hari ini. Sebagaimana Mazmur 92:15 tegaskan, “Pada masa tua pun mereka masih berbuah, tetap segar dan bugar.”
Pembicara dalam acara seminar ini adalah dr. Handy Intan, Sp.OG, yang memaparkan materi “Normal dan Pasti Terjadi”, seputar menopause dan andropause. Menopause didefinisikan sebagai tidak adanya menstruasi selama 12 bulan berturut-turut, yang rata-rata terjadi di usia 51 tahun, didahului fase perimenopause, dengan gejala seperti haid tidak teratur, hot flashes, keringat malam, serta perubahan emosi dan fisik. Dampak jangka panjangnya meliputi osteoporosis dan peningkatan risiko gangguan jantung. Penanganan untuk fenomena ini meliputi terapi hormon (HRT), pil kontrasepsi jangka pendek, dan terapi hormon lokal. Pada pria, perubahan tubuh ketika mengalami andropause adalah turunnya kadar testosterone, sekitar 10% setiap dekade sejak usia 40 tahun, yang berlangsung diam-diam, ditandai kelelahan, perubahan emosi, dan menurunnya libido.

Dr. Handy juga membahas dinamika suami-istri di fase perubahan ini. Gejala-gejala perubahan yang dialami keduanya perlu dikomunikasikan secara terbuka. Beliau menutup sesi dengan ajakan untuk menjaga pola makan, konsumsi suplemen, dan olahraga rutin.
Seminar ditutup dengan Yesaya 46:4, “Sampai masa tuamu, Aku tetap sama dan sampai putih rambutmu Aku menggendong kamu.” Sesi tanya jawab yang berlangsung penuh antusiasme menjadi bukti nyata, bahwa topik ini menyentuh kebutuhan riil jemaat. Satu per satu tangan terangkat, pertanyaan mengalir tanpa henti, dan dr. Handy dengan sabar menjawab semuanya hingga tuntas. Jemaat pulang bukan hanya dengan iman yang dikuatkan, tetapi juga dengan pemahaman yang jauh lebih lengkap tentang perubahan yang sedang mereka jalani.

Lagu respons PKJ 255, “Firman-Mu Kupegang Selalu” dan lagu pengutusan PKJ 165, “Janji yang Manis” menutup persekutuan hari itu dengan sukacita, serta mengingatkan bahwa di setiap fase kehidupan, Tuhan yang tidak pernah berubah. Itulah yang memberi kekuatan untuk berdamai dengan segala perubahan, hingga masa putih rambut sekalipun.
*Penulis adalah pengurus komisi dewasa 2026-2028



Comments