Salib : Karena Dosa

Warta jemaat GKI Gading Serpong, Minggu, 9 Maret 2014

Orang yang bijak seringkali dapat dikenali melalui cara pandangnya terhadap suatu hal. Jika demikian, bagaimanakah pandangan kita terhadap salib Kistus? Mungkin dengan mengajukan beberapa pertanyaan akan menolong kita menelusuri kembali mengapa salib harus ada? Dan kalau kita mempelajari Firman Allah dengan baik, kita akan menemukan fakta atau jawaban yang mengejutkan sehingga semestinya dapat membangun suatu sudut pandang yang benar tentang Kuasa Salib Kristus!
Salib adalah sebuah hukuman mati paling kejam dan  sangat mengerikan.  Dikatakan mengerikan karena terhukum akan menanggung rasa sakit yang luar biasa dalam waktu yang lama, terpanggang di bawah sinar matahari pada siang hari, dan cuaca yang sangat dingin pada malam hari.
Dibiarkan kelaparan dan kehausan sementara tubuh tergantung oleh paku-paku yang tajam menembus tubuh, sehingga setiap gerakkan menambah rasa sakit yang luar biasa. Peradangan yang terjadi pada luka-luka akan memberi rasa sakit yang hebat, naik secara bertahap tanpa pengurangan......  

Selengkapnya: Salib : Karena Dosa

Perjumpaan yang Membawa Pembaharuan Hidup (Lukas 19 : 1 – 10)

Warta jemaat GKI Gading Serpong, Minggu, 3 November 2013

“Kadang terjadi, orang-orang yang sudah lama menjadi Kristen, bahkan secara turun-temurun, ternyata hidupnya belum juga berubah. Hidupnya sehari-hari dalam pekerjaan dan masyarakat masih menampakkan kejahatan, kecurangan, penindasan, atau penghancuran. Jadi, ada ketidak-cocokan antara iman dan kehidupan nyata.” (Tabita K. Christiani, Dian Penuntun, Ed. 16, 261).

Mengapa hal ini bisa terjadi? Pdt. Tabita mengungkapkan pandangannya: “Kemungkinan besar karena ia belum mengalami perjumpaan yang sangat pribadi dengan Tuhan. Barangkali doa dan ibadah yang ia lakukan sekadar sebagai kebiasaan atau kewajiban, sehingga tidak mengubah kehidupannya.” (Tabita, 261).

Perjumpaan dengan Tuhan membawa pembaharuan hidup. Itulah yang dialami oleh Zakheus. Perjumpaan pribadi Zakheus dengan Tuhan Yesus membuatnya mengalami pembaharuan hidup yang menyeluruh.

Selengkapnya: Perjumpaan yang Membawa Pembaharuan Hidup (Lukas 19 : 1 – 10)

Keluarga yang Beriman, Bertumbuh dan Melayani

Warta jemaat GKI Gading Serpong, Minggu, 27 Oktober 2013

Pohon Korma merupakan salah satu pohon yang seringkali disebut dalam Alkitab, yang menggambarkan keberadaan orang benar. Misalkan dalam Mazmur 92:13a-16 mengatakan: “Orang benar akan bertunas seperti pohon korma,......... Mereka yang ditanam di bait TUHAN akan bertunas di pelataran Allah kita. Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar, untuk memberitakan bahwa Tuhan itu benar, bahwa Ia gunung batuku dan tidak ada kecurangan padaNya.” Mengapa orang benar digambarkan seperti pohon korma? Untuk memahami hal ini, kita dapat melihat dari keunikan-keunikan yang dimiliki oleh pohon korma:

o KEUNIKAN CARA PENANAMAN DAN PERTUMBUHAN
Cara penanaman pohon korma sangat unik karena setelah ditanam, para petani akan meletakkan batu tepat di atasnya. Tujuannya agar batu dapat menahan angin atau badai gurun yang cukup kencang, yang dapat saja membuat bibit tanaman akan tercungkil dan terbuang sia-sia sebelum bertunas. Lantas bagaimana bibit ini akan mengeluarkan tunas jika ada batu yang menghalanginya? Ternyata setelah bibit korma memiliki akar yang cukup kuat oleh karena  menemukan sumber makanan yang baik, maka tunas baru yang bertumbuh dengan sendirinya akan menjungkirbalikkan batu yang menghalanginya. Memang membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengeluarkan tunas, sebab proses pengakaran yang kuat perlu terjadi terlebih dahulu.

Selengkapnya: Keluarga yang Beriman, Bertumbuh dan Melayani

Keluarga yang Melayani (Lukas 4 : 38 – 42)

Warta jemaat GKI Gading Serpong, Minggu, 20 Oktober 2013

Dalam kisah penyembuhan ibu mertua Petrus terungkap sebuah teladan yang indah tentang keluarga yang melayani, sebagai terima kasih atas pemberian anugerah Allah yang luar biasa dalam hidup mereka. Apa yang dilakukan keluarga Petrus untuk melayani Kristus Sang Juruselamat?

1. Menyerahkan seluruh anggota keluarga kepada Kristus.
Clement dari Alexandria, di dalam bukunya yang berjudul Stromateis 7:6, menceritakan tentang istri Petrus yang sebenarnya juga ikut membantu pekerjaan pekabaran Injil. Yang kemudian mati sahid bersama Petrus. Dalam perikop bacaan ini kita juga menemukan bagaimana Petrus “membawa” ibu mertuanya kepada Kristus (Luk 5:38-39). Sebelumnya kita juga telah mengetahui bahwa Andreas adalah saudara Petrus yang menjadi salah seorang murid Kristus (Mat 4:18). Melihat orang-orang terdekat Petrus yang menyerahkan diri kepada Kristus dan bagaimana kiprah mereka yang begitu luar biasa dalam pelayanan. Hal ini bisa saja menjadi petunjuk bagaimana Petrus yang telah menerima berkat dari Kristus, mau membawa pula keluarganya untuk menjadi pengikut Kristus. Inilah hal yang paling mendasar, bagi yang merindukan keluarganya dapat melayani Tuhan. Yaitu membawa anggota keluarganya untuk menjadi murid Tuhan terlebih dahulu.

Selengkapnya: Keluarga yang Melayani (Lukas 4 : 38 – 42)

Keluarga yang Bertumbuh

Warta jemaat GKI Gading Serpong, Minggu, 13 Oktober 2013

Marry dan Barry sebut saja begitu namanya, adalah pasangan yang saling mencintai dan memiliki komitmen untuk membangun rumah tangga yang harmonis.  Namun setelah beberapa tahun menikah ternyata hubungan mereka kandas! Berbagai cara dilakukan untuk mempersatukan mereka kembali, namun  nampaknya semua upaya sia-sia. Malahan situasi hubungan mereka justru kian bertambah rumit, seperti benang kusut. Bahkan kini rumah tangga mereka terancam berujung pada perceraian! Jika ditelusuri apakah akar masalah yang dihadapi oleh pasutri ini, sehingga keluarga mereka terancam bubar? Setelah diteliti ternyata pergumulan yang membelit pasangan ini bukanlah masalah “besar”. Seperti masalah perselingkuhan, ekonomi, atau KDRT. Persoalan yang di hadapi keluarga ini ternyata karena mereka tidak menjadi keluarga yang bertumbuh!

Selengkapnya: Keluarga yang Bertumbuh