Karakter Seorang Pemberita Injil (Kisah Para Rasul 17:16-34)

Warta jemaat GKI Gading Serpong, Minggu, 18 September 2011

Ketika memulai pelayananan-Nya di dunia, Tuhan Yesus memanggil orang-orang untuk mengikut Dia dan mengatakan: ”Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia” (Mat. 4:19; Mrk. 1:17).  Setelah bangkit dan akan naik ke surga, Ia memberikan amanat kepada para pengikut-Nya untuk menjadikan semua bangsa murid-Nya (Mat. 28:18-20). Panggilan dan amanat Tuhan Yesus itu menunjukkan bahwa memberitakan Injil itu sangat penting, dan semua murid Kristus harus menjadi pemberita Injil.

Karakter apa yang seharusnya dimiliki seorang pemberita Injil?  Untuk menjawab pertanyaan itu, penulis mengajak Saudara untuk belajar dari seorang tokoh pemberita Injil yang sangat berhasil, yaitu Paulus.  Kisah Para Rasul 17:16-34 memperlihatkan beberapa karakter seorang pemberita Injil yang dimiliki Paulus.

1. Ada hati untuk memberitakan Injil (Kis. 17:16).
Pada saat Paulus menunggu Timotius dan Silas di Atena, sangat sedih hatinya karena ia melihat, bahwa kota itu penuh dengan patung-patung berhala. Mengapa ia bisa begitu sedih? Karena ia punya hati. Hati yang dikuasai kasih Kristus (2 Kor. 5:14). Hati yang mengasihi jiwa-jiwa yang tersesat (Kis. 17:16).
Ia tidak hanya melihat kondisi kota Atena dengan matanya saja, tetapi juga dengan hatinya. Banyaknya patung berhala di segenap penjuru kota mencerminkan keadaan spiritual masyarakat di kota itu yang jauh dari Allah yang benar. Mereka sedang berjalan di jalan yang lebar menuju kepada kebinasaan, tetapi mereka sendiri tidak menyadarinya. Karena Paulus memiliki hati yang mengasihi mereka, ia jadi sangat sedih.
2. Ada aksi untuk memberitakan Injil (Kis. 17:17-21).
Paulus tidak hanya punya hati, tetapi juga punya aksi. Ia tidak hanya sedih, tetapi juga melakukan pemberitaan Injil. Ia memberitakan Injil kepada dua kelompok orang. Pertama, ia memberitakan Injil kepada orang-orang yang sudah mengetahui Alkitab Perjanjian Lama, tetapi belum sungguh-sunguh mengenal Kristus, sang Juruselamat dunia.  Kedua, ia memberitakan Injil kepada orang-orang yang sama sekali belum mengetahui isi Alkitab dan belum mengenal Allah (Kis. 17:17).
Pada saat ia memberitakan Injil dengan setia, Tuhan pun membukakan jalan baginya. Tanpa diduga, orang-orang Atena memberi kesempatan kepadanya untuk berbicara kepada orang banyak di sidang Areopagus (Kis. 17:18-21). Paulus menyambut kesempatan baik itu tanpa ragu, karena dia sudah siap sedia memberitakan Injil dalam segala keadaan (2 Tim. 4:2).
3. Ada hikmat untuk memberitakan Injil (Kis. 17:22-34).
Paulus memberitakan Injil dengan hikmat. Ketika diberi kesempatan berbicara kepada orang banyak di sidang Areopagus, maka ia menggunakan kesempatan itu dengan bijaksana. Hikmat Paulus tampak dalam caranya memberitakan Injil, yaitu:

Pertama, ia menghormati orang-orang lain yang berbeda kepercayaan dengannya (Kis. 17:22).  Ia tahu bahwa menyembah berhala itu tidak diperkenan oleh Allah (Ul. 5:8-9). Tetapi ia tidak mengejek mereka dan tidak mengeluarkan kata-kata yang dapat menimbulkan antipati. Sebaliknya, ia dapat dengan rendah hati melihat kelebihan mereka dan dengan tulus mengapresiasi kesalehan mereka.

Kedua, ia membawa para pendengar untuk tertarik pada berita Injil (Kis. 17:23). Ia mulai berbicara dari apa yang mereka percayai dan memakainya untuk menjadi jembatan. Ia telah melihat ada sebuah mezbah mereka yang bertuliskan “kepada Allah yang tidak dikenal”. Dengan itu ia mengatakan, “Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepadamu.” Cara Paulus ini membuat para pendengar tertarik untuk mendengarkan. Pada saat mereka sudah tertarik, maka telinga, pikiran dan hati mereka pun lebih terbuka bagi Injil.

Ketiga, ia memberitakan Injil sesuai dengan konteks masyarakat setempat (Kis. 17:24-29). Ia memberitakan Injil dengan memakai istilah-istilah dan pemahaman umum yang mereka ketahui tentang Allah (Kis. 17:24-27). Ia juga menggunakan pemikiran tokoh-tokoh mereka untuk menjelaskan Injil (Kis. 17:28-29).  Konteks masyarakat setempat sangat diperhatikan Paulus di dalam memberitakan Injil, sehingga Injil yang diberitakannya menjadi tidak terlalu asing bagi mereka dan mereka bisa memahaminya dengan baik.

Keempat, ia memberitakan Kristus yang telah mati dan bangkit (Kis. 17:30-34). Kematian dan kebangkitan Kristus merupakan inti Injil yang sangat penting (1 Kor. 15:2-4). Paulus mengkontekstualkan cara penyampaian Injil, tetapi tidak mengkompromikan isi Injil.  Ia setia memberitakan Kristus yang telah mati dan bangkit untuk menebus dan menyelamatkan orang-orang berdosa.

Pada saat mereka mendengar tentang kebangkitan orang mati, ada yang mengejek dan ada yang menolak (Kis. 17:32). Itu adalah resiko yang harus ditanggung. Tetapi ada beberapa orang yang percaya, termasuk tokoh-tokoh masyarakat di Atena (Kis. 17:34). Itu adalah berkat yang mendatangkan sukacita.

Karaktek seorang pemberita Injil ialah ada hati, ada aksi, dan ada hikmat. Sangat sederhana bukan? Saudara pasti bisa!  Berusahalah memilikinya dan menerapkannya. - AL -